HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

SIAPA MENGAPA Edisi V Juli 2007

 

Melantun Reggae Bermisi Perdamaian

Oleh : M Aji surya

AWAL  tahun 2007, sebuah album musik reggae bertajuk “Reggae Ambassador” menyeruak di pasaran. Beberapa pekan kemudian, salah satu lagunya, Run Dat, bertengger di 60  besar tangga lagu reggae internasional yang berjumlah 9650. Menyusul kemudian Runaway di tangga 62, sedangkan Leaving Babylon dan J-Town Rock berkejaran di peringkat 75 dan 76. Siapa gerangan penyanyi reggae itu, dialah putra salah satu satu pejabat Deplu. Adalah Ras Muhammad, 24, yang memilih jalur musik ketimbang mengikuti kemauan sang ibu menjadi birokrat. Pekerjaan adalah pilihan hidup yang harus cocok dengan hati nurani.

Tidak bisa dipaksakan. Jalur musik asal Jamaika ini didalaminya setiap waktu sampai akhirnya Ras fasih bertutur sepak terjang Bob Marley, aliran Roots, Dubb, Rock Lovers hingga Dancehall yang merupakan genre terbaru reggae. Keberaniannya mengambil aliran reggae di tengah-tengah kepungan musik mainstream dengan lirik cengeng saat ini, boleh diacungi jempol. Semua itu karena menurut Ras, reggae membawa misi mulia. “Jiwa Reggae adalah hembusan nafas perdamaian, persatuan dan kesetaraan umat manusia di depan sang Khalik,” ujarnya. “Ia juga media ungkapan jeritan kaum papa terhadap ketidakadilan dan ketimpangan sosial,” imbuhnya mantap.

Pria kurus yang suka menggunakan atribut aneka macam ini rupanya tidak salah pilih jalur. Berani berbeda  justru menciptakan peluang. Tidak heran, jadwal manggungnya kini cukup padat. Kadang Ras berduet dengan artis lain seperti Glenn. Ia terus bermimpimimpi meniru sang ikon, Bob Marley yang menyebut “reggae music is the king” sehingga harus dimainkan dengan profesional dan mengemban misi luhur. Ras menolak bila reggae identik dengan rambut gimbal dan stigma ganja. Bahkan, pelantun aliran Dancehall reggae ini berani bertaruh, musiknya bisa menjadi aset pemersatu bangsa. Kok? “Kalau ga percaya, simak saja lagu saya yang berjudul Live Upright dan Awas Lintah Darat,” celetuknya mengakhiri percakapan dengan AKSES.

  


 

Sisi lain Sang Sekjen

Oleh : M Aji Surya

SAAT bertemu pertama kali, tangan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri, Imron Cotan dengan cekatan membopong anak terkecil salah satu tersangka gembong teroris paling dicari, Ammar bin Usman alias Dulmatin. Dalam sekejap, keakraban tercipta. Sang Sekjen sudah main lempar bola dan asyik ngobrol dengan 4 anak yang terpisah dari orang tuanya tersebut. Tiba-tiba, kriiing. Telepon genggamnya sudah sambung dengan ibu anak-anak yang berjarak ribuan kilometer. Merekapun lalu melepaskan rasa kangen, lupa berapa pulsa harus dihabiskan. Repotnya lagi, ketika mau pulang, anak perempuan paling kecil itu tetap menggelayut. Emoh ditinggal.

Itulah salah satu aktivitas Sekjen Deplu di sela-sela padatnya acara ‘ASEAN Senior Officials’ Meeting di Manila beberapa waktu lalu. Mengetahui anakanak Dulmatin yang nota bene warga Indonesia kesulitan pulang ke tanah air, meluncurkan sang Sekjen begitu usai pertemuan. “Saya juga seorang Bapak yang sangat tahu perasaan anak. Apalagi mereka kan saudara kita sebangsa juga,” ujarnya. Eloknya, tanpa banyak ba-bi-bu, sehari kemudian keempat anak tersebut sudah terbang ke Indonesia dan bisa banyak cerita dengan ibu mereka, Istiada Oemar Sovie, di Solo.

Kesukaan Imron Cotan bermain dengan anak-anak bukan hal yang baru. Hampir setiap akhir pekan, ketika pekerjaan sudah longgar, Sekjen Deplu ini hobby naik sepeda keliling kampung dan dengan akrab menyapa tukang bakso, mie ayam, penjual ikan hingga anak-anak yang bermain bola di jalanan. Bahkan, kadang sepeda motor sopirnya tidak segan-segan dipinjam. Sekat-sekat penghalang dengan masyarakat umum hendak dirobohkannya. Tidak jarang, ketika tiba di rumah, dompetnya sudah mengempis. “Kita harus berbagi kebahagiaan. Toh, sebagian harta kita ini adalah hak mereka.”

Membantu anak-anak korban tsunami di Aceh sebagai bagian program peduli kemanusiaan Deplu, Sekjen juga hadir di “tanah rencong” menggeluti beberapa proyek seperti pembangunan sekolah dan rumah-rumah korban bencana. Tidak heran bila pria yang pernah tinggal di Sabang tahun 1970 -1972 itu tampak meresmikan sejumlah proyek di Desa Bakoy, Ingin Jawa Aceh Besar, Sp Lima Pidie dan Banda Aceh. Dipesankan, agar anak-anak yang berada di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mempertahankan perdamaian yang dicapai dengan susah payah, sebagai hikmah dari ke-islah-an serta hikmah bencana tsunami, sehingga kejayaan Aceh sebagai pusat perdagangan di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara, dapat diraih kembali.

Mantan Duta Besar RI untuk Australia ini berkeyakinan, untuk mencapai kemajuan bangsa, kerjasama antar manusia harus dikedepankan. Kata kuncinya: Saling membantu, menjauhkan permusuhan dan bekerja keras. Bila semua anak bangsa melakukan yang sama, maka Indonesia pasti akan berprospek cerah. “Jangan lupa juga, hablun minallah mesti dijalani,” nasehatnya mengakhiri pembicaraan dengan AKSES.