|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
POTENSI pasar China luar biasa besar, tapi tidak mudah meraih sukses di sana. Diperlukan strategi khusus sebelum dan sesudah masuk ke negeri itu. Banyak aspek yang menjadikan China sebagai pasar incaran menarik. Dari tingkat pertumbuhan yang rata-rata 9% per tahun, jumlah penduduk yang 1,3 milyar lebih, tingkat inflasi yang sangat rendah, upah buruh yang sangat murah tapi produktivitas tinggi, bahan baku yang gampang diperoleh, cadangan devisa yang luar biasa besar, sampai kebijakan pemerintah yang sangat terbuka dan friendly pada calon investor. Selain itu, masuknya China di WTO dan rencana pembentukan kawasan perdagangan bebas ASEAN-China pada 2010 —hingga membuat pasar China makin terbuka— juga menjadi magnet tersendiri. Salah satu pendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi itu adalah sektor perdagangan. China berdagang dengan negara lain dengan tidak tanggung-tanggung. Nilainya mencapai US$ 1,422 milyar pada 2005. Jumlah itu kurang lebih 10 kali lipat total nilai perdagangan Indonesia, yang hanya sebesar US$ 143 milyar. Ekspor China ke negara lain mencapai US$ 762 milyar, sedangkan impor China dari Negara lain besarnya US$ 660 milyar. Secara keseluruhan di tahun 2005 saja, China punya surplus sebesar US$ 102 milyar. Empat kali lipat surplus Indonesia yang US$ 28 milyar. Menurut pihak Departemen Perdagangan RI, tahun lalu perdagangan China-Indonesia masih defisit US$ 819 Juta. Artinya, produk-produk Indonesia masih lebih banyak masuk ke China ketimbang produk China yang masuk Indonesia. Tapi jangan salah, jika diperhatikan lebih detail, ekspor Indonesia ke China lebih bertumpu pada produk migas. Nilai surplus migas Indonesia mencapai US$ 1,4 milyar. Sedangkan untuk non-migas, Indonesia malah defisit sebesar US$ 591 juta. Hal ini menjawab pertanyaan kenapa produk non-migas China, seperti tekstil, barang elektronik, kendaraan bermotor, produk plastik, dan lain-lain banyak masuk Indonesia. Dengan semua kelebihan itu, China menjelma menjadi satu pasar yang luar biasa besar. Saking besarnya sehingga hampir seluruh negara di dunia ini meneteskan air liur untuk memasukinya. Tampaknya tidak ada negara mana pun yang tidak berdagang dengan China. Akibatnya, China menjadi pasar yang sangat kompetitif. Sebegitu kompetitifnya sampai potensi pasar ini harus digarap secara serius. Menurut Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, yang pernah empat tahun tinggal di China, pengusaha Indonesia harus punya kiatkiat khusus mencari celah pasar di sana. Yang mau masuk ke sana harus pintar-pintar mengenali “pasar” terlebih dulu. Pelajari potensi yang bisa dimasuki. Kalau tidak, jangan harap untung, yang ada malah buntung terus. PRODUK-PRODUK KEBUTUHAN CHINA China mengimpor banyak produk yang tidak bisa dibuat sendiri. Sebagian besar produk yang mereka butuhkan masih berbentuk bahan baku atau produk berbasis sumber daya alam, seperti minyak, gas, batu bara, tembaga, timah, aspal, bijih besi, alumunium, dan bahan mineral lain. Selain itu, mereka membutuhkan banyak produk pertanian dan olahannya, seperti minyak sawit, kakao, kacang kedelai, karet alami maupun sintetik, kayu, kertas, dan kapas. Negeri ini banyak mengimpor produk kimia organik, produk farmasi, pupuk, barang elektronik, peralatan, dan perlengkapan mesin, bahkan kendaraan bermotor. Indonesia sebenarnya unggul dalam beberapa jenis produk tersebut. Indonesia