HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XI APRIL 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 23 August, 2009

 

 

 

INDEKS BERITA

 

PAMERAN THE 3RD WORLD TEA & HOME DECO FAIR 2009

Kimdaejung Convention Center di Korea Selatan akan menyelenggarakan "The 3rd World Tea & Home Deco Fair 2009" pada tanggal 22 - 24 Mei 2009. Penyelenggaraan pameran tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk teh, dan industri terkait lain, membuka peluang perluasan market share industri teh, memperkenalkan dan memperluas budaya minum teh serta meningkatkan tingkat konsumsi minuman teh.

Diperkirakan diikuti sekitar 100 perusahaan dari 7 negara, dengan jumlah booth sebanyak 290 (6,048 m / booth).  

Bagi perusahaan yang berminat untuk berpartisipasi pada pameran tersebut, dapat menghubungi pihak penyelenggara Kimdaejung Convention Center.

Alamat: 151, Sangmupyeonghwa-Gil Seo-gu, Gwangju, 502-828, Korea.
Telp: 82-62-611-2218
Fax : 82-62611-2209.
Website: http://www.teaexpo.or.kr/.
Sumber: BPEN P3WAANZ-PPIE-sdr

 

PAMERAN KOREA AGRICULTURAL MACHINERY INDUSTRY COOPERATION

JS Global Corp. bekerjasama dengan Korea Agricultural Machinery Industry Cooperative (KAMICO) akan menyelenggarakan "Korea Agricultural Machinery Technology Expo 2009" pada tanggal 8 - 10 April 2009, bertempat di Exhibition Hall of Agricultural Machinery (in Agricultural & Fishery  Products Wholesales Market, Iksan City, Korea).

Tujuan penyelenggaraan pameran tersebut adalah menciptakan peluang bisnis bagi usaha kecil dan menengah di wilayah ASEAN serta membantu pelaksanaan business matching dengan perusahaan Korea. 

Disediakan beberapa fasilitas gratis bagi peserta pameran, antara lain:

1. Akomodasi hotel (3 hari 2 malam);
2. Transportasi - penjemputan dari bandara & kegiatan lain;
3. Jasa penerjemah selama pameran;
4. penyusunan pertemuan
one on one business matching dengan pengusaha lokal. 

Bagi perusahaan yang berminat berpartisipasi pada pameran tersebut, dapat langsung menghubungi pihak penyelenggara yaitu :

JS Global Corp.
Alamat: 1806 Garden Tower B/D. Boon I-Dong,
Gngbuk-Gu, Seoul, South Korea.
Telp:82-2-999-1548
Fax: 82-2-999-4096.
Website: http://www.kamico.or.kr.
Sumber: BPEN P3WAANZ-PPIE-sdr

 

PAMERAN CAIRO INTERNATIONAL FAIR 2009

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Departemen Perdagangan bekerjasama dengan KBRI di Kairo berpartisipasi pada Cairo International Fair 2009 yang dilaksanakan pada tanggal 18 - 27 Maret 2009 di arena pameran Nasr City Kairo Mesir. Pameran Cairo International Fair 2009 merupakan agenda tetap pameran yang diselenggarakan oleh General Organization for International Exhubition & Fairs (GOEIF) dan diselenggarakan setiap tahun dan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke 42 kalinya.

Bachrul Chairi, Kepala BPEN mengatakan partisipasi Indonesia pada pameran ini untuk meningkatkan ekspor non migas Indonesia ke pasar non tradisional khususnya Mesir dan kawasan Timur Tengah dan Afrika, untuk mengurangi ketergantungan pasar ekspor ke pasar tradisional seperti USA, Eropa Barat dan Jepang sekaligus mempererat kerjasama bilateral perdagangan dan investasi. Mesir memiliki letak greografis yang strategis dan dapat dijadikan entry point bagi komoditi ekspor Indonesia memasuki pasar wilayah Afrika dan Timur Tengah, Afrika Timur khususnya negara-negara yang tergabung dalam COMESA (Libya, Madagaskar, Zimbabwe, Mauritius, Kenya dll)..

Pameran ini merupakan pameran terbesar di Mesir, yang dikunjungi kurang lebih 26.000 orang yang terdiri dari 19.000 importir dan 7.000 pengunjung umum. Pengusaha Indonesia yang ikut dalam pameran tersebut sebanyak 11 perusahaan yaitu PT. Mustika Ratu (herbal, spa Product dan perawatan kulit), PT. Sinar Kemuliaan Utama (sabun kesehatan), PT. Rasdi (rempah-rempah), Handy Hartono (pakaian jadi fashion & kelengkapannya), Tanty &Co (kerajinan) serta Dinas Perindag Propinsi Riau (papper dan herbal) dan Dinas Perindag Kalimantan Timur (CPO, handicraft dan produk kayu).

Sebagai indikasi besarnya minat pengusaha Mesir terhadap komoditi ekspor Indonesia pada Trade Expo Indonesia (TEI) tahun 2008 yang lalu Mesir menepati urutan pertama sebagai pembeli pasar non tradisional dengan nilai transaksi sebesar US$ 28,47 juta, khususnya terhadap komoditi seperti palm oil, TPT, paper & paper products, peralatan & komponen electric, medical herb, karet, kendaraan bermotor dan produk hasil pertanian.

Sumber: BPEN

 

Minggu ke-4 Desember 2008

 

Indonesian Expo di Mumbai, 6-8 Nopember 2009

Untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke India dengan memperkenalkan produk-produk unggulan kita di pasar India, Konsulat Jenderal RI Mumbai akan mengadakan 2nd Indonesian Expo di gedung World Trade Center Mumbai pada tanggal 6 - 8 nopember 2009. Pameran ini merupakan kelanjutan dari Indonesian Expo 2007.

Pameran ini diharapkan dapat menjadi wahana strategis bagai kalangan swasta kedua negara untuk meningkatkan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi. Produk yang akan dipamerkan dalam pameran ini adalah komoditi yang mempunyai daya saing tinggi di pasar India yaitu : mebel, produk dekoratif, kerajinan, batik, pakaian jadi, produk kulit, alas kaki, mainan anak2, produk kecantikan/herbal, produk makanan & minuman dan perlengkapan rumah tangga.

