|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 April, 2009
|
Trik bisnis dengan juragan ginseng Oleh Nuradi Noeri
PENUMPANG busway jurusan Blok M – Harmoni siang itu terlihat padat. Sambil mengepit tasnya erat-erat, Gunawan berusaha melihat keluar dari sela-sela badan penumpang lainnya. Pemilik sebuah perusahaan mebel di Bekasi ini akhirnya turun di halte Polda, bergegas setengah berlari ke jalan dan memasuki sebuah gedung. Kepadatan jalan Jenderal Sudirman siang itu memaksanya untuk tidak menggunakan mobil dan memilih naik busway agar lebih cepat. Janji bertemu dengan seorang pengusaha Korea Selatan siang ini sangat penting. Gunawan tak mau mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya beberapa waktu lalu ketika terlambat 20 menit untuk bertemu seorang importir Korea. Pengusaha negeri ginseng itu memasang muka masam ketika Gunawan minta maaf. Walaupun bukan semata-mata karena keterlambatan itu, transaksi pun akhirnya batal. Mungkin kita merasa bahwa pengusaha Korea itu keterlaluan, karena bagi kita hal itu mungkin biasa apalagi orang yang terlambat itu sudah minta maaf. Namun tidaklah demikian bagi kebiasaan orang Korea. Keterlambatan Gunawan dapat diartikan sebagai tindakan yang tidak profesional atau bahkan melecehkan mereka. Masih untung mereka mau menunggu. Paling tidak Gunawan menelpon mereka bahwa ia akan terlambat karena saat ini terjebak kemacetan misalnya. Itupun tidak dilakukan oleh Gunawan karena pulsa dan batere telepon selularnya waktu itu habis. Seharusnya Gunawan memberikan kesan baik setidaknya pada pertemuan pertama karena menjalin hubungan pribadi sangat penting dalam berbisnis dengan pengusaha Korea Selatan.
Hubungan pribadi Seperti halnya sejumlah besar negara-negara di Asia, kedekatan hubungan pribadi merupakan hal yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Korea Selatan. Dalam dunia bisnis, jalinan hubungan pribadi yang baik menduduki tempat tertinggi, lebih penting dari berbagai aspek dunia usaha lainnya. Perhitungan akan keuntungan yang akan diperoleh, harga yang kompetitif dan produk berkualitas akan ditentukan oleh kadar hubungan pribadi. Hubungan pribadi yang baik disertai dengan penghormatan dan kepercayaan yang tinggi merupakan dasar dari etika bisnis di Korea Selatan. “Banyak pengusaha asing yakin bahwa bila mereka menawarkan harga dan jenis produk yang kompetitif maka transaksi dengan pengusaha Korea akan lancar. Namun hal itu mungkin berlaku di negara lain, belum tentu di Korea akan selalu begitu” ujar Jon Saddoris, pemimpin sebuah perusahaan konsultasi bisnis di Seoul. “Kasarnya, anda tidak akan dapat melakukan hubungan bisnis apa pun sampai terjalinnya suatu “human relations” tambah Saddoris, pengusaha asal Amerika Serikat yang telah sepuluh tahun tinggal di Korea. Hal ini termasuk melakukan pendekatan dengan cara yang baik artinya upaya perkenalan yang dapat diterima dan dilakukan oleh pimpinan atau staf dengan jenjang yang sesuai. Orang Korea terkenal dengan rasa persaudaraan dengan sesama yang besar. Di Korea, bila sebuah perusahaan atau toko baru buka di sebuah gedung maka sang pendatang baru itu biasanya mengantarkan makanan yang disebut ttok (kue beras) ke toko di kiri kanan dan lantai atas bawah. Pemberian itu merupakan tanda perkenalan sekaligus tawaran untuk menjalin hubungan baik dan kerjasama. Demikian juga halnya bila seseorang menempati rumah atau apartemen baru. Masih dalam rangka mempererat hubungan baik, kalangan usaha Korea gemar memberikan cenderamata kepada mitra bisnisnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh relasi bisnis mereka termasuk mitra asing. Kualitas hadiah itu tergantung dari tingkatan hubungan bisnis dan besarnya perusahaan. Berikan cenderamata yang khas dari Indonesia dengan kualitas bagus. Hadiah dapat pula berupa minuman keras karena orang Korea gemar minum. Pemberian cenderamata biasanya disesuaikan dengan perayaan tertentu seperti tahun baru Korea atau thanksgiving day Korea yang disebut dengan chusseok. Jangan membungkus cenderamata dengan kertas putih karena putih adalah lambang kematian bagi masyarakat Korea. Gunakan kedua tangan ketika menerima atau memberikan hadiah.
Pekerja keras Pendiri perusahaan raksasa Hyundai, Chung Ju Yung, dalam buku “Made in Korea” yang ditulis oleh Richard M Steers menyatakan “waktu adalah bukan hanya uang tapi kehidupan, bila kita kehilangan waktu maka tidak hanya uang yang hilang tapi semua yang telah dilakukan dan hidup kita akan lenyap tak berbekas”. Itulah moto hidup sebagian besar kalangan bisnis Korea yang menyebabkan mereka selalu bekerja keras. Mereka selalu terlihat sungguh-sungguh dalam melakukan berbagai kegiatan. Dalam dunia bisnis, pengusaha Korea selalu berusaha mengerjakan sesuatu dengan akurat dan cepat. Bila Anda berencana untuk mempunyai mitra dagang Korea maka sebaiknya pelajari pola kerja mereka yang selalu serba cepat itu. Dalam kondisi tertentu orang Korea dapat bekerja di kantor sampai larut malam bahkan pagi. Dalam meja perundingan bisnis mereka selalu tampil sebagai negosiator yang gigih. Bila terdapat kendala bahasa dalam berkomunikasi dengan pebisnis Korea, sebaiknya anda membawa penerjemah sendiri. Jangan mengandalkan penerjemah dari pihak Korea karena mereka cenderung akan menguntungkan atasannya. Hindari menunjukkan mimik tidak sabar atau kesal saat bernegosiasi. Perundingan dengan pengusaha Korea umumnya memakan waktu lama karena mereka selalu bersikap hati-hati untuk menghindari kesalahan pengambilan keputusan. Sebagai pengaruh dari latar belakang budaya Konghucu, kalangan bisnis Korea sangat enggan untuk mengatakan tidak dengan segera dan jelas. Dengan maksud menghindari rasa kecewa dari mitra bisnisnya bila ia mengatakan tidak bisa untuk memenuhi suatu transaksi, pengusaha Korea biasanya mengatakan “saya akan pikirkan lagi”. Sementara itu mereka berusaha untuk menunjukan gelagat bahwa sebenarnya tidak ada minat untuk menerima bisnis itu. Pebisnis Korea tidak akan sampai ke tahapan pembentukan kesepakatan sampai ia merasa akrab dan percaya dengan mitra bisnis yang akan terlibat dalam kesepakatan itu. Walau transaksi itu akan mendatangkan keuntungan besar bagi mereka namun bila komunikasi dan kepercayaan belum terjalin dengan baik maka kesepakatan bisnis itu masih memerlukan waktu panjang untuk disetujui.
|