HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VII Desember 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 20 December, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI VII 2007

Kisah bangsa Melayu di negeri jiran

Oleh: Noviyanti Nurmala

Suku Melayu hidup di Indonesia dan negeri jiran Malaysia. Tapi Malaysia sangat bangga akan budaya Melayu-nya bahkan memberikan hak-hak istimewa pada masyarakat etnis tersebut.

PENDUDUK awal Malaysia dikenal dengan sebutan “Orang Asli” yang tinggal di Wilayah Semenanjung, “Orang Penan” di Serawak dan “Orang Rungus” di Sabah dan keberadaannya diperkirakan sejak 5000 tahun yang lalu.

Kedatangan berikutnya adalah “Orang Melayu” yang mewakili gelombang ke dua dan gelombang ke tiga dari perpindahan ini. Orang Melayu pertama (Proto-Melayu) hadir sejak 1000 tahun SM. Perpindahan ini diikuti oleh kelompok imigran lain yaitu Deutero Melayu pada abad-abad berikutnya.

 

DEFINISI SUKU MELAYU

Menurut Wikipedia Indonesia, Pemerintah Malaysia mendefini-sikan melayu sebagai penduduk pribumi yang bertutur dalam bahasa melayu beragama Islam dan yang menjalani tradisi dan adat-istiadat Melayu. Di negeri Siti Nurhaliza ini, penduduk pribumi dari keturunan Minang, Jawa, Aceh, Bugis, Mandailing, dll, yang bertutur dalam bahasa Melayu, beragama Islam dan mengikuti adat istiadat Melayu, semuanya dianggap sebagai orang Melayu.

Bahkan orang bukan pribumi yang berkawin dengan orang Melayu dan memeluk agama Islam juga diterima sebagai orang Melayu. Mereka dikatakan telah "masuk Melayu". Yang menarik, bila ditelusuri etnis Melayu di Malaysia sebetulnya sekitar 70 persen berasal dari berbagai suku di Indonesia, yakni Minang, Aceh, Jawa, Padang, Riau, dan Bugis.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Mohammad Najib, misalnya, keturunan Bugis. Ayahnya almarhum Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Malaysia kedua adalah cucu Raja Gowa ke-15. Istri Najib pun, yakni Datin Sri Rosmah Mansoor, masih keturunan Minang.

 

ETNIK YANG MAYORITAS

Malaysia adalah negara yang multi etnis. Secara garis besar penduduk Malaysia bisa dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah Bumi Putera yang terdiri atas etnis Melayu, kelompok kecil Melayu dan Orang Asli. Etnis Melayu merupakan mayoritas dan identik dengan Islam dan tinggal di Semenanjung Malaysia.

Mereka mempunyai hak-hak istimewa yang dilindungi oleh Undang-undang yang tidak dimiliki oleh etnik lain a.l hak untuk memiliki tanah, hak untuk ke sekolah, hak untuk membuat pinjaman bank. Hak – hak istimewa tersebut selalu dipermasalahkan oleh etnis India dan Cina karena kedua etnis ini menganggap bahwa Bumi Putera sebenarnya adalah suku orang asli (Aborigines) dan yang berada di Sabah dan Sarawak.

Dua suku lain yang termasuk dalam Bumi Putera memang tidak seberuntung etnis Melayu. Orang Asli banyak tinggal di Semenanjung Malaysia, beragama animisme dan tingkat kesejahteraannya agak tertinggal. Meskipun Pemerintah telah melakukan program pembangunan dan pendidikan untuk merangkul Orang Asli agar berasimilasi dengan etnik lain, namun tidak banyak mencapai kemajuan.

Di sisi lain kelompok Kecil Melayu seperti Bajau, Kadazan, Bidayuh Bisaya yang non Islam juga memiliki hak - hak istimewa tetapi hanya di wilayah asal mereka. Sebagian besar kelompok ini tinggal di Sabah dan Sarawak. Kelompok Kedua adalah Non Bumi Putera.

Di Malaysia etnis Cina ada sebanyak 26 %, India 7,7 % dan sisanya 1 % terdiri dari Arab, Sinhalese, Eurasians serta Eropa. Etnis non - Bumi Putera ini tersebar di seluruh Malaysia dan yang paling menonjol adalah etnik Cina dan India.

 

DUKUNGAN PEMERINTAH

Sejak awal kemerdekaan, secara ekonomi tampak ada ketimpangan yang cukup besar. Hingga tahun 1970, sebanyak 49 persen masyarakat Melayu masih hidup miskin. Roda perekonomian saat itu hanya 2,4 persen dipegang kelompok Bumi Putera (Melayu dan Dayak), masyarakat China dan India mengendalikan 33 persen, serta asing 60 persen.

Jumlah penduduk Malaysia saat itu 10,81 juta jiwa. Melihat ketimpangan itu, Pemerintah Malaysia membuat kebijakan ekonomi baru (Dasar Ekonomi Baru/DBE) pada tahun 1970. Tujuannya, menaikkan taraf hidup masyarakat Bumi Putera agar setara dengan komunitas China dan India.

Mula-mula didirikan berbagai perguruan tinggi. Warga Bumi Putera diberi peluang seluas-luasnya untuk kuliah. Para sarjana dari komunitas itu yang punya prestasi baik dikirim melanjutkan studi doktoral di Inggris, Australia, dan Negara lainnya. Setelah lulus, mereka kembali mengabdi di Malaysia.

