|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 April, 2009
|
Memaknai Krisis Seolah melengkapi krisis-krisis yang muncul sebelumnya, seperti krisis energi, krisis pangan, krisis lingkungan, dan krisis-krisis lain, di penghujung tahun 2008, umat manusia di seantero dikejutkan olah munculnya krisis keuangan global. Harga saham dan berbagai komoditi terjun bebas bagai meteor menghempas bumi. Satu per satu perusahaan besar di Amerika Serikat ambruk. Anjloknya bursa saham Wall Street bagai tsunami yang melanda pasar saham dunia. Masa suram menghantui hidup banyak orang. Resesi dan depresi membayangi ekonomi dunia. Ribuan pekerja mulai di PHK, kredit macet dan hutang membengkak dan terjadi kebangkrutan di mana-mana. Dalam situasi seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Jika kita bandingkan reaksi di negara-negara maju dan di Indonesia, masyarakat Indonesia seakan tidak memiliki “sense of crisis”. Lihat saja, jalan-jalan masih penuh dengan mobil-mobil mewah, demikian pula mal-mal dan restaurant-restauran tidak pernah sepi dari pengunjung. Mengapa terjadi anomaly seperti itu? Apakah memang masyarakat Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh krisis? Ataukah sebaliknya, masyarakat sudah terbiasa dengan krisis? Masih ingat krisis keuangan Asia 1998? Di saat seluruh Asia dilanda keprihatinan akibat rontoknya nilai mata uang mereka, jalan-jalan di Jakarta malah dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang bersliweran. Fenomena “anomaly” ini sering menjadi keheranan bagi orang asing. Adakah Indonesia kasus yang unik?
Ukuran krisis bagi setiap orang sangat relatif dan subyektif. Hal itu sangat bergantung pada karakter, situasi dan kondisi orang-orang bersangkutan. Misalnya, orang desa yang sabar dan terbiasa memasak menggunakan kayu bakar, mungkin tidak akan terlalu terusik dengan berita krisis gas elpiji yang akut karena dia tidak pernah tergantung pada elpiji. Beda dengan orang kota yang sama sekali tidak punya opsi lain selain gas elpiji. Orang kota yang panik, mungkin sekali akan marah, protes bahkan paranoid sehingga terdorong bertindak berlebihan di luar kewajaran, seperti melakukan aksi-aksi anarkis. Kebiasaan aji mumpung dan memborong barang kebutuhan pokok di masa-masa tertentu, adalah contoh-contoh reaksi semacam ini. Dari ilustrasi di atas, nampak bahwa orang sabar yang siap dan waspada akan mampu bersikap optimis dalam menghadapi krisis. Sikap ini seperti pepatah “sedia payung sebelum hujan”. Sikap orang yang visioner. Cepat menemukan kekurangan dan segera memperbaiki kesalahan. Di mata orang optimis, tidak pernah ada aspek tidak untung. Sebaliknya orang yang tidak waspada akan mudah panik, pesimis, apatis, selalu menyesali dan tak pernah bersyukur. Bila usaha anda suatu ketika menghadapi krisis, sepi pembeli, sepi order, apa yang mesti dilakukan? Pasrah? Marah? Putus asa? Lari dari kenyataan? Atau sebaliknya, segera bangkit, melakukan instrospeksi, memperbaiki perencanaan, meningkatkan kualitas barang dan pelayanan, dstnya. Di sinilah karakter asli seorang wiraswatawan sejati diuji. Melarikan diri dari kenyataan, pastilah bukan sifat seorang wiraswatawan sejati. Tetapi membangun dengan perencanaan dengan menghindari “lebih besar pasak dari tiangnya” adalah resep jitu untuk menghindari krisis. Orang mawas diri selalu bersikap hati-hati. Selalu mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan situasi terburuk membantu kita selalu bersikap tenang, rasional, tidak emosional, tidak kagetan dan tidak panik. Mengubah krisis menjadi peluang ibarat mengubah lemparan batu orang-orang ke diri anda lalu menghimpunnya sehingga menjadi tembok bangunan yang kokoh. Mental wiraswasta adalah mental kaleng, tahan banting, tidak mudah pecah karena benturan, tidak mudah remuk oleh cuaca. Selamat berusaha dan sukses mengatasi krisis.
|