Dalam pelaksanaan pameran ini, KJRI Mumbai akan bekerjasama dengan Departemen Perdagangan, BKPM, Depbudpar serta Pemerintah Daerah Yogyakarta.(Laporan KJRI Mumbai)

 

Pameran makanan Indonesia di Filipina

Konsulat Jenderal RI di Davao City, Filipina, mengadakan pameran makanan Indonesia di sebuah hotel yaitu hotel Marcopolo selama 1,5 bulan sejak 16 Januari 2009. Restoran dan cafe hotel tersebut akan mempunyai menu masakan Indonesia setiap hari seperti rendang Padang, soto ayam, gado-gado,mi goreng, opor ayam, martabak, es cendul, bajigur dan lainnya yang disajikan bergantian. Tamu hotel terkemuka di kota Davao itu tidak hanya menikmati masakan Indonesia, namun sambil makan mereka menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian Indonesia yang ditampilkan di cafe itu oleh KJRI Davao. Sewaktu meninggalkan cafe mereka pun dihadiahi berbagai cenderamata dan brosur mengenai obyek wisata Indonesia.

Kerjasama KJRI Davao City dengan pihak hotel tersebut sangat efektif dalam mengenalkan budaya dan promosi pariwisata Indonesia.

 

Indonesian Festival di Persatuan Emirat Arab, April 2009

Kedutaan Besar RI Abu Dhabi bekerjasama dengan sebuah jaringan supermarket terkemuka di kawasan Teluk yaitu Lulul Hypermarket akan mengadakan kegiatan promosi produk Indonesia yang dinamakan Indonesian Festival. Bentuk kegiatan ini adalah promosi sejumlah produk Indonesia yaitu garmen, buah-buahan, produk makanan, minyak goreng, kopi,teh, kerupuk, alas kaki, elektronika, kerajinan tangan, produk herbal, rempah-rempah, peralatan rumah tangga dan lain lain di 12 outlet Lulu Hypermarket di seluruh kawasan Persatuan Emirat Arab selama 11 hari.

Selain itu juga disediakan food corner yang menjual dan mendemonstrasikan pembuatan makanan Indonesia. Kegiatan ini disertai oleh pertunjukan kesenian Indonesia setiap akhir pekan.

KBRI Abu Dhabi bekerjasama dengan Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) akan menyiapkan sekitar 70 perusahaan menengah yang berorientasi ekspor dibawah binaan BPEN untuk kemudian dilakukan seleksi oleh pihak Lulu di Jakarta.

 

Pameran Vietnam Expo 2009 di Hanoi

Kedutaan Besar RI di Hanoi, Vietnam, menerima informasi dari Vietnam National Trade Fair & Advertising Company (Vinexad) mengenai rencana penyelenggaraan pameran perdagangan internasional Vietnam Expo 2009 pada tanggal 8-11 April 2009. Pameran ini merupakan ajang promosi perdagangan terbesar di Vietnam yang diadakan setiap tahun.

Produk yang akan dipamerkan dalam pameran ini adalah produk pertanian, makanan, mebel, kerajinan tangan, kesenian, elektronik, telekomunikasi, mesin, perlengkapan konstruksi dan jasa. Keterangan lebih mengenai pameran, dapat menghubungi :

KBRI Hanoi, Telp. 84-4-38253353, 38257969Faks. 84-4-38259274

Contact person: Sdr.Dinda (Pelaksana Fungsi Ekonomi)

Email : dd7dm@yahoo.com

 

 

Promosi dagang internasional di Madagaskar

Foire International de Madagascar (FIM) adalah pameran dagang internasional yang diadakan sejak tahun 2007 oleh pemerintah setempat. FIM tahun 2008 diikuti oleh 12 negara seperti Jerman, Swiss, Kanada, Jepang, RRC dan 6 negara lainnya. Keterngan lengkap mengenai pameran ini dapat dilihat di www.foire-de-madagascar.mfg (KBRI Antananarivo)

 

 

 

Pameran internasional di Addis Ababa, Feb 2009

KBRI Addis Ababa menerima undangan dari KADIN setempat agar pengusaha Indonesia ikut serta dalam pameran 13th Addis Chamber International Trade Fair. Pameran ini merupakan ajang promosi internasional tahunan terbesar di Ethiopia. Keikut-sertaan Indonesia dalam pameran tahun sebelumnya biasanya diwakili oleh KBRI Addis Ababa dengan menampilkan produk-produk yang dikirimkan oleh pengusaha Indonesia. Untuk tahun 2009, KBRI Addis Ababa telah menyewa sebuah ruang pamer (booth) seluas 18m2 untuk mempromoosikan produk2 Indonesia. Bagi pengusaha yang ikut dengan mengirimkan wakil dan produk atau hanya produknya saja untuk dipromosikan di pameran ini harap menghubungi KBRI Addis Ababa. Untuk perusahaan yang mengirimkan staf ke pameran ini, KBRI Addis Ababa akan membantu pengurusan akomodasi dan transportasi lokal selama pameran berlangsung. KBRI Addis Ababa: telp. 251-1-13-712104, faks: 251-1-13-710873.

 

Partisipasi Indonesia dalam trade expo di Vietnam

Sebuah pameran dagang internasional yaitu the 6th Vietnam International Trade Fair 2008 telah diselenggarakan di Ho Chi Minh City (HCMC) tanggal 3-7 Desember 2008. Pameran ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai negara termasuk Indonesia. Stand Indonesia diramaikan oleh wakil BKPM & PKUD propinsi DKI Jakarta, Dinas Peridag propinsi Sulbar, Dinas KUKM propinsi DKI Jakarta dan KJRI HCMC. Dinas Perindag Prop. Sulbar menampilkan beberapa produk unggulan seperti kakao, rumput laut, cengkeh dan kemiri. Sementara itu Dinas KUKM pemrov DKI Jakarta mempromosikan produk UKM antara lain gula kelapa produksi CV. Diva Maju Bersama dari Tangerang, tas anyaman (Tasikmalaya), anyam-anyaman (Lombok) dan produk kerajinan UKM lainnya. KJRI HCMC ikut mempromosikan beberapa produk susu instant dan produk makanan seperti indomie. (Laporan KJRI HCMC)

 

 

 

 

Pameran internasional di Aljazair

Dalam upaya mencari peluang bagi produk Indonesia, Duta Besar RI di Alger telah mengadakan pembicaraan dengan sebuah panitia pameran dagang internasional di Aljazair. Pameran yang dikenal dengan nama SAFEX merupakan pameran internasional tahunan. Pihak SAFEX menyatakan bahwa panitia akan memberikan berbagai fasilitas bagi peserta pameran Indonesia dan menunggu konfirmasi tertulis keikut-sertaan pengusaha Indonesia.

