|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 April, 2009
|
Krisis belum mampir di Saudi oleh: Pranowo Krisis keuangan global yang sedang mendera berbagai negara belum mampu menggoyang perekonomian Arab Saudi. Raja minyak dunia ini masih aktif menjalin berbagai hubungan ekonomi dengan negara- negara mitranya. Yusuf tampak sibuk menekan-nekan tombol pesawat telepon. Staf Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI Riyadh ini tengah mencoba menghubungi kantor KADIN Indonesia di Jakarta dan beberapa eksportir Indonesia. Siang itu ada permintaan dari pengusaha setempat untuk mengimpor mebel dari Indonesia. Permintaan semacam ini dilayani KBRI Riyadh setiap hari. “Sehari bisa puluhan permintaan” ujar Yusuf. Produk Indonesia memang telah dikenal luas oleh pasar Saudi. Dampak krisis Agresifnya para pengusaha Arab Saudi dalam mengajukan permintaan barang ke berbagai negara produsen didorong oleh kuatnya devisa negara penghasil minyak bumi. Apalagi setelah membumbungnya harga minyak dunia tahun lalu yang tentu saja telah menggembungkan kocek lumbung minyak terkaya di dunia itu. Pemerintahan Arab Saudi yakin bahwa krisis keuangan global tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap semua sektor perekonomian di negaranya. Dampak tersebut hanya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional dan turunnya volume ekspor. Bahkan beberapa pengamat mengemukakan bahwa perlambanan ekonomi di Arab Saudi kali ini memberikan dampak positif terhadap masyarakat lokal karena terjadinya penurunan harga-harga, khususnya harga pangan dan keperluan sehari-hari lainnya. Abdul Rahman Al-Tuwaijri, Presiden Otoritas Pasar Modal dan Sekjen Dewan Ekonomi Tertinggi Arab Saudi menyatakan bahwa investasi asing saat ini juga telah mulai mengalir kembali ke pasar modal Arab Saudi. “Sejauh ini otoritas terkait Arab Saudi tidak melihat tanda-tanda adanya dana-dana yang mengalir keluar Arab Saudi” ujar Abdul Rahman. Mengamati perkembangan itu, KBRI Riyadh melaporkan bahwa sampai dengan akhir tahun 2008 belum terlihat adanya sektor riil di Arab Saudi yang terkena imbas krisis ini. Sehingga diperkirakan sampai dengan akhir tahun tersebut tidak ada pengaruh terhadap impor dari negara lain, termasuk Indonesia. Pasar Saudi tetap merupakan peluang bagi komoditi Indonesia.
Peluang Indonesia Data Departemen Perdagangan RI menunjukan bahwa neraca perdagangan Indonesia – Arab Saudi sampai Nopember 2008 mempunyai angka defisit bagi Indonesia karena nilai impor minyak mentah Indonesia yang besar yaitu lebih dari US$ 4 milyar sedangkan ekspor non migas Indonesia ke Saudi hanya US$ 1,1 milyar. Namun kinerja ekspor non-migas Indonesia ke negara tersebut memperlihatkan perkembangan yang positif dengan pertumbuhan yang konstan setiap tahun. Peningkatan ekspor non migas Indonesia ke Saudi cukup membanggakan dengan puncaknya pada tahun 2007 yaitu sebesar 40% dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke Saudi lebih dari 55%. Meningkatnya permintaan terhadap produk Indonesia tidak hanya merupakan hasil jerih upaya pengusaha Indonesia dalam mempromosikan produknya. Namun pengusaha Saudi juga terlihat sangat agresif dalam mencari produk-produk Indonesia untuk dipasarkan di negara mereka. Bila intensitas upaya promosi dari pihak dunia usaha Indonesia dapat lebih ditingkatkan maka arus ekspor non migas produk Indonesia ke negara kaya minyak ini pasti akan lebih deras. Dengan semakin tingginya pendapat perkapita, saat ini penduduk Arab Saudi menjadi salah satu masyarakat yang paling konsumtif di dunia. Arab Saudi sangat tergantung pada produk impor untuk memenuhi hampir semua kebutuhannya. Mulai dari bahan makanan, garmen, perlengkapan rumah tangga dan lainnya. Sejumlah negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, RRC, India dan Malaysia telah menggarap peluang ini dengan menjadi pemasok bagi segala kebutuhan sang raja minyak. Apalagi dalam situasi krisis sekarang ini dimana sebagian besar daya beli negara – negara pengimpor menurun, arus produk impor ke Saudi semakin deras karena dampak krisis belum berpengaruh pada daya beli Saudi. Meskipun demikian, pemerintah Arab Saudi sangat ketat mengontrol barang-barang impor. Produk yang masuk harus bermutu tinggi dan memiliki harga yang bersaing. Mutu barang impor harus memenuhi standar Saudi Arabian Standard Organization (SASO). Pemerintah Saudi juga menetapkan ketentuan pre-shipment testing untuk produk-produk yang beresiko tinggi, seperti mainan, elektronik, otomotif, kimia, logam, semen, korek api, tissue, dan rokok. Saudi menerapkan ekonomi terbuka dimana produk impor bebas bersaing baik dalam segi harga maupun kualitas. Oleh karenanya, harga barang-barang impor cenderung ditekan oleh pasar. Akibatnya barang dengan kualitas dan harga seperti yang ditawarkan China dan India banyak diminati dan menguasai pasar. Keadaan ini mendorong persaingan yang lebih ketat dalam harga dan kualitas. Bagamana dengan produk Indonesia? Peluang menanti, tunggu apalagi...
|