|
Edisi VII Desember 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 18 Desember, 2007
|
MELIHAT penampilannya sekilas, orang sulit mengira bahwa pria ini merupakan salah satu pejabat paling sibuk menjelang perhelatan The 13th Conference of Parties (CoP) United Nations Framework Concention on Climate Change di Bali, Desember 2007. Tidak ada keangkeran di wajahnya. Salman Al Farisi, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Deplu ini selalu terlihat kalem, tidak pernah gugup dan senyumnya senantiasa mengembang. Berdasarkan pengalamannya, ”Kalau keadaan bisa dibuat tenang dan nyaman, pasti pekerjaan sebesar apapun akan bisa diatasi dengan mudah,” ujarnya. Ia selalu datang ke kantor pada dini hari, sebelum stafnya hadir. Tidak terkena macet? ”Oh tidak, karena saya termasuk roker alias rombongan kereta.” Ia berangkat dari Depok dengan kereta eksekutif pada jam 06.00 sehingga pada pukul 07.00 sudah duduk manis di bangku kantorya. Ia mengaku perlu datang pagi karena persiapan CoP yang akan dihadiri beberapa kepala negara itu perlu perhatian yang sangat serius. Bersama timnya, dalam sehari kadang harus rapat di empat hingga lima tempat. Bayangkan saja, tempat pertemuan CoP di Nusa Dua Bali, dikunjungi sekitar 10 ribu orang yang datang dari 189 negara. Ada dari organisasi internasional PBB, ada juga dari wakil-wakil negara. Perhelatan akbar itu sendiri berlangsung pada 3-14 Desember 2007 dengan mengagendakan 800 sesi sidang. Adalah tugas Salman dan para pejabat Indonesia lainnya, memperjuangkan agar kerjasama internasional tentang perubahan iklim bisa memberi perhatian secara adil terhadap hutan tropis. Akses teknologi harus dibuka lebar dan peran negara berkembang tidak boleh dinafikan. Meskipun selalu kalem, di tengah tekanan yang berat, Salman tetap bukan seorang malaikat. Setenang apapun, ia bisa juga bisa marah sebagaimana lainnya. Bila sudah sangat keki atas keadaan yang ada, pria ini sering mengeluarkan kata-kata bahasa Jawa yang bernuansa lucu: ”Sontoloyo” yang dalam bahasa Jakarta bisa diartikan: ”Payah lo”. Namun karena mimiknya yang tidak pernah bisa diubah angker, kata ”Sontoloyo”nya justru disambut riang tawa para stafnya. Wah!
|