|

Berjabatan tangan dengan Afrika
Oleh : Elfani T.
Prassanti & Nuradi Noeri
Ada gula
ada semut, ada orang China pasti ada untung. Mungkin itulah gambaran
mengenai potensi pasar Afrika dimana pengusaha China sudah cukup
mendulang laba disana. Peluang yang perlu diamati dan direbut oleh dunia
usaha Indonesia.
Afrika
adalah pasar masa depan yang tidak dapat disepelekan begitu saja. Pasar
Afrika terbentang mulai dari Cape Town sampai Tunisia dan dari Dakar ke
Mogadishu. Sebagian negara Afrika mempunyai potensi sumber daya alam
melimpah seperti minyak bumi, gas, uranium dan lainnya. Secara perlahan
bebeberapa negara di Kawasan Sub Sahara Afrika mulai menikmati
pertumbuhan yang positif yang juga ditandai oleh mulai masuknya investor
asing ke setiap negara. Namun pendatang baru di pasar Afrika akan
berhadapan dengan pengusaha Eropa yang telah bercokol disana ratusan
tahun lamanya. Kehadiran investor dan pedagang Eropa erat kaitannya
dengan hubungan sejarah sejak mereka menjajah Afrika. Saat ini, ribuan
pengusaha China, Jepang dan Korea Selatan mulai merambah pasar Afrika.
Indonesia
mempunyai hubungan khusus dengan Afrika terutama setelah Konperensi Asia
Afrika di Bandung tahun 1955. Hubungan tersebut terus semakin erat baik
dalam kerangka bilateral maupun multilateral. Dalam peringatan KAA tahun
2005 di Jakarta lahirlah suatu forum baru yang dapat sebagai sarana
untuk semakin mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika
yaitu Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika.
Etika
bisnis
Nah, dalam
melihat pasar Afrika dengan penduduk sekitar 700 juta jiwa ini, ada
beberapa hal yang harus diketahui. Namun yang terpenting pengusaha asing
yang masuk pasar benua hitam ini harus mengerti betul budaya bisnis
setempat. Bagaimana cara mengenalkan diri pada pengusaha Afrika? Ini
pertanyaan penting karena keberhasilan dan kegagalan dalam berbisnis
dengan Afrika tergantung pada kemampuan untuk membaca dinamika pasar
Afrika. Konflik politik yang terjadi di sebagian negara Afrika juga
mempunyai pengaruh dalam etika berbisnis dengan pengusaha Afrika.
Ada
beberapa hal yang harus diingat dalam berkomunikasi dengan pengusaha
Afrika, pertama: mereka sangat sensitif terhadap kesalahan yang
dilakukan orang asing dalam mengeja nama mereka, kedua: jangan bersikap
merendahkan atau berprasangka buruk terhadap mereka, bersikap ragu-ragu,
namun jangan pula bersikap merendahkan diri.
Sejak kecil,
masyarakat Afrika dididik untuk tidak menatap mata orang dewasa karena
hal itu merupakan tindakan tidak sopan. Itulah sebabnya orang Afrika
jarang menatap mata orang yang dihormatinya saat berbicara. Namun
demikian dalam komunikasi bisnis tentu saja eyes contact
diperlukan tapi tidak seperti pada masyarakat Timur Tengah dimana
menatap mata lawan bicara sesering mungkin merupakan isyarat kepercayaan
dan hormat.
Masyarakat
Afrika tidak menggunakan tangan kiri untuk menerima atau memberi hadiah
karena dianggap tidak sopan. Hampir seluruh masyarakat Afrika suka
memberi salam seperti ucapan selamat datang yang dilakukan berulang kali
disertai jabatan tangan yang umumnya sangat erat. Tidaklah biasa bagi
anak muda dan wanita untuk mengulurkan tangan terlebih dahulu, mereka
umumnya menerima jabatan tangan dari orang lebih dewasa atau laki-laki.
