|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
WINDHOEK, Namimbia, mulai memasuki musim dingin. Cuaca 8 derajat celcius membuat orang betah berlama-lama di bawah selimut. Pukul 04.00 lewat, saya dibangunkan deringan telepon. Saya pikir ada hal penting. Kalau tidak keluarga, ya dinas. Ternyata seorang kawan Rosnida pengusaha Bordir dari CV Paramita Bandung mengabarkan jadwal kedatangannya bersama rombongan UKM Jawa Barat. Mereka akan mengadakan roadshow mengikuti pameran di Afrika Selatan dan Namibia. Disampaikan pula informasi bahwa seorang anggota rombongan akan mendapatkan transaksi dalam jutaan dollar di Reserve Bank of South Africa, Johannesburg. Wah... hebat pula kawan ini. Saya minta bertemu mereka untuk berbagi informasi setibanya di Windhoek. Saya penasaran, bisnis macam apa sih? Esok harinya mereka tiba di Husea Kutako International Airport, sekitar 47 kilometer dari kota Windhoek. Sekalipun masih jetlag dan letih sehabis menempuh perjalanan 20 jam lebih dari Jakarta transit via Kuala Lumpur dan Johannesburg, beberapa kawan UKM tetap bersemangat menemui saya di kafe Kalahari Hotel. Sambil minum kopi dan melepas kerinduan mengisap rokok kretek yang dibawa kawan kawan UKM, mulailah meluncur cerita “bisnis afrika” yang fantastis. Sebagai pendengar setia, saya ikuti alur cerita sampai akhirnya saya menyimpulkan: ini penipuan! Saya katakan kepada kawan-kawan lebih baik kecewa sekarang daripada menyesal sampai mati. Saya ceritakan pengalaman seorang pengusaha dari Jogja yang melapor ke KBRI Pretoria bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan. Alih-alih mendapatkan jutaan dolar, malah semua uang cash ribuan dolar dibawa raib plus ATM habis dikuras, Nasib pun berada di ujung maut. Sejak tiba di airport Johannesburg sampai beberapa hari disekap di suatu rumah, sampai kemudian berhasil melarikan diri. Kepada “calon korban”, biasanya mereka mengaku berasal dari sebuah negara yang sedang dilanda kerusahan karena perang saudara atau krisis politik dan keamanan, seperti RD Kongo, Nigeria, Burkina Faso, Sierra Leon, Ivory Coast dan Liberia. Bumbu ceritanya tentu menarik, konon dalam situasi yang tidak menentu mereka (penipu) melarikan diri mencari suaka di negara tetangga, sampai ke Afrika Selatan. Para penipu ini umumnya mengaku sebagai keluarga dekat presiden, raja, atau pengawal pribadi. Saat mengungsi atau mengasingkan diri ke luar negeri mengaku membawa serta uang cashdalam jumlah besar atau barang berharga seperti berlian yang disimpan dalam metal box. Identitas mereka meragukan. Ada yang mengaku bernama Prince Hameeed Jojo, Mrs. Aisha Kabila, Mr. Ibrahim Musassa, Mr. Margan Savidi, Mrs. Breggie Williams, dan masih banyak lagi. Beberapa penipu mengaku sebagai asylum seeker di Afrika Selatan mencari mitra kerja yang bisa diminta bantuannya untuk mentransfer uang cash yang jumlahnya variatif sekitar US$ 18 juta, US$ 26 juta, US$ 52 juta, yang disimpan dalam metal box pada private security and finance company di JNB ke dalam rekening calon korban dengan imbalan jasa atau komisi 70% pemilik, 20% pihak yang dititipi, dan 10% biaya operasi, transfer dan lain-lain. Komposisi komisinya variatif, ada formula pembagian 70% pemilik, 25% pemberi jasa, 5% biaya operasi.
Pemilik uang yang sebenarnya adalah penipu sudah menyiapkan penjemputan di airport. Biasanya, mereka mengaku telah membooking kamar hotel bintang lima selama tiga hari yang dipersiapkan untuk mengurus proses transfer dan pembicaraan investment agreement dengan lawyer. Penipu selalu menghindar untuk memberikan identitas dan alamat permanen serta selalu menggunakan nomer telepon genggam yang berubah-ubah, supaya tidak mudah dilacak dengan alsaan keamanan, dan hanya menyampaikan copy “Asylum Seeker Temporaray Permit” yang diduga juga palsu atau aspal! Sasaran korban, pada umumnya para pengusaha UKM peserta pameran-pameran dagang di Afrika, peserta seminar internasional serta staf kedutaan negara-negara asing di Afrika. Penipu berpenampilan menarik dan meyakinkan seperti layaknya para pengusaha atau peserta seminar. Mereka meminta kartu, namun tidak pernah memberikan kartu namanya sendiri dengan alasan sudah habis dan berjanji akan memberikan kartu pada kesempatan lain. Media yang digunakan penipu antara lain pengiriman surat-surat yang disampaikan melalui internete-mail, faksimil, dan iklan di media massa dengan topik/subjek “Please I Need Your Help”, “Request for Business Assistand and Partner’, “President/CEO Highly Confidencial”, dan “Private and Confidential”, yang disebarluaskan kepada sejumlah direktur atau CEO perusahaan, termasuk Indonesia. Penipuan dengan modus operandi ini dalam lima tahun terakhir ini (2001-2006) makin marak. Beberapa orang Indonesia yang kena bujuk rayu umumnya pengusaha UKM yang pernah berpartispasi dan menjalin kontak dan memberikan kartu nama dengan orang-orang setempat pada saat menghadiri pameran atau seminar. Penawaran yang menarik dengan imbalan jasa yang sangat besar too good to be true, membuat berbagai pihak yang tergiur, khususnya orang-orang yang ingin memperoleh kekayaan sekejap tanpa melalui jalan wajar.
Kalau tidak ada tindakan preventif dan kerja sama sinergis dari pihak
terkait, diperkirakan dapat menelan korban lebih banyak lagi. Tidak hanya
kerugian materi, juga mengancam keamanan fisik. Selama ini, pada umumnya
korban malu untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan ‘’sungkan’’
berterus terang pada pihak yang berwenang, karena secara tidak langsung akan
menunjukkan kebodohan mereka sendiri. ‘’Lupakanlah ‘sinterklas Afrika’ dan
mimpi membeli pulau! Marilah kita gunakan akal sehat, berpikir jernih, fokus
pada pameran dalam rangka penetrasi pasar Afrika,” pesanku kepada kawan UKM
itu, sambil mengakhiri pertemuan di kafe Kalahari Hotel, untuk menyiapkan
bisnis yang riil dan melalui kerja keras!
|