|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Para pengusaha UKM sudah selayaknya melirik Australia. Apalagi letaknya jauh lebih dekat dibandingkan dengan Amerika dan Eropa.
Menurut Kementerian UKM, produk Indonesia yang paling banyakmenembus pasar ekspor Australia adalah kerajinan tangan dari Yogyakarta. Salah satu pengusaha UKM dari kota Gudeg yang sukses mengekspor homeware (mebel) ke Australia adalah Achmad Kurnia. Pria lajang berumur 32 tahun ini akrab dipanggil Achmad. Dia adalah pemilik dan desainer dari perusahaan “Siji’’ yang ditemui AKSES di sela-sela pameran Inacraft 2007, 22 April, lalu di Jakarta. i stand Siji yang mungil, tampak beberapa lampu meja berbentuk persegi panjang terbuat dari serat daun kering dengan warna-warna yang tergolong berani seperti merah menyala dan hijau muda. Siji juga menampilkan sarung bantal dari sutra, taplak piring dari anyaman serta pajangan yang terbuat dari keramik. Rak-rak pajangan dicat dengan warna coklat yang pucat. Pokoknya semuanya ditata untuk memanjakan setiap mata yang menyukai keindahan. Tapi yang paling mengejutkan AKSES adalah hampir semua barang yang dipajang sudah dipasang tanda ‘sold’ alias laku! KREATIVITASYANG TERPENDAM Ketika AKSES menanyai latar belakang perusahaan Siji (berarti satu dalam bahasa Jawa), Achmad sangat antusias. “Saya bukan pemain baru. Selama 10 tahun, saya bekerja di beberapa negara pada sejumlah perusahaan interior design asing. Siji adalah hasil kreativitas terpendam saya selama dua tahun,’’ ujarnya. Pengalaman kerja Achmad memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia pernah bekerja di berbagai perusahaan asing yang terkenal di bidang interior design seperti Out of Asia, Ethnicraft/ Basicraft, dan Oishi Interiors. Sebelum memutuskan berwirausaha sendiri, ia menjabat sebagai General Manager (GM) di David Smith & Co Indonesia. Di perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat ini dia sukses meningkatkan kapasitas produksi dari 24 kontainer menjadi 60 kontainer/tahun. Meski demikian, sosok pria penggemar tenis ini tetap bersahaja. Penampilannya di pameran sore itu santai. Intonasi bahasa Achmad lembut, tetapi pilihan kata dan kalimatnya selalu lugas, menyiratkan pribadinya yang bersemangat tinggi. Meskipun sudah mencapai posisimapan di David Smith & Co Indonesia, pria kelahiran Jakarta ini menyadari bahwa potensi handicraft Indonesia sangat besar, terutama di Yogyakarta. “Masalahnya para pengrajin hanya terpaku pada desain yang itu-itu saja (tradisional) dan belum mampu merambah ke gaya kontemporer,’’ katanya. Ketika menghadiri pameran di Sydney, Achmad melihat suatu konsep di mana gaya kontemporer/modern yang sederhana dipadu dengan bahan-bahan alami (natural resources) sehingga bias masuk ke ruang minimalis yang sedang ngetren saat ini. Setelah melihat pameran itu, ia yakin peluang pasarnya di luar negeri cukup menjanjikan.
TIGAKUNCIUTAMA Untuk menerobos pasar Australia, Achmad mengaku sudah membina hubungan dengan beberapa retailers di Australia saat bekerja di perusahaan interior design asing. Inilah yang membuat dia memiliki link ke pasar Australia. Namun selain link, Achmad juga memaparkan tiga kunci utama yang perlu diperhatikan oleh pengusaha UKM, khususnya di bidang kerajinan tangan. PERTAMA, adalah berani tampil beda. “Carilah model/desain sendiri dan pelajari selera pasar,’’ ujarnya. Salah satu kendala dalam handicraft Indonesia adalah kurangnya kreatifitas. Pengrajin Indonesia enggan mencari desain baru karena biaya untuk research & development mahal. Untuk mengikuti pameranpameran internasional tentu butuh biaya banyak apalagi untuk proses trial & error hingga mendapatkan desain yang cocok dengan selera pasar. Akibatnya produkproduk pengrajin hanya berkutat pada desain tradisional. “Padahal dari segi material, Indonesia tidak kalah dari negara- negara lain,” tambahnya. Berkat pengalaman bertahuntahun mengikuti pameran di luar negeri, Achmad memperoleh banyak pengetahuan tentang selera pasar furniture dan handicraft internasional. Pameran internasional yang pernah diikutinya antara lain Sydney (2002-2003), Paris (2005), Seattle (2005),Manila (2004 -2005), Chebu (2005), dan Ho Chi Minch (2005). Untuk SDM, pengusaha muda lulusan University of South Wales, Australia, ini memilih untuk merekrut lulusan baru langsung dari kampus agar lebih mudah membentuk cara kerja mereka. “Saya tidak pernah memasang iklan lowongan kerja di koran karena perusahaan saya bukan perusahaan besar,’’ tuturnya. KEDUA, cara berpikir (mindset) yang maju dan terbuka agar dapat menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Banyak perusahaan UKM kita yang masih berpikir pada keuntungan jangka pendek. Kendala yang dihadapi pada proses produksi dan distribusi hampir tak pernah dikonsultasikan pada konsumen sampai akhirnya barang tersebut ditolak karena kualitasnya buruk atau terlambat dikirim. “Mereka berasumsi mungkin konsumen akan maklum dengan kualitas barang yang diterima,’’ kata Achmad. Jelas ini akan mengurangi kepercayaan konsumen ke depannya. “Konsumen luar negeri malah lebih menghargai jika kita memberitahu kalau ada masalah. Namun tentunya harus diimbangi dengan inisiatif memberikan solusi dan kesediaan berdiskusi dengan konsumen,’’ imbuhnya.
KETIGA,
pengusaha juga harus
memiliki kemampuan administrasi yang memadai. “Jika sudah memiliki website
sebaiknya terus diperbarui dengan katalog produk-produk terbaru,’’ katanya.
Siji
mempunyai website www.sijilifestyle.com yang tampilannya menarik dan
informatif mengenai visi misi serta koleksi terbaru Siji. “Kami selalu
berusaha memberikan informasi terkini tentang Siji kepada siapa pun yang
mengakses website kami,’’ imbuhnya. Calon konsumen Australia perlu diberikan
informasi terkini mengenai kategori, harga serta cara perawatan produk.
Jangan sampai sudah mempunyai website, tetapi tidak pernah diperbarui selama
bertahun-tahun. “Itu ibarat pisau tumpul yang tak pernah diasah,’’ katanya.
Tentu ada
banyak hal lain yang harus dilakukan agar sukses mengekspor ke negeri
Kangguru. Seperti kata pepatah, “Ada banyak jalan menuju Roma’’. Yang
terpenting adalah para UKM Indonesia harus meningkatkan kualitas dan berani
membuat terobosan baru. “Pertanyaannya mau menjadi pengikut atau menjadi
pemimpin?’’ ujar Achmad seraya tersenyum mengakhiri pertemuan kami.
|