Masyarakat
Afrika mempunyai beragam kebudayaan yang harus diketahui. Untuk masuk ke
pasar Afrika, seseorang harus memahami pentingnya hubungan pribadi dalam
kaitan bisnis dengan pengusaha Afrika serta pandangan mereka jenjang
hirarki, pangkat dan umur. Satu hal lagi yang perlu dipelajari adalah
African Time, istilah ini menjadi terkenal karena kebiasaan orang
Afrika selalu santai dan umumnya telat dalam menepati janji. Kebiasaan
ini harus agak ditolerir agar urusan bisnis dapat berjalan. Masyarakat
Afrika juga terkadang membutuhkan waktu lama untuk memutuskan sesuatu
apalagi menyangkut bisnis. Menunggu suara bulat dari kelompok bisnisnya
sebelum melakukan sesuatu dan cenderung menghindari pertentangan terbuka
dengan mitra bisnisnya.
Kiat
masuk pasar Afrika
Pelajari
negara atau sektor yang mempunyai potensi bisnis, hubungi Kedutaan Besar
RI di negara tersebut dan kantor KADIN setempat. Lakukan identifikasi
calon mitra bisnis dengan bantuan KBRI atau KADIN setempat. Dari data
yang terkumpul, buatlah konsep strategi pemasaran yang nantinya akan
dilengkapi setelah datang langsung ke lapangan.
Lakukan
kunjungan ke negara tersebut dan atas bantuan KBRI dan KADIN setempat,
adakan beberapa pertemuan dengan pengusaha di sektor yang akan dimasuki.
Pelajari semua kebiasaan bisnis dan peraturan negara setempat.
Tingkatkan
kesabaran karena komunikasi dengan pengusaha Afrika tidak selancar
seperti berbisnis di Asia. Gunakan terus bantuan KBRI terutama untuk
memahami kebiasaan bisnis setempat, kalau perlu sewa konsultan
profesional untuk lebih mengerti pasar Afrika. Pengusaha Eropa mengenal
tiga P dalam berbisnis di Afrika yaitu pensiveness (berpikir
secara mendalam), patience (kesabaran) dan perseverance (keteguhan
hati). Dalam menghadapi keunikan budaya Afrika ini, inilah tiga kunci
sukses pengusaha Eropa dalam mengeruk keuntungan selama ratusan tahun di
benua hitam.
Untuk
meningkatkan jaringan bisnis, ikuti berbagai pameran internasional di
Afrika. Masukan perusahaan Anda dalam katalog bisnis setempat kalau bisa
juga memuat keterangan lengkap mengenai bidang usaha dan peluang bisnis
yang ditawarkan.
Nah,
itulah sedikit cerita tentang peluang dan kiat bisnis di pasar Afrika.
Dinamika pembangunan di benua ini perlu dipelajari, sebagian memang
masih ada konflik namun di belahan lain menawarkan peluang besar. Ingat
saja, kalau orang alias China sudah sampai disana pasti ada sesuatu yang
menguntungkan.
Pasar potensial di Afrika
Dalam African Competitiveness Report yang diterbitkan
oleh World Economic Forum, terdapat sejumlah negara Afrika yang
mempunyai potensi bagus untuk berbisnis. Untuk tahun 2009, peringkat
daya saing negara-negara Afrika adalah : 1.Tunisia,
2.Afrika Selatan, 3. Botswana, 4. Mauritius, 5. Maroko, 6. Namibia, 7.
Mesir, 8. Gambia, 9. Kenya, 10. Nigeria.
Laporan
tersebut memuat tingkat daya saing negara-negara di Afrika berdasarkan
estimasi pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan perkembangan pendapatan
perkapita. Peringkat ini juga didasarkan pada karakteristik perekonomian
yang paling terkait dengan dunia bisnis seperti tingkat transparansi
kebijakan nasional, kepemerintahan yang baik, sektor keuangan,
ketersedian angkatan kerja, infrastruktur dan institusi.
|