|

Mujur
dari telur
Oleh :
Nuradi Noeri & Pranowo
Cangkang
atau kulit telur biasanya dibuang setelah isi telur dikeluarkan untuk
dimasak. Namun ditangan seorang yang memiliki kreatifitas, sampah itu
naik pangkat menjadi barang berharga dan diekspor ke luar negeri.
ANGIN pagi
yang segar menerpa lembut ketika mobil yang dikendarai AKSES bergerak
perlahan di sebuah jalanan berbatu. Jalanan yang kecil dan menanjak itu
adalah salah satu akses menuju perumahan penduduk yang terhampar di kaki
gunung Salak, kabupaten Bogor. Setelah melewati deretan rumah penduduk,
jalanan semakin terjal menanjak. Mobil AKSES akhirnya memasuki Desa
Bunder di kecamatan Pamijahan dan berhenti tepat dimuka sebuah rumah
kayu yang cantik di lereng bukit. Sesosok wanita setengah baya muncul
dari balik pintu dan tersenyum hangat menyambut AKSES. Itulah Lita
Jonathans, pengusaha industri kerajinan khususnya telur hias. Telur hias?
Ya, ternyata di tangan Lita cangkang telur tidak harus masuk tong sampah.
Ibu dua anak ini sanggup menyulap kulit telur menjadi barang berharga
dan telah diekspor ke sejumlah negara dengan harga mahal.
Terinspirasi telur paskah
Di ruang
tamunya yang dihiasi aneka produk kerajinan terutama telur hias, Lita
menceritakan perjalanan bisnis yang digelutinya. “Waktu kecil saya suka
menghias telur untuk perayaan Paskah” ujarnya. Namun kemudian setelah
dewasa Lita mengamati bahwa telur tidak hanya dapat dihias untuk
keperluan paskah. Wanita ini pun mempelajari cara menghias telur secara
lebih serius. Mulai dari membersihkan kulit dan mengosongkan isi telur
sampai menghilangkan bau amis dari dalam telur. “Hampir semua jenis
telur dapat dihias, tapi hanya telur ayam, bebek dan puyuh yang gampang
dicari” jelas Lita. Telur yang dapat dihias adalah telur ayam, bebek,
angsa, puyuh, kasuari, emu dan burung unta. Lita mengakui bahwa tidak
semua jenis telur mudah diperoleh. “Cangkang telur burung unta, emu dan
kasuari agak sulit didapat dan harganya mahal” ujarnya.
Membuat telur
hias memerlukan kecermatan yang tinggi. Setelah dibersihkan, bagian
bawah telur ditusuk dengan jarum dan isinya dikeluarkan dengan
menghisapnya melalui jarum suntik. Proses pengeluaran isi telur inipun
dapat memecahkan cangkang karena telur harus tetap dipegang sampai
isinya kosong. Kemudian suntikan yang berisi air dan cuka di masukan ke
dalam cangkang telur dan dikeluarkan kembali. Hal ini diperlukan untuk
menghilangkan sisa telur dan bau amis. Setelah itu, telur didirikan
dengan penyangga dan lubang menghadap kebawah agar semua sisa cairan
turun. Kemudian telur siap untuk dihias, bisa diwarnai, dilukis, dicelup,
dibatik, diberi hiasan, ditempeli stiker, payet, munte, glitter, clay
atau kertas warna.
Ekspor
Kegiatan yang
berawal dari kreasi seni ternyata menjelma menjadi aktifitas bisnis
dengan omzet besar. Berkat ketekunannya mempelajari berbagai corak
dekorasi, telur hias buatan Lita mulai banyak diminati. Pesanan mulai
banyak dan motif dekorasi yang diminta juga beragam. Lita akhirnya
mendirikan sebuah galeri merangkap workshop dengan nama La
Lita Handicraft yang memiliki beberapa karyawan. “Namun saya tidak
sembarangan menuruti motif dekorasi yang diinginkan pemesan” ujarnya.
Corak dan warna hiasan yang diminta pemesan harus sesuai dengan selera
pembuat. “ Saya akan menolak untuk membuat telur hias bila corak yang
diminta ternyata tidak cocok dan akan menjatuhkan reputasi produk saya”
tegas Lita.
Lantas, berapa
harga telur hias itu? “Tergantung telur apa yang digunakan, kalau telur
ayam atau bebek sekitar Rp. 25 ribu, kalau telur burung unta, kasuari
atau emu bisa dijual antara Rp. 3 juta sampai Rp. 5 juta perbuah” ujar
Lita. Namun harga itu juga tergantung dari jenis bahan hiasan yang
digunakan. La Lita Handicraft sanggup memproduksi sekitar 500
telur sebulan. Wah, bayangkan keuntungan yang diraup dari cangkang telur!
