|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 June, 2008
|
Produk industri kreatif dan produk budaya Indonesia telah dikenal di pasar internasional. Upaya promosi perlu ditingkatkan agar potensi dapat termanfaatkan secara optimal. Para Dubes pun berjanji untuk membantu.
DI TENGAH hiruk pikuk pameran Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Balai Sidang Jakarta awal Juni 2008 lalu, sebuah kamar di pojok lantai bawah gedung itu terlihat ramai. Ruangan itu ternyata penuh sesak oleh pengusaha, akademisi, pejabat pemerintah dan pemerhati masalah sosial yang terlihat antusias menatap ke arah panggung di ujung ruangan. Panitia harus menambah puluhan kursi untuk menampung pengunjung yang terus berdatangan. Sebuah spanduk besar bertuliskan “Dialog dengan para Duta Besar” terpampang di atas panggung. Pagi itu, delapan orang Duta Besar RI untuk sejumlah negara berbagi pengalaman mengenai peluang di negara akreditasi masing-masing. Kedelapan Duta Besar itu adalah Jusuf Anwar (Jepang), Djoko Hardono (Kanada), M Wahid Supriyadi (UAE), Bali Moniaga (Brasil), Sjahril Sabaruddin (Uzbekistan), Andi M Ghalib (India), A.M. Fachir (Mesir), Makmur Widodo (Jerman) dan Foster Gultom (KUAI KBRI Seoul). Acara ini merupakan rangkaian kegiatan seminar, lokakarya dan dialog dalam rangka PPBI 2008. “Warisan budaya sebagai inspirasi kebangkitan ekonomi kreatif” merupakan tema dari PPBI 2008. Istilah ekonomi kreatif atau industri kreatif memang sering disebut-sebut belakangan ini. Indonesia bahkan telah memiliki cetak biru pengembangan ekonomi kreatif yang segera akan dilaksanakan. Perekonomian yang mengandalkan kreatifitas individu ini merupakan salah satu teroboson dalam menjawab tantangan krisis ekonomi yang perkepanjangan. Pilar ekonomi kreatif antara lain adalah arsitektur, barang seni, kerajinan tangan, desain, fashion, film, musik, radio dan pertelevisian serta industri berbasis budaya. Nah, dalam kerangka mencari pasar bagi produk industri kreatif Indonesia di luar negeri, masing-masing Duta Besar memaparkan peluang-peluang yang dapat direbut oleh dunia usaha Indonesia. Dialog itu diselingi oleh berbagai cerita menarik di negara mereka bertugas. Dari kisah orang Arab yang selalu mencari barang paling mahal, tari kecak Bali yang dimainkan orang Jepang sampai kota Florionopolis di Brazil yang dipenuhi gadis-gadis cantik. Dibalik cerita-cerita tersebut tersembul sejumlah peluang bagi ekonomi kreatif Indonesia.
Jepang Di Jepang, produk budaya Indonesia seperti batik dan perhiasan telah dikenal luas. Seni budaya Indonesia pun digemari, bahkan terdapat sejumlah kelompok seni musik dan tarian Indonesia yang dibentuk dan dimainkan oleh orang Jepang. Kelompok-kelompok seni budaya ini melakukan pementasan secara berkala di pelosok Jepang. “Tidaklah mengherankan bila ekspor produk budaya Indonesia ke Jepang seperti produk kerajinan dan perhiasan mengalami kenaikan pesat setiap tahunnya. Tahun 2007 ekspor produk kerajinan Indonesia mencapai US$ 10,82 juta naik 28,4% dibandingkan tahun sebelumnya” ujar Duta Besar RI Tokyo Jusuf Anwar. “Semua produk yang masuk ke pasar Jepang haruslah berkualitas baik, tidak ada yang akan membeli barang yang berkualitas pas-pasan” tambah mantan Menteri Keuangan ini. Peningkatan ekspor produk perhiasan Indonesia ke Jepang merupakan cerminan dari minat konsumen yang meningkat terhadap keunikan produk budaya Indonesia. “Produk perhiasan Indonesia seperti milik Yayasan Mutumanikam Nusantara yang dipamerkan secara berkala di Jepang selalu mendapat sambutan positif oleh pasar setempat” ungkap Jusuf Anwar. Pak Dubes Jusuf berjanji untuk membantu pengusaha Indonesia memasuki pasar Jepang. Produk industri kreatif lainnya yang mendapat perhatian besar dari penghuni negeri matahari terbit ini adalah produk kerajinan kulit, produk budaya dengan inovasi baru menggunakan bahan ikan pari, akar-akaran dan produk eceng gondok. Ekspor non migas Indonesia ke Jepang mencapai US$ 13,1 milyar pada tahun 2007 naik 7,3 % dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa bulan lalu, dalam rangka promosi Indonesia di Jepang, pernah dilakukan penjualan produk budaya Indonesia melalui televisi (Jupiter Shop channel) secara langsung. Hanya dalam waktu sekitar empat menit sebanyak 300 item produk kerajinan dan perhiasan Indonesia ludes terjual!
