HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XII OKTOBER 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Statistik kunjungan

Free counter and web stats

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 05 Oktober, 2009

 

 

 

Mujur dari telur

Oleh : Nuradi Noeri & Pranowo

Cangkang atau kulit telur biasanya dibuang setelah isi telur dikeluarkan untuk dimasak. Namun ditangan seorang yang memiliki kreatifitas, sampah itu naik pangkat menjadi barang berharga dan diekspor ke luar negeri.

ANGIN pagi yang segar menerpa lembut ketika mobil yang dikendarai AKSES bergerak perlahan di sebuah jalanan berbatu. Jalanan yang kecil dan menanjak itu adalah salah satu akses menuju perumahan penduduk yang terhampar di kaki gunung Salak, kabupaten Bogor. Setelah melewati deretan rumah penduduk, jalanan semakin terjal menanjak. Mobil AKSES akhirnya memasuki Desa Bunder di kecamatan Pamijahan dan berhenti tepat dimuka sebuah rumah kayu yang cantik di lereng bukit. Sesosok wanita setengah baya muncul dari balik pintu dan tersenyum hangat menyambut AKSES. Itulah Lita Jonathans, pengusaha industri kerajinan khususnya telur hias. Telur hias? Ya, ternyata di tangan Lita cangkang telur tidak harus masuk tong sampah. Ibu dua anak ini sanggup menyulap kulit telur menjadi barang berharga dan telah diekspor ke sejumlah negara dengan harga mahal.

 

Terinspirasi telur paskah

Di ruang tamunya yang dihiasi aneka produk kerajinan terutama telur hias, Lita menceritakan perjalanan bisnis yang digelutinya. “Waktu kecil saya suka menghias telur untuk perayaan Paskah” ujarnya. Namun kemudian setelah dewasa Lita mengamati bahwa telur tidak hanya dapat dihias untuk keperluan paskah. Wanita ini pun mempelajari cara menghias telur secara lebih serius. Mulai dari membersihkan kulit dan mengosongkan isi telur sampai menghilangkan bau amis dari dalam telur. “Hampir semua jenis telur dapat dihias, tapi hanya telur ayam, bebek dan puyuh yang gampang dicari” jelas Lita. Telur yang  dapat dihias adalah telur ayam, bebek, angsa, puyuh, kasuari, emu dan burung unta. Lita mengakui bahwa tidak semua jenis telur mudah diperoleh. “Cangkang telur burung unta, emu dan kasuari agak sulit didapat dan harganya mahal” ujarnya.

Membuat telur hias memerlukan kecermatan yang tinggi. Setelah dibersihkan, bagian bawah telur ditusuk dengan jarum dan isinya dikeluarkan dengan menghisapnya melalui jarum suntik. Proses pengeluaran isi telur inipun dapat memecahkan cangkang karena telur harus tetap dipegang sampai isinya kosong. Kemudian suntikan yang berisi air dan cuka di masukan ke dalam cangkang telur dan dikeluarkan kembali. Hal ini diperlukan untuk menghilangkan sisa telur dan bau amis. Setelah itu, telur didirikan dengan penyangga dan lubang menghadap kebawah agar semua sisa cairan turun. Kemudian telur siap untuk dihias, bisa diwarnai, dilukis, dicelup, dibatik, diberi hiasan, ditempeli stiker, payet, munte, glitter, clay atau kertas warna.

  

Ekspor

Kegiatan yang berawal dari kreasi seni ternyata menjelma menjadi aktifitas bisnis dengan omzet besar. Berkat ketekunannya mempelajari berbagai corak dekorasi, telur hias buatan Lita mulai banyak diminati. Pesanan mulai banyak dan motif dekorasi yang diminta juga beragam. Lita akhirnya mendirikan sebuah  galeri merangkap workshop dengan nama La Lita Handicraft yang memiliki beberapa karyawan. “Namun saya tidak sembarangan menuruti motif dekorasi yang diinginkan pemesan” ujarnya. Corak dan warna hiasan yang diminta pemesan harus sesuai dengan selera pembuat. “ Saya akan menolak untuk membuat telur hias bila corak yang diminta ternyata tidak cocok  dan akan menjatuhkan reputasi produk saya” tegas Lita.

Lantas, berapa harga telur hias itu? “Tergantung telur apa yang digunakan, kalau telur ayam atau bebek sekitar Rp. 25 ribu, kalau telur burung unta, kasuari atau emu bisa dijual antara Rp. 3 juta sampai Rp. 5 juta perbuah” ujar Lita. Namun harga itu juga tergantung dari jenis bahan hiasan yang digunakan. La Lita Handicraft sanggup memproduksi sekitar 500 telur sebulan. Wah, bayangkan keuntungan yang diraup dari cangkang telur!

