|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Sugeng Rahardjo
MEMPROMOSIKAN produk UKM Indonesia di luar negeri, khususnya Afrika Selatan, bukan merupakan hal yang mudah. Hal ini ditambah lagi dengan adanya beberapa kendala dalam hubungan perdagangan Indonesia Afrika Selatan. Kendala tersebut antara lain adalah (1) kurangnya pengetahuan dan pemahaman kedua belah pihak akan potensi hubungan perdagangan dan investasi; (2) masalah pembiayaan perdagangan; (3) ketatnya persaingan dari China, Malaysia, Singapura dan Thailand atas produk non-tradisional Indonesia; (4) masalah hambatan tarif dan non-tarif, serta pengenaan tindakan anti-dumping bagi beberapa produk Indonesia. Pembiayaan perdagangan menjadi masalah bagi hubungan perdagangan kedua negara mengingat belum adanya hubungan kerjasama langsung antara bank komersial Indonesia dan Afrika Selatan. Hal ini membuat para pelaku usaha kedua negara harus membayar bank fee yang lebih mahal dan memakan waktu lama untuk bertransaksi. Selain itu, hal ini juga mendorong pelaku usaha di kedua belah pihak cenderung untuk bertransaksi dengan menggunakan uang kontan yang berakibat volume transaksi menjadi kecil dan tidak fleksibel. Penetrasi pasar produk Indonesia juga harus bersaing ketat dengan produkproduk manufaktur murah dan masal dari Cina, seperti tekstil, alas kaki, kertas dsb. Di samping itu, di bidang produk pertanian dan manufaktur, persaingan juga datang dari negara tetangga ASEAN lain seperti Malaysia dan Thailand. Sedangkan untuk kasus-kasus hambatan non tarif, dari tahun 1997 2006 dua belas produk Indonesia telah dituduh diekspor dalam bentuk dumping. Dua di antaranya, yakni gypsum paperboard dan A4 white paper telah mendapatkan perlakuan anti dumping dari Pemerintah Afsel. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi daya tarik pengusaha Afrika Selatan untuk mengimpor produk-produk tersebut dari Indonesia. Di pihak lain, kendala yang dihadapi oleh pengusaha Afrika Selatan, yang tercatat oleh KBRI selama ini, antara lain 1) sering pengusaha Indonesia memutuskan kontrak secara sepihak; (2) barang yang dikirim tidak sesuai pesanan; dan (3) jadwal waktu pengiriman tidak tepat waktu. Di sisi lain, Afrika Selatan merupakan pasar potensial yang belum tergarap secara maksimal. Dengan GDP per kapita USD 11.400,- (2004) dan jumlah penduduk sebesar 44,5 juta jiwa, Afrika Selatan merupakan salah satu pasar penting dengan daya beli yang tinggi bagi produk Indonesia. Hal ini ditambah lagi dengan terus menguatnya mata uang Rand terhadap USD serta pertumbuhan perekonomian yang cukup tinggi yang membuat daya beli masyarakat Afrika Selatan terus meningkat. Selain itu, secara tradisional Afrika Selatan merupakan pintu gerbang bagi pengembangan ekspor Indonesia ke negara-negara tetangga di belahan selatan Benua Afrika. Terlepas dari adanya beberapa kendala teknis bagi peningkatan hubungan dagang Indonesia Afrika Selatan, langkah-langkah inovatif dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada di Afrika Selatan terus diupayakan oleh KBRI Pretoria. KBRI dan Pemberdayaan UKM Indonesia Dalam membantu upaya pemberdayaan UKM Indonesia dengan melakukan market intelligent dan penetrasi pasar, KBRI Pretoria memandang bahwa pada dasarnya ada dua cara untuk melakukan promosi produk UKM Indonesia. Kedua upaya tersebut adalah : (1) mengikutsertakan produk-produk UKM di setiap pameran dagang di negara akreditasi; dan (2) berupaya menciptakan iklim kebutuhan atas produk tersebut pada segmen pasar tertentu. Langkah pertama memang lebih mudah dilakukan, namun memakan biaya yang tinggi. Sedangkan langkah kedua akan membutuhkan ketelatenan untuk membentuk, membangun dan memelihara segmen tersebut. Afrika Selatan bagi Indonesia ternyata memiliki satu potensi unik yang dapat dibangun sebagai segmen pasar khusus untuk produk-produk Indonesia.
