|

Uniknya pasar China
Oleh : Nuradi Noeri
Potensi pasar China
sangat besar seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan tingkat
kemakmuran penduduknya. Persaingan dengan produk lokal sangat tinggi
namun hal ini dapat disiasati dengan meningkatkan produk khas Indonesia.
BARANG apa yang tidak bisa
ditiru oleh China? Tidak ada. Produk apapun apalagi yang masuk ke pasar
mereka pasti dengan mudah diproduksi di negeri tirai bambu itu. Dunia
usaha Republik Rakyat Tiongkok atau China memang dikenal sangat jeli
melihat peluang suatu produk dan dengan cepat dapat menirunya kadang
dengan kualitas lebih baik. Duta Besar RI Beijing Sudrajat mengungkapkan
hal itu dalam Dialog dengan para Duta Besar pada kegiatan konvensi Pekan
Produk Kreatif Indonesia Juni 2009 lalu. Sebagai contoh, Pak Dubes
menceritakan mebel ukiran Jepara yang ia bawa dari Indonesia retak
ketika musim dingin di Beijing. Tukang kayu setempat yang dipanggil
menyanggupi membuat duplikasi mebel itu dalam waktu dua minggu. Pak
Dubes tercengang ketika ukiran Jepara made in China itu selesai.
“Duplikasi mebel Jepara yang dibuat tukang kayu setempat persis seperti
aslinya!” ujar Sudrajat.
Industri kreatif
Apakah kemampuan China
dalam meniru itu adalah bagian dari industri kreatif mereka? Entahlah.
Yang jelas China mempunyai keunggulan komparatif yang diakui dunia yaitu
berlimpahnya tenaga buruh yang murah. Jumlah penduduk usia produktif
yaitu 20-40 tahun mencapai sepertiga dari total jumlah penduduk yang
berjumlah 1,3 milyar jiwa. Jadi, angkatan kerja China lebih dari 400
juta orang, hampir dua kali lipat dari jumlah penduduk Indonesia!
Disamping itu potensi alam dan budaya sebagai salah satu basis industri
kreatif juga sangat besar.
“Tapi China tak hanya
ingin menjadi pabrik dunia, mereka sadar akan sejarah peradaban dan
kebudayaan mereka yang tinggi, sehingga hal ini telah merubah pola pikir
dan berdampak pada transformasi industrinya dari made in China
menjadi designed in China” ujar Sudrajat. Oreintasi pembangunan
pun diarahkan pada inovasi iptek yang menjadi seni kreatifitas di bidang
seni dan industri sebagai salah satu misi nasional. Dalam rencana
pembangunan lima tahun China sekarang ini, industri kreatif disebut
sebagai pilar industri dalam memperkuat struktur ekonomi.
Kemajuan yang dicapai
China dalam perkembangan industri kreatif terlihat pesat dalam semua
aspek. Peran pemerintah cukup besar dalam menumbuhkan peran industri
kreatif dalam perekonomian nasional. Kontribusi pemerintah tersebut
terlihat dari jumlah peraturan yang diterbitkan dan meningkatnya
anggaran untuk membantu perkembangan industri kreatif ini. “Dalam masa
krisis global sekarang ini, industri kreatif China mengalami pertumbuhan
fantastis khususnya di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai dan
Shenzen” tambah Sudrajat. Nilai tambah industri kreatif China pada tahun
2008 mencapai US$ 72 milyar.
Dalam menggenjot kemajuan
disegala bidang, perhatian pemerintah untuk sektor pendidikan sangat
besar. Sudrajat menyatakan bahwa China saat ini mempunyai sekitar 1,2
juta institusi pendidikan. Untuk mendorong industri kreatif, terdapat
sekitar 1200 lembaga pendidikan yang mempunyai program studi terkait
dengan industri kreatif. “Sekarang ini terdapat sekitar 100 ribu
mahasiswa yang sedang belajar mengembangkan industri kreatif di
lembaga-lembaga pendidikan tersebut” ujar Sudrajat.
Satu lagi hal penting yang
mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan industri kreatif China
adalah daya serap pasar domestik yang sangat tinggi. Penduduk dengan
usia produktif yang merupakan sepertiga dari total penduduk China juga
merupakan pasar yang potensial. Dubes Sudrajat menginformasikan bahwa
rata-rata usia dari 400 orang terkaya di China adalah 46,5 tahun,
bandingkan dengan Amerika Serikat yaitu 65,7 tahun. Jadi, dengan daya
beli pasar lokal sudah demikian tinggi ditambah dengan ekspor yang juga
meningkat pesat. Itulah beberapa faktor pendorong majunya industri
kreatif di China.
Berdagang dan bersaing
Berdagang berarti
persahabatan atau mitra, sedangkan bersaing artinya berseberangan bahkan
bermusuhan. Komninasi dua hal ini terjadi dalam banyak hubungan dagang
sesama negara berkembang. Tidak hanya dengan China, hubungan dagang
Indonesia dengan negara tetangga terdekat seperti Malaysia, Thailand,
Filipina, Vietnam dan lainnya pasti dibumbui oleh dua kata itu.
Prosentase persaingan akan lebih besar ketimbang perdagangan bila jenis
produk yang dilempar ke pasar internasional hampir sama.
Dalam memasuki pasar
China, disamping meraup keuntungan besar karena daya serap yang tinggi,
tapi kemampuan mereka dalam meniru merupakan ancaman. Barang yang kita
jual di pasar China apalagi produk industri kreatif akan cepat ditiru
dan dijual dengan harga bersaing dengan produk aslinya. “Seorang
pengusaha China pernah meminta baju batik kepada saya karena bagus
katanya, namun beberapa hari kemudian batik yang sama bermunculan di
pasar setempat” kenang Sudrajat.
Namun disisi lain,
pemerintah China terlihat serius dalam melindungi keaslian budayanya,
bahkan ada Undang-undang khusus yang mengatur perlindungan terhadap seni
budaya China. Budaya apa yang dilindungi? Ada beberapa jenis, misalnya
Sichuan Mask yang tidak boleh dipelajari oleh orang asing. Orang
yang mempunyai kepandaian memainkan Sichuan Mask mempunyai
kontrak dengan pemerintah untuk tidak mengajarkannya kepada orang asing
dan tidak membawanya ke luar negeri.
Walaupun demikian, potensi
pasar yang ada perlu dimanfaatkan. Lajunya pertumbuhan ekonomi diikuti
oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dubes RI Beijing
mengungkapkan bahwa peluang produk industri kreatif Indonesia di pasar
China cukup besar. Khususnya produk-produk high end untuk kelas
menengah keatas seperti spa, arsitektur modern, home interior dan
lainnya.
Produk kreatif China dikenal sebagai
produk yang murah meriah, maka dalam bersaing dengan mereka perlu
ditingkatkan kapasitas untuk memproduksi barang industri kreatif dengan
kualitas tinggi. Corak produk kreatif Indonesia dapat lebih beragam dan
terus berkembang dengan kualitas bagus. Ciri khas Indonesia harus terus
ditonjolkan dan ditingkatkan kualitasnya. Perlunya pelatihan yang lebih
serius untuk mengembangkan kemampuan daya kreasi dalam meningkatkan
kapasitas dan kualitas industri kreatif Indonesia.
|