Pameran SAFEX yang akan datang diadakan bulan Juni 2009. Untuk mengetahui peluang pasar Aljazair, KBRI Alger merencanakan untuk mengatur pertemuan antara pihak SAFEX dengan instansi terkait termasuk pengusaha di Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai pameran ini silahkan hubungi KBRI Alger : Telp. 213-21-6949/694921  Fax. 213-21-694910 email: kbrialger@lycos.com

  

 

Jadwal pameran internasional di Karachi

Konsulat Jenderal RI di Karachi menerima beberapa jadwal pameran yang diselenggarakan di Karachi pada tahun 2009. Pameran-pameran tersebur adalah:

 

  1. 3rd Food, Agriculture & Livestock Asia 2009 International Exhibition & Conference “Food, Agro Technology & Machinery Show” tanggal 11-12 Maret 2009 di Karachi Expo Centre

  2. 5th Auto & Transport Asia 2009 International Exhibition & Conference tanggal 28-30 Maret 2009 di Karachi Expo Centre

  3. 6th Engineering Asia 2009 International Exhibition & Conference tanggal 28-30 Maret 2009 di Karachi Expo Centre

  4. The Annual Plastic, Packaging, Print Technology & Food Equipment Show tanggal 28-30 Maret 2009 di Karachi Expo Centre

  5. 5th Property Asia 2009 International Exhibition & Conference in conjunction with 5th Build Asia 2009 International Exhibition & Conference tanggal 1-3 Agustus 2009

 

 

India International Trade Fair 2008

Sejumlah pengusaha UKM Indonesia dan KADIN propinsi Jawa Barat serta wakil Departemen Pertanian RI telah berpartisipasi dalam pameran India International Trade Fair 2008 pada bulan Oktober 2008. Pameran ini merupakan salah satu pameran tahunan yang diadakan di New Delhi, India. Laporan Kedutaan Besar RI di New Delhi menyatakan bahwa pameran ini merupakan ajang promosi produk India serta sejumlah negara asing. Pameran ini dimanfaatkan oleh India untuk mempererat kerjasama dengan negara-negara Asia lainnya terutama ASEAN dalam menyambut perdagangan bebas ASEAN.

Menurut pengamatan KBRI New Delhi, pameran ini cukup potensial untuk mempromosikan produk Indonesia. Transaksi yang diperoleh stan Indonesia dalam pameran cukup besar dan banyak permintaan atas produk Indonesia lainnya.

 

 

Ekspor cerutu asal Yogya ke Lebanon

 Kedutaan Besar RI Beirut menginformasikan bahwa sebuah perusahaan di Yogya yaitu PD. Taru Martani telah mengekspor beberapa container cerutu ke Labanon, Turki dan Jerman. Ekspansi ini dilakukan setelah perusahaan itu mendapat suntikan dana dari investor Lebanon. Sang investor tidak hanya menggelontorkan uang namun juga memperbaiki kualitas mutu cerutu sehingga sesuai dengan permintaan pasar Lebanon.

Pihak PD Taru Martani telah menerima sejumlah pesanan dalam jumlah besar dari pembeli Turki yaitu sekitar 13 kontainer.

Pihak pembeli dari Turki memuji kualitas dan rasa cerutu produk PD Taru Martani  yang bermutu tinggi. Daya saing di pasar internasional pun tinggi karena harganya yang cenderung lebih murah.

 

 

 

 

 

 

Minggu ke-2 September 2008

International Travel Expo di Ho Chi Minh City

Tanggal 12 – 14 Sepember 2008 telah diadakan sebuah pameran pariwisata internasional di kota Ho Chi Minh, Vietnam. Pameran ini diadakan oleh pemerintah Vietnam, Laos dan Kamboja.

Pameran yang bertema “Mesmerizing Charms of Cambodia, Laos, Vietnam: Three countries One destination” ini diikuti oleh 210 peserta dari 13 negara terutama ASEAN. Walaupun mempunyai tema utama mengenai promosi pariwisata namun dalam pameran ini juga diadakan pameran dagang, budaya dan investasi. Selama pameran juga diadakan temu usaha antara peserta dan pengunjung.

KJRI Ho Chi Minh City (HCMC) mengisi sebuah booth karena tidak ada perusahaan Indonesia yang hadir dalam pameran ini. Booth KJRI diisi dengan berbagai brosur tujuan wisata di Indonesia serta memberikan keterangan mengenai potensi pariwisata Indonesia kepada para pengunjung pameran. Stand KJRI juga dipenuhi oleh produk kerajinan tangan, lukisan, pakaian daerah serta alunan lagu-lagu daerah. Tercatat lebih dari 200 pengunjung datang ke stand KJRI dan mendapatkan brosur-brosur pariwisata Indonesia.

Menurut pengamatan KJRI HCMC, sudah waktunya bagi pengusaha Indonesia untuk mulai meilirik pasar Vietnam. Pertumbuhan ekonomi yang terus meninggi menjadikan negara ini semakin potensial untuk digarap. Sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina nampak mulai berupaya mencari dan memanfaatkan pasar Vietnam. (Sumber KJRI HCMC)

 

 

Ongwediva Annual Trade Fair (OATF)

OATF adalah salah satu pameran tahunan yang terbesar di Namibia. Pameran itu diselelenggarakan oleh Ongwediva Town Council di kota Ongwediva, Namibia. Sebanyak 486 peserta dari negara tuan rumah dan sebelas negara lainnya ikut dalam pameran ini. Dalam pameran ini Indonesia diwakili oleh Kedutaan Besar RI di Windhoek.

Stand KBRI mempromosikan berbagai produk seperti produk makanan cepat saj, permen, makanan suplemen dan produk perwatan kulit bayi. Selain itu pengunjung juga dipersilahkan untuk mencicipi mi instan dan rokok kretek Indonesia.

