HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

WAWANCARA EDISI IV 2007

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yang Mulia Shin Ebihara

Jepang bantu memperkuat daya ekspor UKM Indonesia

Oleh: M. Rifqi Fikriansyah

HUBUNGAN Indonesia – Jepang memasuki babak baru dengan ditandatanganinya Economic Partnership Agreement (EPA) oleh Presiden R.I. Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe pada tanggal 20 Agustus 2007 di Jakarta. Ditengahtengah kesibukannya menindaklanjuti Economic Partnership Agreement (EPA), Duta Besar Jepang, H.E. Mr. Shin Ebihara, menyempatkan diri menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan AKSES seputar hubungan perdagangan Jepang-Indonesia. Berikut petikan jawaban dari Dubes Ebihara :

Bagaimana pandangan pemerintah Jepang terhadap pertumbuhan ekonomi China dan India saat ini?

Jepang melihat pesatnya kemajuan perekonomian China dan India sebagai sesuatu yang bersifat positif. Di lain pihak, seiring dengan kemajuan yang dicapainya, China dan India juga diharapkan dapat mengemban tanggung jawab yang lebih besar di kawasan sejalan dengan pengaruhnya terhadap dunia. Melalui kerangka dialog bilateral dengan China dan India, juga ASEAN+3, East Asian Summit (EAS), Jepang ingin mendorong agar China dan India dapat terus memberikan kontribusi yang positif bagi dunia.

Apa saja upaya pemerintah Jepang untuk mempertahankan stabilitas ekonominya?

Perekonomian Jepang selama 5 tahun ini terus mengalami pemulihan dan dalam tahun 2007 ini diperkirakan terjadi pertumbuhan sebesar 2,0%. Untuk menjaga stabilitas ekonomi, ada beberapa masalah yang menjadi perhatian pemerintah Jepang, antara lain pembentukan masyarakat ekonomi yang terbuka dan penuh vitalitas melalui upaya seperti memberi dorongan terhadap pembaruan teknologi serta perundingan EPA dan Doha Round-WTO. Selain itu pemerintah juga melakukan reformasi menyeluruh terhadap pengeluaran belanja tahunan dan pemasukan tahunan menuju pembangunan kembali bidang finansial. Usaha mengatasi masalah masyarakat yang makin “menua” (bertambahnya populasi penduduk berusia tua) dan populasi yang makin berkurang juga tidak luput dari perhatian disamping manajemen finansial secara terpadu oleh pemerintah dan Bank of Japan.

Dengan ditandatanganinya Economic Partnership Agreement (EPA) RI-Jepang, perkembangan seperti apa yang diharapkan bagi hubungan kedua negara ?

EPA ditandatangani dengan tujuan memperkokoh kemitraan ekonomi antara Jepang dan Indonesia. Kerjasama yang disepakati dalam EPA Jepang-Indonesia mencakup di bidang pengembangan  sumber daya manusia, liberalisasi dan fasilitasi perdagangan barang, jasa dan investasi. Dalam kerangka EPA kedua negara melakukan pembenahan lingkungan bisnis, memberikan kemudahan transportasi bagi pebisnis, penerimaan calon tenaga perawat dan petugas kesejahteraan serta memperkuat hubungan di bidang energi dan sumber daya pertambangan. Pada intinya, melalui EPA diharapkan perdagangan antara kedua Negara akan meningkat dengan adanya penghapusan tarif bea masuk. Investasi Jepang pun akan bertambah sejalan dengan liberalisasi dan fasilitasi di bidang investasi yang sedang diupayakan oleh Pemerintah Indonesia. Sementara itu, peningkatan pertukaran antar masyarakat kedua negara dan daya saing industri Indonesia dapat diperkuat dengan kerjasama dari pihak Jepang. Melalui halhal tersebut, EPA Jepang-Indonesia nantinya akan semakin memperkokoh hubungan kedua negara khususnya di bidang ekonomi.

