|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Kerjasama ekonomi Indonesia-Jepang mencapai puncaknya pada masa Orde Baru. Selepas krisis perekonomian menjadi kendur. EPA dan P to P Contact jadi solusinya? LIMA puluh tahun merupakan rentang waktu yang sering dijadikan momentum yang baik untuk memperingati sekaligus introspeksi atas segala sesuatu yang telah berjalan. Bagi manusia rentang waktu tersebut sering diasosiasikan dengan seseorang yang dewasa dan bijak. Sedangkan dalam pernikahan sering dimaknai sebagai perkawinan emas yaitu perkawinan yang telah teruji, sehingga patut dilabeli kata emas. Tidak berbeda dengan kedua hal tersebut, 50 tahun dalam hubungan bilateral antar negara menunjukan adanya suatu jalinan kerjasama yang cukup lama dan patut dirayakan sekaligus dievalusi. Nah, tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan sedikit gambaran tentang kondisi hubungan Indonesia Jepang selama ini agar perayaan yang kita lakukan tidak hampa makna serta minim evaluasi. Hubungan Indonesia-Jepang Hubungan kedua negara like it or not pernah diisi oleh lembaran sejarah yang tidak terlalu indah, dimana Indonesia selama hampir 3,5 tahun (1941 – 1945) mengalami kependudukan Jepang. Kependudukan tersebut masih berkaitan dengan ambisi Kekaisaran Jepang yang ketika itu ingin menjadi pemimpin di Asia Timur Raya. Setelah terlibat dalam pola hubungan penjajah dan jajahan, seiring dengan berjalannya waktu, sepertinya kedua negara tidak mau larut terbawa suasana yang ngga genah tersebut. Karena tidak lama setelah Indonesia merdeka, 18 tahun kemudian, tepatnya pada bulan April 1958 Indonesia dan Jepang sepakat untuk membuka lembaran baru dengan dibukanya hubungan diplomatik antara kedua negara. Jadi pembukaan hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pasca kemerdekaan RI 1945 adalah suatu kearifan tersendiri dari kedua negara yang dengan cepat melupakan sejarah permusuhan dan mulai membina hubungan persahabatan.
Secara politik, Indonesia bagi Jepang merupakan salah satu negara yang penting di ASEAN (Association of South East Asian Nations). Secara ekonomi, Indonesia merupakan supplier Jepang di bidang energi dan others natural resources sekaligus pangsa pasar bagi produk-produk canggih Jepang. Dan yang terpenting dari semua itu adalah Jepang melihat Indonesia sebagai negara pantai yang mempunyai peranan signifikan dalam mengamankan Selat Malaka, yaitu selat yang menjadi jalur pelayaran energi dan perdagangan utama Jepang. Sebaliknya, Jepang bagi Indonesia secara ekonomi menduduki posisi yang sangat strategis. Selain menjadi mitra dagang utama Indonesia, Jepang juga termasuk negara dengan investasi besar di Indonesia. “Tercatat dalam kurun waktu 1967 – 2006, Jepang telah menanamkan investasinya di Indonesia kurang lebih US $ 40 miliar” tambah Ronny. Perbaikan Perekonomian
Sedangkan di Jepang, geliat perekonomian kembali terlihat, angka pertumbuhan ekonomi di tahun awal 2007 mencapai sekitar 4 persen, prestasi besar mengingat beberapa tahun sebelumnya Jepang sempat mengalami angka pertumbuhan negatif. Walau perekonomian kedua negara membaik, hal ini tidak serta merta memperbaiki hubungan bilateral perdagangan yang pernah mencapai puncaknya pada jaman Orde Baru. Hal Hal itu diungkapkan Sunyoto Tanudjaya, pemiliki PT Great Rivers, salah satu raksasa garmen Indonesia yang ikut dalam rombongan Presiden SBY ketika berkunjung ke Jepang."Indonesia tidak pandai untuk memanfaatkan momentum perkembangan ekonomi di Jepang, banyak peluang pasar tekstil Indonesia yang digantikan oleh Cina", katanya. BACA RALAT DIBAWAH