mampu memasok migas dan beberapa bahan mineral lain, seperti, batu bara, biji besi, dan tembaga. Juga kuat di minyak sawit, kakao, produk agro industri, pulp, karet, kayu olahan, tekstil sintetis, dan produk kimia organik. Di sektor-sektor tersebut, pesaing dari negara lain tidak terlalu banyak. Sektor-sektor ini juga memiliki perkembangan yang menguat beberapa tahun terakhir, karena ada kecenderungan makin menguatnya industri sekunder di China, seperti industri manufaktur dan konstruksi. Para pengusaha Indonesia yang ingin masuk ke China seharusnya memberi perhatian yang lebih besar pada sektor-sektor ini. Banyak produk khas Indonesia yang sering dicari oleh masyarakat China. Produk kayu olahan, misalnya, diminati pengelola hotel di China. Produk makanan olahan, seperti lidah buaya, coconut jelly, krupuk ikan, mi instan, saus tomat, saus cabe, minyak sayur, mentega, kecap, serta minuman dengan rasa khusus, seperti sirsak, asam, jambu, dan mangga juga banyak dibeli. Namun, yang perlu diperhatikan, orang China tidak suka rasa yang terlalu manis. Selain itu, produk berbahan alami seperti sari pewangi alami atau batik juga diminati di sana. Semua itu tentu harus diselaraskan dulu dengan selera serta budaya China. Bila ingin masuk sektor consumer goods, Anda harus bersiap-siap menghadapi persaingan ketat dari para pengusaha negara lain. Banyak pengusaha Indonesia yang gagal di consumer goods karena tidak bisa menemukan ceruk pasar (niche market) yang kuat. Selain margin keuntungan yang tipis, masyarakat Cina terkenal sangat sensitif terhadap harga consumer goods. Walau begitu, jika menemukan produk berharga murah dengan kualitas cukup bagus, dijamin mereka bakal loyal terhadap produk tersebut. Jadi sangat penting untuk mempelajari peta pasar China agar mengetahui kekuatan produk yang ingin ditawarkan. Sektor yang diperkirakan banyak analis akan berkembang pesat di China adalah sektor jasa. Sangat banyak jenis sektor jasa yang dapat ditawarkan untuk konsumen China. Salah satu sektor yang dapat diunggulkan Indonesia ialah jasa properti. Bisa dibilang, dalam bidang property development, Indonesia lebih maju ketimbang China. Sektor ini juga belum banyak dimasuki oleh negara-negara lain. Sektor jasa lain yang berpotensi besar di China adalah jasa kecantikan, seperti spa and health beauty center. Sektor ini memiliki potensi besar seiring dengan perkembangan masyarakat perkotaan China, terutama di tiga kota besar China: Beijing, Guangzhou, dan Shanghai. Mereka mampu membelanjakan banyak uang untuk produk fashion dan kecantikan. KARAKTERISTIK KONSUMEN CHINA
Memasuki pasar China memang tidak mudah. Para pengusaha Indonesia harus mengenal budaya dan karakteristik konsumen China. Berikut ini sajian intisari dari dua jenis survei yang dilakukan oleh The Gallup Organization dan Kurt Salmon Associates tentang karakteristik konsumen China saat ini. Survei ini khusus ditujukan bagi produk dan sektor retail. Tapi kesimpulannya dapat memberikan gambaran atas karakteristik konsumen China pada umumnya. Masyarakat China sudah berkembang ke arah modern. Pola hidup masyarakat modern telah melanda hampir seluruh pelosok China. Akibatnya, konsumen China lebih mementingkan kualitas daripada harga, untuk loyal pada suatu produk buatan asing. Mereka tetap masih sensitive terhadap harga dalam mencoba suatu barang. Begitu tahu kualitasnya buruk, jangan harap barang tersebut dibeli lagi. Sebaliknya, kualitas