|

Surga
Tropis di lautan Pasifik
Oleh : Dewi Kertonegoro
Tak
banyak yang
tahu mengenai pesona wisata di lautan pasifik. Kawasan ini ternyata
memiliki potensi sebagai tujuan wisata yang luar biasa.
Gugusan yang terdiri dari 83 pulau besar dan kecil yang
membentuk huruf “Y” di Pasifik Selatan ini dahulu dikenal dengan nama
New
Hebrides.
Namun sejak
memperoleh kemerdekaan di tahun 1980, ia berganti nama menjadi Vanuatu
yang berarti "land eternal". Perekonomian
Vanuatu
tergantung pada pertanian berskala kecil dan industri pariwisata.
Namun, masyarakat negeri yang berjumlah 209.000 jiwa ini tetap happy,
karena menurut mereka kebahagiaan tak berarti harus merusak alam
sekitar apalagi sampai menguras isi perut bumi.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh
The
New Economics Foundation (NEF),
sebuah lembaga think tank independen di London – Inggris
baru-baru ini menasbihkan Vanuatu sebagai ”tempat paling
bahagia di planet Bumi” berdasarkan tingkat pengeluaran masyarakat, usia
harapan hidup serta tingkat kebahagiaan dan bukan dengan tolok ukur
kesuksesan ekonomi suatu negara seperti produk domestik bruto (PDB).
Penelitian tersebut mengukur indeks di 178 negara.
“Kami bisa bahagia karena masyarakat kami puas dengan
kondisi yang serba terbatas. Kami bukan masyarakat yang konsumtif,
kehidupan di sini adalah tentang keluarga, teman dan berbuat baik untuk
orang lain,” kata mereka kepada AKSES ketika meloncong ke Vanuatu.
Merekapun terbiasa hidup dengan ancaman cyclone, gempa bumi,
letusan gunung berapi bahkan juga tsunami.
Sun, sand dan sea food
Seperti kebanyakan negara kepulauan, Vanuatu diberkahi
dengan limpahan sinar mentari dan hasil laut serta hamparan pasir putih
di hampir semua pantainya. Kemanjaan alam ini memberi kontribusi besar
terhadap gaya hidup orang-orang Vanuatu (ni Vanuatu) yang
cenderung serba lamban, santai dan bersikap informal di hampir setiap
kesempatan.
Ni Vanuatu
sadar akan eksotisme alam yang dimiliki dan inilah yang
mereka jual kepada para wisatawan. Untuk menunjang industri pariwisata,
Vanuatu lebih memprioritaskan pembangunan hotel, resor, bungalows sampai
penginapan murah dan mengembangkan aneka bentuk wisata yang bernilai
ekonomis. Jadi, jangan berharap untuk menjumpai mall mewah
seperti yang ada di kota-kota besar Indonesia, karena Vanuatu lebih
memilih melestarikan pasar tradisional yang buka 24 jam yang menjual
kebutuhan sehari-hari.
Sesaat setelah tiba di Port Vila, ibukota Vanuatu, yang
berada di pulau Efate, aroma tropis segera menyergap hidung. Terik
matahari, warna warni kembang sepatu, dan bougainvillea menyatu
dengan dentingan ukulele yang mengisyaratkan it’s time to
leave job and other stresses behind!. Waktu terbaik untuk
berkunjung ke sana April – Oktober, saat suhu udara berkisar 18 – 28
derajat Celcius.
Dari Port Vila, wisatawan mulai penjelajahan mereka. Bagi
mereka yang punya adrenalin tinggi, berbagai jenis water
sports mulai dari hydro zorbing (balon air berjalan), jet
rides, catamaran, kayak sampai scuba diving menanti
anda.
Pulau Espiritu Santo, pulau terbesar di Vanuatu, diyakini
sebagai surga pencinta wisata bahari. Bukan hanya kekayaan biota laut
yang indah yang dapat dinikmati para penyelam, tetapi juga reruntuhan
kapal induk
USS
President Coolidge
milik Amerika Serikat yang tenggelam di perairan Esperitu Santo pada
bulan Oktober 1942.
Selain wisata bahari, Vanuatu juga menawarkan beragam
wisata budaya seperti land diving ”Nagol” yang tidak lain adalah
bungee jumping tradisional dengan sederet ritual terkait
keberhasilan panen umbi-umbian yang biasanya dilakukan setiap hari Sabtu
selama bulan April – Mei. Sementara bagi pencinta wisata geologi, pulau
Tanna menjanjikan tampilan volkano Yassur yang spektakuler serta
gunung-gunung kapur, lembah dan gunung batu.
Puas dengan petualangan bawah laut maupun penjelajahan
darat, Vanuatu siap memanjakan wisatawan dengan berbagai hidangan laut
yang segar. Berbagai jenis ikan dan makanan laut lainnya tersaji dengan
cantik dengan citarasa yang selangit. Meski Ni Vanuatu hidup
dalam gaya minimalis, namun selera makan mereka patut diacungi jempol.
Hal ini warisan dari bangsa Perancis dan Inggris yang selama 73 tahun
menjadikan Vanuatu sebagai ”kondominium” yang diperintah secara
bersama-sama sejak 1904 hingga kemerdekaan.
Sekarang Vanuatu adalah anggota persemakmuran, namun sisa
tradisi budaya kolonial Perancis di Vanuatu masih kental. Hal ini tampak
dari selera kuliner, sistem pendidikan, sistem peradilan sampai sistem
lalu lintas yang masih mengadopsi sistem Perancis.
Go Native
Jika Anda berkunjung ke Vanuatu, lengkapi wisata Anda
dengan melihat tradisi budaya dan mencoba makanan dan minuman khas
setempat. Dari Port Vila Anda dapat menuju ke desa Ekasup yang terkenal
dengan wisata adat Erakor Woods. Ketua adat beserta prajurit yang
berpakaian adat lengkap bersenjata panah siap menyambut kedatangan para
tamu mereka.
Penjelajahan Anda belum lengkap rasanya tanpa mencicipi
makanan dan minuman khas Vanuatu. Lap lap adalah makanan
tradisional berbahan dasar umbi-umbian dengan sedikit ayam yang dikukus.
Sementara Kava adalah minuman khas yang terbuat dari biji sejenis
lada dengan citarasa sangat pedas dan aroma tajam yang menyengat.
Biasanya disajikan dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa.
Peluang pasar Indonesia
Kebutuhan hidup masyarakat Vanuatu dan negara kepulauan
Pasifik lainnya umumnya dipasok dari Australia dan Selandia Baru.
Menurut pengamatan AKSES, masyarakat Vanuatu yang sederhana ternyata
menyukai produk-produk Indonesia seperti mie instan, minyak goreng, baju
daster wanita motif Hawaii dan juga sendal jepit. Produk Indonesia itu
masuk ke Vanuatu melalui Australia.
Karena
kedekatan letak geografis, negara-negara kepulauan Pasifik termasuk
Vanuatu merupakan pasar tradisional bagi produk Australia dan Selandia
Baru. Produk China dan India juga telah lama bercokol di negara
kepulauan itu. Produksi dalam negeri hampir tidak ada.
Produk
Indonesia secara umum masih cukup kompetitif dibandingkan produk
Australia dan Selandia Baru. Untuk memulai memperpendek jalur
perdagangan, pengusaha Indonesia dapat membuka kantor pemasaran dan
distribusi di Fiji. Kantor pemasaran ini juga dapat dimanfaatkan untuk
menjangkau negara-negara lainnya di kawasan Pasifik.Meski
jauh, kiranya peluang ekspor produk Indonesia yang diminati perlu
diperhitungkan.
|