Untuk mempromosikan budaya Indonesia, KBRI mendatangkan penari dari Institute Seni Indonesia Yogya untuk mementaskan tarian-tarian tradisional Indonesia. Pertunjukan itu diliput oleh media setempat serta mewawancarai para penari usai pertunjukan.

Nambia adalah salah satu negara di Afrika yang paling stabil. Walapun jumlah penduduknya sekitar 2 juta jiwa dengan pendapatan perkapita US$ 3.553 dan pertumbuhan ekonomi 4%, negara ini menjadi prospektif bagi negara-negara sekitar terutama di luar Afrika.

Nilai ekspor Indonesia ke Namibia pada tahun 2007 mencapai US$ 6,8 juta dan aktifitas perdagangan Indonesia dengan Namibia masih menunjukkan surplus bagi Indonesia.

Melihat potensi yang dimiliki Namibia ditambah Angola (sebagai negara akreditasi rangkapan KBRI Windhoek) dengan jumlah penduduk sebesar 13 juta jiwa yang memiliki pendapatan perkapita US$ 5.600 (2007) maka pasar ini cukup potensial untuk dimanfaatkan.

Produk Indonesia yang dapat masuk ke pasar Namibia adalah Indomie, sepatu olah raga, produk karet dan turunannya (ban mobil, kondom), semen, kertas foto kopi, ubin keramik, barang pecah balah, berbagai produk pembersih, minuman kesehatan, mainan anak2, alat2 pertanian, pompa air dan generator listrik. (Sumber: KBRI Windhoek)

 

 

Ramadhan nights di Doha

Qatar Foundation, sebuah yayasan yang didirikan oleh Emir Qatar yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan pembangunan masyarakat, mengundang KBRI Doha untuk berpartisipasi dalam pameran Ramadhan Nights. Kegiatan ini ditujukan bagi negara-negara Muslim untuk memperkenalkan kebudayaan terutama makanan dan kerajinan tangan dalam bulan Ramadhan.

Selain Indonesia, sejumlah negara Islam lainnya ikut memeriahkan acara ini. Stand Indonesia memamerkan beberapa jenis produk kerajinan tangan dan mebel. Selain itu, sejumlah jenis makanan dan minuman khas Indonesia juga disajikan kepada pengunjung untuk dicicipi.

Untuk promosi seni dan budaya, KBRI Doha mendatang sebuah kelompok pencak silat dari Indonesia untuk mempertontonkan kebolehannya dalam pameran ini. Dalam pertunjukan seni, KBRI Doha menampilkan koloborasi angklung dan band.

Kesempatan ini merupakan peluang yang sangat baik untuk lebih memperkenalkan seni budaya Indonesia pada masyarakat setempat. (Sumber KBRI Doha)

 

 

 

 

Minggu ke-2 September 2008

Partisipasi Indonesia dalam pameran dagang di Lebanon

Indonesia dalam hal ini KBRI Beirut telah ikut serta dalam sebuah pameran dagang di Saida, Lebanon. Pameran ini diikuti oleh sekitar 70 peserta dari berbagai perusahaan dan pedagang retail. Stand KBRI Beirut memamerkan berbagai produk mebel, kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, bambu, pelepah pisang, batok kelapa, keramik, bahan makanan serta penyebaran informasi tentang obyek wisata di Indonesia. Informasi yang diberika termasuk peluang kerjasama ekonomi dan investasi serta data perusahaan Indonesia.

Pameran berlangsung selama 11 hari dari tanggal 31 Juli sampai 10 Agustus 2008. Sekitar 600 pengunjung mendatangi stand KBRI Beirut dalam pameran itu

(Sumber: KBRI Beirut)

 

Festival Indonesia di Melbourne

Festival Indonesia (FI) adalah kegiatan promosi produk, budaya, investasi dan parwisata Indonesia yang diadakan setiap tahun di Melbourne, Australia. FI pertama kali diadakan tahun 2005 dan sanggup mendatangkan pengunjung sebanyak 90 ribu orang. Sejak itulah KJRI Melbourne menetapkan bahwa FI akan diadakan setiap tahun. Sampai saat ini, FI menjadi ajang pertemuan dunia usaha Australia dan Indonesia terbesar di Melbourne.

Setiap tahun, sekitar 500 orang pengusaha, seniman dan pihak terkait lainnya dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Melbourne untuk berpartisipasi dalam FI.

Untuk tahun 2008, kegiatan FI terdiri dari Trade and Business Expo, Food Fair, Cultural Programmes and Investment Forum. Kegiatan promosi yang berlangsung pada tanggal 29-31 Agustus 2008 ini delegasi terbanyak datang dari propinsi Jawa barat yaitu sebanyak 150 orang. Propinsi lainnya yang mengirimkan wakilnya adalah Nusa tenggara barat, Bali Kalimantan barat dan Sumateran barat. Sedangkan wakil instansi terkait lainnya adalah dari kantor menteri pemuda dan olah raga, BKPM, kantor menteri kebudayaan dan pariwisata, departemen perdagangan dan himpunan pengusaha muda Indonesia.

Dalam kesempatan pameran ini, Indonesia dalam hal ini Garuda Indonesia dan ITPC Sydney untuk berpartisipasi khususnya dalam rangka mempromosi penyelenggaraan pameran Trade Export Indonesia yang akan diadakan Oktober mendatang.

Konsul Jenderal RI Melbourne menyatakan bahwa FI telah menjadi kekuatan yang terpadu dalam peningkatan hubungan bilateral Indonesia – Australia khususnya untuk level bawah (grassroots).

 

Pengusaha mebel Indonesia ikut pameran di Shenzen

Delapan perusahaan mebel Indonesia yang tergabung dalam AMINDO serta Ditjen IKM Departemen Perindustrian telah ikut dalam pameran “The 23rd Shenzen International Furniture Exhibition” (SIFE) pada tanggal 19 – 22 Agustus 2008. SIFE merupakan pameran tahunan terbesar di RRC untuk produk mebel.

 

Pameran sebelumnya hanya diikuti oleh peserta domestik RRC namun sejak tiga tahun lalu, dibuka kesempatan bagi peserta asing. Namun SIFE 2008 ini, Indonesia merupakan satu-satunya peserta asing yang ikut dalam pameran.