Di Afrika Selatan terdapat sekitar 1,5 2 juta Cape Malay, yakni etnik melayu yang berasal dari Indonesia sebagai turunan dari political exiles gerakan anti kolonialisme Belanda pada abad 18.Pada mulanya KBRI Pretoria menggunakan pendekatan budaya untuk menggugah semangat nostalgi mereka akan Indonesia. Hal ini mengingat, walaupun masih mempertahankan beberapa ungkapan dalam bahasa Indonesia, mereka mulai kehilangan akar budaya dan historis dengan Indonesia. Pendekatan ini cukup berhasil dalam membentuk semangat nostalgi etnik tersebut dengan mulai bermunculannya beberapa perkumpulan kemasyarakatan seperti South African Malayu Cultural Society, Eastern Cape Malayo Cultural Society, dan lain sebagainya. Pendekatan lain yang diambil oleh KBRI adalah pendekatan agama, mengingat sebagian besar populasi Cape Malay beragama Islam. Hal ini dilakukan dengan cara aktif berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan yang mereka selenggarakan seperti Macassar Festival. Setelah keterikatan budaya terbentuk dan pendekatan jalur agama menguat, KBRI kemudian mulai menggarap potensi lain dari masyarakat ini yang harus digarap. Dengan populasi berjumlah 1,5 2 juta jiwa, mereka merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk Indonesia, khususnya yang menyangkut budaya dan juga agama, seperti makanan jadi, bumbu bumbu serta busana muslim dan perangkat keagamaan lainnya. Dengan menggunakan ikatan budaya dan historis, Indonesia dapat memanfaatkan masyarakat Cape Malay ini sebagai pengguna sekaligus etalase bagi produk-produk Indonesia. Singkatnya, menjadikan mereka sebagai duta produk-produk Indonesia, dan sekaligus pengusung brand image produk Indonesia. Dalam kaitannya dengan membantu upaya pemberdayaan UKM Indonesia, KBRI kemudian mencoba menghubungkan segmen khusus ini dengan UKM di Indonesia, dengan cara mempromosikan potensi UKM Indonesia dan memfasilitasi perjalanan bisnis kalangan usaha Cape Malay. Hal ini terwujud dengan kunjungan dua tokoh pengusaha Cape Malay dari Port Elizabeth ke Indonesia pada medio Maret lalu. Dalam kunjungan tersebut, keduanya ingin menjajaki kerjasama ekspor di bidang water purifier tenaga matahari dengan beberapa pihak di Indonesia. Selain itu, mereka juga ingin menjajaki kemungkinan kerjasama di bidang industri kecil, terutama dalam menyuplai barang-barang kebutuhan dan souvenir untuk penyelenggaraan World Cup 2010 di Afsel. Kunjungan tersebut dinilai sangat sukses, mengingat beberapa pihak di Indonesia seperti AL, Marinir, dan AD menyatakan tertarik pada produk water purifier mereka. Selain itu, mereka juga berkesempatan mengunjungi Yogyakarta, Semarang, Bali, Surabaya, Lombok dan Bandung. Di kota-kota tersebut mereka sempat menjajaki kerjasama perdagangan di bidang batik, aki mobil dan bola sepak dengan UKM setempat. Mereka mengaku sempat terkejut karena ternyata kualitas produk Indonesia sangat tinggi dibanding produk serupa dari Cina dengan harga yang relatif jauh lebih murah dari produk berkualitas sejenis buatan Eropa. Melihat potensi itu, mereka menyatakan akan menjajaki untuk mengimpor produkproduk tersebut ke Afrika Selatan. Selain itu, untuk menyambut penyelenggaraan World Cup 2010, mereka sangat tertarik untuk mengeksplor potensi produk UKM Indonesia di bidang souvenir, seperti misalnya T-shirt asal Bandung dan perak Yogyakarta. Kunjungan tersebut ternyata tidak hanya membuka mata Cape Malay terhadap potensi produk Indonesia. Saat berkunjung ke Bandung dan Lombok mereka sempat menyaksikan dan menikmati wisata ibadah dengan mengunjungi mesjid-mesjid dan Pondok Pesantren AA Gym yang menurut mereka akan sangat menarik bagi wisatawan agamis Cape Malay.
Upaya-upaya KBRI
tersebut merupakan langkah awal dalam membangun mimpi menjadikan Cape Malay
sebagai duta produk Indonesia, sekaligus membantu menghubungkan UKM di
kedua negara untuk saling bekerjasama. Keberhasilan upaya-upaya ini juga
akan sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak di Indonesia dalam
memfasilitasi hubungan tersebut.
|