|
Edisi X NOPEMBER 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 13 November, 2008
|
Penyelamat ekonomi Korsel Oleh : Nuradi Noeri
Usaha Kecil dan Menengah mempunyai peran penting dalam urat nadi perekonomian Korea Selatan. Kelangkaan tenaga kerja lokal untuk sektor ini memaksa Korsel untuk membuka pintu pasar tenaga kerjanya. Ratusan ribu pekerja asing termasuk TKI telah mereguk nikmatnya Won di negeri ginseng ini. “Pali..pali..” teriak Kim Hyun-sob kepada Slamet dan Fajar ketika mereka berjalan di antara barisan mesin-mesin pemintal elektronis. Manajer sebuah pabrik handuk di kota Suwon, Korea Selatan ini tengah memberikan pelatihan kepada dua orang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang baru mulai bekerja di perusahaan itu. Deru mesin yang menggemuruh membuat Kim harus berteriak sewaktu menjelaskan jenis mesin dan cara mengoperasikan alat-alat pemintal.”Igonen weaving machine iya, you... every morning... clean..iroke, iroke...” ujar Kim menjelaskan cara membersihkan gumpalan benang di mesin tenun menggunakan bahasa campuran Korea dan Inggris. Dua orang TKI itu terlihat manggut manggut memperhatikan penjelasan sajang (bos) mereka. Pabrik handuk dimana Slamet dan Fajar mengadu untung itu adalah salah satu dari sekitar 3 juta usaha kecil menengah (UKM) di Korsel. UKM adalah tulang punggung perekonomian Korsel. Ketika badai krisis menghantam negeri morning calm ini pada tahun 1998, UKM menjalankan peran penting dalam menyelamatkan ekonomi Korsel. Pemerintah pun menaruh perhatian besar untuk mendorong perkembangan UKM.
UKM Korsel Menurut data Korea Small & Medium business administration (SMBA), lembaga pemerintah khusus untuk membantu pengembangan UKM, sebanyak 99% dari jumlah perusahaan di Korsel adalah berkategori UKM. Penyerapan tenaga kerja oleh UKM juga sangat tinggi yaitu 88% dari keseluruhan tenaga kerja. Porsi hasil produksi UKM juga mencatat angka yang mencengangkan yaitu 49% dari total produksi dunia usaha Korsel. Sulit dipercaya bahwa hampir seluruh perusahaan di Korsel berkategori UKM. Ketika berbicara mengenai produk Korsel kita akan langsung ingat Samsung, LG, Hyundai dan lainnya. Ternyata perusahaan-perusahaan raksasa itu tidaklah banyak. Bahkan sebagian komponen produk chaebol (konglomerat) ini diproduksi oleh UKM. UKM Korsel mempunyai kapasitas produksi dan modal yang lumayan besar. Slamet dan Fajar pun tidak mengira kalau mereka bekerja di perusahaan UKM karena karyawannya ratusan dan luas areal pabrik sekitar 15 ribu meter persegi. Disamping enam gedung pabrik dengan puluhan mesin pemintal dan mesin-mesin lainnya, terdapat dua buah gedung seperti apartemen tiga lantai untuk akomodasi karyawan. “Asramanya bagus dan lengkap, tiap kamar ada komputer dan internet” ujar Slamet puas. Klasifikasi UKM di Korsel memang berbeda dibanding Indonesia. Sebuah perusahaan di Incheon, Korsel, yang dikunjungi AKSES beberapa bulan lalu mempunyai total aset US$ 4 juta (sekitar Rp 39 milyar). Jumlah yang cukup besar, namun perusahaan ini masih diklasifikasikan sebagai UKM. Menurut SMBA jenis usaha berkategori UKM adalah yang mempunyai modal US$ 8 juta (sekitar Rp 77 milyar) kebawah dan jumlah karyawan maksimal 300 orang. Wah, nilai yang sangat besar bagi UKM kita. Pemerintah Korsel memilah UKM menjadi empat jenis. Pertama UKM yang berbasis inovasi teknologi. Pemerintah memberikan bantuan modal untuk penelitian dan insentif bagi inovasi yang dihasilkan UKM ini. Peran mereka diharapkan dapat meningkatkan posisi Korsel dalam arena persaingan inovasi teknologi. Kedua, UKM berbasis inovasi manajemen guna menunjang perkembangan UKM terutama yang berbasis inovasi teknologi. Berikutnya adalah UKM jenis mikro. UKM jenis inilah yang berperan sebagai tulang punggung perekonomian Korsel. Sebagian besar TKI bekerja di sektor ini. Selanjutnya adalah pedagang di pasar tradisional. Pembentukan SMBA merupakan cerminan betapa pentingnya peran UKM dalam perekonomian Korsel. Bantuan yang diberikan lembaga ini mulai dari pendirian perusahaan, penyediaan lahan, pemberian pelatihan serta informasi peluang bisnis sampai pinjaman modal usaha dengan prosedur yang mudah. Dalam proses pelatihan, SMBA juga melibatkan pihak akademisi dan lembaga lain yang terkait dengan bisinis UKM.
