|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
SAAT ini India sering diprediksi oleh para pakar akan tumbuh menjadi negara dengan ekonomi super power dalam 2030 tahun mendatang. Bagaimana tidak? Selama 10 tahun terakhir, India mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,5 %. Tingkat pertumbuhan ini merupakan tercepat di dunia yang kedua setelah China yang tumbuh dengan rata-rata 9,7 % per tahun. Jika pertumbuhan yang fenomenal ini dapat terus dipertahankan maka Goldman Sach memprediksikan bahwa India akan menggeser Amerika Serikat untuk memiliki perekonomian terbesar kedua di dunia setelah China pada tahun 2042. Bahkan, Kamal Nath, Menteri Perdagangan India dalam pidatonya yang dikutip oleh The Financial Times secara lugas menyebutkan bahwa tidak perlu dibicarakan lagi masa depan India karena masa depan adalah India itu sendiri. Mengapa demikian? Karena India memang ajaib. Keajaiban itu bisa dilihat dari beberapa dualisme yang mungkin menurut kita aneh. Contoh konkrit ialah saat ini India memiliki pertumbuhan tercepat dunia namun pada saat yang sama 1/3 orang miskin di dunia ini berasal dari sana. India diakui memiliki pendidikan teknologi terbaik di dunia setelah Amerika Serikat, tetapi pada sisi yang lain, tingkat melek huruf hanya 61%. Walaupun secara statistik terjadi penurunan jumlah penduduk miskin dari 51,3% pada tahun 1977/1978 menjadi 22,15% pada tahun 2004/2005. Namun jika dilihat dari angka absolutnya justru meningkat karena jumlah penduduk yang juga meningkat. Jika parameter pendapatan 1 Dollar AS sehari maka terdapat 433 juta orang yang tergolong penduduk miskin, sedangkan jika digunakan parameter pendapatan 2 Dollar AS sehari maka jumlah penduduk miskin melonjak menjadi 700 juta orang. Ternyata begitu besarnya penduduk India yang berjalan pada garis kemiskinan yang sewaktu-waktu dapat terperosok kembali ke bawah garis tersebut.
Data ini lebih tinggi daripada China yang hanya 42% dari GDP. Dorongan lain berasal dari sektor jasa India yang jauh lebih besar daripada sektor manufakturnya yang berkebalikan dengan China. Bahkan sektor manufaktur India sendiri didorong oleh bidang industri teknologi tinggi yang hanya menyerap sebagian kecil tenaga kerja dibanding sektor manufaktur China yang memerlukan tenaga kerja dalam jumlah besar. Perbandingan India dan China juga dapat dilihat dari investasi dan imbas terhadap pengusaha lokalnya. China mengundang investasi asing dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) seluas luasnya yang digunakan sebagai substitusi pengusaha lokal. Sedemikian besarnya FDI yang masuk ke China membuat pengusaha-pengusaha lokalnya sulit untuk berkembang. Hal ini terbukti dari banyaknya produk-produk “Made in China” di seluruh dunia tapi sebenarnya merupakan produksi perusahaan-perusahaan asing di China. Sangat sedikit jumlahnya yang merupakan produk perusahaan lokal China. Kondisi ini membuat sangat sedikit pula pengusaha lokal China yang mampu bersaing di tingkat global. Mungkin yang terbesar adalah akusisi bisnis personal computer IBM oleh Lenovo dengan nilai US$1,75 Milyar . Tetapi yang lain? Rasanya kurang atau bahkan tidak terdengar gaungnya. India mengundang investasi berbentuk FDI dalam jumlah terbatas. Namun di lain pihak, India mempersilahkan pengusaha lokalnya untuk berkembang dan mampu bersaing dengan pengusaha-pengusaha asing yang masuk ke India. Hal ini bahkan membuat mereka mampu bersaing di tingkat global dengan perusahaan-perusahaan multi nasional lainnya. Mereka masuk ke berbagai pasar dunia dengan teknologi tinggi, sumber daya manusia yang memadai, serta sumber keuangan yang sangat besar. Tahun 2002 tercatat 13 perusahaan India masuk peringkat Forbes 200 dibandingkan dari China yang