Setelah lima
belas tahun menggeluti bisnis ini, telur hias buatan La Lita
Handicraft telah diekspor ke sejumlah negara terutama Eropa dan
Australia. Motif yang diminta pasar luar negeri beragam namun umumnya
menyukai corak khas Indonesia seperti batik. Wanita ini pun telah
melanglang buana mengikuti berbagai pameran internasional. Sebagian
besar pesanan konsumen asing berasal dari hasil pameran di luar negeri.
“Saya biasanya ikut pameran yang dikoordinir oleh BPEN (Badan
Pengembangan Ekspor Nasional Depdag)” ujar Lita.
Kiat bisnis
Puluhan ribu
telur buatan La Lita Handicraft telah dikenal pasar lokal maupun
luar negeri. Sampai saat ini pesanan masih terus mengalir. Apa sih
kiatnya? “Pertama, konsistensi. Sejak lima belas tahun lalu sampai
sekarang saya tetap memproduksi telur hias. Selain itu kami terus memperdalam
pengetahuan mengenai corak dan teknik kreasi telur” papar Lita.
Ketekunannya untuk tetap memusatkan bisnis pada telur hias telah
meningkatkan kepercayaan konsumen akan mutu produknya. Hal ini terbukti
dari peningkatan pesanan baik dari dalam maupun luar negeri. “Banyak
pengrajin serupa yang tidak konsisten menekuni usaha ini secara serius,
mereka gampang berubah haluan mengikuti trend” ujar Lita.
Akhirnya konsumen pun beralih.
Kiat kedua
adalah produksi sesuai kapasitas. “Saya selalu menyanggupi memenuhi
pesanan sesuai dengan kemampuan. Bila pesanan diluar kapasitas maka saya
mengajak murid-murid yang pernah belajar membuat telur hias untuk ikut
memenuhi pesanan” jelas Lita. Dengan cara begini, pesanan dapat dipenuhi
tepat waktu dengan kualitas terjaga. “Saya melihat ada pengrajin
menyanggupi suatu pesanan yang sebenarnya diluar kemampuannya. Mereka
hanya melihat besarnya nilai transaksi tanpa memperhatikan kemampuan
untuk memenuhi kualitas, kuantitas dan tenggat waktu” ujar Lita.
Akibatnya konsumen kecewa dan pasti tidak ada pesanan lagi.
Satu prinsip
lagi yang selalu dipegang oleh Lita adalah mengutamakan unsur kualitas
seni dari setiap produknya. “Kami selalu berpikir bahwa membuat telur
hias ini tidaklah semata-mata untuk cari uang. Tapi saya juga selalu
berusaha untuk menciptakan karya seni terbaik” debat Lita ketika AKSES
menanyakan omzet penjualannya. Hasil dari kiat ini adalah setiap potong
produknya merupakan karya seni terbaik dan akhirnya pesanan pun
meningkat.
“Disamping
itu, janganlah takut ditiru” tambah Lita. Produk yang dihasilkan adalah
untuk dipamerkan dan dijual kepada orang lain. “Kalau takut dicontek,
simpan saja dirumah nggak usaha jualan” katanya. Lita juga
mengatakanbahwa setiap buah produk buatannya adalah karya terbaik dan
tidak akan sama persis dengan produk tiruan. Disamping itu, kreatifitas
akan terus berkembang, “bila ditiru, saya akan membuat kreasi lain”
ujarnya.
Membagi
ilmu
Ibu dari dua
orang anak ini juga kerap menjadi pengajar pada beberapa sekolah seni
dan nara sumber dalam berbagai seminar mengenai kerajinan telur hias.
“Saya ingin membagi pengalaman dengan orang lain” ujarnya. Lita berupaya
agar orang lain mencoba belajar membuat telur hias tidak hanya untuk
mencari uang tapi juga untuk menggali bakat seni serta menciptakan
kesibukan. Upaya membagi ilmu juga dilakukannya melalui media cetak
dengan menerbitkan buku mengenai cara membuat telur hias. Lita
mengatakan bahwa kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai sarana
meditasi dengan memusatkan perhatian pada melukis telur.
Di rumahnya
yang asri itu terdapat beberapa ruang kerja pembuatan telur hias, ada
yang di alam terbuka ditengah kebun ada pula di dalam ruangan. Ternyata
Lita juga membuat aneka kerajinan lainnya seperti lukisan gelas, sulaman
dan lainnya. Semua ruangan di rumahnya yang cukup luas itu dipenuhi oleh
berbagai produk kerajinan. AKSES sempat terheran-heran melihat banyaknya
ruang tidur di rumah itu. Setiap kamar tertata apik dihiasi berbagai
pernik kerajinan tangan. “Kamar-kamat itu untuk para tamu yang ingin
belajar membuat telur hias dan menginap disini” ujar Lita. Sang maestro
memasang tarif Rp. 250.000 sehari untuk belajar membuat telur hias,
ongkos itu termasuk semua bahan yang diperlukan. “Cukup banyak orang
dari Jakarta atau Bogor berlibur kesini sambil melukis telur dan
menikmati segarnya udara pegunungan” tambahnya. Wah, asik juga nih!
|