|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
KISAH sukses Runa Jewelry di Jepang tak lepas dari keuletan Runi Palar sebagai pimpinan dan desainer. Wanita kelahiran Jogyakarta ini memang sejak dulu hobi merancang baju dan menciptakan aneka perhiasan dari kuningan dan perak. Dari hobi inilah berkembang menjadi usaha dengan berpartisipasi di berbagai peragaan busana dan pameran kerajinan tangan. Latar belakang keluarga juga turut mendukung usahanya di bidang perhiasan. Ayah Runi, R.S Tjokrosoeroso adalah ahli kerajinan perak Indonesia pertama yang memamerkan proses pengerjaan kerajinan perak di San Fransisco tahun 1938. Sedangkan sang suami, Adriaan Palar, merupakan lulusan dari jurusan interior desain, Institut Teknologi Bandung. GABUNGAN NAMA SENDIRI DAN SUAMI Pada tahun 1976 Runi dan Adriaan akhirnya mantap mendirikan CV. RUNA. Nama RUNA diambil dari singkatan kedua nama pasangan yang menikah tahun 1967 ini. Berkat dorongan semangat dan ilmu dari sang suami, Runi terinspirasi untuk menguasai kesenian dan keterampilan merancang perhiasan serta mode. Untuk pemasaran hasil produknya, Runi menerapkan sistem toko ritel eksklusif/Exclusive Retail Shop dengan nama RUNA. Produk-produk RUNA tidak hanya diperuntukan bagi kaum hawa. Perhiasan untuk pria juga tak luput dari perhatian Runi. Mulai dari cincin, pendant, penjepit lengan kemeja hingga penjepit dasi dirancang oleh Runi menggunakan batu mulia atau semi mulia. Begitu pula dengan cinderamata berupa replika perhiasan antik, patung, piala, perangkat makan sampai suvenir pernikahan. Orang-orang terkenal seperti mantan presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Rachmat Gobel pernah menjadi kliennya. Adapun penjualan ke luar negeri dilakukan lewat butik yang sudah menjadi langganan RUNA dan perusahaan mail order asing. Menyadari sekarang sudah jamannya internet, Runi mempermudah juga dapat membeli via internet pada website www.99bali/runa.com. Tetapi bagi yang berminat membeli secara grosir hanya dapat dilakukan melalui kantor/galeri RUNA di Bandung atau Bali. REKOMENDASI DUTA BESAR INDONESIA Sebenarnya Runi sudah mulai berkenalan dengan pasar Jepang sejak tahun 1993 saat mengikuti pameran Smart Consumer di Tokyo. Tapi hasil karya Runi baru mulai menembus pasar Jepang dengan bendera RUNA pada tahun 1998. Atas rekomendasi Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Bapak Soemadi Brotodiningrat, RUNA mengikuti pameran bersama DEKRANAS (Dewan Kerajinan Tangan Nasional) di kota Shimizu, Jepang. Di sana Runi bertemu dengan seorang buyer Jepang yang berminat menjalin kerjasama sebagai agen (mitra lokal) RUNA di negeri sakura tersebut. Dari sinilah Runi mulai menjajaki pasar Jepang. Pada tahun 2000 RUNA diundang kembali ke Jepang untuk pameran pertama kalinya. “Saat itu kami mengusulkan harus memperkenalkan diri dengan brand-name Runa Jewelry. Akhirnya disetujui dan ternyata hasilnya menggembirakan” tutur Runi. Jelas ini sebuah prestasi tersendiri mengingat pasar Jepang sangat ketat dalam hal kualitas. ”Konsumen Jepang menyukai produk RUNA karena saya tidak hanya menjual saja. Saya mengenalkan pada mereka bagaimana cara perhiasan tersebut dipakai sehingga terlihat serasi” imbuhnya. Pada umumnya perhiasan yang dijual di Jepang ukurannya kecil-kecil. Tak disangka produk-produk RUNA yang berukuran sedang dan besar mendapat sambutan positif dari konsumen Jepang. ”Mereka senang karena saya juga turut mempromosikan kebudayaan Bali dan Yogyakarta lewat desain-desain RUNA. Saya lahir di Jogyakarta dan pernah tinggal di Bali sehingga memahami kebudayaan kedua daerah” tuturnya. Untuk mendukung usahanya, Runi membuka bengkel kerja (workshop) di kota Bandung, Jogyakarta dan Bali. Produksi dilakukan sesuai keahlian pengrajin di ketiga kota tersebut yang memiliki cirri khas masing-masing. Misalnya produk yang butuh keterampilan pengrajin yang ahli teknik granulasi diproduksi Bali, sedangkan produk yang memerlukan teknik silverwire twist dikerjakan di Bandung. MEMBUKA BOOTH DI DEPARTMENT STORE JEPANG Kesuksesan RUNA di Jepang berlanjut dengan dibuka booth RUNA di Takashimaya Department Store di Yokohama, hasil kerjasama dengan buyer yang Runi temui di tahun 1998 silam. Pihak buyer Jepang itu menawarkan Runi menjual produk RUNA di Jepang dengan sistem agen. ”Saya tidak pernah mencari, mereka justru yang menawarkan. Saya hanya diminta menyediakan barang sesuai dengan harga dan kualitas yang kami sepakati. Masalah perijinan dan perpajakan di luar wewenang saya”, jelas Runi. Usaha Runi menembus pasar Jepang tak berhenti di situ. Wanita yang merintis bisnisnya dengan hanya 5 pekerja ini mencoba penjualan lewat TV Jepang yakni Shop Channel pada 11 dan 12 April 2007 silam. Ia juga rajin ikut berbagai pameran di Jepang, baik yang diselenggarakan oleh perwakilan RI ataupun oleh department store terkenal di Jepang. Akibatnya ia sibuk bolak-balik Jepang-Indonesia. Setidaknya sebulan sekali ia mengunjungi Jepang untuk memantau perkembangan usahanya di sana.
Seiring dengan
desaindesain RUNA yang memang diminati oleh pasar Jepang, kapasitas produksi
ekspor RUNA ke Jepang makin lama makin besar jumlahnya. Runi pun harus
menambah mitra kerja lainnya. Saat ini RUNA memiliki sekitar 100 karyawan
ditambah kerjasama dengan koperasi lepas. Namun seperti usaha-usaha lainnya,
jalan tidak selalu mulus. ”Kendala yang sering kami temui adalah bahan baku
yang semakin mahal dan terkadang tidak ada di pasaran. Akibatnya kami harus
menunggu,” jelas wanita yang selalu berpenampilan serasi ini. Khusus
hambatan dalam berdagang dengan orang Jepang, Runi menjelaskan ”Kendalanya
adalah bahasa (komunikasi) sehingga kami harus menggunakan jasa penerjemah”.
Untuk mengatasinya Runi mengaku tetap konsisten menjalankan usaha ini,
mengikuti etika di Jepang dan lebih berhati-hati dalam me-milih calon mitra
bisnis. ”Sebagai perusahaan UKM, dengan modal terbatas saya dituntut untuk
selalu inovatif. Setiap kali berkunjung ke Jepang, saya selalu memutar otak
menciptakan produk-produk terbaru agar tidak kehilangan konsumen” ujarnya.
|