|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Kalau dari sejarahnya bicara soal keturunan India yang merantau ke Indonesia ternyata memang tidak hanya bicara soal penjual kain yang biasa kita temui di daerah Pasar Baru saja. Kalau ditengok dari sejarahnya, ternyata orang-orang India sudah datang di Kepulauan Nusantara sejak sebelum Masehi, sehingga turut mempengaruhi perkembangan budaya Indonesia yang ada sekarang. Saat ini budaya India sudah menjadi bagian dari kehidupan kita seharihari. Film India misalnya, setiap hari ditayangkan di televisi kita. Malah beberapa tabloid sudah ada yang punya rubrik khusus soal gosip artis-artis India masa kini. Ini artinya sudah banyak orang Indonesia yang ketagihan. Mungkin bagi para penikmat film India ini rasanya ada yang kurang kalau tidak melihatnya. Untuk soal film ini India memang jadi rajanya di Asia. Bahkan jika bicara soal industri film di Indonesia, kita tidak lepas dari Raam Punjabi, yang keturunan India. “Saya memulainya dari bawah”, demikian katanya. Ia memulai usahanya dengan berjualan kain pada tahun 1960an. Namun ketertarikannya dengan film sebenarnya sudah dimulai sejak kecil. ”Saya boleh masuk setelah lampu gelap, dan buru-buru keluar sebelum film benar-benar selesai.” Begitu kisahnya ketika ia mencoba untuk menonton film ketika kecil. Sekarang ini tentu tidak mungkin bagi sang Raja Sinetron ini untuk mengalaminya lagi. Kelompok Suku Punjabi ini berasal dari India Utara dan umumnya hidup sebagai pedagang.
Kalau dari sejarahnya dapat diketahui bahwa orang-orang India sudah datang di Kepulauan Nusantara sejak sebelum masehi. Buktinya adalah adanya beberapa peninggalan India di Jawa dan Bali yang berasal dari abad I. Sejak abad IV-V, pengaruh India mulai tampak jelas. Hal ini tampak dari prasasti-prasasti yang ditemukan di Indonesia. Prasasti-prasasti itu rata-rata berbahasa Sansekerta, yang kita tahu banyak berasal dari India. Selain tulisan agama pun juga ada yang diimpor dari India, yaitu Hindu dan Buddha. Secara umum memang diketahui kalau India sudah lebih dulu maju daripada kita. Diterimanya budaya India oleh orang-orang di Nusantara ini pastilah tak akan terjadi tanpa ada agen-agennya. Ini berarti sejak zaman dahulu kala sudah ada orang India yang tinggal di Indonesia. Kedatangan orang India ini ternyata tidak hanya terjadi di waktu itu. Pada awal penjajahan pun orang-orang India itu juga merantau ke Nusantara. Pada abad XVII, orang-orang India juga banyak yang datang ke tempat yang sekarang bernama Jakarta. Mereka ini datang sebagai budak, walaupun kemudian dimerdekakan oleh VOC. VOC membawa ribuan orang India sebagai tawanan dari daerah-daerah Portugis yang akhirnya direbut oleh VOC. Daerahdaerah asal mereka di India adalah Benggala, Arakan, Malabar dan Koromandel. Keturunan orang-orang ini sampai sekarang masih menggunakan namanama Portugis dan aslinya banyak tinggal di daerah Kota dan Tugu. Keroncong Tugu dan lagu Nina Bobo adalah salah satu produk dari kelompok ini. Selain itu orang-orang “Portugis Hitam” ini juga memperkenalkan mode baru dalam berpakaian. Khusus untuk perempuan mereka memperkenalkan jenis pakaian baru yang akhirnya disebut sebagai kebaya.