Apakah investor Jepang masih melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial? Dan apa saja hambatan yang mereka alami dalam berinvestasi di Indonesia?

Bagi para investor Jepang, Indonesia masih merupakan pasar yang menarik. Indonesia adalah negara yangkaya dengan sumber-sumber energi dan  pertambangan ditambah dengan penduduk sebanyak 230 juta orang. Ini skala pasar yang sangat besar bagi investor Jepang. Selain itu Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Jepang. Kita bisa melihatnya dengan banyaknya Japanophiles (orang-orang yang senang dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Jepang) di Indonesia Meski demikian, di tengah-tengah majunya globalisasi ekonomi timbul kesadaran besar untuk memperkokoh lingkungan usaha dan iklim investasi di Indonesia. Untuk mempertahankan kedudukan Indonesia sebagai negara sasaran investasi yang relatif lebih menarik dari negara-negara di sekitarnya, Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kebijakan secara menyeluruh. Harus ada landasan pokok seperti perbaikan tarif & bea dan sistem perpajakan, realisasi system hukum ketenagakerjaan yang berimbang, pembenahan transportasi dan prasarana tenaga listrik.

Bagaimana cara untuk menarik investor Jepang menanamkan modalnya pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia ?

Pertama, perlu menaikkan level perusahaan kecil dan menengah di Indonesia. Untuk itu, Jepang sejak dulu terus memberikan bantuan bagi pengusaha Indonesia. EPA Jepang-Indonesia akan semakin menunjang bantuan ini. Kedua, diperlukan pula informasi yang memadai tentang perusahaan kecil dan menengah Indonesia untuk menarik minat investor Jepang. Berbagai bantuan telah diberikan dalam upaya memperkuat kerjasama antara perusahaan Jepang dan Indonesia oleh JETRO (Japan External Trade Organization) dengan KADIN Indonesia dalam bentuk “Business Support Desk”.

Bagaimana peran Usaha Kecil dan Menengah bagi perekonomian Jepang? Bagaimana strategi pembinaan pemerintah Jepang terhadap UKM di Jepang?

Sebanyak 99,7% dari jumlah seluruh perusahaan di Jepang merupakan perusahaan kecil dan menengah (UKM). Mereka mempekerjakan sekitar 70% dari tenaga kerja. Dengan demikian UKM berperan penting bagi perekonomian negeri Samurai ini. Kekuatan perindustrian Jepang bukan terletak pada perusahaan- perusahaan besar seperti Toyota, Matsushita ataupun yang lain. Perusahaan- perusahaan tersebut sifatnya hanya mendukung perekonomian Jepang. Justru keberadaan UKM merupakan landasan penunjang dari anak tangga pertama, kedua dan ketiga perekonomian Jepang. Untuk membina mereka, Pemerintah Jepang membentuk badan untuk pembinaan UKM pada Kementerian Perekonomian, Perdagangan dan Perindustrian. Pemerintah juga menyusun kebijakan menyeluruh yang mencakup antara lain pengaturan transaksi, seperti finansial, sistem perpajakan, pembaruan teknologi, pembinaan sumber daya manusia, dsb. Selain itu, pemerintah Daerah pun antusias dalam melakukan berbagai upaya peningkatan dan pengembangan UKM.

Apakah ada kebijakan khusus dari Pemerintah Jepang mengenai Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia ?

Untuk mengembangkan pereko-nomian Indonesia, Pemerintah Jepang memberi bantuan bagi pengembangan perusahaan-perusahaan UKM. Menurut kami pengembangan UKM merupakan hal yang penting dimana pembinaan sumber daya manusia mutlak diperlukan. Salah satu proyek yang kami adakan adalah proyek oleh JICA (Japan International Cooperation Agency). Proyek ini berupa pelatihan bagi Departemen Perindustrian dalam menyusun sistem ahli evaluasi perusahaan UKM dan membina sumber daya manusia secara nyata. Saat ini sedang berjalan proyek kerjasama dengan NAFED (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) dan IETC (Pusat Pelatihan Ekspor Indonesia), serta pendirian pusat pelatihan dan pengembangan perdagangan daerah (RETPC) di Surabaya, Medan, Makasar dan Banjarmasin untuk memperkuat daya ekspor dari perusahaan UKM.

