|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Meski ekonominya mendapat tekanan berat dari Barat, Iran tetap menyimpan potensi pasar yang besar. Orang Iran suka buatan Indonesia. IRAN dulu dikenal bagian dari Persia. Negara ini punya perjalanan sejarah panjang, sekitar 6.000 tahun. Ada yang bilang, sejarah Iran dimulai sejak 3200 SM atau beberapa abad sebelum peradaban modern tertua Mesopotamia berdiri. Berbagai kerajaan timbul dan tenggelam memperebutkan daerah subur yang kaya minyak dan gas alam, serta letak geografisnya yang sangat strategis, di tengah Eropa dan Asia. Pengaruh Islam mulai masuk ke Iran pada masa Kekhalifahan Umayyah. Yang menarik, perkembangan Islam di sana ternyata dimotori oleh masyarakat Iran sendiri tanpa campur tangan pusat kekhalifahan di Semenanjung Arab. Akar budaya Persia dipadu dengan budaya Islam yang terbuka berperan penting terhadap masa keemasan Islam pada abad ke-8 sampai ke-13. Pada masa itu, masyarakat Islam menyumbang sejarah dengan berbagai kemajuan budaya, filosofi, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang melampaui Eropa, bahkan menjadi dasar Renaisans di Eropa. Islam terus menjadi landasan di sana, apalagi pasca- Revolusi Iran tahun 1979 yang mengakhiri masa kerajaan dan menandakan berdirinya Republik Islam. Pada pemerintahan Presiden Ahmadinejad ini, ekonomi Iran mengalami tekanan berat. Ini terkait sikap dan kebijakan politik Pemerintah Iran yang dianggap nyeleneh oleh orang Barat. Berbagai embargo dan pengetatan perdagangan ditetapkan secara sepihak oleh Amerika dan sekutu-sekutunya. Walau demikian, perekonomian Iran tetap tumbuh 5,8% pada 2006, sebagian besar sumbangan dari penjualan minyak bumi.
Menteri Perdagangan Mari Pangestu juga telah menyatakan bahwa Iran adalah salah satu negara yang menjanjikan peluang pasar menarik. Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengupayakan peningkatan ekspor melalui forum bisnis maupun perundingan bilateral. Mari menjelaskan, Pemerintah Iran menyediakan dana jaminan ekspor melalui BNI dan Bank Danamon untuk mengurangi risiko pembayaran bagi pelaku bisnis yang merintis perdagangan ke Iran, nilainya masing-masing mencapai 10 juta euro. Laporan KBRI Teheran menyebutkan, permintaan informasi dari para pengusaha Iran tentang berbagai produk Indonesia semakin banyak. Hal ini menunjukkan keinginan pengusaha-pengusaha Iran menjalin bisnis dengan para pengusaha Indonesia yang semakin besar. Para pengusaha Iran ini umumnya mencari partner bisnis yang dapat menjadi pemasok tetap produk-produk Indonesia yang dibutuhkan di Iran. Produk-produk unggulan ekspor Indonesia yang banyak dicari di Iran adalah kelapa sawit, kertas, tekstil, dan produk elektronik. Selain itu, produk Indonesia lainnya yang digemari di Iran adalah benang, sepatu dan alas kaki, karet, suku cadang dan aksesori otomotif seperti ban, kampas rem, aki, dan oli filter. Berbagai produk pertanian dan perikanan serta produk kimia juga banyak dicari orang Iran. Produk Indonesia lainnya yang berpotensi laku di pasar Iran, antara lain, peralatan rumah tangga, rokok, furnitur dan kayu olahan, produk kulit, kosmetik, produk farmasi, dan kerajinan tangan. Produk-produk Indonesia umumnya digemari karena, selain harganya murah, kualitasnya juga cukup baik.
Tips berbisnis dengan orang Iran
Pengusaha Iran lebih menyukai irrevocable letter of credits sebagai metode pembayaran. Pada saat ini, yang populer ialah sight L/C dengan mata uang euro. Penggunaan mata uang euro sebagai pengganti dolar Amerika untuk seluruh transaksi internasional merupakan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Iran sejak Desember 2006. Ini merupakan reaksi Pemerintah Iran atas tindakan Amerika yang mempersulit penggunaan dolar Amerika untuk transaksi perdagangan internasional dengan Iran. Selain itu, untuk mengurangi ketergantungan Iran terhadap dolar Amerika yang nilainya terus merosot dibandingkan dengan mata uang lain, terutama euro. Impor produk yang lebih besar dari 500.000 riyal Iran harus diinspeksi kuantitas dan kualitasnya di negara asal oleh lembaga bertaraf internasional. Barang yang akan dikirim ke Iran harus dilengkapi invoice yang telah dilegalisasi oleh perwakilan Iran dan Kadin negara setempat. Untuk Impor yang besar, legalisasi juga mencakup certificate of origin, bill of lading, dan certificate of inspection. Selain teknis perdagangan, hal lain yang perlu diingat ialah kebesaran budaya dan tradisi Islam yang terus dijaga dan dibanggakan oleh orang Iran. Sejak Revolusi Iran 1979, perilaku masyarakat dikontrol oleh Pemerintah Iran denganketat. Kenyataan ini tercermin pada relasi antarmanusiayang melandasi hampir setiap hubungan bisnis atau nonbisnis dengan masyarakat Iran. Mereka yang akan memulai bisnis dengan Iran harus memahami hal-hal tersebut. Etiket merupakan hal serius di sana. Orang Iran pada dasarnya sangat formal dan sopan. Jika disajikan minuman atau makanan, mereka akan tersinggung jika kita tidak mencicipinya, walau sedikit. Sebaiknya tunggu sampai tuan rumah menawarkan sesuatu dan tidak memintanya. Mereka juga akan memulai pembicaraan dengan basa-basi yang terkesan lambat. Namun di sinilah dibangunnya dasar kepercayaan personal yang menjadi dasar hubungan jangka panjang dengan pengusaha Iran. Sangat mungkin transaksi bisnis jadi gagal hanya karena engusaha Iran menganggap calon partnernya tidak menjaga kesopanan. Tukar-menukar cenderamata atau hadiah merupakan hal yang wajar dalam transaksi bisnis dengan orang Iran. Biasanya hal ini memberikan sentuhan personal yang bisa berkontribusi penting di kemudian hari. Hadiah kecil seperti pulpen, buku, atau ikon perusahaan cukup berarti untuk diberikan pada mereka.
Pakaian untuk
pria umumnya konservatif, tapi sebaiknya tanpa dasi karena Imam Khomeini
dulu menyatakan bahwa dasi merupakan lambang imperialis Barat. Jika sudah
terjalin hubungan lebih akrab, pakaian casual sudah cukup. Sedangkan wanita
harus menutup rambut dan leher serta berpakaian tidak ketat sampai di bawah
mata kaki. Wanita Iran dapat berbisnis dengan pria mana pun, tapi jangan
pernah berjabatan tangan atau menyentuhnya secara fisik di depan umum.
|