HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XII OKTOBER 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Statistik kunjungan

Free counter and web stats

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 05 Oktober, 2009

 

 

 

Tiga kali kudeta

Oleh : Noviyanti Nurmala

Kalau ingin tahu rasanya menjadi diplomat yang mengalami 3 kali kudeta mungkin bisa ditanyakan kepada Priyo Iswanto. Pria kelahiran Kudus 47 tahun silam ini dengan kalem menceritakan pengalaman uniknya kepada AKSES di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Biro Kepegawaian Deplu. “Saya pertama kali melihat kudeta saat di KBRI Moskwa pada tahun 1991. Padahal itu posting perdana saya”, ujarnya sambil tersenyum simpul.

Ketika baru sebulan bertugas sebagai staf bidang politik, jebolan Sastra Inggris Universitas Diponegoro ini menjadi saksi hidup ketika pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev dikudeta pada 19 Agustus 1991. “Padahal Menteri Luar Negeri Uni Soviet saat itu, Eduard Shevardnadze, yang hadir pada resepsi HUT Kemerdekaan RI di Wisma Duta KBRI Moskow mengatakan tidak akan ada kudeta, benar-benar pengalaman yang menegangkan”, imbuhnya bersemangat.

Masa yang lebih tenang diperolehnya ketika penempatan di Uzbekistan pada tahun 1994. “Politik negara Asia Tengah ini relatif tidak bergejolak”, tutur bapak dengan 3 anak ini sambil terkekeh. Namun tak dinyana, kisah kudeta berulang lagi saat bertugas di Venezuela tahun 2000. Baru 3 bulan bertugas di ibukota Caracas terjadi kudeta di Ekuador yang termasuk wilayah rangkapan KBRI. Dua tahun kemudian giliran Presiden Venezuela Hugo Chavez dikudeta. Pedro Carmona diangkat sebagai presiden sementara (interim) atas inisiatif sebagian perwira militer. “Sebagai Kepala Bidang Politik, setelah mengamati perkembangan di lapangan saya menyarankan kepada Dubes RI di Caracas agar Pemerintah Indonesia tidak memberikan ucapan selamat kepada rejim baru”, imbuhnya dengan mimik serius.

Ternyata pengamatan pria yang sedang menyelesaikan tesis untuk Magister Hukum ini tak meleset. Bak drama telenovela, Pedro Carmona yang hanya menduduki sebagai presiden interim selama sehari dipaksa mengumumkan pengunduran dirinya setelah Jaksa Agung menyatakan bahwa kudeta tidak sah. Hugo Chavez yang sempat ditahan di Pulau La Orchilla dikukuhkan kembali sebagai Presiden Venezuela pada 14 April 2002.

“Setiap saya ceritakan ini pada diplomat asing, mereka selalu mengatakan semoga saya tidak ditempatkan di negaranya. Mereka berseloroh bisa-bisa kudeta terjadi di negaranya kalau saya bertugas disana”, ungkap penyuka olahraga ini. Ck, ck, ck...

 

Disangka Gypsy

Oleh : Noviyanti Nurmala

Ungkapan ‘Lain padang, lain ilalang’ mungkin tepat menggambarkan kejadian yang dialami Emeria. W. Siregar di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Untuk ukuran orang Indonesia, warna kulit wanita yang menjabat Direktur Eropa Tengah dan Timur Deplu ini mungkin termasuk putih mulus. Tapi siapa sangka bagi orang Eropa Timur warna kulitnya tergolong gelap?

Kisah unik ini bermula saat Ibu Adjeng, begitu ia sering disapa, tinggal di Yugoslavia pada tahun 1989-1994. “Saya sering disangka sebagai orang Gypsy. Perpaduan muka dan warna kulit saya mungkin sedikit mirip kelompok Gypsy/Roma yang berasal dari Romania” jelasnya membuka cerita.

Namun kemiripan itu bukannya membawa berkah tapi malah berbuah kesulitan. “Karena kaum Gypsy suka mengembara dan tergolong orang terbuang di masa itu, kadang-kadang saat ingin membeli barang saya sering diminta oleh penjaga toko untuk membuka dompet lebih dulu” ungkap alumni Universitas Indonesia ini.

Ternyata kejadian itu memang jamak terjadi karena di negara komunis dimana semuanya sama rata sama rasa, seorang Gypsy dinilai tidak memiliki kemampuan untuk membeli. “Untungnya karena Dinar sebagai mata uang Yugoslavia memiliki nilai nominal mencapai 9 sampai 12 digit, alhasil dompet saya pun akhirnya jadi tebal” jawab wanita yang senang membaca ini sambil terkekeh.

Pengalaman uniknya pun tak hanya sampai di situ. Penggemar Turkish Coffee ini  pernah dikejar petugas di stasiun kereta api, lagi-lagi karena warna kulitnya. Berbekal paspor diplomatik, ia pun meladeni pertanyaan petugas dengan lugas. “Sebagai diplomat saya harus PD (percaya diri) meskipun ukuran badan lebih kecil dan warna kulit berbeda” katanya dengan semangat.

