HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

FIGUR EDISI V 2007

Si Nyuut bangkit dari keterpurukan

Oleh: Luqman Hakim Arifin

 

Ia bibit unggul yang disemai di lahan subur. Peraih penghargaan “Young Entrepreneur of the Year 2006” dari Ernst & Young ini mengajak semua orang membuka tabir sukses.

ADA guyonan berbahasa Arab di kalangan alumnus Pondok Gontor: “Kullu Asep nyuut illa Asep Sulaiman Sabanda.” Kebanyakan santri yang bernama Asep itu nyuut alias “cantik” kecuali Asep Sulaiman Sabanda. Nyuut adalah istilah seksis di 1990-an dalam kehidupan homogenestik santri Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sebuah penanda bagi santri yang memiliki daya tarik seksual tinggi, yang biasanya ditandai dengan wajah ganteng, berkulit putih-bersih, dan berperilaku lemah gemulai. Entah kebetulan atau tidak, para santri bernama depan “Asep” identik dengan streotipe seksis ini. Dan Asep Sulaiman Sabanda adalah pengecualian. Ia berkulit gelap, tinggi kurang dari 165 sentimeter, dengan jidat lebar dan rahang yang kokoh. Asep memang tidak nyuut dalam arti fisik.

Tapi kini, dialah Asep yang paling nyuut dalam arti sukses bisnis. Ia menjadi pengusaha ayam broiler yang sukses, menjadi buah bibir para alumni Gontor. Lelaki 29 tahun itu kini memimpin kelompok bisnis bernama Santika Group, yang membawahkan enam perusahaan. PT Santika Duta Nusantara, bisnis inti Santika yang menghasilkan sekitar 2 juta ekor ayam per siklus (1,2 juta ekor per bulan) dan dilakukan bersama 600 peternak binaan atau plasma. PT Metrovet Anugerah Lestari, yang menyediakan kebutuhan obat hewan ternak. Serta PT Aufa Duta Wisata, yang bergerak di sektor tour & travel. Baru-baru ini, Asep pun membeli ruko di daerah Tebet, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,75 milyar. Santika Berlian Motor, yang bergerak di bidang penjualan, penyewaan mobil dan alat-alat berat. Juga PT Santika Plastindo Utama, yang menyediakan peralatan peternakan dan plastik serta konstruksi bangunan. Di Al-Aliim Santika Sdn Bhd —perusahaan ini berada di Brunei Darus itu bergerak di biang peternakan ayam, trading, dan konstruksi.

Selain itu, Asep juga mendirikan Yayasan Al-Ihyaa sebagai salah satu bentuk kepedulian sosialnya. Yayasan ini memiliki se kolah TK dan madrasah, semuanya gratis. Untuk alokasi kegiatan sosial, Asep mengambil kurang lebih 5% dari total keuntungan perusahaannya. Terletak di Dusun Karang Cegak, Desa Cidahu, sekitar tujuh kilometer dari kota Subang, Jawa Barat, omset perusahaan Pak Haji Asep mencapai Rp 200 milyar per tahun. Atas kerja kerasnya itu, Asep dinobatkan sebagai “Young Entrepreneur of the Year 2006” oleh Ernst & Young. Ia juga masuk finalis kategori social entrepreneur.

Tentu saja, perjalanan Asep mencapai puncak sukses tidak dicapai dalam sekejap. Lulus dari Gontor pada 1995, ia “nyantri’’ di Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat, sebuah lembaga pelatihan entrepreneur yang ada di bawah payung Pondok Modern Gontor. Di sini,suami Vina Nuriyanti itu belajar bisnis dan manajemen. Asep pernah berjualan gantungan kunci, gesper, dan kaus di emperen Jalan Malioboro, Yogyakarta. Memulai bisnisnya secara mandiri pada 1998. Sebelumnya, ia ikut dalam bisnis ayahnya, Haji Shobur Tadjudin, yang juga peternak ayam. Awalnya, ia menyewa lahan ternak milik orang tuanya untuk beternak ayam sebanyak 10.000 ekor. Dari sini meraup keuntungan Rp 10 juta. Selajutnya ia melabarkan kandangnya untuk memelihara 60 ribu ekor ayam. Tapi bukannya untung, Asep malah buntung Rp 70 juta. Lantaran banyak ayamnya yang mati terserang penyakit. Toh, dia tak patah arang. Asep menambah ayamnya menjadi 80 ribu ekor. Lagai-lagi ia tekor Rp 90 juta. Asep yang pada waktu itu baru berumur 20 tahun ia punya beban utang Rp 180 juta.

