HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi IX JUNI 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 01 Juli, 2008

 

 

 

 

                                               Oleh : IMADA S. SIMBOLON

 

Minyak bumi dan hasil pertanian merupakan pemacu perekonomian negara-negara Maghribi. Letaknya yang strategis di antara jantung Afrika dan benua Eropa menjadikan wilayah ini sebagai pasar yang potensial untuk dimanfaatkan.

BENTANGAN lautan Atlantik yang biru cerah terlihat indah dari pantai Casablanca. Ditengah angin pantai yang menderu, serombongan wisa-tawan asing tampak berjalan perlahan menyusuri pantai kota dagang terbesar di Maroko itu. Casablanca adalah salah satu daya tarik wisata di wilayah Afrika Utara.  Bila memasuki pusat kota, beragam gedung putih ala Hispano-Mauresque dan Art Deco di zaman Perancis, mesjid dengan minaret tertinggi di dunia, dan menara jam di Old Medina berpadu dengan manis. Terletak di barat Maroko, Casablanca mempunyai populasi sekitar 4 juta jiwa. Maroko adalah salah satu negara di deretan kawasan Afrika Utara atau juga dikenal dengan Maghribi.

Kawasan Maghribi memiliki budaya dan penduduk yang berbeda dengan daerah lainnya di Afrika. Dalam bahasa Arab, Maghrib (al-Maġrib al-Arabi) memiliki arti “tempat matahari terbenam” (place of sunset) atau “barat”. “Maghrib” adalah konsep yang dibuat oleh kaum Muslim yang berada di tengah-tengah peradaban Islam klasik untuk menandakan perbedaan Islam di jazirah Arab dengan Islam di Maghrib. Penguasaan kaum Muslim di akhir abad ke-7 SM, yang diikuti dengan proses Islamisasi dan Arabisasi di kawasan, telah membuat wilayah ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Timur Tengah, meskipun tetap memiliki kekhasannya tersendiri. Pengalaman kolonialisme Perancis pada abad ke-19 juga telah menambah kekhasan yang dimiliki kawasan ini.

Menurut definisi PBB, yang termasuk dalam negara-negara Maghribi adalah Aljazair, Libya, Maroko, Mesir, Sahara Barat, Tunisia, Sudan dan kadangkala juga Mauritania, Ethiopia, dan Eritrea. Namun menurut definisi secara umum, Maghribi hanya mencakup tiga negara “inti” yang terletak di antara Pegunungan Atlas dan Laut Mediterania, yaitu Maroko, Ajazair dan Tunisia. Mayoritas penduduk Maghribi termasuk dalam ras kulit putih dan merupakan penutur bahasa Afro-Asia, yang sebagian besar juga beragama Islam dan menganggap dirinya sebagai orang Arab, terlepas dari warisan etnik dan bahasa mereka yang sudah bercampur baur. Populasi non-Arab yang terbesar di Maghribi adalah orang Berber, yang banyak mendiami Maroko dan Aljazair.

Di bidang ekonomi, secara umum negara-negara Maghribi memiliki produk atau sektor unggulannya masing-masing. Perekonomian Aljazair, dan juga Libya, selama ini berkembang melalui hasil penjualan gas dan minyak di kawasan gurun mereka, sementara ekspor utama Maroko adalah fosfat dan produk-produk pertanian. Tunisia mengekspor tekstil, fosfat, dan produk pertanian. Perbedaan struktural yang paling mencolok antara tiga negara inti Maghribi adalah bahwa Aljazair merupakan negara pengekspor hidrokarbon utama di dunia, sementara Maroko dan Tunisia memiliki perekonomian yang lebih terdiversifikasi dan menyerap banyak tenaga kerja. Mesir sendiri merupakan salah satu negara Maghribi yang memiliki basis industri yang paling bervariasi, mengimpor teknologi untuk mengembangkan industri elektronik dan permesinan, dan mempertahankan reputasi tekstil kapas yang berkualitas tinggi. Sektor pariwisata juga menyumbangkan kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi kawasan ini.

