LEBARAN nggak pulang kampung?
“Wah, nggak kebayang tuh, karena aku biasanya selalu pulang kampung
kalau lebaran” ujar Yanti, gadis asal Malang yang bekerja di Jakarta.
Pagi itu Yanti tengah berdesakan dengan calon penumpang lainnya di
stasiun Gambir. Kereta api Gajayana jurusan Malang belum juga nampak
namun wajah sanak famili dan ibunda tercinta telah membayang di pelupuk
mata. Yanti masih enak naik kereta api eksekutif yang cukup nyaman.
Banyak pemudik lain menggunakan kereta api kelas ekonomi yang terkadang
harus lompat lewat jendela karena pintu penuh sesak. Kereta barang pun
ditumpangi. Puluhan ribu pemudik berjubel di dalam bis dan tersuruk di
geladak-geladak kapal. Tidak sedikit yang mudik mengendarai sepeda motor
menempuh ratusan kilometer bersama anak istri. Wah repotnya. Ngapain
sih pulang kampung?
Budaya pulang kampung
menjelang lebaran telah dilakoni selama puluhan dekade oleh masyarakat
Indonesia. Kalau jaman dulu ke kampung perlu waktu lama maka sekarang
lebih mudah karena sarana transportasi semakin canggih. Apakah kegiatan
mudik bagian dari ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri? Nggak
juga sih, tapi memang ada hubungannya. Setelah berpuasa sebulan penuh,
perayaan hari kemenangan lebih afdhol rasanya kalau dilakukan
bersama orang tua dan sanak keluarga di kampung. Sungkem sama
orang tua wajib dilakukan karena tanpa ridho orang tua makna
fitri akan berkurang.
Sejumlah peneliti masalah
sosial mengatakan alasan utama orang untuk mudik adalah ikatan
kekeluargaan dan cinta kampung halaman masyarakat Indonesia yang sangat
kuat. Fenomena ini juga merupakan ciri khas budaya Indonesia yang selalu
mengingat asal usulnya. Dengan pemikiran itu, mudik artinya kembali ke
ibu, ke kampung halaman tempat ia dilahirkan. Lalu apa kaitannya dengan
Lebaran? Karena lebaran adalah momentum yang tepat untuk pulang ke
kampung, kembali ke orang tua. Walau hanya beberapa hari, bersilaturahmi
dengan keluarga di kampung terasa sangat berharga.
Namun mudik tidak selalu
harus pulang kampung. Ada yang tidak mempunyai sanak keluarga di luar
tempat domisilinya, misalnya semua keluarga ada di Jakarta. Untuk kasus
ini makna pulang kampung adalah bertemu dan bersilaturahmi dengan orang
tua dan keluarga walaupun secara fisik tidak ada kegiatan perjalanan
mudik. Namun hakikat “kembali” sudah terpenuhi karena semua sanak famili
dan handai taulan telah ditemui.
Tujuan untuk pulang kampung
ternyata tidak mempunyai titik berat yang sama bagi para pemudik. Bagi
yang telah mempunyai kedudukan mapan seperti Yanti yang bahkan sudah
beberapa kali bertugas di luar negeri, aktifitas pulang kampung akan
sarat dengan makna lebaran, saling memaafkan dengan sanak keluarga.
Namun bagi sebagian orang, tujuan mudik lebih diutamakan sebagai bentuk
eksistensi diri. Saat yang tepat untuk memamerkan kekayaan dan
keberhasilan di rantau kepada kerabat di kampung dilakukan pada saat
mudik. Ada juga yang hanya terbawa rutinitas belaka, lebaran berarti
pulang kampung tapi yang dikunjungi malah tempat wisata.
Apapun alasannya, pulang
kampung adalah fenomena menarik. Rela berdesak-desakan, panas-panasan
dan gerah berkeringat demi mudik. Eh, ternyata kegiatan mudik tidak
hanya ada di Indonesia lho. Di beberapa belahan dunia lain ada
juga yang pulang kampung pada waktu tertentu. Misalnya di Korea, semua
jalan tol keluar kota padat pada saat perayaan chuseok. Mereka
juga mengenakan baju baru namun corak tradisional yang disebut hanbok.Anehnya, hal yang dilakukan di kampung mereka juga sama yaitu
sungkem sama orang tua, bersilaturahmi dengan sanak famili dan
berdoa di makam nenek moyang. Masa sih?