“Saya bingung saya melakukan apa. Saya tiba tiba menjadi pemuda yang tadinya tidak punya apa-apa, tapi karena angan-salam Asep pun menanamkan sahamnya. Perusahaan angannya, berhutang sebanyak itui” tutur Asep mengenang masa pahitnya.  Setiap hari pergi di pagi hari dan pulang setelah jam 10 malam untuk menghindari kejaran para kreditornya.

Untunglah, ada sang bapak, Haji Shobur, kini sudah almarhum, menyemangaiti putranya agar bangkit dari keterpurukan. Mendengar anaknya punya hutang Rp 180 juta, ia bukannya kaget atau marah. Sang ayah justru berkata, “Utang segitu saja, kok kamu bilang banyak, “ tutur Haji Shobur. “Dibanding masa depanmu, itu nggak ada artinya. Jangan kamu jual masa depanmu. Bahkan kalau semua kekayaan bapak habis, itu tetap tidak artinya dibanding masa depanmu,” Ucapan sang bapak itu membangkitkan rasa percaya diri Asep dan menancap hingga sekarang.

Selanjutnya, Asep dibawa bapaknya untuk menemui orang-orang yang duitnya dipinjam Asep. “Mereka kaget. Orang dicari susah, kok malah datang. Disitulah timbul kepercayaan diri saya, kata Asep. Akhirnya utang Rp 180 juta itu hanya Rp 11 juta yang dibayar orang tuanya. “Sisanya saya bayar sendiri. Tapi, kalau Bapak tidak memebri semangat, saya tidak bisa bangkit seperti saat ini,” ujar Asep. Jika H. Shobur Tajudin masih hidup, pastilah ia tersenyum bahagia melihat prestasi anak keduanya itu. Setelah berhasil melunasi utangnya pada 2001, perkembangan bisnis ayam Asep melesat bak meteor. Hal ini karena pada tahun 2001 ia menerapkan system intiplasma membawahi 600 petani plasma yang tersebar di Subang, Purwakarta, Indramayu, Sumedang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Mojokerto, Malang dan sekitarnya.

Perusahaan inti milik Asep menyediakan bibit, pakan, obat-obatan dan pembinaan teknis. Ia juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan pembagian hasil penjualan ayam. “Sistem ini solusi yang tepat untuk problem kesenjangan ekonomi dan pengangguran,’’ ujar Asep. Berdiri di lahan seluas 32 hektare, dengan kandang di tujuh lokasi, dua diantaranya menerapkan closed house system. Dua kandang itu mampu memproduksi 3,4 juta ekor ayam per siklus dan sekarang baru 700 ribu ekor. Konon, kandang ini yang terbesar kedua di Asia Tenggara setelah milik Charoeon Pokphand di Thailand.

Ditemui GATRA Sabtu pekan lalu di kantornya yang sederhana, Asep, Si Nyuut itu, terlihat sangat sibuk. Beberapa tamu mengantri bertemu dengannya. Ketika azan lohor berkumandang, pengemar tulisan Hermawan Kertajaya ini menghentikan wawancara. “Kita salat dulu ya,” katanya. Rezeki, kata Asep, adalah takdir jatah. Semua orang sudah ada jatahnya. Kalaupun kita harus tetap berikhtiyar, kata Asep, karena itu untuk mendapatkan jatah kita. Melebihi jatah tidak bisa, tapi tidak berusaha juga tidak dapat. “Tapi jangan serakah, karena kita tidak bisa ambil jatah orang lain. Dan jangan takut, karena jatah kita nggak bakal diambil oleh orang lain!” Asep menegaskan.

Biodata Asep Sulaiman Sabanda

Pemilik kelompok bisnis Santika Group

Lahir : Subang, 16 Januari 1977

Istri : Vina Nuriyanti Anak : 3 orang

Pendidikan :

- Pondok Modern Gontor Ponorogo (1995)

- Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Subang (Drop out)

Penghargaan :

“Young Entrepreneur of the Year 2006 (Ernst & Young)

 

Sumber: MAJALAH GATRA