|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Seiring dengan kemajuan teknologi dan tingkat kesadaran serta tingkat kehidupan masyarakat Singapura, menyebabkan mereka lebih memilih produk makanan yang lebih sehat, yaitu produk organik. Masyarakat Singapura, termasuk para ekspatriat (warga asing yang kerja dan tinggal di sana) sangat memperhatikan kesehatan. Saking pedulinya—bahkan terkesan khawatir—terhadap produk makanan, terutama sejak mewabahnya virus flu burung dan tingginya kandungan pestisida yang ditemukan pada produk sayur dan buah-buahan impor, masyarakat Singapura telah beralih menyukai sayur-mayur dan buah-buahan tanaman organik. Menurut pengamatan Irmawan Emir Wisnandar, Counsellor Kedutaan Besar RI di Singapura, “Beberapa swalayan memasarkan produk-produk organic dalam jumlah cukup besar, antara lain, di Cold Storage, Naturally Marketplace dan di NTUC FairPrice.” Naturally Marketplace bahkan menjual 1.000 jenis produk organik, mulai dari wine, susu, sampai pada produk bahan pembersih (cleaning aids). Category Manager Cold Storage mengatakan bahwa dalam tahun 2006 penjualan produk makanan organik (termasuk jenis sayur dan buah) di pasar swalayan tersebut mencapai peningkatan dua kali lipat.
Sementara itu, Direktur NTUC FairPrice, Teo Poh Yim mengatakan, “Minat konsumen Singapura untuk produk makanan organik telah meningkat cukup signifikan, dikarenakan banyak masyarakat Singapura yang sudah sadar pentingnya menjaga kesehatan.” Ditambahkannya, “Untuk mengantisipasi hal tersebut FairPrice sudah melakukan stock product jauh sebelumnya, sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen.” Produk-produk makanan organik, mulai dari produk segar sampai pada makanan olahan dari produk organik, semula hanya diminati para ekspatriat yang berdomisili di Singapura. Belakangan, dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi membawa dampak terhadap meningkatnya gaya hidup rata-rata masyarakat Singapura. Produk organik semakin diminati masyarakat Singapura. Beberapa restoran setempat, seperti Bunalun’s Organic Kitchen dan Yogi Hub, bahkan hanya menghidangkan masakan dari produk organik, mulai dari beras sampai menu-menu yang disajikan. Seorang pengusaha beras setempat memperkuat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat Singapura. ‘’Penjualan beras merah organik sejak April 2006 meningkat 40%,” kata dia. Meningkatnya permintaan akan produkproduk organik ini dapat disimak dari makin maraknya gerai yang menjual produk-produk tersebut. Britain Organic Monitor memprediksi bahwa penjualan retail makanan organik di Singapura tahun 2006 mencapai US$ 40 juta.
Namun, pasokan dari Indonesia itu jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan potensi dan peluang di negeri ini. “Persyaratan kualitas produk masih merupakan kendala utama masuknya komoditas pertanian Indonesia, khususnya untuk produk-produk organik. Harga yang cukup bersaing, kualitas produk yang dipengaruhi dari pola dan sistem tanam, serta penanganan pascapanen sampai packaging masih merupakan kendala klasik dan utama bagi masuknya produk pertanian Indonesia ke Singapura,” ujar Irmawan Emir Wisnandar. Memang, jenis produk sayur dan buah harus diakui memerlukan penanganan khusus, karena sifatnya yang rentan atau sensitif. Ditambahkannya, “Agrifood and Veterinary Authority of Singapore (AVA) tidak mengeluarkan sertifikasi untuk produk organik, maka harus diusahakan dari negara lain yang sudah mengakui kualitas produk pertanian organik dari Indonesia agar lebih memudahkan masuknya produk pertanian Indonesia ke Singapura.”
Peluang pasar bagi
produk pertanian organik Indonesia ke Singapura,sepertinya sudah di pelupuk
mata. Apakah para petani dan pengusaha Indonesia akan memanfaatkan peluang
itu, agar kesejahteraan petani meningkat dan devisa bertambah? Ataukah
peluang itu dibiarkan begitu saja, dan direbut negara tetangga? Akhirnya,
semua itu berpulang kepada para pengusaha dan petani, serta instansi terkait
di Indonesia untuk memproduksi sayur dan buah-buahan organic yang punya daya
saing tinggi. Kesempatan itu datang tanpa berulang!
|