 

Berikut ini adalah pengamatan KJRI Ghuangzou mengenai potensi pasar mebel Tiongkok:

  • Untuk pasar mebel Tiongkok, kategori komoditas didasarkan pada fungsi, yaitu mebel untuk perumahan, perhotelan, perkantoran dan dapur. Upholstered furniture dan mebel dapur mendominasi pasar Tiongkok dengan pangsa pasar sekitar 14,5%. Jenis mebel lainnya yang mendominasi pasar adalah dining furniture dan bedroom furniture.

  • Pangsa pasar mebel Tiongkok sangat tinggi. Rata-rata setiap tahunnya terdapat sekitar 12 milyar meter persegi konstruksi bangunan selesai dikerjakan di Tiongkok. Konstruksi untuk rumah tinggal di wilayah perkotaan setiap tahunnya mencapai 500 juta meter persegi. Dengan demikian mebel rumah tinggal mendominasi konsumsi atas produk mebel nasional.

  • Berdasarkan sensus pemerintah tahun 2005, diseluruh 31 propinsi di Tiongkok tercatat 348,5 juta keluarga. Bila diasumsikan setiap leluarga mengganti mebelnya sekali setiap 10 tahun, maka setiap tahunnya terdapat 3,5 juta keluarga yang mengganti mebelnya. Apabila setiap keluarga mengeluarkan US$ 100 saja setiap tahun untuk mengganti mebelnya, maka terdapat pangsa pasar senilai US$ 348.5 juta setiap tahun.

  • Tidak ada pemasok dominan domestik untuk pasar mebel Tiongkok, rata-rata pemasok domestik menguasai sekitar 1% pangsa pasar mebel Tiongkok. Ini membuka peluang untuk pemasok dari luar negeri. Yang perlu diperhatikan adalah perbedaan selera masing propinsi di Tiongkok. Beijing, Shanghai dan Ghuangzou merupakan pasar utama high-end untuk produk mebel impor. Dengan demikian harga mungkin bukanlah pertimbangan utama melainkan desain dan kualitas produk.

  • Menurut penelitian sebuah majalah furniture di Tiongkok, sekitar 80% responden Tiongkok memilih fungsi sebagai pertimbangan utama, 52% memasukan harga sebagai dasar pilihannya, 60% memilih mebel yang ramah lingkungan, 48% memilih mebel dari bahan kayu dan 38% memilih mebel dari bahan kulit, gelas atau kain.

(Sumber: KJRI Ghuangzou)

 

Indonesia mengikuti pameran makanan halal di Brunei Darussalam

Tanggal 14-17 Agustus 2008 telah diselanggarakan “International Halal Product Expo” di Bandar Seri Begawan. Pameran ini diikuti oleh 170 perusahaan bahan makanan, 121 diantaranya adalah perusahaan asing dari 13 negara termasuk Indonesia.

Produk halal yang dipamerkan adalah produk minuman, kosmetik, obat-obatan, peralatan kesehatan, bahan kimia, busana muslim, kerajinan tangan Islami serta produk jasa keuangan Islami seperti asuransi dan investasi.

Sebanyak delapan instansi pemerintah dan pengusaha Indonesia ikut dalam pameran tersebut, yaitu Dinas Perindag Agro Jawa Barat, Dinas Perindag Bandung, Dinas Perindag Kabupaten Indramayu, Dinas Perinduag Kabupaten Tasikmalaya, NFR Gems, PT. Deka Adiguna, ART2DAY dan JAF Jewelry. Produk Indonesia yang dipamerkan adalah kue kering, makanan instant, peralatan rumah dan kantor, perhiasan, batik dan busana muslim.

Produk Indonesia mendapat tanggapan cukup baik dari pasar Brunei terutama produk kue kering yang mendapat trial order dari pengusaha Brunei Darussalam dan Malaysia. Pameran ini perhatian cukup besar dari pasar Brunei dan negara Islam lainnya. Peluang tersebut kiranya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengusaha Indonesia untuk memasuki pasar Brunei dan negara muslim lainnya.(Sumber: KBRI Bandar Seri Begawan)

 

 

 

 

 

Minggu ke-2 Agustus 2008

Grup Samsung kembangkan biodiesel di Indonesia

Grup Samsung, perusahaan terbesar Korea Selatan, berencana mengembangkan suatu perkebunan kelapa sawit seluas 25,000-hektar dan penyulingan biodiesel di provinsi Riau dengan nilai investasi mencapai Rp 15 triliun ($1.63 milyar dolar AS). The Jakarta Post melaporkan (07/22/2008)

Ketua Tim Nasional Pengembangan Biofuel Al Hilal Hamdi menyatakan pada hari Senin, perusahaan itu akan mengeluarkan dana sebesar Rp 1.5 triliun untuk membeli tanah dan membangun pabriknya.

"Mereka membeli tanah baru-baru ini dan itu merupakan investasi awal. Jumlah keseluruhan investasinya akan meningkat sampai 10 kali," ujarnya, dan menolak menjelaskan dimana lokasi tanah dimaksud.

Dikatakannya pabrik Samsung diharapkan akan mulai dibangun tahun depan dan memproduksi 50,000 kiloliter biodiesel per tahun.

"Samsung adalah salah satu dari banyak investor yang tertarik untuk mengambil bagian pengembangan proyek biodiesel negeri ini di Sumatra," ujarnya.

Bagaimanapun, Kang Hyonghyun dari Samsung C&T Corporation yang bertugas di Indonesia menyatakan dia belum diberitahu tentang rencana tersebut.

Pada bulan Maret 2008, investasi pengembangan energi-bio di negeri ini telah mencapai Rp 31.47 triliun.

Untuk mengurangi ketergantungan bahan baker fossil, termasuk minyak, pemerintah pada bulan Oktober akan menerapkan suatu peraturan baru yang mengharuskan paling sedikit 2.5 persen dari Bahan Bakar yang dikonsumsi industri, harus menggunakan biofuel.

Undang-undang itu pertamanya kali akan diberlakukan hanya di Jawa dan Sumatra.

Indonesia memproduksi dua macam biofuel -- bioethanol, yang terbuat dari singkong/cassava, tebu/sugarcane dan gandum/sorghum; dan biodiesel yang dibuat dari tanaman jarak dan minyak mentah sawit.

