HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi IX JUNI 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 29 June, 2008

 

 

 

  Oleh: NURADI NOERI

Persimpangan perdagangan dunia, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan daya tarik Dubai. Tempat yang tepat untuk berpromosi ke kawasan Timteng, Afrika dan Asia Selatan.

DI SEBUAH pojok jalan di daerah Karama, Dubai, terdapat sebuah toko yang selalu tutup. Kaca jendela sebagian ditutupi kertas koran, debu dan sampah kering berserakan di sekitar toko itu. Vera berusaha mengusap debu di kaca jendela untuk mengintip ke dalam sambil terbatuk-batuk. “Dulu toko ini barangnya cukup lengkap dan lokasinya cukup strategis,” ujar Vera, TKI yang bekerja di sebuah hotel berbintang lima di Dubai. Papan nama “Indonesian Supermarket” masih tergantung rapi di atas pintu masuk. Termasuk dekorasi patung Bali yang masih teronggok di sekitar toko.  

Sewaktu baru dibuka beberapa tahun yang lalu, toko itu terlihat ramai pembeli. Tidak hanya masyarakat Indonesia, penduduk Dubai lainnya nampak kerap menyambangi toko itu. Produk yang dijual pun terlihat cukup beragam. Semuanya didatangkan langsung dari Indonesia. Mulai makanan sampai kerajinan tangan khas Indonesia. Tiga bulan berjalan, produk-produk yang terjual diganti dengan produk yang dibeli di pasar setempat, seperti mi instant. Pemilik toko sempat mengeluh terhambatnya pasokan dari Indonesia. Beberapa bulan kemudian, kegembiraan masyarakat Indonesia atas kehadiran supermarket itu pun sirna. Walaupun patung Bali di depan pintu tetap duduk menyeringai, toko itu akhirnya hanya diisi suara jangkrik sepanjang siang dan malam alias bangkrut.

Salah perhitungan. Mungkin itulah kata yang tepat bagi keputusan sang pengusaha membuka supermarket itu di Dubai. Melihat potensi pasar yang cukup menjanjikan, mungkin yang terjadi adalah salah urus. Peluang emas di depan mata terlepas begitu saja karena hal yang mungkin dianggap sepele, sistem manajemen suplai. Sementara itu, pesaing berlomba mengeruk keuntungan karena potensi pasar memang besar. Sebuah supermarket Thailand yang tidak jauh dari toko itu makin ramai dikunjungi pembeli selama bertahun-tahun, termasuk orang Indonesia.

 

Potensi Pasar Dubai

Bila pemilik toko Indonesia itu mengetahui dengan jelas potensi pasar Dubai, mungkin ia tak akan sembarangan mengurus supermarketnya itu. Prospek Dubai sebagai pusat perdagangan memang meroket seiring dengan pembangunan berbagai sarana serta kebijakan pemerintah untuk memfasilitasi kegiatan perdagangan. Sejak ditemukannya ladang minyak empat puluh tahun yang lalu, pemimpin emirat Dubai sudah mempunyai visi yang jelas tentang masa depan mereka. Menjadi pusat lalu lintas perdagangan terbesar di kawasan, mungkin itulah salah satu imajinasi emir Dubai waktu itu.

Kini, Dubai tidak hanya menjadi kota kosmopolitan namun juga menjelma sebagai salah satu pusat perdagangan tersibuk di dunia. Pemerintah menerapkan sistim pasar bebas guna menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi kegiatan perdagangan. Hasilnya, sekarang bisa disaksikan berbagai jenis perdagangan yang sedang marak di Dubai. Mulai dari pasar finansial, pasar komoditi sampai pasar tenaga kerja.

“Di samping menjadi pusat perdagangan, permintaan pasar domestik juga sangat tinggi,” ujar Yana Rudiyana, pelaksana fungsi ekonomi KJRI Dubai. Menurut laporan Dubai Customs, rata-rata re-ekspor setiap tahun hanya 35% dari total impor. Artinya, sekitar 65% dari total impor (sekitar US$ 40 milyar) di konsumsi oleh pasar domestik. Dengan pendapatan perkapita sekitar US$ 20.000, maka tidaklah mengherankan bila sebagian besar produk impor diserap oleh pasar lokal. “Produk makanan jadi, tekstil dan produk tekstil, produk plastik, mebel dan mainan anak-anak adalah di antara komoditi yang banyak diimpor untuk konsumsi lokal Dubai,” ujar Yana. Konsumen lokal tidaklah seluruhnya penduduk Dubai. Para wisatawan dan pengunjung lainnya menyumbangkan kontribusi besar dalam penyerapan pasar lokal.

Jumlah penduduk Dubai kurang lebih hanya sebesar 1,2 juta orang. Namun jumlah wisatawan dan pebisnis lima kali lipat yakni lebih dari 5,4 juta orang pada tahun 2007. Dengan kapasitas bandara yang besar di mana kegiatan penerbangan berlangsung 24 jam, pemerintah Dubai memang ingin mendatangkan orang sebanyak mungkin ke emirat ini. Berbagai kegiatan dan atraksi diselenggarakan untuk mengundang wisatawan. Selain pameran dagang, kegiatan wisata belanja, Dubai juga menjadi tempat favorit bagi penyelenggaraan berbagai pertemuan dan konferensi internasional. Para pengunjung inilah yang melipat-gandakan daya serap pasar lokal.

