HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XII OKTOBER 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Statistik kunjungan

Free counter and web stats

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 05 Oktober, 2009

 

 

 

 

Surga Tropis di lautan Pasifik

Oleh : Dewi Kertonegoro

Tak banyak yang tahu mengenai pesona wisata di lautan pasifik. Kawasan ini ternyata memiliki potensi sebagai tujuan wisata yang luar biasa.     

Gugusan yang terdiri dari 83 pulau besar dan kecil yang membentuk huruf “Y” di Pasifik Selatan ini dahulu dikenal dengan nama New Hebrides. Namun sejak memperoleh kemerdekaan di tahun 1980, ia berganti nama menjadi Vanuatu yang berarti "land eternal".  Perekonomian Vanuatu tergantung pada pertanian berskala kecil dan industri pariwisata. Namun, masyarakat negeri yang berjumlah 209.000 jiwa ini tetap happy, karena menurut mereka kebahagiaan tak berarti harus merusak alam sekitar apalagi sampai menguras isi perut bumi.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh The New Economics Foundation (NEF), sebuah lembaga think tank independen di London – Inggris baru-baru ini menasbihkan Vanuatu sebagai ”tempat paling bahagia di planet Bumi” berdasarkan tingkat pengeluaran masyarakat, usia harapan hidup serta tingkat kebahagiaan dan bukan dengan tolok ukur kesuksesan ekonomi suatu negara seperti produk domestik bruto (PDB). Penelitian tersebut mengukur indeks di 178 negara.

“Kami bisa bahagia karena masyarakat kami puas dengan kondisi yang serba terbatas.  Kami bukan masyarakat yang konsumtif, kehidupan di sini adalah tentang keluarga, teman dan berbuat baik untuk orang lain,” kata mereka kepada AKSES ketika meloncong ke Vanuatu. Merekapun terbiasa hidup dengan ancaman cyclone, gempa bumi, letusan gunung berapi bahkan juga tsunami.

 

Sun, sand dan sea food

Seperti kebanyakan negara kepulauan, Vanuatu diberkahi dengan limpahan sinar mentari dan hasil laut serta  hamparan pasir putih di hampir semua pantainya. Kemanjaan alam ini memberi kontribusi besar terhadap gaya hidup orang-orang Vanuatu (ni Vanuatu) yang cenderung serba lamban, santai dan bersikap informal di hampir setiap kesempatan. 

Ni Vanuatu  sadar akan eksotisme alam yang dimiliki dan inilah yang mereka jual kepada para wisatawan. Untuk menunjang industri pariwisata, Vanuatu lebih memprioritaskan pembangunan hotel, resor, bungalows sampai penginapan murah dan mengembangkan aneka bentuk wisata yang bernilai ekonomis. Jadi, jangan berharap untuk menjumpai mall mewah seperti yang ada di kota-kota besar Indonesia, karena Vanuatu lebih memilih melestarikan pasar tradisional yang buka 24 jam yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Sesaat setelah tiba di Port Vila, ibukota Vanuatu, yang berada di pulau Efate, aroma tropis segera menyergap hidung. Terik matahari, warna warni kembang sepatu, dan bougainvillea menyatu dengan dentingan ukulele yang mengisyaratkan it’s time to leave job and other stresses behind!.  Waktu terbaik untuk berkunjung ke sana April – Oktober, saat suhu udara berkisar 18 – 28 derajat Celcius.

Dari Port Vila, wisatawan mulai penjelajahan mereka. Bagi mereka yang punya adrenalin tinggi, berbagai jenis water sports mulai dari hydro zorbing (balon air berjalan), jet rides, catamaran, kayak sampai scuba diving menanti anda. 

Pulau Espiritu Santo, pulau terbesar di Vanuatu, diyakini sebagai surga pencinta wisata bahari. Bukan hanya kekayaan biota laut yang indah yang dapat dinikmati para penyelam, tetapi juga reruntuhan kapal induk USS President Coolidge milik Amerika Serikat yang tenggelam di perairan Esperitu Santo pada bulan Oktober 1942.

Selain wisata bahari, Vanuatu juga menawarkan beragam wisata budaya seperti land diving  ”Nagol” yang tidak lain adalah bungee jumping  tradisional dengan sederet ritual terkait keberhasilan panen umbi-umbian yang biasanya dilakukan setiap hari Sabtu selama bulan April – Mei.  Sementara bagi pencinta wisata geologi, pulau Tanna menjanjikan tampilan volkano Yassur yang spektakuler serta gunung-gunung kapur, lembah dan gunung batu.

Puas dengan petualangan bawah laut maupun penjelajahan darat, Vanuatu siap memanjakan wisatawan dengan berbagai hidangan laut yang segar. Berbagai jenis ikan dan  makanan laut lainnya tersaji dengan cantik dengan citarasa yang selangit. Meski Ni Vanuatu  hidup dalam gaya minimalis, namun selera makan mereka patut diacungi jempol. Hal ini warisan dari bangsa Perancis dan Inggris yang selama 73 tahun menjadikan Vanuatu sebagai ”kondominium” yang diperintah secara bersama-sama sejak 1904 hingga kemerdekaan. 

Sekarang Vanuatu adalah anggota persemakmuran, namun sisa tradisi budaya kolonial Perancis di Vanuatu masih kental. Hal ini tampak dari selera kuliner, sistem pendidikan, sistem peradilan sampai sistem lalu lintas yang masih mengadopsi sistem Perancis.

 

Go Native

Jika Anda berkunjung ke Vanuatu, lengkapi wisata Anda dengan melihat tradisi budaya dan mencoba makanan dan minuman khas setempat. Dari Port Vila Anda dapat menuju ke desa Ekasup yang terkenal dengan wisata adat Erakor Woods. Ketua adat beserta prajurit yang berpakaian adat lengkap bersenjata panah siap menyambut kedatangan para tamu mereka.

Penjelajahan Anda belum lengkap rasanya tanpa mencicipi makanan dan minuman khas Vanuatu. Lap lap adalah makanan tradisional berbahan dasar umbi-umbian dengan sedikit ayam yang dikukus. Sementara Kava adalah minuman khas yang terbuat dari biji sejenis lada dengan citarasa sangat pedas dan aroma tajam yang menyengat. Biasanya disajikan dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa.

 

Peluang pasar Indonesia

Kebutuhan hidup masyarakat Vanuatu dan negara kepulauan Pasifik lainnya umumnya dipasok dari Australia dan Selandia Baru. Menurut pengamatan AKSES, masyarakat Vanuatu yang sederhana ternyata menyukai produk-produk Indonesia seperti mie instan, minyak goreng, baju daster wanita motif Hawaii dan juga sendal jepit. Produk Indonesia itu masuk ke Vanuatu melalui Australia. Karena kedekatan letak geografis, negara-negara kepulauan Pasifik termasuk Vanuatu merupakan pasar tradisional bagi produk Australia dan Selandia Baru. Produk China dan India juga telah lama bercokol di negara kepulauan itu. Produksi dalam negeri hampir tidak ada.

Produk Indonesia secara umum masih cukup kompetitif dibandingkan produk Australia dan Selandia Baru. Untuk memulai memperpendek jalur perdagangan, pengusaha Indonesia dapat membuka kantor pemasaran dan distribusi di Fiji. Kantor pemasaran ini juga dapat dimanfaatkan untuk menjangkau negara-negara lainnya di kawasan Pasifik.Meski jauh, kiranya peluang ekspor produk Indonesia yang diminati perlu diperhitungkan.