|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 June, 2008
|
Menangguk Dolar di Negeri Gurun Oleh : NURADI NOERI
Harga minyak bumi melesat tanpa ampun. Gudang duit produsen minyak di Timur Tengah semakin penuh sesak. Indonesia ada di antara negara yang diminati para raja minyak untuk dialiri dana petrodolar.
SARINO terlihat sangat serius mempelototi layar monitor komputernya sera-ya menggerakkan mouse kesana kemari. Pengusaha kerajinan tangan asal Lampung ini tengah men-cari informasi mengenai pameran di luar negeri. Kisah sukses seorang rekannya yang berhasil mendapatkan transaksi belasan ribu dolar setelah mengikuti sebuah pameran di Timur Tengah menggu-gah minatnya untuk mencari peluang serupa. Akhirnya matanya terpaku pada situs Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) yang menginformasikan berbagai pameran di luar negeri. Sudah lama Sarino mendengar potensi berbisnis ke Timur Tengah, namun sebagai pengusaha yang tergolong Usaha Kecil dan Menengah (UKM), nyalinya belum cukup untuk mencoba mengintip pasar luar negeri. Sebenarnya istilah “Arab” atau “ Timur Tengah” sangatlah akrab di telinga Sarino dan sebagian besar orang Indonesia. Wilayah yang terbentang mulai sekitar Teluk Persia sampai Semenanjung Arab itu ternyata menyimpan hampir 60 % cadangan minyak dunia. Dapat dibayangkan banjir likuiditas yang terjadi di negara-negara produsen minyak ini ketika harga minyak dunia terus meroket.
Kesempatan Ekspor Berdagang dengan orang Arab bukanlah hal yang baru karena konon penyebaran agama Islam di Indonesia berabad-abad yang lalu dilakukan oleh para pedagang Arab. Namun demikian, Timur Tengah bukanlah pasar tradisional bagi Indonesia. “Timur Tengah adalah salah satu pasar baru bagi Indonesia tetapi prospeknya cukup baik,” ujar Muchtar, mantan Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan dan Perindustrian kepada AKSES. Terlepas dari neraca perdagangan yang sudah tentu ada yang minus bagi Indonesia (terutama dengan Saudi Arabia dan Kuwait ) karena Indonesia mengimpor minyak dengan jumlah besar, namun nilai ekspor non migas Indonesia ke sejumlah negara Timur Tengah umumnya mengalami kenaikan yang mencengangkan yaitu sekitar 10% setiap tahun. “Mengingat potensi pasar Timur Tengah, nilai ekspor Indonesia ke wilayah ini akan mengalami peningkatan lebih besar lagi,” papar Muchtar yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Perdagangan RI. Peningkatan ekspor Indonesia ke negara-negara Arab mengalami peningkatan besar pada tahun 2007 yaitu sekitar 30%. Muchtar mengatakan bahwa terdapat tiga kunci sukses yang harus diperhatikan untuk melakukan ekspor. “Tingkatkan daya saing, dapatkan akses pasar dan lakukan promosi,” ujar mantan Kepala BPEN ini. Produk yang mempunyai daya saing lemah tidak akan laku dalam arena persaingan yang ketat saat ini. Produk yang berdaya saing tinggi harus mendapatkan akses untuk memasuki pasar, hambatan yang ada harus dikurangi (tarif atau non-tarif). Kemudian lakukan promosi untuk mengenalkan produk ke pasar. “Tanpa promosi produk kita tidak dikenal, sebab di pasar internasional tidak hanya Indonesia yang memproduksi suatu barang,” jelas Muchtar. Bagaimana dengan UKM yang tidak sanggup melakukan pameran apalagi promosi di luar negeri? “Di era teknologi informasi modern ini, promosi dapat dilakukan melalui internet. Selain itu, pelajari seluk beluk ekspor sehingga permintaan yang datang dapat dipenuhi dengan baik,” ungkap pejabat tinggi Departemen Perdagangan ini. Sedangkan mengenai pengaruh kenaikan harga BBM yang tentu akan mempengaruhi biaya produksi, Muchtar mengatakan bahwa upaya keras untuk mempertahankan daya saing dan promosi harus terus dilakukan. “Persoalan kenaikan harga minyak bukan hanya di Indonesia, negara pesaing lain juga mengalami tekanan peningkatan ongkos produksi akibat harga BBM,” ujar Muchtar. Kegiatan promosi perlu ditingkatkan kualitasnya dan dilakukan secara lebih intensif sehingga produk Indonesia tetap dapat bersaing di pasar internasional. Jelaslah bahwa pasar Timur Tengah sebenarnya cukup “seksi” untuk dilirik. Disamping produk konsumsi, pembangunan berbagai proyek properti yang belakangan sedang marak di sejumlah negara penghasil emas hitam ini membutuhkan jutaan jenis bahan konstruksi dan keperluan assesoris dekorasi ruangan. Permintaan untuk jenis produk ini cukup tinggi khususnya di Dubai dan Doha. Peserta pameran internasional untuk produk dekorasi dan aksesori biasanya kebanjiran permintaan. Dalam beberapa pameran internasional di Dubai misalnya, produk mebel atau marmer Indonesia langsung mendapatkan kontrak pembelian untuk jumlah besar sekaligus mendapatkan agen di Dubai. Masih banyak lagi produk Indonesia yang mempunyai potensi besar di pasar lokal. Produk makanan halal adalah salah satu sektor perdagangan yang belum tergarap secara serius oleh pengusaha Indonesia. Padahal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi yang tepat dan peluang besar sebagai pusat halal food untuk menyuplai kebutuhan pasar Timur Tengah. Selain itu, lidah konsumen Timur Tengah khususnya di Saudi Arabia, Qatar, Kuwait dan Persatuan Emirat Arab (PEA) telah terbiasa dengan beberapa makanan Indonesia misalnya mie instant. Mereka lebih memilih mie buatan Indonesia ketimbang produk yang sama dari Filipina atau Thailand yang juga terdapat di pasar setempat.