Mungkin karena kedekatan letak geografis, hubungan perdagangan negara-negara Maghribi dengan Uni Eropa cukup erat. Partner dagang utama Maghribi adalah Perancis, Itali, Jerman dan Spanyol, disamping mitra dagang lainnya seperti Amerika Serikat, Inggris, China, Arab Saudi dan India. Persetujuan-persetujuan dagang yang ada dengan Uni Eropa dapat memberikan kesempatan bagi Maghribi untuk meniti basis-basis spesialisasi ekspornya ke berbagai negara di dunia. Namun hingga kini, pemerintah masih mendominasi perekonomian pada tingkatan yang berlainan dan perjanjian dagang eksternal masih restriktif, walaupun sudah lebih menerapkan perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

 

Kondisi Pasar

Lambannya proses pembukaan ekonomi negara Maghribi terhadap perdagangan multilateral dan investasi adalah hambatan utama pertumbuhan ekonomi dan mengurangi tingkat pengangguran yang tinggi di wilayah ini. Pasar negara-negara Maghribi relatif kecil. Padahal kesempatan untuk melakukan pembangunan terletak pada keterbukaan dan integrasi ekonomi. Lebih jauh lagi, proteksi perdagangan dalam kawasan Maghribi hingga kini tetap tinggi, khususnya untuk produk-produk pertanian. Ada dua jenis proteksi yang diterapkan di Maghribi. Pertama, model Tunisia yang memiliki tingkat proteksi yang tinggi untuk produk pertanian. Kedua, model Maroko yang lebih memproteksi sektor manufakturnya. Tingkat tarif juga termasuk tinggi untuk sektor manufaktur dan industri berteknologi tinggi. Pada intinya, kedua model ini digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan politis dan spesialisasi ekspor dari setiap perekonomian Maghribi untuk memproteksi sektor-sektor mereka yang paling sensitif.

Namun demikian, beberapa tahun belakangan, negara-negara Maghribi telah membuat langkah-langkah penting untuk mencapai kemakmuran ekonomi. Kondisi makroekonomi yang stabil, kemajuan-kemajuan dalam reformasi ekonomi, dan integrasi perdagangan yang berlangsung dengan Uni Eropa, telah meningkatkan jumlah investasi asing di kawasan, sehingga mampu menyumbang bagi peningkatan pendapatan perkapita. Sayangnya, perjanjian dagang intra-kawasan tersebut belum maksimal, karena hingga kini hanya mampu menyumbang sekitar 2% dari nilai total perdagangan tiap negara.

 

Hubungan Dagang Indonesia-Maghribi

Hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara Maghribi telah terjalin sejak lama. Negara-negara Maghribi kerap menjadikan Arab Islam sebagai identitas bangsa, sedangkan Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kesamaan latar belakang kultur ini nampaknya menjadi salah satu landasan dalam memperkuat kerjasama. Indonesia dan Maghribi kerap kali saling mendukung di berbagai fora internasional.

Di bidang perdagangan, Indonesia telah memiliki hubungan kerjasama ekonomi yang baik dengan negara-negara Maghribi. Kawasan Maghribi adalah pasar yang cukup potensial bagi komoditi ekspor Indonesia. Menurut data Departemen Perdagangan RI, nilai perdagangan Indonesia dengan lima negara-negara Maghribi tersebut mencapai US$ 1,7 milyar pada tahun 2007.

Bagi Indonesia, negara-negara Maghribi merupakan sebuah kawasan strategis yang potensial untuk meningkatkan ekspor ke Afrika sekaligus batu loncatan ke Eropa. Namun jauhnya jarak masih menghambat baik para pengusaha Indonesia maupun Maghribi untuk menjual produknya di antara mereka. Orientasi pengusaha Maghribi hingga kini lebih terfokus pada Eropa atau Amerika karena lebih dekat, sedangkan orientasi pengusaha Indonesia lebih ke Asia atau Eropa. Padahal produk kerajinan dan furniture Indonesia di kawasan ini sangat dinantikan.

Pengusaha Indonesia harus jeli-jeli dalam memanfaatkan peluang bisnis yang besar di kawasan Maghribi. Latar belakang sejarah dan budaya sebagai sesama negara Muslim dan minat yang tinggi dari pengusaha Maghribi atas produk-produk Indonesia dapat menjadi salah satu pelicin dalam mengintensifkan kerjasama UKM. Bahkan beberapa negara Maghribi hanya membuka perwakilan di Indonesia saja untuk kawasan Asia Tenggara.