hanya 4. Bahkan dalam daftar 700 orang-orang terkaya versi Majalah Forbes tahun 2006, 19 diantaranya berasal dari India. Kehebatan perusahaan-perusahaan India seperti Infosys, Wipro, Mittal Steel, Ranbaxy, Tata Group dan lainnya terbukti seringkali mengambil langkah strategis yang mengejutkan dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar dunia. Tata Tea misalnya membeli Tetley Tea dari Inggris pada tahun 2001 yang membuatnya menjadi perusahaan teh terbesar kedua dunia. Mittal Steel mengakusisi paksa pabrik baja terbesar di Eropa, Arcellor, dengan nilai US$ 31 Milyar, yang tidak berbahasa inggris lain. Bahasa Inggris yang menjadi bahasa resmi India sejak 1990an menjadi semakin merakyat ketika orang-orang muda India mulai banyak menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam pendidikan dan pekerjaan yang dijalaninya. Jumlah mereka yang mampu berbahasa Inggris sangat besar sehingga membuat India menjadi negara dengan penduduk berbahasa Inggris terbesar di dunia. David Crystal, pengarang Cambridge Encyclopedia of the English Language memberikan prediksi menarik bahwa yang akan populer setelah British English pada akhir abad 19 dan American English pada akhir abad 20 ialah Indian English pada akhir abad 21. Kemampuan berbahasa Inggris inilah yang juga membuat banyak tenaga kerja India yang melanglang buana bekerja di seluruh dunia.
Selain itu, kebijakan mata uang India dirubah untuk mengikuti pasar. Cadangan devisa ditingkatkan hingga mencapai US$ 179 Milyar dengan kewajiban pembayaran hutang jangka pendek yang hanya US$ 70 Milyar. Kemudian peningkatan populasi penduduk terus ditekan dari rata-rata 2% pada awal kemerdekaan menjadi 1,5% pada akhir tahun lalu. dan sekaligus produsen untuk produk lainnya. Sebagian dari mereka bekerja di sektor UKM yang terus menjadi motor penggerak ekonomi India karena daya tahan dan adaptasinya terhadap perubahan lingkungan pasar. Masyarakat India juga terkenal dengan sifat keras kepala dan tidak mudah mengalah namun didukung oleh daya nalar yang sangat logis. Hal ini tercermin dari perilaku mereka dalam berkendara di jalan raya. Mereka akan selalu berusaha berjalan di tengah tanpa peduli pengendara lainnya. Mereka baru akan bergerak ke pinggir jika ada mobil lain di belakang yang mengklakson mereka berulangkali. Namun setelah mobil belakang lewat menyusul, mereka akan kembali ke tengah jalan. Mungkin kata yang paling populer di India ialah Horn Please yang tertulis di belakang truk atau bis. Kata ini mencerminkan betapa keras kepalanya mereka. Namun mereka sangat logis dalam arti selalu berusaha memutuskan sesuatu setelah mempertimbangkan dampak baik dan buruknya. Mereka akan menepi setelah sadar bahwa mobil belakangnya melaju lebih cepat. Selain itu mereka juga sangat agresif dalam mempertahankan pendapat dan mempengaruhi orang lain. Senggolan di jalan adalah hal biasa. Jika hal ini sampai terjadi maka mereka akan saling beradu argumen. Biasanya akan selesai dengan sendirinya tanpa ada kompensasi apa-apa karena saling ngotot merasa dirinya paling benar. Orang India juga dipersepsikan sering menipu. Padahal yang mereka lakukan umumnya ialah bagaimana bermain aman dengan memanfaatkan hukum dan peraturan yang ada. Menurut Gurcaran Das, India digerakkan berdasarkan hukum (law) sedangkan China berdasarkan perintah (order). Dengan kata lain masyarakat India telah terbiasa diatur oleh hukum dan peraturan. Mereka akan melakukan bisnis dengan memanfaatkan celah dalam hukum dan peraturan yang ada. Atase Perdagangan di KBRI New Delhi pernah menceritakan pengalaman sebuah perusahaan sabun mandi dari Indonesia yang rugi di India hanya karena tidak mempelajari dengan baik aturan tentang merk dagang. Padahal perusahaan