Produksi biofuel Indonesia pertahunnya saat ini adalah 2 juta kiloliter dan diharapkan bertumbuh menjadi 5 juta kiloliter by 2010.

Kapasitas produksi bioethanol negeri ini mencapai 192,349 kiloliter pertahunnya pada ujung akhir pertengahan tahun. Gambaran ini diharapkan akan makin meningkat menjadi 4 juta kiloliter pada tahun 2010.

Kegiatan bisnis Samsung meliputi elektronik, rekayasa, konstruksi dan pembuatan kapal. (BKPM)

 

 

14 pembuat sepatu Taiwan cari kemungkinan investasi in Jakarta, Surabaya

Empat belas investor dari Cina Taipei akan segera menaksir peluang untuk membangun pabrik-pabrik sepatu di Indonesia. Antara melaporkan (08/13/2008 ).

Diantara para investor itu, tiga diantaranya serius membuat pabrik dengan kapasitas lebih dari 180 ribu pasang per bulan.

"Ke-14 investor itu akan datang ke Jakarta dan Surabaya untuk menaksir dan menilai kemungkinan investasi di negeri ini," Ketua Asosiasi Pembuat Sepatu the Indonesia (Aprisindo), Eddy Widjanarko mengatakan kepada para wartawan pada Konferensi International Footwear yang ke-27 di Jakarta pada hari Selasa.

Dia optimis bahwa jika rencana tersebut terlaksana, target ekspor sebesar US$1.9 milyar dolar tahun ini akan tercapai.

"Tahun lalu kami telah menargetkan sebesar US$1.6 milyar ekspor, dan tahun ini akami ingin meningkatkan ekspor denan 20 persen menjadi US$1.9 milyar. Jika investasi-investasi ini terlaksana kita dapat memenuhi target ini," ujar Eddy.

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M. Luthfi menyatakan bahwa para investor ini dapat membuat pabriknya pada wilayah khusus yang dikhususkan untuk manufaktur sepatu.

"Mereka meminta lahan seluas 400 hektar dan kami yakin kita dapat menyiapkan buat mereka lahan yang mereka perlukan di Jawa, namun kami belum pasti dimana. Kita akan bicarakan ini minggu depan," ujar Direktur Logam , Mesinan, Textile dan Industri, Anshari Bukhari.

"Jika kita tidak dapat menemukan lahan yang mereka butuhkan, kita dapat gunakan lahan yang ada dan telah direncanakan khusus untuk manufaktur sepatu."

Menurut Bukhari Indonesia telah ditargetkan oleh beberapa para investor asing karena menurut mereka Indonesia lebih stabil dibandingkan negara-negara lain di kawasan ini. (BKPM)

 

 


Konser “Indonesia Pusaka” di Arts Centre of Victoria, Melbourne

Standing ovation oleh penonton yang hampir memenuhi tempat berkapasitas 350 orang merupakan bentuk apresiasi tertinggi suksesnya konser Kwartet Punakawan pimpinan Jaya Suprana (piano),  diawaki oleh Jubing Kristianto (gitar), Heru Kusnadi (bass gitar) dan Junaedi Musliman (percussion). Para penonton, mayoritas  orang Australia, harus rela merogoh kocek 39 – 49 dollar Australia.

Konser dengan tajuk “Indonesia Pusaka” tersebut digelar di Fairfax Studio, Arts Centre of Victoria, pada hari Sabtu, 9 Agustus 2008 lalu. Gedung ini dapat disejajarkan dengan gedung Esplanade di Singapura, Urayaru Cultural Hall di Jepang dan  Opera House di Sydney. Selama 3 tahun kiprahnya, kwartet ini pernah menggelar konser di berbagai ikon tempat pagelaran musik tingkat dunia.

Bertindak sebagai opening performance selama 20 menit, kelompok pemusik Fine Blue Thread pimpinan Ria Soemardjo, musisi Australia keturunan Indonesia.

Kwartet Punakawan mengawalinya penampilannya dengan menyuguhkan video lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan secara individual oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berbagai tokoh politik nasional, seniman, dan bahkan tukang becak.

Selama durasi 1,5 jam, para penonton dibawa berpetualang menjelajahi indah dan eksotiknya musik daerah Indonesia mulai dari Aceh, Batak, Padang, Ambon, Maluku, Papua,  Sunda dan Betawi. Sebagai latar, ditampilkan pula berbagai foto keindahan panorama Indonesia. Aransemen lagu yang disajikan pun sangat beragam dengan nuansa klasik, jazz, pop, blues, etnik sampai dengan keroncong dan dangdut, serta berbagai nuansa musik Persia, India dan China.

Konser ini dapat terselenggara berkat kerjasama KJRI Melbourne, dengan International Brain Academy Australia, manajemen program Mix It Up – Arts Centre of Victoria dan Multicultural Arts of Victoria dimana pengaturannya telah dipersiapkan sejak akhir tahun 2007.

Menurut Budiarman Bahar, Konjen RI di Melbourne, konser ini merupakan upaya promosi kekayaan budaya Indonesia di Australia sekaligus mempererat hubungan masyarakat kedua negara. Eratnya hubungan pada tingkat people to people inilah yang menjadi fondasi  kuatnya hubungan Indonesia-Australia.

Abelian Yodha, staf KJRI Melbourne dan project officer acara ini,  mengarisbawahi kehadiran para penonton yang mayoritas adalah masyarakat Australia, menunjukkan tingginya apresiasi mereka terhadap musik Indonesia. Apalagi mengingat konser ini digelar di salah satu tempat paling prestigious di Australia, Arts Centre of Victoria. Setelah menyelesaikan konsernya di Melbourne, Kwartet Punakawan melanjutkan penampilannya di Sydney Opera House pada hari Minggu (10/8). (Sumber : KJRI Melbourne)

 

 

Indonesian Expo di Moskow: Sarana Rekreasi dan Interaksi Pengusaha

Menjelang perayaan hari nasional Indonesia 17 Agustus 2008, KBRI Moskow disibukkan oleh rencana besar yang akan digelar pada minggu ketiga September 2008, yakni Indonesian Expo 2008. Kegiatan ini termasuk besar karena melibatkan berbagai kalangan baik di Indonesia maupun di Rusia. Diharapkan ribuan pengusaha dan masyarakat Indonesia-Rusia akan terlibat.

