HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XI APRIL 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 26 April, 2009

 

 

 

 

Walaupun di pasar dunia produk Indonesia dan Thailand cenderung bersaing namun ternyata pasar negeri Siam ini menyimpan peluang yang dapat direbut pengusaha Indonesia.

Mendengar nama Thailand yang terbayang adalah pusat wisata dan keunggulan sektor pertanian. Siapa tidak kenal beras Thailand atau kenikmatan duren Bangkok. Wisatawan pun mafhum akan keindahan perhiasan emas Bangkok yang dijajakan di berbagai sudut jalan utama seperti Petchburi atau Chalermkhet Road.

Jika demikian, apakah peluang pasar Thailand telah tertutup rapat bagi para eksportir Indonesia?. Di tengah resesi ekonomi global yang menghempaskan roda ekspor berbagai negara di dunia, peluang menembus pasar Thailand terhitung masih cukup bagus. Setidaknya, itu yang dipaparkan Kuasa Usaha ad Interim Kedubes RI di Bangkok, Djumantoro Purbo. “Indonesia maupun Thailand memiliki banyak kesamaan dalam komoditas ekspor, sehingga produk kedua negara di pasaran dunia lebih sering berkompetisi daripada saling melengkapi. Untuk membidik pasar Thailand kita perlu melakukan diversifikasi produk” ujar Djumantoro. Berdasarkan pengamatannya, komoditas ekspor yang layak dipertimbangkan pemodal UKM antara lain komoditas pertanian seperti singkong/cassava, alas kaki, dan perhiasan. Sementara, bagi pemodal besar dapat melirik peluang ekspor seperti produk kerajinan, kertas, obat tradisional/herbal, furniture, garmen, tekstil, produk kulit, batubara, dan pupuk kimia.

Optimisme Djumantoro kiranya bukanlah basa-basi. Sejak tahun 2006 Thailand gencar mengonsumsi ber ton-ton singkong untuk produksi bioetanolnya, yang diperkirakan akan terus meningkat. Untuk tahun 2009 dan 2010 diperkirakan masing-masing 2.38 dan 3.47 juta ton singkong akan dibutuhkan Thailand dalam pengembangan produksi etanol dalam negerinya.

Produk alas kaki juga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang cukup menjanjikan di pasar Thailand. Tren kebutuhan Thailand akan alas kaki menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, khususnya dalam dua tahun terakhir ini. Tahun 2007 impor komoditas alas kaki dari Indonesia mencapai US$ 13,59 juta, sementara 2008 (Jan-Agustus) tercatat US$ 13,25 juta, dan diperkirakan dapat mencapai kurang lebih US$ 15 juta pada akhir 2008. Djumantoro meyakini bahwa hal ini merupakan bukti produk alas kaki Indonesia dapat memenuhi selera konsumen Thailand.

Produk strategis lainnya yang juga dapat ditawarkan kepada Thailand adalah perhiasan. Kita sudah lama mengetahui bahwa konsep desain perhiasan tradisional Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Kekhasan dalam kreasi perhiasan tradisional dalam negeri inilah yang diharapkan turut meramaikan ragam ekspor Indonesia ke Thailand. Berdasarkan statistik, komoditas perhiasan dalam dua tahun terakhir ini (2007/08) belum termasuk sepuluh besar impor Thailand dari Indonesia. “Gem&Jewelry juga belum termasuk sepuluh besar komoditas ekspor Thailand ke Indonesia”, papar Djumantoro. Bila melihat impor perhiasan ke Thailand selama 2007 yang naik 5,71%, maka peluang bagi eksportir Indonesia masih sangat terbuka. Tentu saja ini perlu dimanfaatkan seluas-luasnya oleh para UKM Indonesia, terutama mengingat tren perdagangan produk perhiasan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Para pelaku UKM di bidang perhiasan tradisional Indonesia kiranya masih perlu terus melakukan internasionalisasi desain tradisional agar lebih memenuhi selera pasar dunia. Untuk dapat menangkap pasar internasional, perhiasan harus dapat beradaptasi dengan ragam busana di segala kesempatan. Sebagaimana yang dipesankan Djumantoro, “satu hal yang harus dipikirkan Indonesia untuk menembus pasar Thailand, adalah bagaimana melakukan diversifikasi produk, agar menjadi produk bernilai tambah”.