|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 Juli, 2008
|
Walaupun corak warna batiknya yang berbeda dengan selera konsumen Jepang, seorang pengusaha batik Indonesia nekat memasarkan batiknya di negeri sakura itu. Siapa nyana kerja keras berbuah antusiasme pengunjung terhadap produknya dalam beberapa pameran di Jepang.
BERAWAL dari keinginan melestarikan budaya dan tradisi Batik Yogyakarta , Wiwin Fitriana dan suaminya RM. Sinarbiyatnujanat mendirikan perusahaan Mataram Rumah Batik pada tahun 2000. Dibantu tiga orang pekerja, ia memulai usahanya dengan menjual barang-barang yang dipinjamkan oleh rekan dagangannya. Namun sayang, ternyata tanggapan konsumen kurang memuaskan saat mengikuti pameran lokal. Untuk menyiasatinya, ia memutuskan untuk memproduksi batik sendiri berupa sarung selendang, sarimbit (bahan batik untuk pasangan dengan motif dan warna sama), bahan kemeja, selendang, dan motif lainnya. Dari produksi awal inilah perlahan-lahan Wiwin menemukan ciri khas Mataram Rumah Batik dengan warna-warna tanah sehingga menimbulkan kesan batik yang unik dan ekslusif. Dengan berbekal tanggapan positif dari konsumen lokal, ibu dari 2 anak ini pun mantap memproduksi kurang lebih 1250 pcs/ bulan. Tak puas sampai disitu, untuk meningkatkan penjualan Wiwin mengikuti pameran-pameran baik nasional maupun internasonal. Ia pun tanpa ragu memenuhi undangan antara lain dari BKPM, BPEN dan KBRI di berbagai negara untuk turut serta dalam beberapa pameran. Ajang promosi yang pernah diikuti antara lain INACRAFT, Pekan Produk Budaya, Woman International Club, Tokyo Gift Show, dll. Hampir setiap dua bulan sekali Wiwin mengikuti pameran di dalam maupun di luar negeri. Negara-negara yang pernah disinggahi antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Belanda, Perancis, Spanyol, Ceko, dll. Wiwin nampak bersemangat menceritakan pengalamannya ikut pameran di Jepang. “Saya nekat membawa batik dengan warna yang cenderung gelap yang menurut arahan panitia, orang Jepang lebih menyukai warna lembut. Ternyata hasilnya diluar dugaan hampir semua dagangannya diminati banyak pengunjung,” ujar wanita jebolan D3 jurusan Manajemen ini yang hobinya traveling. Mengenai strategi penjualan, pengusaha muda yang rendah hati ini mengungkapkan peluang bisnis di bidang eceran ketimbang partai besar. “Sekarang saya justru fokus ke eceran dan membidik konsumen menengah ke atas dengan membuat batik yang eksklusif. Dengan begitu saya bisa memberikan produk yang berkualitas tinggi,” jelasnya. Tetapi Wiwin juga tidak menutup kemungkinan menerima pesanan dalam partai besar. Ketika ditanya pangsa pasar ekspor batik yang potensial, wanita semampai ini tanpa ragu menjawab Perancis dan Jepang. Lho, ternyata bule suka batik tulis juga? “Kesempatan menjual produk Mataram Batik ke konsumen asing mulai terbuka saat ada seorang buyer Perancis datang ke showroom Mataram Batik di kota Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, bule Perancis itu langsung memesan 1000 helai batik tulis,” tutur Wiwin. Menyinggung peran pemerintah dalam memajukan UKM, Wiwin berpendapat masih perlu ditingkatkan untuk fasilitas-fasilitas kegiatan promosi. Dengan begitu para pengusaha UKM dapat terbantu untuk mengakses pasar luar negeri. Wiwin memang yakin bahwa bila UKM ingin bisa menembus pasar luar negeri harus aktif berpromosi.
Untuk
mendukung usahanya Wiwin pun mulai membangun website Mataram
rumah Batik pada tahun 2000. “Harapan saya dengan website ini
nantinya semakin banyak calon konsumen yang tertarik membeli, baik
pembeli lokal maupun asing,” katanya menutup pembicaraan dengan AKSES.
|