|

Tiga kali kudeta
Oleh : Noviyanti Nurmala
Kalau
ingin tahu rasanya menjadi diplomat yang mengalami 3 kali kudeta mungkin
bisa ditanyakan kepada Priyo Iswanto. Pria kelahiran Kudus 47 tahun
silam ini dengan kalem menceritakan pengalaman uniknya kepada AKSES di
sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Biro Kepegawaian Deplu. “Saya
pertama kali melihat kudeta saat di KBRI Moskwa pada tahun 1991. Padahal
itu posting perdana saya”, ujarnya sambil tersenyum simpul.
Ketika baru sebulan bertugas
sebagai staf bidang politik, jebolan Sastra Inggris Universitas
Diponegoro ini menjadi saksi hidup ketika pemimpin Soviet Mikhail
Gorbachev dikudeta pada 19 Agustus 1991. “Padahal Menteri Luar Negeri
Uni Soviet saat itu, Eduard Shevardnadze, yang hadir pada resepsi HUT
Kemerdekaan RI di Wisma Duta KBRI Moskow mengatakan tidak akan ada
kudeta, benar-benar pengalaman yang menegangkan”, imbuhnya bersemangat.
Masa yang lebih tenang
diperolehnya ketika penempatan di Uzbekistan pada tahun 1994. “Politik
negara Asia Tengah ini relatif tidak bergejolak”, tutur bapak dengan 3
anak ini sambil terkekeh. Namun tak dinyana, kisah kudeta berulang lagi
saat bertugas di Venezuela tahun 2000. Baru 3 bulan bertugas di ibukota
Caracas terjadi kudeta di Ekuador yang termasuk wilayah rangkapan KBRI.
Dua tahun kemudian giliran Presiden Venezuela Hugo Chavez dikudeta.
Pedro Carmona diangkat sebagai presiden sementara (interim) atas
inisiatif sebagian perwira militer. “Sebagai Kepala Bidang Politik,
setelah mengamati perkembangan di lapangan saya menyarankan kepada Dubes
RI di Caracas agar Pemerintah Indonesia tidak memberikan ucapan selamat
kepada rejim baru”, imbuhnya dengan mimik serius.
Ternyata pengamatan pria
yang sedang menyelesaikan tesis untuk Magister Hukum ini tak meleset.
Bak drama telenovela, Pedro Carmona yang hanya menduduki sebagai
presiden interim selama sehari dipaksa mengumumkan pengunduran dirinya
setelah Jaksa Agung menyatakan bahwa kudeta tidak sah. Hugo Chavez yang
sempat ditahan di Pulau La Orchilla dikukuhkan kembali sebagai Presiden
Venezuela pada 14 April 2002.
“Setiap saya ceritakan ini
pada diplomat asing, mereka selalu mengatakan semoga saya tidak
ditempatkan di negaranya. Mereka berseloroh bisa-bisa kudeta terjadi di
negaranya kalau saya bertugas disana”, ungkap penyuka olahraga ini.
Ck, ck, ck...
Disangka Gypsy
Oleh : Noviyanti Nurmala
Ungkapan
‘Lain padang, lain ilalang’ mungkin tepat menggambarkan kejadian yang
dialami Emeria. W. Siregar di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Untuk
ukuran orang Indonesia, warna kulit wanita yang menjabat Direktur Eropa
Tengah dan Timur Deplu ini mungkin termasuk putih mulus. Tapi siapa
sangka bagi orang Eropa Timur warna kulitnya tergolong gelap?
Kisah unik ini bermula saat
Ibu Adjeng, begitu ia sering disapa, tinggal di Yugoslavia pada tahun
1989-1994. “Saya sering disangka sebagai orang Gypsy. Perpaduan muka dan
warna kulit saya mungkin sedikit mirip kelompok Gypsy/Roma yang berasal
dari Romania” jelasnya membuka cerita.
Namun kemiripan itu bukannya
membawa berkah tapi malah berbuah kesulitan. “Karena kaum Gypsy suka
mengembara dan tergolong orang terbuang di masa itu, kadang-kadang saat
ingin membeli barang saya sering diminta oleh penjaga toko untuk membuka
dompet lebih dulu” ungkap alumni Universitas Indonesia ini.
Ternyata kejadian itu memang
jamak terjadi karena di negara komunis dimana semuanya sama rata sama
rasa, seorang Gypsy dinilai tidak memiliki kemampuan untuk membeli.
“Untungnya karena Dinar sebagai mata uang Yugoslavia memiliki nilai
nominal mencapai 9 sampai 12 digit, alhasil dompet saya pun akhirnya
jadi tebal” jawab wanita yang senang membaca ini sambil terkekeh.
Pengalaman uniknya pun tak
hanya sampai di situ. Penggemar Turkish Coffee ini pernah
dikejar petugas di stasiun kereta api, lagi-lagi karena warna kulitnya.
