HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

APRESIASI  EDISI III 2006

Jangan batik senasib tempe

Oleh: Djoko Agung Rahardjo

BILA pergi ke Yogyakarta dan jalan-jalan ke daerah Tirtodipuran, pasti tidak lupa mencari dan membeli batik baik untuk diri sendiri ataupun oleh-oleh untuk sanak keluarga atau teman tersayang. Tirtodipuran merupakan salah satu sentra batik termasyur di negeri ini. Sepanjang jalan Tirtodipuran banyak kita jumpai penjual batik untuk berbagai kalangan.

Rajendra Baskara, pria berpawakan tinggi besar berumur 48, ditemui AKSES di showroom Rara Djonggrang yang cukup luas di kawasan Tirtodipuran. Di halaman belakang showroom-nya, terdapat tempat proses pengolahan batik secara tradisional. Jendro, begitu ia biasa disapa, anak tertua empat bersaudara dari almarhum Agus Suwito dan ibunya Sukepti ini, sejak kecil telah membantu bisnis kedua orang tuanya. Sejak 1958 kedua orang tuanya bergelut di bisnis batik hingga menjadi besar seperti saat ini.  

Bapak dari dua anak ini mulai secara serius menggeluti usahanya setelah sang ayah wafat pada bulan Juli 2005. Sebagai anak tertua dia mempunyai kewajiban moral mempertahankan dan meneruskan aset warisan ayahnya tersebut. Ia berusaha mengepakkan sayap bisnis keluarganya tidak sekadar produsen batik, juga sebagai eksportir.

Semakin ketatnya persaingan industri batik, terlebih dengan banyaknya batik cap yang diproduksi mesin, membuat Jendro berpikir keras. Ia berusaha mensiasati dengan melakukan modifikasi dan diversifikasi produk. “Sehingga produk kami tidak ketinggalan dan tetap diminati konsumen,” katanya. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Batik produksi berhasil masuk ke mancanagara. ‘’Ke Maldives, Singapore dan Jepang,’’ katanya.

 Namun, “Usaha itu tidak berhasil kalau tidak ada bantuan masyarakat di sekitar sini,’’ katanya. Mereka bekerja sebagai  buruh batik dan biasa membatik di rumah masing-masing guna memenuhi pesanan yang diminta Jendro. Walau ongkos produksi batik pabrik biasa lebih murah, Jendro tetap menggunakan cara membatik tradisional. Karena ia semakin khawatir melihat perkembangan industri batik tradisional yang merupakan industri rumahan saat ini. Menurutnya “Pemerintah harus melindungi para industri batik tradisional yang merupakan industri padat karya”.

 “Karena akhir-akhir ini pemerintah memberi kelonggaran kepada industri batik cap yang menggunakan mesin,” katanya lagi. “Disamping itu banyak tekstil impor yang harganya relatif lebih murah turut mengancam industri batik tradisional” tambahnya. Kalau ngomong soal batik ada hal lain yang membuat cemas Jendro. “Batik dan motif batik Indonesia tidak dipatenkan, malah negara jiran yang mematenkan batik sebagai produksi bangsa Malaysia,” ujarnya. Menurutnya, pemerintah Indonesia harus segera bertindak, karena masalah itu tidak mungkin dilakukan oleh pihak swasta. ‘’Karena batik sudah menjadi identitas milik bangsa bukan milik perorangan” ujarnya berapi-api.

Kalau dibiarkan terus, lanjutnya, dapat mematikan dan menghilangkan identitas batik sebagai milik bangsa Indonesia. ‘’Jangan kasus hak paten tempe oleh bangsa Jepang terulang lagi terhadap batik,” katanya mengakhiri pertemuan ini. Masalah hak paten ini memang harus menjadi renungan kita bersama. Akankah batik yang merupakan salah satu hasil kretifitas nenek moyang kita dan menjadi identitas bangsa Indonesia satu persatu diambil bangsa lain? Perjalanan waktulah yang akan dapat menjawabnya kelak. Bangkitlah Indonesia.