|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
MENURUT buku “The Japanese Mind, Understanding Contemporary Japanese Culture (2002)”, sejarah panjang kebudayaan Jepang selalu ditandai “Iitoko-Dori’’, kemampuan mengadopsi kebudayaan asing yang selanjutnya berasimilasi menjadi budaya setempat yang unik. Bukti dahsyatnya Iitoko-Dori ini terlihat pada pesatnya kemajuan bidang industri dan ekonomi Jepang, usai kekalahan Perang Dunia II pada 1945. Bila dirunut ke belakang, bendera mengadopsi elemen kemajuan dari kebudayaan negara lain ini telah dikibarkan sejak Restorasi Meiji tahun 1868. Kekaisaran Jepang membuat kebijakan untuk mempelajari kemajuan dari dunia Barat. Pada 1871-1873, sebuah misi diplomatic di bawah kepemimpinan Iwakura Tomomi melakukan perjalanan untuk mempelajari sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, militer, pendidikan, dan kemajuan teknologi industri dari Amerika Serikat, Inggris, serta bangsa Eropa lainnya. Pelajaran yang didapat dari misi ini selanjutnya diadopsi dalam system internal Pemerintah Jepang. Lebih jauh ke belakang, pada masa pra-modern, Jepang “meminjam’’ elemen elemen tersebut terutama dari Cina dan Korea, dan pada masa modern “meminjam’’ dari kebudayaan Barat. Impor kebudayaan mulai terjadi di Jepang dari Benua Asia Timur sejak tahun 300 SM, dimulai dari penggunaan besi dan cara bercocok tanam. Selanjutnya, pada pertengahan abad ke-6 M dimulai gelombang kedua impor kebudayaan dari Cina, yaitu masuknya agama Buddha dan Konfusianisme. Budha akhirnya menjadi salah satu agama mayoritas penduduk Jepang dan berpengaruh kuat pada seni dan arsitektur Jepang. Masuknya agama Buddha, awalnya membawa dampak serius pada system politik dan pemerintahan kekaisaran Jepang yang memeluk agama Shinto. Menurut agama Shinto, Kaisar Jepang, merupakan keturunan dewa yang mempunyai status paling tinggi di Jepang. Apabila mereka menganut agama Budha, sistem kekaisaran harus dihilangkan. Untuk menjembatani perbedaan ini, akhirnya salah satu keluarga kaisar, Pangeran Shotoku, memperkenalkan pendekatan baru yang memadukan Shinto, Buddha, dan Konfusianisme. Ia menyatakan bahwa ibarat sebuah pohon, “Shinto adalah batang, Buddha adalah cabang, dan Konfusianisme adalah dedaunan.’’ Dengan pendekatan ini, perselisihan antara Shinto, Buddha, dan Konfusianisme dapat dihilangkan. Bangsa Jepang mampu menerima kepercayaan baru tersebut dan filosofi serta nilai-nilai budaya di dalamnya. Hal ini memberi dampak sangat kuat bagi mentalitas bangsa Jepang di masa depan. Pada masa modern, Iitoko-Dori dapat dilihat secara mudah dari adopsi teknologi yang mengubah negara tersebut menjadi industri yang membawa kemajuan ekonomi. Salah satu contohnya adalah pabrik pemintalan sutra Tomioka yang didirikan tahun 1873 dengan mengadopsi teknik pemintalan dari Prancis. Pabrik tersebut dibangun dengan mencontoh sepenuhnya pabrik di Negara asalnya. Selain itu pembangunan dilakukan dengan peralatan yang sepenuhnya diimpor dari Prancis, bukan saja desain dan mesin pemintal, tapi juga ubin, meja, dan kursinya. Selanjutnya, pekerja Prancis dipekerjakan untuk “dikopi’’ oleh pekerja Jepang. Hal ini berhasil dengan baik, dan 40 tahun kemudian mereka sukses mengembangkan teknologi mereka sendiri dan mengekspor sutra hasil produksinya.
WAFUKU DIKALAHKAN YOFUKU
Setelah “terbukanya’’ Jepang pada abad ke-19, bangsa ini berusaha menjalin hubungan baik dengan bangsa Barat dan mencoba “menjadi’’ seperti mereka. Hasilnya, gaya hidup peradaban Barat semakin diterima dan diadopsi, dan pandangan hidup kebarat-baratan telah tersebar luas di masyarakat Jepang. Saat ini, budaya tradisional Jepang menjadi kalah popular dibandingkan dengan budaya pop dari Amerika Serikat. Menurut Lany Rosdiana (31), seorang penerjemah kartun Jepang ke dalam bahasa Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di negeri Sakura itu, penggunaan celana blue jeans, musik rock, dan konsumsi makanan cepat saji (fast food) sangat populer di Jepang. “Masyarakat Jepang juga lebih terbiasa makan dan minum dengan sendok dan garpu daripada menggunakan sumpit, mandi dengan shower daripada menggunakan bak mandi ofuro, dan memilih tidur di atas springbed daripada menggunakan futon,”tuturnya. Bahkan orang asing kini mulai mempertanyakan di mana tempat untuk memperoleh budaya “asli’’ Jepang yang mengandung keindahan dan filosofi yang dalam, terutama dalam hal pakaian, musik, lukisan dan kaligrafi, serta bahasa. Budaya yang dulu sangat kental di masyarakat itu semakin sulit ditemukan di Jepang. Dalam buku “The Japanese Mind” dicontohkan pakaian tradisional Jepang atau wafuku, misalnya kimono. Saat ini, perempuan Jepang tidak memakai kimono sesering zaman dulu. Mereka lebih memilih menggunakan baju Barat yang disebut yofuku. Hanya kalangan lanjut usia yang merasa tidak nyaman menggunakan yofuku. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi semakin tidak populernya wafuku. Pertama, pakaian tersebut kurang praktis dalam penggunaannya dan menyulitkan bergerak. Alasan kedua, penggunaan kimono dianggap sebagai pakaian formal yang lebih sesuai untuk kalangan kelas atas (high class) dalam acara-acara khusus.
Contoh
kedua adalah hogaku, musik tradisional Jepang yang semakin jarang didengar.
Kaum remaja Jepang kini lebih memilih alat musik modern ala Barat. Kursus
musik menggunakan alat-alat seperti gitar elektrik, piano, dan biola jauh
lebih populer dibandingkan dengan koto, shamisen, atau shakuhachi. Persepsi
musik untuk orang Jepang modern adalah musik Barat. Hogaku yang menggunakan
irama syahdu dan lembut hanya digunakan untuk acara-acara tertentu, misalnya
perayaan Tahun Baru, pernikahan (omiai), atau di restoran Jepang kelas atas
(ryotei atau kappo). |