HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI V 2007

Kiat sukses mi kocok Bandung di Sydney

Oleh: Muhammad Iqbal Maulana

 

Mengadu nasib di negeri seberang tidaklah mudah. Tekad yang kuat dan dan kerja keras menjadi salah satu syarat mutlak. Hal itu akan menjadi lebih mudah saat keluarga memberikan dukungan dukungan sepenuhnya.

Sinar matahari Australia bersinar cerah di suatu siang pada bulan April lalu, ketika Sugianto Halim (32) berpose untuk AKSES di depan rumah makan miliknya yang terletak di Shop 1, Maroubra Road, Kota Sidney. Sumber  mata pencaharian  yang  telah menghidupi keluarganya itu dirintis sejak empat tahun lalu, tepatnya pada tanggal 30 Juni 2003. Ia menggunakan merek dagang “Mie Kocok Bandung (Indonesian Noodle Bar)”, menyajikan mie asal ranah sunda sebagai menu utama dan juga beberapa menu masakan indonesia lainnya.

Sugianto yang kelahiran Makassar ini menuturkan bahwa membuka usaha di Australia tidaklah mudah. Mereka memulai usahanya dari awal hanya berbekal tekad dan keberanian. Tantangan pertama dimulai dengan kebutuhan modal yang cukup besar, sekitar AUS$100.000. Untuk memenuhi angka itu, Sugianto harus rela mengorek tabungan pribadinya dan mengusahakan modal tambahan dari sektor perbankan lokal Australia. Tidak hanya itu, ia juga harus bisa mengatasi masalah persyaratan perijinan setempat yang cukup ketat. “Di sini persyaratannya sangat banyak, sampai hal-hal kecil pun harus tetap diperhatikan. Pada awal usaha saya sempat bingung,” ceritanya.

Diterima pelanggan

Menurut Sugianto, ia bisa merasakan bahwa tempat usahanya akan mendapatkan tempat di hati konsumen. Ia menceritakan, bahwa banyak pembeli yang penasaran sejak hari pertama pembukaan rumah makan itu. “Sambutan pembeli, terutama dari Indonesia, sangat baik. Waktu hari pertama buka banyak sekali orang datang untuk mencoba,” tuturnya.

Bahkan dikemudian hari diketahui bahwa sudah banyak pembeli yang menjadi pelanggan tetapnya. “Puji syukur, hingga hari ini walau toko tutup untuk holiday, orang-orang tidak sabar menunggu untuk buka kembali. Benar-benar respon yang positif,” katanya.

Rupanya, salah satu rahasia dari larisnya masakan khas bandung ini berasal dari bahan makanan yang tidak hanya menggunakan bahan baku lokal Australia, namun juga diimpor langsung dari Indonesia, tepatnya dari Bandung dan Jawa Tengah. Hal ini membuat masakan khas nusantara yang disajikan dapat mengobati kerinduan masyarakat Indonesia di sana akan kampung halaman. “Banyak customer yang datang dari tempat yang jauh, minimal 2 jam perjalanan, tatkala mereka kangen masakan Indonesia di tempat kami” ujarnya. Hal ini juga diakui oleh Arief (28) salah satu pelanggan. “Saya makan di sini kalo pas lagi kangen masakan Indonesia. Sekalian di sini ketemu sesama orang Indonesia,” tuturnya.

Tidak hanya itu, citarasa masakan rumah makan ini ternyata juga diminati oleh selain orang Indonesia. Menurut Sugianto, prosentasenya sekitar 20 persen, terdiri dari warga Australia dan orang-orang Malaysia, Cina, India, dan Yunani. Mereka datang ke rumah makan Mie Kocok Bandung sebagai pelanggan tetap, dan tidak jarang mereka mengajak teman-teman lainnya untuk mencoba.

Keluarga menjadi motif utama

Sugianto yang sudah tinggal di Australia sejak 1994 atau lebih dari 13 tahun ini menuturkan, bahwa alasan utama ia tinggal di Australia lebih disebabkan oleh kondisi keluarganya. Dengan mencari penghasilan di negeri Kanguru ini ia akan tetap berdekatan dengan lingkungan keluarga besarnya. “Keluarga saya dan keluarga dari pihak istri hampir semuanya telah bertempat tinggal di Australia, berat rasanya kalau kita harus kembali ke Indonesia untuk membuka usaha,” tambahnya.

Rupanya motif keluarga ini juga yang membuatnya memilih berwiraswasta membuka rumah makan dengan manajemen keluarga. Sugianto menjalankan bisnis ini bersama istrinya, Magdalena Zakaria (31) seorang wanita kelahiran Bandung. Dengan keadaan seperti ini, Sugianto mengaku sangat enjoy melakoni usaha kulinernya karena membuatnya dapat selalu dekat dengan keluarga, terutama dengan anaknya yang masih balita. “Karena usaha ini adalah small family business, jadi sukanya adalah kita bisa bekerja bersama istri dan anak. Kita bisa ngobrol sambil jaga anak di waktu toko lagi tidak ada pengunjung,” tuturnya.

Untuk tetap eksis hingga kini, mereka berdua harus bekerja keras dan dibarengi semangat juang yang tinggi. Walhasil usaha mereka sekarang perlahan-lahan mulai berkembang dan membawa keuntungan. “Dalam sebulan saya dapat meraup pemasukan sebesar AUS$ 20.000 dengan laba bersih minimal AUS$ 3.000,” ujarnya. Keuntungan tersebut untuk sementara ini sudah cukup untuk menghidupi keluarganya, namun untuk mengembangkan usahanya lebih besar ia masih harus bersabar mengumpulkan modal.

Kerasan di Australia

Situasi ini membuat Sugianto kurang berminat kembali ke Indonesia. Ia merasa tetap kerasan tinggal di Australia meskipun ia harus mengeluarkan biaya operasional yang jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia, sehingga mengurangi keuntungan yang diraih. Saat ditanya mengenai kemungkinan akan kembali ke Indonesia, ia menjawab, “belum tahu pasti, tapi 90 persen kemungkinan menetap disini”.

Hal ini juga yang membuatnya mempersilahkan orang Indonesia yang berminat mengikuti jejaknya untuk membuka usaha di Australia. Namun ia mengingatkan bahwa hal ini tidak mudah dan harus mau untuk bekerja keras. “Sekarang ini  sudah banyak orang Indonesia membuka usaha atau business di sini, khususnya restaurant. Tapi buka usaha di sini jauh berbeda dengan di Indonesia, semuanya harus dilakukan sendiri,” katanya.

Pada akhir perbincangan, ia menyampaikan harapan agar pemerintah Indonesia tetap memberikan perhatian kepada para warga negara Indonesia yang membuka usaha di luar negeri, khususnya di Australia dalam hal ini. Bantuan itu dapat berupa promosi dan publikasi. “Alangkahnya baiknya apabila pemerintah mengimbau travel agent untuk membawa group tour-nya yang berwisata ke Australia untuk makan di restaurant-restauran Indonesia. Biasanya saat traveling dan jauh dari tanah air, wisatawan kangen dengan masakan Indonesia,” ujarnya.