|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 April, 2009
|
Rezeki minyak di Maghribi Oleh : Rukmini Tri Setiati
Persahabatan Indonesia dan Aljazair telah berlangsung selama 45 tahun. Namun hubungan selama hampir setengah abad itu tidak disertai dengan kemajuan kerjasama di bidang ekonomi. Alajzair adalah salah satu raja minyak di wilayah Maghribi. Di wilayah Hydra, sekitar enam jam jarak tempuh dengan mobil dari ibukota Aljazair, Algier, hamparan gurun pasir terlihat sepanjang mata memandang. Di wilayah itu sebuah jalan tol sedang dibangun. Sekitar 500-an warga negara Indonesia dan Jepang sedang mengerjakan bagian proyek pembangunan 100 km jalan tol tersebut. “Situasi kerja di sini sangat sulit tetapi kami sudah biasa bekerja dengan orang Indonesia, kata Takashi Washimi dengan bahasa Indonesia pelan. Takashi adalah manajer senior Kajima Corporation, sebuah perusahan konstruksi Jepang. Perusahaan tersebut memenangkan tender proyek pembangunan jalan tol sepanjang 400 km di Aljazair yang akan dirampungkan pada tahun 2010. Kajima Corporation menunjuk PT Wijaya Karya, sebuah BUMN Indonesia untuk mengerjakan konstruksi 100 km jalan tol tersebut dengan nilai investasi US $ 700 juta. Melihat Aljazair kini, tentu tidak perlu membayangkan konflik politik yang pernah memorak-porandakan fondasi sosial ekonomi dan politik negeri itu pada awal tahun 1990-an. Dengan kondisi sosial politik yang kondusif didukung dengan potensi-potensi ekonomi yang dimiliki Aljazair, negeri berpenduduk 36 juta jiwa ini (sensus Maret 2008), kini menjadi salah satu destinasi para investor asing untuk berinvestasi di berbagai sektor. Pemerintah Aljazair mulai mencanangkan berbagai proyek pembangunan di antaranya adalah proyek infrastruktur, perumahan, proyek pengadaan air bersih dan pendidikan yang didukung dengan berbagai reformasi dalam sistem perbankan dan keuangan, termasuk program privatisasi di sektor-sektor yang bergerak di bidang agro industri, kimia, elektronik, mineral dan bahan bangunan. Tidak ketinggalan pula, Pemerintah Aljazair mulai menggerakkan sektor pariwisata negara tersebut, dengan membangun perhotelan dan tempat-tempat wisata yang sebelum kerusuhan sosial tahun 1992, ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.
Pekonomian Aljazair Perekonomian Aljazair berkembang pesat setelah negara tersebut menjadi salah satu eksportir minyak. Ekspor minyak Aljazair pada tahun 2008 mencapai 1.2 juta barrel/hari dan menyumbang sekitar 98 % terhadap pendapatan nasional. Dengan ekspor minyak tersebut, cadangan devisa Aljazair meningkat tajam hingga mencapai US $ 133 milliar (Maret 2008). Pada semester pertama tahun 2008, GDP Aljazair mencapai US $ 235,5 milliar dengan GNP perkapita mencapai US $ 8.100. Angka Pendapatan Perkapita tersebut merupakan angka yang sangat tinggi bagi untuk negara berkembang. Dalam kurun waktu 2000-2004, pertumbuhan ekonomi Aljazair cukup stabil berada di kisaran 5,5 %. Tetapi, pada tahun 2007, pertumbuhan ekonominya semakin melonjak tinggi hingga mencapai 7 %, hal itu karena Aljazair mulai mengekspor gas alam cair. Pada tahun 2008 pertumbuhan tersebut kembali normal di kisaran 5,5 % dengan tingkat inflasi 4,6 %. Harga minyak dunia yang meroket ikut mendorong pertumbuhan perekenomian dalam negeri. Pada semester pertama tahun 2008, nilai ekspor migas Aljazair mencapai US $ 40,54 miliar, naik 44,86 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007. Sementara, ekspor non migasnya pada tahun 2008 tercatat hanya US $ 1,1 miliar. Kegiatan industri di Aljazair belum sepenuhnya berkembang. Kegiatan industrinya masih difokuskan pada industri pengolahan makanan (agro alimentaire) dan industri manufaktur dengan bahan-bahan yang di dapat melalui impor, terutama dari negara-negara Eropa seperti; Perancis, Italia, Spanyol dan Turki, di samping beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Selatan dan Jepang. Adakah peluang-peluang bisnis bagi pengusaha Indonesia di Aljazair?
Potensi Ekspor Indonesia Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, pemerintah Aljazair sedang melaksanakan pembangunan infrastruktur termasuk pembangunan industri manufaktur. Hal ini akan membuka peluang-peluang bisnis yang sangat besar bagi pengusaha Indonesia untuk melakukan ekspansi pasar ke Aljazair guna memenuhi kebutuhan konsumen setempat, termasuk para pekerja asing yang berjumlah sekitar lima puluh ribu (50.000) orang. Pada tahun 2008, perdagangan Aljazair dengan Indonesia mengalami surplus bagi Indonesia. Sejak tahun 2002, Indonesia mengimpor minyak dari Aljazair sekitar 30.000 barrel/ hari. Namun dalam perdagangan non migas, Indonesia mengalami surplus. Hal itu dapat dilihat dari indeks perdagangan kedua negara pada tahun 2008 bahwa ekspor Aljazair ke Indonesia mencapai US $ 209.649 juta. Sedangan impor dari Indonesia mencapai US $ 281.991 juta. Berdasarkan data Badan Nasional Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Aljazair, tercatat 11 produk andalan Indonesia yang diekspor ke pasar Aljazair yaitu ; kelapa sawit, pipa, kopi, minyak sayur, plywood, mesin-mesin dan aksesorisnya, automatic maintenance machines information, karet alam, lemari es, polyteline dan produk obat-obatan. Selain itu, tercatat 6 produk Indonesia yang mengandung prospek di pasar Aljazair yaitu ; elektric transformer, synthetics string, bahan bangunan, peralatan untuk produksi videophone, minyak sayur dan noodle soap. Selama ini, pasar Afrika, utamanya Afrika Utara seperti Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko kurang diminati para pebisnis Indonesia, dengan alasan karena jaraknya yang sangat jauh. Padahal, beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Selatan, Malaysia, Thailand sudah melakukan ekspansi pasar ke kawasan yang sangat potensial tersebut. Hubungan bilateral kedua negara yang sangat baik, tentu akan banyak memberi kemudahan bagi para pebisnis Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar dan investasi di di negara itu. Diolah dari laporan KBRI Alger
|