Bahkan di bidang investasi berdasarkan hasil survei dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) posisi Indonesia sebagai negara tujuan penanaman modal Jepang mengalami pergeseran dari sebelumnya selalu menduduki posisi the best five bergeser menjadi peringkat 9. “Kenyataan ini tidak terlepas dari perubahan kebijakan Jepang dalam mengatasi krisis yang dihadapinya yaitu dengan melakukan diversifikasi investasi” jelas Ronny. Diversifikasi investasi ini menyebabkan Jepang tidak mengkonsentrasikan penanaman modalnya hanya pada satu negara saja tapi disebar ke banyak negara. Dampak dari ini adalah volume perdagangan Jepang tidak lagi didominasi segelintir negara saja (termasuk Indonesia). Ronny menambahkan bahwa di luar kondisi yang ngga banget itu, masih ada fenomena positif yang patut kita syukuri pasca krisis moneter Indonesia (1998) dan krisis deflasi Jepang (2001) yaitu sejak tahun 2003 volume perdagangan Indonesia-Jepang mengalami tren peningkatan Kado Ulang Tahun Emas
Proses pembuatan kado ini sendiri dimulai pada saat kunjungan pertama kali Presiden SBY ke Jepang pada tahun 2005, dimana Presiden SBY menegaskan ”I came here to re-affirmed our long and strong relationship”. Dari upaya penegasan inilah, kado mulai dipersiapkan. Dijelaskan lebih lanjut oleh Ronny, ”Secara umum EPA akan meningkatkan akses barang dan jasa kedua negara, investasi, capasity building bagi man powers, agro business, industries serta KUKM (Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah)”. Jadi secara gamblangnya EPA dapat dikatakan sebagai suatu daftar janji kedua negara dalam meningkatkan hubungan bilateralnya Pemberdayaan Hubungan antar Masyarakat (P to P / People to People) Jika kita berbicara tentang hubungan bilateral Indonesia-Jepang, maka pandangan yang beredar di masyarakat adalah hubungan kedua negara didominasi oleh G to G (Goverment to Goverment), economic atau bussiness orientation. Tapi kondisi tersebut dibantah oleh Ronny. ”Pandangan seperti itu perlu dikoreksi, karena pada kenyataannya hubungan P to P Indonesia-Jepang telah lama ada”. Dicontohkannya di Jepang sendiri banyak kelompok-kelompok (orang Jepang) pencinta budaya Indonesia, yang diperkirakan jumlahnya sekitar 50-70 kelompok. Ada kelompok “Lagu-Lagu KAI” yang mengkhususkan diri mendendangkan lagu-lagu Indonesia, “Lambang Sari” yang memfokuskan pada gamelan, bahkan ada Kota Pelabuhan Kecil di Utara Tokyo yaitu Kissenuma yang menyelenggarakan secara khusus Festival Budaya Bali tiap Musim Panas. Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Namun hal ini jangan membuat kita cepat berbesar hati karena kondisi ini bukanlah sesuatu given (sudah ada dari sononya), melainkan sesuatu yang harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan”. “Pemberdayaan Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (±1200 orang), serta Youth Exchange Program harus terus dilanjutkan sebagai suatu strategi yang tepat dalam rangka meningkatkan P to P Contact dimasa yang akan datang” menurut Ronny. Semoga di ulang tahun emas ini kedua negara dapat menjalin hubungan bilateral yang lebih baik. Dan yang terpenting adalah masyarakat kedua negara dapat terjalin ke dalam suatu ikatan persahabatan yang lebih kuat dan luas. Hubungan antar masyarakat tentunya lebih kokoh dan tahan lama dibandingkan hubungan formal negara.
Dengan begitu, ke depannya selain hubungan bilateral
ini mampu menghasilkan emas-emas material (investasi, perdagangan,
dll), juga dapat menghasilkan emas-emas immaterial (pengetahuan,
budaya, persahabatan, dsb).
Mari kita
raih kesempatan emas ini.
|