|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
MUNGKIN saya termasuk manusia katrok bin ndeso seperti Tukul ‘’Empat Mata’’ Arwana yang lagi ngetop itu. Mau bukti? Saya kaget betul ketika mengetahui hasil jajak pendapat partikelir yang menyebutkan bahwa banyak wanita Indonesia lebih menyukai suami bule dibandingkan dengan pria lokal. Kepala saya jadi tambah puyeng ketika mengetahui alasan umum yang diberikan: ‘’Memperbaiki keturunan!’’ Awalnya, saya mengira fenomena itu hanya ada di kalangan selebriti yang bergelimang sensasi. Ada multitafsir soal ‘’perbaikan keturunan’’ yang disampaikan cewek-cewek yang mengaku modern itu. Namun setidaknya bisa ditengok dua hal. Pertama, pria bule memang rata-rata secara fisik lebih yahud dibandingkan dengan pria lokal. Tubuh jangkung, dada bidang, kulit putih, rambut pirang, dan mata biru. Kedua, mereka dianggap sebagai golongan yang paling maju peradabannya dan makmur (banyak duitnya). Bandingkan dengan pria kita yang rata-rata pendek, kecil, udah gitu, tongpes lagi. Duh, cape deh. Bisa jadi, ini merupakan warisan budaya inferior setelah sekian ratus tahun dijajah bangsa berkulit putih. Barat masih selalu dianggap baik dan positif ketimbang Timur. Bukti paling sederhana, berapa banyak dari kita tidak pede dengan kulit sawo matang, lalu dengan berbagai cara dipucatkan (diputihkan) dan rambut hitam yang eksotik itu diwarnai agar mirip rambut bule, blonde dan kepirangan. Anehnya, mayoritas orang kulit putih sudah bosan dengan warna kulitnya dan lebih bangga bila berubah kecokelatan, khususnya setelah dipanggang matahari di musim panas. Bahkan, di beberapa negara Eropa, bertebaran salon khusus untuk menghitamkan kulit. Kalau demikian, tidak salah dong bila ada bule nyindir: ‘’Pada saat diterpa matahari, orang kulit putih buka baju, sedangkan orang Indonesia buka payung.’’ Lain lagi di Prancis. Cewek-ceweknya yang dikenal bertubuh ‘’jaran teji’’ alias tinggi semampai itu justru lebih menyukai cowok asal Afrika yang berkulit hitam gosong, beraroma khas, meskipun lebih sering berkantong bolong. Mereka menganggap pria kulit putih tidak macho dan cenderung ‘’melambai’’.
KEBANGGAAN VS KEPASRAHAN Cinta memang tidak mengenal logika. Begitu kata Vina ‘’Burung Camar’’ Panduwinata. Ketika sedang jatuh cinta, semua yang ada pada sang pasangan jadi indah. Meski demikian, tetap saja ada rambu-rambu yang harus menjadi pegangan. Orang Jawa, misalnya, mengedepankan konsep bibit, bebet, dan bobot. Sedangkan ajaran Islam menyarankan kesetaraan kehidupan sosial seperti kemampuan intelektual, selain kesamaan iman, sebagai hal yang paling penting. Masalahnya, ada orang yang sudah suka sebelum bersua. Dengan kata lain, membeli bule dalam karung. ‘’Pokoknya asal bule, saya oke deh,’’ begitu sering terdengar. Dampak aktivitas asal tubruk ini sangatlah fatal. Tidak terdapat lagi analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat), padahal perkawinan adalah proses negosiasi dan take and give yang sarat substansi. Mulai menyatukan dua hati, keluarga, visi, kebiasaan, adat, budaya, hingga agama. Dengan model perkawinan ‘’karena bule’’ bukan ‘’karena kecocokan’’ itu, potensi konflik dan bubar menjadi sangat rentan. Sebagaimana dimafhumi, meskipun Indonesia berbineka tunggal ika, kenyataannya perkawinan antar suku kadang tetap sulit. Mereka lebih suka dengan kalangan sendiri, inward looking marriage. Selain lebih mudah, juga tidak ada konflik budaya. Tapi, ajaib dan anehnya, banyak yang begitu permisif perkawinan dengan bule yang notabene sangat ekstrem perbedaan system budaya, sosial, kekeluargaan, kebiasaan, pendidikan, dan (kadang) agamanya. Itulah sebabnya, kisah sedih perkawinan asal tubruk bule meruyak. Seorang kenalan yang lulusan S-2 universitas terkemuka di Amerika Serikat suatu ketika mengeluh dan meneteskan air mata di depan saya. Setelah menjalani perkawinan selama satu setengah tahun, WNI yang tinggal di Eropa Barat ini tanpa ba-bi-bu ditinggalkan suaminya. Si bule dengan gaya narsisnya hanya meninggalkan secarik kertas, ‘’Sorry, habis bagaimana, saya nggak cinta lagi, sih.’’ Logis bagi si bule, tapi ngeselin dan nyebelin abis bagi kita. Ada lagi. Ijab kabul dilakukan di depan penghulu dan disaksikan Buya Hamka. Alih-alih terus rajin salat, setelah kembali ke negaranya, dengan enteng si bule mengaku bahwa syahadat yang diucapkan hanyalah akal bulus untuk mendapatkan pujaan hatinya. Sang istri yang salehah akhirnya lebih memilih cerai. Terlambat sudah, ia tidak bias ‘’pulang’’ ke Tanah Air karena telanjur menjadi warga negara asing. Saudara kita itu kini hidup kesepian di tengah keramaian dan harus ikhlas mengajukan visa ketika kangen kampung halaman. Meski begitu, banyak juga pasangan cokelat-bule yang berhasil. Umumnya wanita kita harus ‘’menyerah’’ total, baik dari segi budaya maupun agama. Anaknya rata-rata jadi sekuler dan tidak kenal lagu Indonesia Raya. Mereka pada galibnya telah melakukan barter kebanggaan dengan kepasrahan. Kata orang bijak, ‘’Perlu wisdom dan pengetahuan yang tinggi agar perkawinan dengan bule dapat berimbang.’’
Maaf
beribu maaf, pembaca yang budiman. Pikiran saya, kok, tiba-tiba
menerawang,teringat kebo (kerbau) bule bernama Kyai Slamet di Keraton Solo.
Apa, ya, karena kebetulan berkulit bule, ia lalu dikeramatkan? Bukankah kebo,
meski berkulit bule, tetap kebo? Entahlah. S’il vous plait madame et
mademoisele, merenunglah dulu sebelum mengikuti pikiran saya yang
konvensional, katrok dan ndeso ini.
|