Sesuai dengan namanya, aktivitas Expo akan mencakup tiga bidang, yakni perdagangan, pariwisata dan investasi. Selain itu akan diadakan juga Indonesian Charity Bazaar dan aneka cultural performances. Rangkaian acara tersebut akan berlangsung di Indonesian Embassy’s compound antara 20-26 September 2008.

Sejauh ini sudah terdapat puluhan pengusaha nasional yang telah menyatakan keiktutsertaannya yang mencakup bidang mebel, kerajinan tangan, kopi, herbal, garmen dan pariwisata. Sebagian barang mereka sudah dalam posisi kirim ke Moskow. KBRI Moskow masih terus mengharapkan tambahan kehadiran pengusaha nasional dalam upaya penetrasi pasar Rusia yang sedang gemuk sekarang ini.

Khusus untuk investment day yang akan berlangsung pada tanggal 26-27 September 2008, para pejabat dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jakarta telah menyatakan kesediaannya untuk hadir. Bahkan beberapa daerah di Indonesia yang memiliki proyek-proyek menarik juga telah mempersiapkan diri. Dari pihak Rusia sendiri, Kadin pusat dan daerah sudah siap untuk saling berkolaborasi dalam kegiatan dimaksud.

Menurut Dubes RI Hamid Awaluddin, Indonesian Expo adalah jawaban atas berbagai peluang yang ada di kedua belah pihak, baik di Indonesia maupun di Rusia. Dengan bertemunya para pengusaha dan buyers, maka peningkatan kegiatan ekonomi bilateral akan bisa ditingkatkan. “Optimalisasi hubungan di bidang ekonomi sangat penting untuk dilakukan secara sinergis dan berkesinambungan agar kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan,” katanya.

Khusus untuk turisme, akan didatangkan beberapa tour operator ternama dari Indonesia untuk menyampaikan aneka kegiatan turistik Indonesia yang sedang disukai oleh Masyarakat Rusia. Sangat diharapkan, destinasi turis Rusia tidak hanya Bali. “Mereka harus mengenal daerah-daerah lain yang eksotik, seperti di Jawa Barat, Sumatra dan Sulawesi,” kata Dubes. Diyakini, begitu dikenal maka turis Rusia akan segera mengalir ke daerah-daerah (Sumber : KBRI Moskow).

 

Minggu ke-1 Agustus 2008

Partisipasi BPEN dalam Expo Sydney 2008

Dalam upaya lebih meningkatkan ekspor produk non migas Indonesia ke pasar internasional khususnya ke pasar Australia, BPEN Departemen Perdagangan akan mendukung Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney dengan mengkoordinir pengusaha/eksportir Indonesia untuk mengikuti Indonesian Expo Sydney pada tanggal 26 – 28 Agustus 2008 bertempat di Overseas Passenger Terminal (OPT), Circular Quay, Sydney Australia.

Diharapkan dengan turut serta pada  pameran ini  akan mampu meningkatkan ekspor produk-produk dari perusahaan UKM maupun perusahaan berskala besar kepasar internasional khususnya ke pasar Australia,  yang selama ini merupakan salah satu pasar yang potensial bagi produk-produk Indonesia seperti handicrafts furniture, makanan olahan, footwear, garment dan sebagainya.

Indonesian Expo Sydney 2008 akan diikuti sebanyak 65 perusahaan/peserta terdiri dari para pengusaha/eksportir dan instansi pemerintah (Disperindag) dengan menampilkan berbagai produk furniture, houseware, handicrafts, jewelry, batiks/textile, food and beverages dan footwear/leather products dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Bandung, Jogyakarta, Surabaya, Palembang dan  Semarang.

Terdapat 3 (tiga) kegiatan utama yaitu pameran/display, pertemuan bisnis/business matching dalam bentuk one on one meeting dan penjualan retail yang akan berlangsung selama pameran. Kegiatan Public Relation berupa promosi dan sosialisasi pameran bagi masyarakat dan buyer di Australia telah dimulai sejak April 2008 melalui pembuatan website Indonesian Expo, pemasangan iklan diberbagai media seperti TV lokal dan Surat kabar serta pembuatan brosur dan flyer untuk disebarluaskan ke buyer.

Pameran ini lebih memfokuskan pada sektor perdagangan  bertujuan utama untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan Australia, serta meningkatkan pangsa pasar ekspor Indonesia di Australia. Sebagaimana diketahui saat ini, Indoneaia merupakan mitra dagang ke 13 bagi Australia dan merupakan eksportir terbesar ke 7 diantara 10 negara di kawasan Asia Timur yaitu China, Jepang, Singapura, Thailand, Malaysia dan Korea Selatan.

Selama tiga tahun terakhir surplus perdagangan Indonesia dengan Australia masih menunjukkan peningkatan bagi Indonesia. Pada tahun 2005 ekspor Indonesia ke Australia  tercatat A$ 3,654 milyar dan impor  A$ 3,603 milyar, tahun 2006 ekspor A$ 4,545 dan impor  A$ 4,417 milar da pada tahun 2007 ekspor sebesar A$ 4,883 milar dan impor A$ 3,908 milar. Produk ekspor utama ke Australia selama ini yaitu: chemical products, wood products, paper product dan paper boards, sedangkan impor utama dari Australia adalah wheat and sugar, live animals, aluminium, cotton dan copper.

Peluang untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Australia masih tetap terbuka khususnya untuk produk-produk  handicrafts, giftware, homeware, jewelry, food products, footwear, leather product, rubber products dll. Keunggulan dan daya saing Indonesia untuk produk-produk tersebut terutama karena variasi produk yang unik, memiliki design berbasis kekayaan budaya, harga yang cukup kompetitif dan tersedianya  bahan baku produk.(Wd,Ptr). 

 

 

Perdagangan bilateral RI  - Hongkong

Hong Kong menganut sistem ekonomi pasar dimana campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi diupayakan seminimal mungkin dan kebebasan swasta dalam berbisnis luas sekali. Seluruh kebutuhan penduduk Hong Kong berasal dari impor. Pada tahun 2007 27,08% dari total impor Hong Kong atau senilai US$87,24 miliar merupakan retained import. Pesaing Indonesia dalam memasuki pasar Hong Kong adalah Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam.