Berbekal paspor diplomatik, ia pun meladeni pertanyaan petugas dengan
lugas. “Sebagai diplomat saya harus PD (percaya diri) meskipun ukuran
badan lebih kecil dan warna kulit berbeda” katanya dengan semangat.
Meski kurang mengenakkan,
tapi baginya semua kejadian tersebut merupakan pelajaran berharga. “Jika
tidak ditempatkan di kawasan Eropa Timur, mungkin saya tidak akan tahu
hal-hal unik ini” ujarnya.
Curhat lewat lukisan
Oleh : Noviyanti Nurmala
Jika suatu saat
berkesempatan bertandang ke ruangan kerja Elias Ginting, Sekretaris
Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, pastikan untuk
mengamati dua lukisan yang dipajang di dinding. Sepintas lukisan
tersebut terlihat seperti hasil karya pelukis profesional. Siapa sangka
lukisan cantik itu ternyata karya diplomat senior yang sering disapa Pak
Ginting ini. “Pada waktu senggang saya memang suka melukis” ungkap
pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara ini.
Manakala
merasa gundah gulana, perasaan itu dituangkan lewat goresan-goresan cat
di kanvas. Katanya setelah menuangkan suasana hati yang sedih di atas
kanvas, perasaan menjadi lega dan plong. “Lucunya saya baru menyadari
dua hal dari semua lukisan saya. Pertama, saya tidak pernah melukis
ketika hati gembira. Kedua, semua objek lukisan saya tidak pernah
berbentuk manusia, “ jelasnya sembari terkekeh.
Kurang lebih 20 lukisan
sudah tercipta lewat tangan dingin pria yang belajar melukis secara
otodidak ini. “Itu yang jadi berbentuk lukisan karena banyak pula yang
tidak jadi. Jika pada proses pembuatannya mood-nya hilang, ya
hilang pula inspirasinya sehingga tidak selesai” ujarnya. Mungkin karena
itulah dia pernah selama 10 tahun sama sekali tidak menyentuh kanvas
alias tidak melukis.
Ketika ditanya aliran
seninya, pria berbadan tegap ini menggelengkan kepala. “Entah itu
ekspresionis atau naturalis, yang penting itulah lukisan hasil perasaan
saya” jelasnya kalem. Meski mengaku guratan tangannya kurang bagus,
ternyata hasilnya cukup menarik perhatian. Seorang warga Belanda pernah
berminat membeli lukisannya yang berjudul The Bloody Side of Tulip’s
Democracy. “Saya melukis itu pada tahun 2002 sebagai ungkapan
simpati kepada tokoh politik Belanda Pim Fortuyn yang terbunuh,”
tuturnya dengan mimik serius.
Lebih lanjut soal pelukis,
lulusan Universitas Gadjah Mada ini pun dengan fasih menceritakan kisah
Van Gough. Katanya lukisan seniman Belanda terkenal tersebut
ditertawakan dan malah hanya dihargai dengan 2 potong roti. “Sekarang
satu lukisan kecil Van Gough dapat ditukar dengan sepuluh pabrik roti.
Nah,siapa tahu nanti anak cucu akan kaya karena lukisan saya?“
ujarnya sambil tersenyum. Semoga saja ya Pak...
Olahrgawan bayaran
Oleh : Noviyanti Nurmala
Orangnya
murah senyum dan penampilannya bersahaja. Namun saat berbincang tentang
olahraga, komentar-komentar Sudirman Haseng cukup menggelitik. Pada
awalnya Direktur Afrika Departemen Luar Negeri ini mengaku tidak
berolahraga secara khusus, tapi nyatanya usahanya cukup konsisten. “Saya
paling tidak sekali dalam seminggu jogging atau jalan sejauh 4-5 km,
karena cuma itu yang bisa dilakukan di sela-sela kesibukan” jelasnya
merendah.
Ketika bicara tentang jenis
olahraga lain yang dilakukannya, bapak kelahiran Pakajene, Sulawesi
Selatan ini pun dengan santai menyebut boling dan main bola.
Menurut diplomat yang terakhir bertugas di Kuwait ini keduanya dapat
menimbulkan kebersamaan. “Khusus boling, itu bisa dimainkan bersama
keluarga karena tergolong ringan. Semua orang bisa melempar bola boling
meski ada juga yang bolanya melayang justru ke belakang” jelasnya sambil
terkekeh.
Bapak empat anak yang baru saja selesai
menjalani fit and proper test
untuk menjadi Duta Besar RI di Nigeria ini sering memboyong keluarganya
bermain boling di Ancol atau di Plaza FX “Saya pilih kedua tempat itu
karena tarifnya yang lumayan murah. Sekali main paling banyak 2-3 game.
Anak-anak saya akhirnya jadi ikut suka” ungkapnya dengan
kalem.
Meski sering berolahraga
dengan keluarga, ia pun dengan bergurau memperkenalkan istilah
‘olahragawan bayaran’. “Saya ini sebenarnya pemain olahraga bayaran
alias kalau ada yang membayari baru saya olahraga. Tapi saya bukan
pemain panggilan loh” tuturnya santai.
|