ini telah berhasil memiliki pangsa pasar yang cukup baik sebagai pendatang baru. Namun pengusaha sabun India mencium hal ini dan bergerak terlebih dahulu untuk mempatenkan merk sabun dari Indonesia tersebut, yang menurut aturan perdagangan di India diperbolehkan (prinsip siapa cepat dia dapat) dan kemudian hanya pengusaha India inilah yang kemudian memiliki hak jual produk bermerk tersebut. Orang lain tidak boleh menjual produk dengan merk yang sama di pasar India. Akhirnya pengusaha sabun Indonesia tersebut hanya bisa gigit jari. Oleh karena itu, dalam berbisnis dengan orang India harus dipelajari dan disepakati seluruh aspek dan detil teknis dari kontrak bisnis yang akan dilakukan sebelum menandatangani kontrak. Harus diupayakan jangan sampai ada celah untuk dimanfaatkan oleh mereka. Sebagai contoh jika ingin membeli komputer di India harus ditegaskan biaya apa saja yang terkait dengan pembelian komputer tersebut termasuk instalasi, purna jual, garansi dan lain sebagainya yang merupakan paket dalam satu harga. Jika tidak, pengusaha India akan memasukkan biaya lain yang tidak jelas di luar harga resmi seperti kelebihan kabel yang digunakan, ongkos pekerja yang melakukan instalasi, biaya antar barang dan lain sebagainya yang akhirnya malah total harganya jadi jauh lebih mahal.
Namun demikian, secara umum orang India adalah orang yang fungsional. Mereka lebih menghargai fungsi suatu barang daripada asesori tambahannya. Sebagai contoh misalnya mereka lebih menyukai mobil yang bisa berjalan dengan peralatan standar daripada fungsi-fungsi tambahan seperti AC atau tape mobil. Walaupun bukan berarti mobil dengan AC dan tape mobil kurang laku tetapi begitu dibeli AC dan tape mobil tersebut jarang dipakai. Coba lihat taksi-taksi di kota Mumbai, hampir semuanya merk Ford dan Ambassador tua. Sebagian taksi tersebut dilengkapi juga dengan AC, tetapi begitu minta dinyalakan, maka harganya akan berbeda. Contoh lain bisa dilihat dari pengusaha, eksekutif atau pejabat India yang lebih senang menggunakan mobil seperti Ambassador atau paling tinggi Honda Civic. Bagi mereka yang penting dapat digunakan sebagai alat transportasi. Konon kabarnya PM Manmohan Singh sendiri lebih menyukai mobil Ambassador tua dan Ambassador buatan India yang anti peluru untuk digunakannya sehari-hari daripada mobil mewah buatan Jerman, AS atau Jepang. India memang unik. Segala keunikannya itu pula yang menundang banyak Negara di dunia berlomba untuk memberikan perhatian lebih kepadanya. Pejabat-pejabat tinggi dan pengusaha-pengusaha besar dari berbagai Negara sekarang ini sering mengunjungi India.Tidak ketinggalan Indonesia. Baru-baru ini Wapres RI berkunjung kesana dengan maksud utama untuk mengundang kembali investor-investor India dalam berbagai proyek di Indonesia. Jangan kaget bila dalam waktu dekat akan banyak pengusaha India yang membuka usaha di Indonesia. Bajaj saja kini sudah menjual produk motornya.
Sebaliknya
perlu dikaju niat pengusaha Indonesia yang terkesan masih takut-takut untuk
berbisnis di India. Masih sedikit pengusaha Indonesia yang berhasil masuk
kesana. Peluang untuk itu terbuka lebar. Memang ada beberapa sector usaha
yang masih diproteksi, diberi subsidi atau diberikan hambatan tariff atau
non tariff. Walaupun memang sangat alot, Pemerintah India terus
memperlihatkan niat baiknya dengan mereduksi hambatan-hambatan tersebut.
Namun hal itu hendaknya tidak mengurungkan niat untuk mulai berbisnis kesana.
Pelajari dengan seksama berbagai hokum dan peraturan terkait dengan produk
yang akan dijual kesana. Pelajari juga sifat dan karakter para pedagang
India yang akan dijadikan mitra usaha. Yang paling penting adalah untuk
memulai semuanya. Memulai untuk memanfaatkan keajaiban India.
|