barang bagus sangat disukai. Mereka bisa lebih loyal jika barang tersebut sudah punya merek yang bagus. Mereka bakal merasa lebih senang lagi kalau produsennya memiliki perhatian pada konsumen. Konsumen China ternyata lebih memilih produk asing daripada lokal, terutama untuk barang-barang elektronik dan produk rumah tangga. Namun, makanan dan produk personal care, mereka lebih memilih buatan lokal. Untuk pakaian dan alas kaki, mereka bisa memilih kedua-duanya. Khusus bagi konsumen berpendapatan tinggi dan kaum muda, mereka lebih suka buatan asing untuk pakaian dan alas kaki. Pada produk rumah tangga, konsumen China menginginkan produk yang menawarkan lebih dari sekadar fungsinya. Mereka ingin membeli barang yang tidak hanya memuaskan kebutuhan fisiknya, melainkan juga memenuhi kebutuhan emosional. Contoh yang menarik ialah keberhasilan Nokia melewati Motorola dan SonyEricsson di China, hanya karena telepon selular Nokia lebih mementingkan segi fashion ketimbang fungsi. Yang menarik lagi, konsumen berselera modern seperti itu ternyata tidak hanya di Beijing, Guangzhou, dan Shanghai. Kota kelas menengah seperti Xi’an, Nanjing, dan Wuhan juga memiliki selera tinggi. PERHATIKAN JALUR DISTRIBUSI
SUKSES ATAU GAGAL Agar penetrasi pasar ke China sukses, dibutuhkan bantuan pemerintah dalam membuka peluang pasar bagi produk-produk Indonesia. Pemerintah harus membantu para pengusaha dengan upaya peningkatan intensitas promosi produk yang lebih selektif dan partisipasi eksibisi yang efektif. Lobi-lobi yang dilakukan pemerintah kepada para stakeholder di pasar China harus semakin giat dilakukan. Selain memahami pasar dengan baik, pengusaha Indonesia yang ingin memasuki pasar China sebaiknya memahami kebudayaan, sejarah, dan nilai-nilai tradisional bangsa China. Apalagi jika menguasai bahasa China, dijamin semua urusan bisa lebih mudah dijalankan. Secara khusus, Joseph Lee juga menyarankan agar memperhatikan faktor guanxi (relationship). Hubungan yang baik harus dijalin dengan pemerintah China, investor, partner dagang, konsumen dan bahkan dengan staf sendiri. Pengusaha Indonesia juga harus siap untuk langsung berkompetisi di China. Harus dicari celah-celah yang dapat ditawarkan kepada konsumen, lebih dari para kompetitor. Masalah imitasi atau pemalsuan produk memang meng khawatirkan, tapi kualitas superior selalu menang di pasar mana pun. Pengembangan teknologi yang terusmenerus disertai inovasi dipastikan akan menjadi kunci sukses melawan pemalsuan. Selain itu, sejak menjadi bagian dari WTO, Pemerintah China berusaha keras untuk mengurangi pemalsuan produk asing dan menghukum para pelakunya.
Intinya, tidak mudah
cari untung di China. Namun kesempatan itu terbuka lebar bagi yang secara
serius menggarap pasar China. Agar berhasil, upaya keras harus dilakukan
sebelum, dan bahkan setelah masuk pasar China. Produsen yang ingin masuk
pasar China harus melakukan riset pasar yang meliputi seluruh aspek
pemasaran. Selain itu, pemahaman yang baik atas aturan perdagangan China
untuk barang dari luar akan sangat membantu suksesnya proses ekspor.
Setelah masuk, kontinuitas ketersediaan produk, ketepatan waktu pengiriman,
sampai kemampuan menjaga kualitas menentukan apakah konsumen puas dan mau
membeli lagi atau tidak. Sekali lagi, strategi penetrasi pasar yang efektif
dan penuh perhitungan matang sangat diperlukan untuk bisa berhasil di China.
Selamat menjajal pasar China.
|
||||||||||||||||||