|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
BILA pergi ke Yogyakarta dan jalan-jalan ke daerah Tirtodipuran, pasti tidak lupa mencari dan membeli batik baik untuk diri sendiri ataupun oleh-oleh untuk sanak keluarga atau teman tersayang. Tirtodipuran merupakan salah satu sentra batik termasyur di negeri ini. Sepanjang jalan Tirtodipuran banyak kita jumpai penjual batik untuk berbagai kalangan.
Bapak dari dua anak ini mulai secara serius menggeluti usahanya setelah sang ayah wafat pada bulan Juli 2005. Sebagai anak tertua dia mempunyai kewajiban moral mempertahankan dan meneruskan aset warisan ayahnya tersebut. Ia berusaha mengepakkan sayap bisnis keluarganya tidak sekadar produsen batik, juga sebagai eksportir. Semakin ketatnya persaingan industri batik, terlebih dengan banyaknya batik cap yang diproduksi mesin, membuat Jendro berpikir keras. Ia berusaha mensiasati dengan melakukan modifikasi dan diversifikasi produk. “Sehingga produk kami tidak ketinggalan dan tetap diminati konsumen,” katanya. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Batik produksi berhasil masuk ke mancanagara. ‘’Ke Maldives, Singapore dan Jepang,’’ katanya. Namun, “Usaha itu tidak berhasil kalau tidak ada bantuan masyarakat di sekitar sini,’’ katanya. Mereka bekerja sebagai buruh batik dan biasa membatik di rumah masing-masing guna memenuhi pesanan yang diminta Jendro. Walau ongkos produksi batik pabrik biasa lebih murah, Jendro tetap menggunakan cara membatik tradisional. Karena ia semakin khawatir melihat perkembangan industri batik tradisional yang merupakan industri rumahan saat ini. Menurutnya “Pemerintah harus melindungi para industri batik tradisional yang merupakan industri padat karya”. “Karena akhir-akhir ini pemerintah memberi kelonggaran kepada industri batik cap yang menggunakan mesin,” katanya lagi. “Disamping itu banyak tekstil impor yang harganya relatif lebih murah turut mengancam industri batik tradisional” tambahnya. Kalau ngomong soal batik ada hal lain yang membuat cemas Jendro. “Batik dan motif batik Indonesia tidak dipatenkan, malah negara jiran yang mematenkan batik sebagai produksi bangsa Malaysia,” ujarnya. Menurutnya, pemerintah Indonesia harus segera bertindak, karena masalah itu tidak mungkin dilakukan oleh pihak swasta. ‘’Karena batik sudah menjadi identitas milik bangsa bukan milik perorangan” ujarnya berapi-api.
Kalau dibiarkan
terus, lanjutnya, dapat mematikan dan menghilangkan identitas batik sebagai
milik bangsa Indonesia. ‘’Jangan kasus hak paten tempe oleh bangsa Jepang
terulang lagi terhadap batik,” katanya mengakhiri pertemuan ini. Masalah hak
paten ini memang harus menjadi renungan kita bersama. Akankah batik yang
merupakan salah satu hasil kretifitas nenek moyang kita dan menjadi
identitas bangsa Indonesia satu persatu diambil bangsa lain? Perjalanan
waktulah yang akan dapat menjawabnya kelak. Bangkitlah Indonesia.
|