Untuk produk tertentu seperti mebel, tekstil, dekorasi ruangan dan kerajinan tangan sebagian besar diserap pasar pribumi. Pembangunan ratusan properti di Dubai membutuhkan jutaan unit perlengkapan bangunan. Bagi produk Indonesia yang sudah memiliki daya saing tinggi, tidak ada salahnya mencoba ikut pameran di Dubai. Akses ke pasar ini terbuka luas, tidak ada hambatan tarif dan non-tarif karena pemerintah menerapkan kebijakan perdagangan liberal. Tarif impor semua barang yang masuk ke PEA hanya sebesar 5%,  kecuali untuk tembakau dan minuman keras.

Tidak seperti emirat Abu Dhabi (emirat terbesar PEA) yang memiliki ketergantungan cukup besar pada penjualan minyak bumi, kontribusi petrodolar dalam pendapatan Dubai hanya sekitar 5%. Sektor jasa dan perdagangan memegang peran penting dalam pemasukan emirat ini. Namun demikian, booming harga minyak dunia belakangan ini sudah tentu memperbesar pendapatan petrodolar.

Adakah pengaruh kenaikan harga minyak terhadap peningkatan kesempatan ekspor ke negara ini? “Pengaruhnya kurang signifikan karena kita kurang dapat  memanfaatkan momentum dan lambat menjemput bola,” ujar Muchtar, mantan Konsul Jenderal RI Dubai. “Permintaan tidak akan datang sendiri, tapi harus diupayakan dengan sungguh-sungguh,” tambah Muchtar. Penetrasi pasar harus lebih intensif dengan menjalin kontak dagang baru.

 

Pameran Dagang

Mungkin hanya Dubai yang menyelenggarakan pameran internasional tahunan terbanyak di kawasan Timur Tengah. Setahun terdapat sekitar 80 pameran internasional di Dubai.  “Hampir setiap bulan kami mengurusi peserta pameran dari Indonesia, termasuk penyelenggaraan temu usaha dengan pengusaha Dubai,” ujar Yana. Menurut catatan KJRI Dubai, Indonesia ikut dalam 11 pameran setiap tahun. Jenis produk yang dipamerkan sesuai dengan tema pameran. Mulai dari produk tekstil, mebel, barang kesenian sampai peralatan rumah sakit.

Namun Yana berpendapat masih ada beberapa jenis pameran tahunan yang belum diikuti Indonesia namun sebenarnya cukup potensial. “Pameran makanan Gulf Food sangat baik untuk mempromosikan produk makanan khususnya halal food  buatan Indonesia,” ungkapnya. Pameran lain yang perlu dilirik oleh pengusaha Indonesia adalah pameran perhiasan mengingat potensi kita di sektor ini cukup besar.

Dubai memang unik, karena penjual dan pembeli dari kawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia bahkan Eropa bertemu disini untuk mengikuti berbagai pameran. Ikut pameran di Dubai bukan berarti akan mendapat calon pembeli hanya dari Dubai, namun dari negara-negara di kawasan sekitarnya. Transaksi biasanya berlangsung di Dubai dan barang langsung dikirim ke negara pemesan. Jadi, bila ingin berpromosi di Afrika atau India, cukup datang ke Dubai karena pengusaha dari kelas kakap hingga UKM dari negara-negara di kawasan sekitar ada disini. Produk yang berdaya saing tinggi biasanya mendapat pesanan, umumnya sebagian besar dari pasar lokal.

Produk Indonesia yang berkualitas yang dipamerkan di Dubai biasanya mendapat transaksi bahkan agen di Dubai. “Belum sampai pada hari terakhir pameran, sejumlah produk Indonesia banyak yang sudah terpasang label sold yang disertai sejumlah pesanan,” ujar Gunawan, pengusaha mebel Indonesia yang sering ikut pameran di Dubai. Produk kita yang digemari karena kekhasannya dalam berbagai pameran dagang adalah furnitur baik dari kayu maupun rotan, bambu serta variasinya, kerajinan tangan, perlengkapan dekorasi seperti lampu hias, karya seni, produk marmer perlengkapan bangunan seperti westafel, ubin atau dinding marmer.

“Dengan meningkatkan kualitas dan harga yang tetap bersaing, produk-produk kita nampaknya akan tetap menjadi primadona di pasar setempat,” tambah Gunawan yang telah mempunyai agen untuk pemasaran produknya di Dubai. Sedangkan tekstil dan produk tekstil yang selama menjadi komoditi unggulan ekspor Indonesia ke Dubai, harus bersaing keras dengan produk China dan India serta Korea Selatan.

Itulah Dubai, siapa yang kuat bersaing silahkan bertarung di arena yang bebas hambatan. Kalau ingin berhasil, jangan hanya menjadi pedagang keliling internasional yang hanya mengharapkan uang tiket dan hotel kembali.