|
Edisi VII Desember 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 18 Desember, 2007
|
KAMPUNG Hay Asr di pinggiran kota Nasr City, Mesir, sudah relatif sepi. Dengan penerangan seadanya, terlihat daerah masyarakat marginal itu kurang bersahabat. Apalagi, musim dingin di bulan Desember ini sering ditingkahi angin gurun yang terasa menusuk tulang. Namun malam itu, sebuah sedan hitam mondar-mandir seolah menginspeksi keadaan. Penumpangnya, Dubes A.M. Fachir, tanpa henti mengamati lingkungan yang dilewati dan mencoba membuat analisa keadaan. “Saya tidak suka mahasiswa kita disini sering dipalakin dan dikerjain. Makanya malam ini saya ingin membuktikan sendiri kerawanan daerah ini,” ujarnya dengan mimik serius. Dubes RI yang suka berpenampilan sederhana namun kaya ide tersebut memang sedang prihatin terhadap kondisi mahasiswa Indonesia di Mesir yang jumlahnya hampir mencapai 6000 orang. Masalah yang mereka hadapi sangat kompleks: mulai tingkat kegagalan kuliah yang cukup tinggi, lingkungan yang tidak kondusif hingga kegiatan ekstra kurikuler yang mengganggu. Semua itu, ditengarai terkait dengan persiapan di Tanah Air yang minim, seperti penyiapan mental, kualitas penguasaan bahasa Arab dan kurangnya informasi. Belum lagi masalah di lingkungan baru, di Al-Azhar misalnya, dimana kuliah bersifat sukarela namun tuntutan level kelulusan sangat ketat. “Ini semua membuat sebagian mahasiswa kita frustasi dan menjadikan aneka kegiatan ekstra kurikuler sebuah pelarian. Mereka harus kita bantu,” tambahnya. Karena kegemasannya pula, pria dengan rambut keperakan yang baru dua bulan tiba di Kairo ini berniat mempertemukan stake holders di Indonesia yang terdiri dari instansi terkait di tingkat pemerintah hingga pesantren dan madrasah. Di Kairo sendiri, pendekatan dengan pihak universitas dan pemerintah setempat terus digalakkan. Di bidang politik, akibat “ketimpangan hubungan” yang cukup mencolok, alumnus pesantren modern Gontor, Ponorogo itu berambisi ”menyeret” Mesir untuk lebih berpaling ke Indonesia. Berdasarkan catatannya, sejak tahun 1983, semua Presiden Indonesia sudah bertandang ke Mesir, kecuali BJ. Habibie. Sementara Presiden Mesir hingga saat ini belum memberikan balasannya secara memadai. Selain itu, kunjungan studi banding dari berbagai lembaga nasional ke Kairo terus mengalir, namun di sisi lain tidak banyak birokrat Mesir ingin “bersekolah” di Indonesia. Khusus bidang ekonomi, menurut Dubes yang suka musik dan olahraga ini, potensi kerjasama bilateral Indonesia – Mesir musti digali lebih dalam lagi. ”Indonesia dapat menanamkan modalnya di Mesir dan menjadikan negeri para Pharao ini pintu gerbang produknya ke penjuru Afrika.” ujarnya.
|