Menarik Investasi Melambungnya harga minyak dunia sekarang ini menyebabkan makin menggunungnya tumpukan devisa negara-negara penghasil emas hitam. Para raja minyak ini sudah barang tentu paham betul bahwa mereka akan rugi kalau tumpukan duit itu disimpan di gudang. Berbagai lahan yang mungkin menguntungkan segera ditelusuri. Uang tidaklah mengenal ideologi, di mana tempat menguntungkan dan aman makan kesanalah dana mengalir. Penumpukan dana milik negara-negara Arab sudah terjadi sejak tragedi 11 September 2001. Jumlah investasi yang ditarik dari Barat itu konon mencapai US$ 1,4 trilyun. Sebagian dana tersebut dilabuhkan di negara-negara Timur Tengah sendiri seperti PEA dan Qatar. Pasar keuangan Amerika Serikat dan Eropa saat ini selalu curiga dalam menerima aliran modal investor Arab karena khawatir terkait dengan kegiatan terorisme. Negara-negara Asia menangguk rejeki karena selain di wilayah Timur Tengah, para raja minyak terlihat berniat menggeret pundi-pundi mereka ke Asia. Mereka tidak salah perhitungan karena pasar finansial Asia memang sedang tumbuh pesat. Bidang-bidang yang diminati adalah sektor yang sedang melaju yakni telekomunikasi, perbankan dan properti. Investor Arab lebih menyukai produk-produk keuangan ketimbang jenis investasi lainnya. Mereka tidak mau repot membopong berbagai dokumen, proposal pendirian perusahaan dan tetek bengek lainnya. Bawa duit dan beli surat berharga, adalah cara yang banyak dilakukan investor Timur Tengah. Perangkat hukum yang memayungi produk ekonomi syariah seperti obligasi syariah (sukuk) sedang ditunggu oleh investor Arab untuk masuk ke pasar finansial Indonesia. Walaupun tidak sederas pada sektor keuangan, rejeki minyak juga mengalir ke sektor riil melalui penanaman modal langsung. Sejumlah properti di Jakarta ternyata milik investor Timur Tengah. Selain itu, pembangunan sebuah sarana wisata bahari di pulau Lombok senilai Rp 2 triliun pun akan dilakukan oleh investor Arab.
Pelaku Bisnis di Timur Tengah Berbisnis dengan negara Arab bukan berarti kita akan selalu berhubungan dengan orang Arab. Sebagian besar roda ekonomi di hampir semua negara Timur Tengah dijalankan oleh orang asing, umumnya dari negara-negara Asia Selatan. Penduduk pribumi biasanya duduk sebagai pemilik perusahaan. Anda akan tercengang dan tidak percaya bila mengetahui jumlah penduduk pribumi sebuah negara Arab seperti PEA hanya sekitar 20%. Kemanapun mata memandang yang terlihat hanya orang India, Pakistan, Bangladesh, Filipina serta etnis Arab dari negara sekitar. Oleh sebab itu, penguasaan bahasa Arab bukanlah suatu keharusan untuk melakukan transaksi karena komunikasi bisnis biasanya menggunakan bahasa Inggris. Kesamaan kultur atau latar belakang agama dengan pengusaha setempat tidak dapat menjadi alasan untuk menjalin kerjasama ekonomi yang kuat. Aspek profesionalitas dan saling menguntungkan akan menjadi acuan dalam setiap kerjasama.
Setelah
mempelajari semua peluang dan kondisi pasar Timur Tengah itu, Sarino
akhirnya memutuskan untuk ikut pameran International Autumn Trade
Fair dibawah koordinasi BPEN bulan Nopember mendatang di Dubai.
Pengusaha kerajinan tangan ini berharap produknya disukai pasar
setempat, sukur-sukur kalau dapat transaksi. Siapa mau ikut?
|