Kerajinan tangan Indonesia adalah salah satu produk ekspor utama bagi pengusaha kecil dan menengah Indonesia? Bagaimana masa depan bagi pemasaran produk ini di Jepang?

Di Jepang barang-barang kerajinan tangan dan barang-barang seni Indonesia sangat dihargai. Untuk memperluas penjualannya di Jepang, UKM Indonesia harus sangat memperhatikan desain, kemasan dan strategi pemasarannya. Pihak kami (Jepang–Red.) membantu UKM Indonesia antara lain dengan kerjasama untuk mendapatkan buyers (pembeli) Jepang dan tenaga ahli Jepang. Contohnya adalah kerjasama JETRO dengan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memajukan kegiatan “satu desa satu produk”.

Apakah ada standar tertentu yang harus dipenuhi pengusaha UKM Indonesia yang ingin  mengembangkan pasarnya ke Jepang ?

Tentu ada. Jepang dapat dikatakan sebagai salah satu negara di dunia yang konsumennya menuntut standar paling tinggi. Untuk berhasil di pasar Jepang, diperlukan standar yang tinggi dalam berbagai aspek seperti penguasaan teknologi, pengelolaan kualitas barang, desain, jasa pengantaran, pengaturan harga barang, dsb. Perluasan penjualan dalam pasar Jepang memang tidak mudah dilakukan. Tapi perlu diingat, jika pengusaha Indonesia berhasil menembus pasar Jepang maka sangat besar kemungkinan dapat berhasil pula di pasar-pasar lainnya.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap hubungan bilateral Indonesia Jepang selama ini dan kerjasama sector apa saja yang masih perlu ditingkatkan ?

Jepang dan Indonesia terus membina hubungan yang sangat baik di berbagai bidang mulai dari politik, ekonomi, diplomasi, kerjasama ekonomi, dan kebudayaan. Pada bulan November tahun 2006, Presiden Yudhoyono berkunjung ke Jepang sebagai tamu negara yang pertama bagi pemerintahan baru yang dipimpin PM Shinzo Abe. Pada kesempatan pertemuan puncak tersebut, keduanya sepakat akan mengembangkan hubungan antara kedua negara menuju dimensi yang lebih tinggi lagi sebagai “mitra strategis menuju masa depan yang damai dan makmur”. Pada bulan Agustus tahun ini PM Abe berkunjung ke Indonesia dan kedua pemimpin telah menandatangani EPA (Perjanjian Kemitraan Ekonomi) untuk meningkatkan hubungan antara Jepang-Indonesia.

Selain itu, mereka juga sepakat untuk mengatasi berbagai masalah dalam masyarakat internasional berdasarkan kemitraan antara kedua negara yang sama-sama menganut nilai-nilai dasar seperti kebebasan, demokrasi serta penghormatan hak asasi manusia. Tahun 2008 merupakan tahun peringatan 50 tahun dibukanya hubungan diplomatik antara kedua negara. Untuk itu, selama satu tahun yaitu mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember, direncanakan akan diselenggarakan “Tahun Emas Persahabatan Jepang – Indonesia” dalam meningkatkan pertukaran antar masyarakat kedua negara. Bidang yang difokuskan dalam pertukaran adalah di bidang pendidikan, perdagangan, investasi, ilmu pengetahuan- teknologi, pariwisata, dan kebudayaan. Dengan dicanangkannya “Tahun Persahabatan”, diharapkan hubungan persahabatan dan kerjasama yang telah terjalin selama 50 tahun terus berlanjut dengan mantap ke masa 50 tahun mendatang.