|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 Juli, 2008
|
Oleh : IMADA S. SIMBOLON
Minyak bumi dan hasil pertanian merupakan pemacu perekonomian negara-negara Maghribi. Letaknya yang strategis di antara jantung Afrika dan benua Eropa menjadikan wilayah ini sebagai pasar yang potensial untuk dimanfaatkan.
Kawasan Maghribi memiliki budaya dan penduduk yang berbeda dengan daerah lainnya di Afrika. Dalam bahasa Arab, Maghrib (al-Maġrib al-Arabi) memiliki arti “tempat matahari terbenam” (place of sunset) atau “barat”. “Maghrib” adalah konsep yang dibuat oleh kaum Muslim yang berada di tengah-tengah peradaban Islam klasik untuk menandakan perbedaan Islam di jazirah Arab dengan Islam di Maghrib. Penguasaan kaum Muslim di akhir abad ke-7 SM, yang diikuti dengan proses Islamisasi dan Arabisasi di kawasan, telah membuat wilayah ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Timur Tengah, meskipun tetap memiliki kekhasannya tersendiri. Pengalaman kolonialisme Perancis pada abad ke-19 juga telah menambah kekhasan yang dimiliki kawasan ini. Menurut definisi PBB, yang termasuk dalam negara-negara Maghribi adalah Aljazair, Libya, Maroko, Mesir, Sahara Barat, Tunisia, Sudan dan kadangkala juga Mauritania, Ethiopia, dan Eritrea. Namun menurut definisi secara umum, Maghribi hanya mencakup tiga negara “inti” yang terletak di antara Pegunungan Atlas dan Laut Mediterania, yaitu Maroko, Ajazair dan Tunisia. Mayoritas penduduk Maghribi termasuk dalam ras kulit putih dan merupakan penutur bahasa Afro-Asia, yang sebagian besar juga beragama Islam dan menganggap dirinya sebagai orang Arab, terlepas dari warisan etnik dan bahasa mereka yang sudah bercampur baur. Populasi non-Arab yang terbesar di Maghribi adalah orang Berber, yang banyak mendiami Maroko dan Aljazair. Di bidang ekonomi, secara umum negara-negara Maghribi memiliki produk atau sektor unggulannya masing-masing. Perekonomian Aljazair, dan juga Libya, selama ini berkembang melalui hasil penjualan gas dan minyak di kawasan gurun mereka, sementara ekspor utama Maroko adalah fosfat dan produk-produk pertanian. Tunisia mengekspor tekstil, fosfat, dan produk pertanian. Perbedaan struktural yang paling mencolok antara tiga negara inti Maghribi adalah bahwa Aljazair merupakan negara pengekspor hidrokarbon utama di dunia, sementara Maroko dan Tunisia memiliki perekonomian yang lebih terdiversifikasi dan menyerap banyak tenaga kerja. Mesir sendiri merupakan salah satu negara Maghribi yang memiliki basis industri yang paling bervariasi, mengimpor teknologi untuk mengembangkan industri elektronik dan permesinan, dan mempertahankan reputasi tekstil kapas yang berkualitas tinggi. Sektor pariwisata juga menyumbangkan kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi kawasan ini.
Kondisi Pasar Lambannya proses pembukaan ekonomi negara Maghribi terhadap perdagangan multilateral dan investasi adalah hambatan utama pertumbuhan ekonomi dan mengurangi tingkat pengangguran yang tinggi di wilayah ini. Pasar negara-negara Maghribi relatif kecil. Padahal kesempatan untuk melakukan pembangunan terletak pada keterbukaan dan integrasi ekonomi. Lebih jauh lagi, proteksi perdagangan dalam kawasan Maghribi hingga kini tetap tinggi, khususnya untuk produk-produk pertanian. Ada dua jenis proteksi yang diterapkan di Maghribi. Pertama, model Tunisia yang memiliki tingkat proteksi yang tinggi untuk produk pertanian. Kedua, model Maroko yang lebih memproteksi sektor manufakturnya. Tingkat tarif juga termasuk tinggi untuk sektor manufaktur dan industri berteknologi tinggi. Pada intinya, kedua model ini digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan politis dan spesialisasi ekspor dari setiap perekonomian Maghribi untuk memproteksi sektor-sektor mereka yang paling sensitif. Namun demikian, beberapa tahun belakangan, negara-negara Maghribi telah membuat langkah-langkah penting untuk mencapai kemakmuran ekonomi. Kondisi makroekonomi yang stabil, kemajuan-kemajuan dalam reformasi ekonomi, dan integrasi perdagangan yang berlangsung dengan Uni Eropa, telah meningkatkan jumlah investasi asing di kawasan, sehingga mampu menyumbang bagi peningkatan pendapatan perkapita. Sayangnya, perjanjian dagang intra-kawasan tersebut belum maksimal, karena hingga kini hanya mampu menyumbang sekitar 2% dari nilai total perdagangan tiap negara.
Hubungan Dagang Indonesia-Maghribi Hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara Maghribi telah terjalin sejak lama. Negara-negara Maghribi kerap menjadikan Arab Islam sebagai identitas bangsa, sedangkan Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kesamaan latar belakang kultur ini nampaknya menjadi salah satu landasan dalam memperkuat kerjasama. Indonesia dan Maghribi kerap kali saling mendukung di berbagai fora internasional. Di bidang perdagangan, Indonesia telah memiliki hubungan kerjasama ekonomi yang baik dengan negara-negara Maghribi. Kawasan Maghribi adalah pasar yang cukup potensial bagi komoditi ekspor Indonesia. Menurut data Departemen Perdagangan RI, nilai perdagangan Indonesia dengan lima negara-negara Maghribi tersebut mencapai US$ 1,7 milyar pada tahun 2007. Bagi Indonesia, negara-negara Maghribi merupakan sebuah kawasan strategis yang potensial untuk meningkatkan ekspor ke Afrika sekaligus batu loncatan ke Eropa. Namun jauhnya jarak masih menghambat baik para pengusaha Indonesia maupun Maghribi untuk menjual produknya di antara mereka. Orientasi pengusaha Maghribi hingga kini lebih terfokus pada Eropa atau Amerika karena lebih dekat, sedangkan orientasi pengusaha Indonesia lebih ke Asia atau Eropa. Padahal produk kerajinan dan furniture Indonesia di kawasan ini sangat dinantikan.
Pengusaha Indonesia harus jeli-jeli dalam memanfaatkan peluang bisnis
yang besar di kawasan Maghribi. Latar belakang sejarah dan budaya
sebagai sesama negara Muslim dan minat yang tinggi dari pengusaha
Maghribi atas produk-produk Indonesia dapat menjadi salah satu pelicin
dalam mengintensifkan kerjasama UKM. Bahkan beberapa negara Maghribi
hanya membuka perwakilan di Indonesia saja untuk kawasan Asia Tenggara.
|