|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 April, 2009
|
Jual kelontong di Pulau Bulan Oleh: Cut Dinawati Hidayat Madagaskar adalah pulau terbesar ke-empat di dunia setelah Greend Island, Irian, dan Kalimantan, terletak dekat benua Afrika. Sejumlah produk Indonesia telah dikenal sejak lama oleh masyarakat negara ini. Benny berjalan perlahan sambil menarik koper di lorong menuju lounge keberangkatan bandara Soekarno-Hatta. Setelah memperlihatkan boarding pass dan paspor kepada petugas di pintu keberangkatan, pria 40 tahunan itu kemudian menghempaskan badannya di sofa tunggu. “Masih ada waktu untuk mengirim SMS” pikir pedagang kelontong itu sambil meraih telepon genggam. “Saya sekarang di airport, kontainer harus tiba minggu depan” demikian Benny mengirimkan sebaris pesan kepada seseorang di pasar Tanah Abang. Lelaki itu kemudian melangkah masuk pesawat Qatar Air yang akan membawanya ke Bangkok dan terus ke Antananarivo, Madagaskar. Barang kelontong
Produk apa saja sih yang diimpor Benny ke negara yang dijukuki sebagai negeri pulau bulan itu? “Produk kosmetik, sabun mandi dan cuci, tas dan sepatu, produk plastik perkakas rumah tangga, barang pecah belah, peralatan listrik seperti setrika dengan watt kecil, produk kertas dan alat tulis. Itulah produk yang saya cari di Indonesia” ujar Benny. Pengusaha ini juga mengatakan bahwa banyak produk Indonesia lainnya yang masuk ke Madagaskar melalui importir lain. Produk tersebut antara lain mebel, bahan-bahan industri pertanian, makanan seperti roti dan kue-kue, tekstil dan produk tekstil, ban mobil dan aksesories kendaraan. “Produk kosmetika Indonesia seperti Martha Tilaar dan Sari Ayu di konsumsi oleh golongan menengah keatas karena harganya yang agak mahal dan juga dikenal sebagai kosmetik yang alami karena kandungannya berasal dari tumbuh-tumbuhan” tambah Benny. Sebagian produk Indonesia sudah dikenal sejak lama oleh penduduk Madagaskar, seperti sabun mandi GIV dan Pritti serta sabun cuci B-29. Benny sempat menceritakan pengalamannya yang menggelikan mengenai sabun mandi GIV dan Pritti. Kisah ini terjadi saat Benny menuntut ilmu di Cairo, Mesir. Ketika itu pemuda ini selalu membawa persediaan kedua sabun mandi itu karena ia memang menyukainya dari dulu. Suatu saat ia bertemu dengan mahasiswa Indonesia dan Benny memamerkan sabun mandi itu. Sang mahasiswa Indonesia langsung bertanya dimana Benny mendapatkan sabun itu, “ini saya bawa dari negara saya dan ini sabun terbaik buatan Madagaskar” ujar Benny. Mahasiwa Indonesia itu tertawa dan meminta Benny untuk membaca keterangan di bungkus sabun. Benny terpana ketika membaca tulisan made in Indonesia di bungkus sabun. Jadi, sabun mandi yang ia gunakan sejak kecil itu sabun impor dari Indonesia! Itulah gambaran jelas bahwa karena saking akrabnya dengan produk Indonesia mereka sampai tidak mengetahui bahwa produk itu adalah buatan Indonesia. Sedangkan sabun cuci B-29 sudah lama merambah pasar Afrika termasuk Madagaskar terutama sejak PT Sinar Antjol, produsen sabun B-29, mendirikan pabrik di Addis Ababa, Ethiopia.
Peluang lain Kondisi alam dan jalan-jalan di Madagaskar umumnya terjal dan berbukit. Dataran negara pulau ini memang dipenuhi bukit-bukit batu. Dengan kondisi alam seperti itu diperlukan ban kendaraan yang kuat namun harganya sesuai dengan kocek masyarakat. Ban kendaraan bermotor buatan Indonesia seperti Good Year, Intirub dan Bridgestoon telah lama megantarkan penduduk Madagaskar menjelajahi bukit-bukit berbatu itu. Dari segi harga, ban Indonesia dapat bersaing dibandingkan ban impor lainnya. Selain itu, aksesories mobil buatan Indonesia seperti velk racing, radio tape, TV, DVD juga telah lama ikut berlaga dalam persaingan dengan lawan utama produk China. Produk Indonesia lainnya yang banyak beredar di pasar Madagaskar adalah tas dan sepatu wanita dari Cibaduyut. Produk ini sangat diminati karena kualitas yang prima dan harga bersaing. Konon tas dan sepatu dari Indonesia selalu habis terjual dan kedatangan pasokan memerlukan waktu cukup lama. Peluang ini nampaknya dapat lebih diperhatikan untuk digarap oleh dunia usaha Indonesia. Produk serupa dari China juga membanjiri pasar Madagaskar namun kualitasnya relatif lebih rendah. Selain diminati, produk Indonesia juga mendapat celaan karena kualitas yang kurang baik. Hal ini terjadi pada produk pecah belah keperluan dapur yang dikeluhkan konsumen karena mudah retak dan pecah. Peluang lain yang dapat dimanfaatkan adalah kebutuhan pasar akan barang elektronik dengan watt kecil seperti setrikaan, rice cooker dan peralatan rumah tangga lainnya. Kesempatan lain yang terbuka adalah kebutuhan akan sepeda motor yang saat ini dipenuhi oleh produk China. Kendaraan bermotor lain yang dibutuhkan pasar setempat adalah jet ski yang diperlukan oleh para pengusaha hotel dan resort di pinggir pantai. Sumber AKSES di KBRI Antananarivo menyatakan bahwa jet ski Indonesia dapat masuk Madagaskar dengan harga yang sangat kompetitif.
|