Setelah lima belas tahun menggeluti bisnis ini, telur hias buatan La Lita Handicraft telah diekspor ke sejumlah negara terutama Eropa dan Australia. Motif yang diminta pasar luar negeri beragam namun umumnya menyukai corak khas Indonesia seperti batik. Wanita ini pun telah melanglang buana mengikuti berbagai pameran internasional. Sebagian besar pesanan konsumen asing berasal dari hasil pameran di luar negeri. “Saya biasanya ikut pameran yang dikoordinir oleh BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional Depdag)” ujar Lita.

 

Kiat bisnis

Puluhan ribu telur buatan La Lita Handicraft telah dikenal pasar lokal maupun luar negeri. Sampai saat ini pesanan masih terus mengalir. Apa sih kiatnya? “Pertama, konsistensi. Sejak lima belas tahun lalu sampai sekarang saya tetap memproduksi telur hias. Selain itu kami terus  memperdalam pengetahuan mengenai corak dan teknik kreasi telur” papar Lita. Ketekunannya untuk tetap memusatkan bisnis pada telur hias telah meningkatkan kepercayaan konsumen akan mutu produknya. Hal ini terbukti dari peningkatan pesanan baik dari dalam maupun luar negeri. “Banyak pengrajin serupa yang tidak konsisten menekuni usaha ini secara serius, mereka gampang berubah haluan mengikuti trend” ujar Lita. Akhirnya konsumen pun beralih.

Kiat kedua adalah produksi sesuai kapasitas. “Saya selalu menyanggupi memenuhi pesanan sesuai dengan kemampuan. Bila pesanan diluar kapasitas maka saya mengajak murid-murid yang pernah belajar membuat telur hias untuk ikut memenuhi pesanan” jelas Lita. Dengan cara begini, pesanan dapat dipenuhi tepat waktu dengan kualitas terjaga. “Saya melihat ada pengrajin menyanggupi suatu pesanan yang sebenarnya diluar kemampuannya. Mereka hanya melihat besarnya nilai transaksi tanpa memperhatikan kemampuan untuk memenuhi kualitas, kuantitas dan tenggat waktu” ujar Lita. Akibatnya konsumen kecewa dan pasti tidak ada pesanan lagi.

Satu prinsip lagi yang selalu dipegang oleh Lita adalah mengutamakan unsur kualitas seni dari setiap produknya. “Kami selalu berpikir bahwa membuat telur hias ini tidaklah semata-mata untuk cari uang. Tapi saya juga selalu berusaha untuk menciptakan karya seni terbaik” debat Lita ketika AKSES menanyakan omzet penjualannya. Hasil dari kiat ini adalah setiap potong produknya merupakan karya seni terbaik dan akhirnya pesanan pun meningkat.

 “Disamping itu, janganlah takut ditiru” tambah Lita. Produk yang dihasilkan adalah untuk dipamerkan dan dijual kepada orang lain. “Kalau takut dicontek, simpan saja dirumah nggak usaha jualan” katanya. Lita juga mengatakanbahwa setiap buah produk buatannya adalah karya terbaik dan tidak akan sama persis dengan produk tiruan. Disamping itu, kreatifitas akan terus berkembang, “bila ditiru, saya akan membuat kreasi lain” ujarnya.

 

Membagi ilmu

Ibu dari dua orang anak ini juga kerap menjadi pengajar pada beberapa sekolah seni dan nara sumber dalam berbagai seminar mengenai kerajinan telur hias. “Saya ingin membagi pengalaman dengan orang lain” ujarnya. Lita berupaya agar orang lain mencoba belajar membuat telur hias tidak hanya untuk mencari uang tapi juga untuk menggali bakat seni serta menciptakan kesibukan. Upaya membagi ilmu juga dilakukannya melalui media cetak dengan menerbitkan buku mengenai cara membuat telur hias. Lita mengatakan bahwa kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai sarana meditasi dengan memusatkan perhatian pada melukis telur.

Di rumahnya yang asri itu terdapat beberapa ruang kerja pembuatan telur hias, ada yang di alam terbuka ditengah kebun ada pula di dalam ruangan. Ternyata Lita juga membuat aneka kerajinan lainnya seperti lukisan gelas, sulaman dan lainnya. Semua ruangan di rumahnya yang cukup luas itu dipenuhi oleh berbagai produk kerajinan. AKSES sempat terheran-heran melihat banyaknya ruang tidur di rumah itu. Setiap kamar tertata apik dihiasi berbagai pernik kerajinan tangan. “Kamar-kamat itu untuk para tamu yang ingin belajar membuat telur hias dan menginap disini” ujar Lita. Sang maestro memasang tarif Rp. 250.000 sehari untuk belajar membuat telur hias, ongkos itu termasuk semua bahan yang diperlukan. “Cukup banyak orang dari Jakarta atau Bogor berlibur kesini sambil melukis telur dan menikmati segarnya udara pegunungan” tambahnya. Wah, asik juga nih!