Korea Selatan Kalau di Jepang banyak orang yang tidak asing lagi dengan seni budaya Indonesia, maka di Korea Selatan sejumlah masakan Indonesia mulai disukai oleh lidah masyarakat negeri ginseng itu. “Dalam beberapa acara promosi Indonesia, produk makanan terutama sate sangat disukai pengunjung” ujar Foster Gultom, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Seoul. Konsumen Korea juga menunjukkan minat yang besar pada produk industri kreatif Indonesia lainnya seperti kerajinan tangan, perhiasan dan mebel. Produk herbal Indonesia juga mempunyai peminat besar seperti buah merah dan produk air embun.
Uzbekistan Dari negeri anggur, Dubes RI Tashkent Sjahril Sabarudin menyatakan bahwa perekonomian negara-negara Asia Tengah kini tengah mengeliat yang ditunjang oleh rezeki emas hitam. Kazakhstan dan Uzbekistan memiliki pasar yang cukup potensial untuk menyerap produk budaya Indonesia.
India Lain lagi kisah Pak Duta Besar RI dari India. “Kalau orang India menggeleng itu artinya setuju” ujar Andi M Ghalib, Duta Besar RI New Delhi. Oleh sebab itu jangan buru-buru kecewa bila partner dagang Anda di India menggeleng ketika ditawari kerjasama bisnis. Disamping salah pengertian, peluang masuk pasar India akan terlewatkan. India adalah pasar yang sangat besar. “Dengan jumlah penduduk sebesar 1,2 milyar jiwa, India merupakan pasar yang massif untuk produk-produk yang masuk kesana” ungkap Andi M Ghalib. Nilai ekspor non migas Indonesia ke India mencapai US$ 4,9 milyar pada tahun 2007 naik 47% dibandingkan tahun 2006. “Disamping itu, hubungan historis Indonesia – India dapat menjadi semangat berbagai jenis kerjasama terutama ekonomi” tambah mantan Jaksa Agung ini. “Kedua negara juga telah mempunyai payung Kemitraan Strategis yang dicanangkan tahun 2005” kata Andi M Ghalib. Rencana pembukaan jalur penerbangan langsung Garuda Indonesia dari Medan ke kota Chennai akan mendorong arus wisatawan maupun pengusaha India ke Indonesia. Selain itu, pemberian visa on arrival kepada orang India telah mempermudah kedatangan penduduk negeri Taj Mahal itu ke Indonesia.
Mesir Bila arus orang India masuk ke Indonesia bertambah deras, di Mesir arus produk kayu Indonesia semakin kencang membanjiri negeri Firaun itu. “Bila kita melihat produk kayu seperti mebel ataupun tripleks di Mesir maka hampir bisa dipastikan berasal dari Indonesia” ungkap A.M. Fachir, Duta Besar RI Cairo. Pendapat Pak Dubes Fachir sangat beralasan mengingat pangsa pasar produk kayu Indonesia di Mesir mencapai 40%! “Pasar mesir cukup potensial untuk produk budaya Indonesia dan KBRI Cairo siap membantu dunia usaha Indonesia untuk berbisnis di Mesir” janji Fachir. Produk industri kreatif Indonesia lainnya yang telah merambah pasar negeri pirmaid ini antara lain kerajinan tangan, produk perak dan produk kulit. Produk dengan mudah ditemukan di pusat-pusat pertokoan terutama di kawasan wisata. Tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke Mesir telah mendongkrak permintaan atas produk budaya Indonesia. Duta Besar RI Cairo juga mengungkapkan bahwa sejumlah produk budaya Indonesia yang mempunyai potensi untuk masuk ke pasar Mesir adalah batik, obat-obat tradisional dan perhiasan.