Meski kurang mengenakkan, tapi baginya semua kejadian tersebut merupakan pelajaran berharga. “Jika tidak ditempatkan di kawasan Eropa Timur, mungkin saya tidak akan tahu hal-hal unik ini” ujarnya.

 

Curhat lewat lukisan

Oleh : Noviyanti Nurmala

Jika suatu saat berkesempatan bertandang ke ruangan kerja Elias Ginting, Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, pastikan untuk mengamati dua lukisan yang dipajang di dinding. Sepintas lukisan tersebut terlihat seperti hasil karya pelukis profesional. Siapa sangka lukisan cantik itu ternyata karya diplomat senior yang sering disapa Pak Ginting  ini.  “Pada waktu senggang saya memang suka melukis” ungkap pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara ini.

Manakala merasa gundah gulana, perasaan itu dituangkan lewat goresan-goresan cat di kanvas. Katanya setelah menuangkan suasana hati yang sedih di atas kanvas, perasaan menjadi lega dan plong. “Lucunya saya baru menyadari dua hal dari semua lukisan saya. Pertama, saya tidak pernah melukis ketika hati gembira. Kedua, semua objek lukisan saya tidak pernah berbentuk manusia, “ jelasnya sembari terkekeh.

Kurang lebih 20 lukisan sudah tercipta lewat tangan dingin pria yang belajar melukis secara otodidak ini. “Itu yang jadi berbentuk lukisan karena banyak pula yang tidak jadi. Jika pada proses pembuatannya mood-nya hilang, ya hilang pula inspirasinya sehingga tidak selesai” ujarnya. Mungkin karena itulah dia pernah selama 10 tahun sama sekali tidak menyentuh kanvas alias tidak melukis.

Ketika ditanya aliran seninya, pria berbadan tegap ini menggelengkan kepala. “Entah itu ekspresionis atau naturalis, yang penting itulah lukisan hasil perasaan saya” jelasnya kalem. Meski mengaku guratan tangannya kurang bagus, ternyata hasilnya cukup menarik perhatian. Seorang warga Belanda pernah berminat membeli lukisannya yang berjudul The Bloody Side of Tulip’s Democracy. “Saya melukis itu pada tahun 2002 sebagai ungkapan simpati kepada tokoh politik Belanda Pim Fortuyn yang terbunuh,” tuturnya dengan mimik serius.

Lebih lanjut soal pelukis, lulusan Universitas Gadjah Mada ini pun dengan fasih menceritakan kisah Van Gough. Katanya lukisan seniman Belanda terkenal tersebut ditertawakan dan malah hanya dihargai dengan 2 potong roti. “Sekarang satu lukisan kecil Van Gough dapat ditukar dengan sepuluh pabrik roti. Nah,siapa tahu nanti anak cucu akan kaya karena lukisan saya?“ ujarnya sambil tersenyum. Semoga saja ya Pak...

 

Olahrgawan bayaran

Oleh : Noviyanti Nurmala

Orangnya murah senyum dan penampilannya bersahaja. Namun saat berbincang tentang olahraga, komentar-komentar Sudirman Haseng cukup menggelitik. Pada awalnya Direktur Afrika Departemen Luar Negeri ini mengaku tidak berolahraga secara khusus, tapi nyatanya usahanya cukup konsisten. “Saya paling tidak sekali dalam seminggu jogging atau jalan sejauh 4-5 km, karena cuma itu yang bisa dilakukan di sela-sela kesibukan” jelasnya merendah.

Ketika bicara tentang jenis olahraga lain yang dilakukannya, bapak kelahiran Pakajene, Sulawesi Selatan ini pun dengan santai menyebut boling dan main bola. Menurut diplomat yang terakhir bertugas di Kuwait ini keduanya dapat menimbulkan kebersamaan. “Khusus boling, itu bisa dimainkan bersama keluarga karena tergolong ringan. Semua orang bisa melempar bola boling meski ada juga yang bolanya melayang justru ke belakang” jelasnya sambil terkekeh.

Bapak empat anak yang baru saja selesai  menjalani fit and proper test untuk menjadi Duta Besar RI di Nigeria ini sering memboyong keluarganya bermain boling di Ancol atau di Plaza FX  “Saya pilih kedua tempat itu karena tarifnya yang lumayan murah. Sekali main paling banyak 2-3 game. Anak-anak saya akhirnya jadi ikut suka” ungkapnya dengan kalem.

Meski sering berolahraga dengan keluarga, ia pun dengan bergurau memperkenalkan istilah ‘olahragawan bayaran’. “Saya ini sebenarnya pemain olahraga bayaran alias kalau ada yang membayari baru saya olahraga. Tapi saya bukan pemain panggilan loh” tuturnya santai.