Pekerja asing UKM di Korsel berserakan di seluruh kota di negeri ginseng itu. Sebagian besar berada di kota Suwon, Taegu, Taejon, Ulsan, Incheon, Pyongtaek, Ansan, Busan dan kota-kota lainnya. Demikian juga halnya dengan pekerja asing yang sebagian besar bekerja pada UKM, mereka pun tersebar di seluruh pelosok Korsel. Data KBRI Seoul pun menyebutkan bahwa sebagian besar TKI berada di kota-kota tersebut. Kenapa mayoritas pekerja asing bekerja pada UKM? Syahdan, ketika perekonomian Korsel mulai menanjak pada tahun 1980an, industri kecil dan menengah membutuhkan ribuan pekerja. Namun perkembangan dunia industri yang melesat itu tidak diimbangi oleh ketersediaan tenaga kerja lokal yang cukup. Maka mulailah didatangkan pekerja asing dari berbagai negara. Pemerintah Korsel tidak sembarang mendatangkan pekerja asing. Semula, sebanyak 17 negara mengirimkan pekerjanya ke Korsel. Namun berdasarkan sistim perekrutan yang baru (Employment Permit System), hanya delapan negara yang dapat mengirimkan tenaga kerja ke Korsel yaitu Indonesia, RRC, Mongolia, Filipina, Thailand, Vietnam, Srilanka dan Kazakhstan. Dari kenyataan itu dapat disimpulkan pekerja asing termasuk TKI menyumbangkan peran penting dalam pembangunan ekonomi negeri kimchi ini. Sebuah sumber di Kementerian Tenaga Kerja Korsel menyatakan bahwa sebanyak 37% pekerja asing bekerja di sektor manufaktur, baik industri ringan maupun berat. Umumnya memproduksi komponen kendaraan bermotor dan mesin, tekstil, barang elektronik dan komponennya, pakaian jadi, alas kaki, perlengkapan mandi, mebel dan lain lain. Hampir semua TKI bekerja di sektor ini. Setelah mengikuti pelatihan selama beberapa bulan, pekerja asing biasanya langsung diterjunkan ke pabrik. Sektor kedua yang banyak diisi oleh pekerja asing adalah konstruksi. Kementerian Naker Korsel menyebutkan bahwa sekitar 23% pekerja asing berada di sektor ini. Sebagian besar adalah warga negara Cina keturunan Korea. Berikutnya adalah sektor jasa terutama hotel dan restoran. Mayoritas pekerja di sektor ini juga berasal dari Cina keturunan Korea. Sektor jasa memang masih sangat jarang memanfaatkan tenaga kerja asing kecuali keturunan Korea terutama dari RRC. Selain itu, pekerja asing juga mengadu untung di sektor lainnya seperti pertanian, perikanan, perternakan dan lain lain. Sektor ini diisi oleh semua pekerja dari semua negara termasuk Indonesia. Bila kita jalan jalan ke kota Ansan atau kota lain dimana banyak terdapat TKI, dengan mudah dapat dijumpai restoran Indonesia. Rumah makan itu tidak hanya menjual makanan khas Indonesia namun juga rokok, majalah sampai vcd dari Indonesia. Tempat ini juga kerap menjadi ajang kongko kongko para TKI sambil menikmati lagu-lagu dari tanah air. Tidak jarang di tempat ini terjadi pertemuan antara TKI yang yang lari dengan calo untuk mendapatkan majikan baru. Pemilik restoran umumnya orang Korea dengan beberapa pekerja diantaranya TKI yang menjadi juru masak. Namun sang juru masak biasanya kucing-kucingan dengan juru tangkap alias polisi setempat. Sumber AKSES di KBRI Seoul menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada peraturan resmi yang membolehkan pekerja asing selain keturunan Korea bekerja di sektor jasa seperti rumah makan. Bila ada pekerja restoran orang Indonesia, dapat dipastikan mereka berstatus ilegal. Wah, kalau juru masaknya illegal, masakannya legal atau tidak.....
|