Perserikatan Emirat Arab Masih di kawasan gurun pasir, pasar Perserikatan Emirat Arab (PEA) menyimpan potensi besar bagi produk Indonesia. “ Disamping permintaan pasar lokal yang besar, Indonesia harus dapat memanfaatkan posisi Perserikatan Emirat Arab (PEA) sebagai hub perdagangan di kawasan Timur Tengah” ujar M. Wahid Supriyadi, Duta Besar RI Abu Dhabi. Produk Indonesia yang sudah masuk ke pasar PEA antara lain tekstil dan produk tekstil, elektronik, plywood, kertas, ban mobil, alas kaki dan kakao. Sebagian besar dikonsumsi oleh pasar lokal dan sedikit sekali yang di re-ekspor ke negara lain. Sebagai salah satu produsen minyak bumi, meroketnya harga minyak sekarang ini menyebabkan PEA kebanjiran likuiditas. Minat investasi pun meningkat termasuk untuk ditanamkan di Indonesia. Sejumlah investasi PEA sudah masuk termasuk pembangunan kawasan wisata di Lombok. “Keinginan investor PEA untuk menanamkan modal di Indonesia harus dilayani dengan sungguh-sungguh, kalau tidak uang itu akan beralih ke negara lain” ujar Wahid berapi-api.
Brasil Dari daratan benua Amerika, Duta Besar RI Brasil Bali Moniaga mengatakan bahwa kuliner Indonesia cukup diminati di negeri Pele itu. “Masyarakat Brasil sangat konsumtif dan gemar mengoleksi produk-produk asing terutama untuk dekorasi” ujar Bali Moniaga. Produk budaya Indonesia adalah diantara produk kerajinan yang disukai pasar Brasil. Sejumlah pengusaha Indonesia telah aktif mengikuti beberapa pameran kerajinan tangan di Brasil. Produk industri kreatif Indonesia lainnya yang disukai konsumen Brasil adalah perhiasan, asesoris wanita serta barang kerajinan dekoratif yang memberi kesan eksotis dari Timur. Produk mebel, ukiran Jepara, kursi rotan serta produk herbal, kecantikan dan kesehatan juga diminati pasar setempat.
Jerman dan Kanada Sedangkan dari dunia “Barat”, Duta Besar RI untuk Kanada dan Jerman mengungkapkan bahwa produk budaya Indonesia telah dikenal luas oleh pasar kedua negara itu. “Semua produk yang masuk ke Jerman harus berkualitas tinggi” ujar Makmur Widodo, Duta Besar RI Berlin. Produk budaya Indonesia yang diminati antara lain produk tekstil dan furniture. Sedangkan untuk pasar Kanada, konsumen menyukai produk kerajinan, dekorasi, perhiasan, produk kosmetik, produk kulit dan tekstil serta makanan olahan.
Semua
Duta Besar itu meminta dunia usaha Indonesia untuk tidak ragu mengontak
mereka bila membutuhkan bantuan untuk berpromosi atau mengadakan
transaksi dagang di negera akreditasi mereka. Promosi, promosi dan
promosi adalah kunci keberhasilan untuk mendapat peluang pasar tertutama
di luar negeri. “Selain mengikuti berbagai ajang pameran, promosi juga
dapat dilakukan melalui website” ujar Djoko Hardono, Duta Besar RI
Ottawa. Baik Pak Dubes!
Janji Pak Dubes adalah piutang UKM Indonesia.
|