Di masa selanjutnya, ketika Inggris berkuasa di Jawa pada awal abad XVIII, prajurit-prajurit India pun masuk ke Jawa. Pada awalnya mereka ini dibawa untuk membantu pasukan Inggris. Namun pada akhirnya mereka malah bersekongkol dengan Sunan Solo untuk memberontak melawan orang-orang Eropa pada tahun 1815. Peristiwa ini dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy atau Geger Sepehi. Sepoy berarti orang-orang India yang menjadi tentara Kerajaan Inggris. Kisah pemberontakan ini dapat kita baca dari buku Peter Carey yang berjudul Asal Usul Perang Jawa. Setelah pemberontakan ditumpas, banyak diantara bekas prajurit India itu yang tetap tinggal di Jawa Tengah. Bahkan beberapa diantara mereka ada juga yang menjadi pengawal pribadi Sultan Yogya atau Kesunanan Surakarta. Sementara yang lainnya melakukan kegiatan perdagangan yang terutama sekali berkaitan dengan produk susu. Produk susu dan turunannya dihasilkan dari tempat mereka tinggal didaerah Boyolali dan Kedu. Dari cuplikan kisah-kisah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang India yang datang ke Indonesia berasal dari latar belakang dan daerah yang berbeda-beda. Maksud awal kedatangan mereka pun berbeda-beda. Walaupun mungkin kita lebih mengenal mereka sebagai pedagang. Menurut statistik yang dikeluarkan tahun 2005, jumlah warga negara India dan keturunan India di luar negeri telah mencapai jumlah 25 juta orang. Dari jumlah itu, Pemerintah India telah berhasil menarik devisa sebesar 22 milyar dolar AS. Jumlah keturunan India di Indonesia sekarang ini berjumlah kurang lebih 80 ribu orang. Mereka ini terutama berada di kotakota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Keturunan India yang berada di Sumatera Utara kebanyakan berasal dari Suku Tamil. Keturunan suku ini mempunyai perkumpulan yang diberi nama Indonesia Tamil Tamram. Suku Tamil dan Suku Sindhi saat ini menjadi asal dari sebagian besar keturunan India di Indonesia. Suku Sindhi ini berasal dari India utara dan banyak berperan dalam dunia perdagangan. Saat ini mereka memiliki organisasi sosial yang bernama Gandhi Seva Loka. Sementara orang Tamil berasal dari selatan. “Saya sudah tidak merasa sebagai orang India lagi. Hampir semuanya di sini merasa demikian. Kami besar dan lahir di Indonesia.” Demikian kata salah seorang pedagang keturunan India di Jakarta. “Memang di tahun 1960-an sampai 1970-an kami memiliki asosiasi, tapi sekarang tidak lagi.” Walaupun demikian para pedagang tekstil keturunan India memiliki perkumpulan yang bernama Bombay Merchant Association. Para pedagang tersebut biasanya juga mempunyai karyawan keturunan India. Manajer toko mereka biasanya adalah keturunan India juga.
Untuk lebih mengembangkan hubungan dengan para perantaunya, Pemerintah India membentuk Kementerian urusan India Perantauan. Tugas kementerian ini adalah mengamati dan membantu perlindungan tenaga kerja India dan para warga India yang bermukim di luar negeri. Perlindungan yang dimaksud di sini juga berupa penyediaan asuransi. Yang menarik, kementerian ini mempunyai program untuk mempertemukan orang-orang India di perantauan. Pertemuan ini dilakukan setahun sekali dan dinamakan Pravasi Bharathiya Divas. Pertemuan terakhir atau keempat Pravasi Bharathiya Divas dilakukan di Hyderabad, Andhra Pradesh pada tanggal 7-9 Januari 2006. Acara pertemuan ini sangat mencerminkan perhatian Pemerintah India pada masyarakatnya di perantauan. Bayangkan saja, yang langsung membuka pertemuan itu adalah Perdana Menteri India sendiri. Pidato Manmohan Singh utamanya menyinggung dua hal penting. Masalah perlindungan tenaga kerja India di luar negeri dan pemberian fasilitas/kemudahan kepada mereka. Untuk fasilitas ini, Pemerintah India akan memberikan kewarganegaraan ganda kepada para perantau. Menurut KBRI New Delhi, sebagai negara pengekspor tenaga kerja, India berupaya untuk menjaga kondisi hidup dan kondisi kerja bagi warganya di perantauan. Upaya ini ditujukan agar para tenaga kerja India mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di luar negeri. Selain itu hal ini perlu untuk meningkatkan citra India sebagai pemasok tenaga kerja yang berkualitas. Untuk itu diperlukan peningkatan kualitas tenaga kerja dan pemberian penghargaan kepada mereka. Penghargaan itu tidak hanya berupa sertifikat, tetapi juga uang. Penghargaan Overseas Indian Workers Award Scheme misalnya diberikan kepada para pekerja India yang dinilai berhasil dalam melakukan tugas/kewajiban kerjanya, menumbuhkan dan memperkuat rasa saling pengertian antara teman sekerja dan kejujuran. Kejujuran ini tentu berhubungan dengan upaya peningkatan citra India di luar negeri.
Seturut dengan makin meningkatnya jumlah orang Indonesia di luar negeri,
sepertinya hal-hal yang dilakukan oleh Pemerintah India ini patut ditiru.
Mudah-mudahan di masa depan bisa menjadi kenyataan.
|