HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VIII Maret  2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 02 April, 2008

 

 

 

APRESIASI EDISI VIII 2008

Kafe di Mesir

Oleh: Aji Surya

Lain ladang lain belalang. Kafe di Mesir  milik semua golongan masyarakat. Merupakan arena pertemuan para pemuda, aktivis, diplomat, politisi dan juga tempat dirancangnya perubahan sosial.

“Bagi yang tidak melewati waktu di kafe ataupun tidak menghabiskan sebagian hidupnya menyiapkan ramuan minuman sihir, mereka tidak termasuk dalam legenda Asia Timur”. Demikian kesimpulan observasi Napoleon Bonaparte semasa ekspedisi ke Mesir. Merupakan pelengkap kehidupan sosial di Timur Tengah, qahwa (kafe) telah lama menjadi tempat berbagai macam aktifitas seperti bergosip, bermain, berbisnis dan juga menulis lagu. Dapat dijumpai pula orang-orang yang sedang membuat kesepakatan serta bernegosiasi secara diplomatis.

“Tujuh teko kopi selalu menemani saya dalam bincang-bincang dengan orang-orang Turki sampai larut, mendengarkan cerita kepercayaannya”, tutur Bonaparte suatu ketika. Di tempat yang sama, ia juga menuliskan tentang pertemuanya dengan Ottoman dan Puteri Mamluk, Syekh Al-Azhar dan orang penting Mesir lainya.

Fenomena qahwa telah lama membuat kagum orang-orang asing terhadap wilayah tersebut. Edward William Lane, seorang orientalist asal Inggris yang pernah tinggal di Kairo pada awal abad ke-19 menuliskan deskripsi lengkap mengenai kafe-kafe di Mesir dalam bukunya yang diberi judul Manner and Customs of the Modern Egyptians: “Kairo memiliki lebih dari seribu Kafe. Qahwa merupakan sebuah ruangan dengan kayu-kayu dalam bentuk pilar yang menghiasi sepanjang muka gedung kecuali pada bagian pintu masuk. Qahwa biasanya dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan bawah dan para pedagang pada siang hari dan malam hari, khususnya pada waktu pesta keagamaan.”

Dalam buku La description d’Egypt, para anggota ekspedisi Perancis telah memaparkan mengenai 1,200 kafe di Kairo, tetapi tidak termasuk 50 di Kairo lama dan 100 di Boulaq. Berdasarkan keterangan mereka, qahwa tidak mempunyai perabotan, cermin ataupun dekorasi. Hanya terdapat bangku-bangku kayu yang disebut dengan mastabas yang ditaruh di sepanjang dinding. Tipe-tipe qahwa seperti ini masih dapat ditemukan sampai hari ini di desa-desa kecil di Mesir. Namun mastabas kini telah digantikan kursi dan meja yang lebih fungsional. Jumlah pelangganpun semakin meningkat dimana dapat dijumpai orang-orang Mesir dari semua kalangan.

Menurut berbagai sumber, tanaman kopi pertama kali ditemukan pada abad 19 di daerah yang sekarang dinamakan sebagai Ethiopia. Menurut sejarah, seorang warga sempat  mencoba memakan biji kopi lalu merasakan sebuah suntikan energi. Dengan berjalannya waktu, pedagang arab menanam dan menjualnya di Semenanjung Arab. Dalam cerita lainnya, seorang laki-laki asal Yaman telah ditinggalkan di gurun oleh musuh-musuhnya. Mengarungi pepohonan diantara pasir yang gersang, ia memakan biji kopi dan langsung merasakan kekuatan untuk kembali ke kota.

Tanpa melihat legenda dari penemuan tanaman kopi, ditengarai seni pembuatan kopi berasal dari daerah Teluk. Minuman kopi menjadi sangat populer semenjak orang mengetahui kasiatnya, seperti dapat menyembuhkan sakit kepala, membantu menahan rasa kantuk dan memberi energi dalam menjalankan ibadah pada malam hari. Kopi dijumpai di Mesir sejak abad 16 yang dibawa oleh orang Yaman bernama Sufi Sheikh Abu Bakar Bin Abdullah, yang dikenal sebagai Al-Aidarous.

Meskipun sempat terdapat perdebatan apakah minuman tersebut haram atau halal, popularitas peminum kopi di Mesir telah menyebar luas dengan pesat, dan tak lama kemudian toko minuman mengambil nama qahwa yang berarti minuman yang diminta.

Kafe di Mesir bukan hanya merupakan tempat untuk minum dan bersosialisasi, tetapi juga merupakan tempat untuk mendapatkan hiburan. Pemilik qahwa pada waktu silam menyewa pendongeng untuk menceritakan kembali kisah-kisah rakyat dan legenda-legenda, seperti Courageous Princess Zat El-Hemmah, the Campaign of Imam Ali dan juga Conquest of Yemen yang dikenal dengan Ras el-Ghoul. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan hiburan pada para pengunjung sambil menghirup shisha.

Pada jaman sekarang, pendongeng telah digantikan dengan televisi, yang biasanya menayangkan pertandingan sepak bola. Meski begitu, satu hal yang tidak akan berubah yaitu kesukaan orang-orang Mesir terhadap dunia malam beserta teman-teman mereka sambil menyeruput beberapa cangkir kopi. (diambil dari berbagai sumber).