Selain itu, bank-bank pemerintah diwajibkan memberi kredit lunak dengan suku bunga rendah kepada masyarakat Bumi Putera untuk usaha bidang pertanian, kerajinan, dan lainnya. Masyarakat juga didorong melakukan kegiatan ekonomi produktif lain untuk peningkatan pendapatan dan taraf hidup.

Jika terjadi kredit macet, para debitor (terutama Bumi Putera) tak dikenai sanksi, tetapi cenderung diputihkan. Malah, yang bersangkutan dikucuri lagi kredit guna menggiatkan usahanya. Petugas perbankan juga aktif mendatangi pedagang kecil dan petani menawarkan kredit lunak. "Pokoknya, demi kesejahteraan kalangan Bumi Putera, apa pun dilakukan Pemerintah Malaysia.

Kesalahan mereka sebelumnya dengan mudah dimaafkan," kata pakar ekonomi Universitas Malaya, Sadono Sukirno. Langkah berani yang dilakukan Pemerintah Malaysia, menurut Sadono, boleh dibilang sukses. Terbukti, saat ini hampir semua posisi pemerintahan, dosen pada berbagai perguruan tinggi ternama, dan badan usaha milik negara (BUMN) di Malaysia dikendalikan kaum Bumi Putera.

Jumlah warga miskin di kalangan Bumi Putera juga berkurang menjadi 17 persen dari target semula 16 persen. Kini, kalangan Bumi Putera mengendalikan 30 persen roda perekonomian. Sedangkan masyarakat India dan China sekitar 40 persen dan sisanya 30 persen dikuasai asing.

 

MELAYU DI INDONESIA

Lain di Malaysia, lain pula di Indonesia. Suku Melayu di Indonesia paling banyak bermukim di pulau Sumatera dan sebagian pulau Kaliman-tan. Tapi perhatian terhadap masyarakat Melayu sebagai salah satu rumpun bangsa yang besar di Sumatera Utara (Sumut) masih relatif sedikit.

Padahal pada abad ke- 19 suku bangsa Melayu pernah memegang kekuatan yang sangat strategis di kawasan perairan Malaka. Mereka mencapai puncak kejayaan pada masa tersebut karena menguasai perdagangan, pelayaran, dan pertanian. Namun, kejayaan itu seolah tanpa bekas karena sekarang sangat minim orang Melayu yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, dalam perekonomian pun, orang Melayu juga tidak seberuntung etnis lain di provinsi itu. "Ini karena orang Melayu tidak memiliki sifat yang menantang. Mereka lebih senang mengalah jika ada konflik di depannya," ujar Chalida Fachruddin, guru besar dalam bidang Ilmu Pengantar Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sumatera Utara (USU) pada suatu kesempatan.

Akibatnya, orang Melayu menjadi minoritas di tanahnya sendiri karena terdesak ke kawasan pesisir oleh kaum urban yang terus berdatangan. Chalida Fachrudin pernah melakukan penelitian mengenai komunitas Melayu di Sumut dengan cara menetap bersama di perkampungan nelayan Melayu di kawasan Labuhan Deli, Medan, selama setahun.

"Ternyata, ungkapan orang mengenai suku bangsa Melayu yang pemalas tidak terbukti. Mereka juga memiliki etos kerja yang kuat dan pantang menyerah. Hanya saja, mereka tetap berupaya menghindari konflik terbuka dengan orang lain sehingga menjadikan mereka tidak agresif dan selalu kalah bersaing dengan orang dari etnis lain," tutur doktor falsafah Jurusan Antropologi dan Sosiologi dari Universiti Kebangsaan Malaysia itu.

Secara terpisah, antropolog Prof Dr Usman Pelly MA mengatakan, terpinggirkannya etnis Melayu di Sumut karena terninabobokan dengan keadaan masa lalunya. Pada masa lalu, etnis ini dikenal suka bekerja keras sehingga mampu menguasai sektor perikanan, perdagangan, pertanian termasuk perkebunan.

Saking makmurnya, guru-guru mengaji, penghulu dan khatib salat Jumat pun mendapatkan gaji yang besar dari Kerajaan atau Sultan. Namun, karena terninabobokan terlalu lama, mereka lalai dan lupa diri sehingga lama kelamaan kekayaan itu hilang dan berpindah kepada etnis pendatang. Terbukti, sedikit sekali tokoh-tokohnya yang masuk dalam jalur birokrasi, menguasai perdagangan atau petani andal.

 

MENCIPTAKAN  MELAYU YANG MAJU

Memang kemajuan etnis Melayu di Malaysia tidak terlepas dari kebijakan pemerintahnya yang pro pada mereka. Namun kebijakan yang memanjakan kaum Bumi Putera tidak menguntungkan untuk jangka panjang, terutama dalam membentuk etos kerja kaum Bumi Putera.

Sebagai contoh, di luar lembaga dan perusahaan milik pemerintah Malaysia, kalangan Bumi Putera nyaris tak berkembang optimal. Untuk profesi dokter dan pengacara masih didominasi masyarakat India. Oleh karena itu untuk memajukan Melayu di Indonesia bukan berarti serta merta memindahkan apa-apa yang ada di Semenanjung Malaysia.

Sebab bagi Melayu Indonesia yang terpenting adalah memanfaatkan potensi yang ada secara optimal. Inilah cara melayu Indonesia, bukan cara Malaka, Selangor ataupun Johor yang ada di negeri jiran.