Nilai transaksi perdagangan Hong Kong pada tahun 2007 mencapai US$712,25 miliar dengan pertumbuhan sebesar 9,77% dibanding tahun sebelumnya. Defisit neraca perdagangan tahun 2007 mencapai 30,06% yaitu 23,14 miliar. Ini karena impor Hong Kong naik 10.31% dibanding tahun 2006 sedangkan ekspor hanya naik 9,20% Sebaliknya, neraca perdagangan jasa dari tahun ke tahun menunjukkan surplus.
Nilai surplus perdagangan jasa tahun 2005-2007 lebih besar dari nilai defisit perdagangan barang, sehingga neraca berjalan menjadi surplus bagi Hong Kong.

Pada tahun 2007, perkembangan perdagangan Hong Kong - Indonesia mencapai US$3,89 miliar. Ekspor Hong Kong ke Indonesia meningkat sebesar 27,31% menjadi US$1,81 miliar. Komoditas utama yang diekspor Hong Kong ke Indonesia antara lain benang tenun, kain tekstil dan hasilnya; peralatan telekomunikasi dan rekaman; mesin listrik dan peralatannya, tas dan perlengkapannya, serta hasil manufaktur lain.

Impor Hong Kong dari Indonesia senilai US$1,49 miliar. Laju pertumbuhan ekspor Hong Kong ke Indonesia lebih cepat dibandingkan pertumbuhan Impor Hong Kong dari Indonesia. Faktor penyebab melambatnya pertumbuhan Impor Hong Kong dari Indonesia karena menurunnya permintaan beberapa produk andalan seperti benang tenun, kain tekstil dan hasilnya, kertas, kertas koran dan olahan, kimia organis, peralatan kantor bukan kertas, olahan bahan plastik. Sementara produk yang menunjukkan pertumbuhan ekspor yang cukup baik adalah batu bara, elektronika dan alat perekam, makanan olahan, ikan, kerang-kerangan, moluska dan olahan termasuk udang, logam non besi, miscelaneous manufactures, kulit & produk kulit, biji logam dan sisa-sisanya. Pertumbuhan ekonomi Hong Kong mengandalkan jasa perdagangan dan logistik, 80% lebih dari impornya diekspor lagi ke berbagai negara.

Dari aspek perekonomian, Gross Domestik Product (GDP) Hong Kong tumbuh secara signifikan dari tahun ke tahun. Tahun 2006 US$ 188,76 miliar dan meningkat menjadi US$ 206,74 miliar pada tahun 2007. Sementara perkembangan investasi yang terus meningkat, menunjukkan iklim usaha di Hong Kong yang kondusif (utamanya kepastian dan penegakan hukum) dan keberhasilan institusi yang menangani promosi investasi (InvestHK). Fw/ppie Sumber : Konjen RI-Hong Kong

 

 


Pertunjukan Kesenian Indonesia di Kota Baalbek, Lebanon  

Pada tanggal 26 Juli 2008 KBRI Beirut telah diundang Pemda Baalbek untuk mengisi acara kesenian di altar candi Baalbek, sekitar 85 km sebelah Timur Laut Beirut. Kota Baalbek yang dijuluki juga sebagai Kota Matahari (Heliopolis / City of the Sun) memiliki beberapa kompleks candi di masa Helliopolis, jejak masa kekaisaran Romawi dengan bangunan benteng dan pilar tinggi dan besar.

Kota Baalbek memiliki situs purbakala dan candi yang berusia 3500 tahun peninggalan zaman Romawi. Situs yang termasuk dalam cagar kebudayaan dibawah lindungan UNESCO ini memiliki berbagai bangunan yang ada dan terdapat satu altar besar yang dipakai untuk mengadakan pertunjukkan kolosal.

Tim Kesenian KBRI menampilkan pertunjukkan selama 1 jam berupa gamelan, arumba, angklung, dan tari-tarian (tari Aceh Saman, Rampak Gendang dan Klono Alus). Para musisi yang terlibat antara lain terdiri dari para pegawai KBRI, Ibu-ibu DWP, dan pelajar Indonesia. Dengan dibantu tata lampu dan permainan tata cahaya yang baik, penonton memberikan sambutan yang sangat meriah.

Sebelum pertunjukan, Walikota Baalbek Mr. Bassam Raad menyatakan penghargaannya atas kesediaan KBRI untuk mengisi acara yang menghibur sekaligus meneruskan tradisi kebudayaan Timur. Ditambahkan bahwa penonton yang datang rata-rata mempunyai apresiasi seni yang tinggi. Mengingat para pengunjung yang datang ke Baalbek tidak saja berasal dari Lebanon tetapi juga di negara-negara sekitar Laut Mediterania, negara-negara Teluk Arab dan Eropa,  Walikota menyarankan agar mulai sekarang Indonesia dapat mempersiapkan diri agar para dapat mengisi pertunjukan di musim panas di tahun depan.

Dubes RI dalam kata sambutannya menyatakan menerima tawaran itu dan segera akan menindak lanjuti dengan menghubungkan pihak terkait. Selanjutnya disampaikan bahwa Indonesia sangat siap untuk bekerjasama mengenai masalah kebudayaan karena sama-sama memiliki peradaban yang tinggi. Ditekankan pula bahwa kesempatan ini dapat dipakai sebagai upaya sinergi kedua bangsa untuk melestarikan kebudayaan, sekaligus akan mempererat kerjasama bilateral kedua negara.

Pada acara kunjungan Delegasi Pemprov DI Yogyakarta 28 Juni yang lalu Walikota Baalbek telah menyatakan niatnya untuk melamar Yogyakarta sebagai sister city. Saratnya Yogyakarta sebagai kota para wisata sudah diketahui oleh kalangan bisnis Lebanon. Meski penduduknya hanya 100.000 jiwa namun Baalbek selalu kedatangan wisatawan dari berbagai  negara. Bahkan di dalam kota itu digelar pameran kerajinan tangan dan seni dari luar negeri.

 

 


Tari Kijang dan Gamelan Menambah Semarak Sister Cities Week 2008
Tari Kijang, Tari Yapong, Tari Payung, Tari Topeng Bali, dan karawitan yang dipersembahkan KBRI Bangkok mendapat apresiasi hangat dari para pengunjung  Sister Cities Week 2008 yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Bangkok (BMA) di Bangkok Arts and Culture Center, 29-31 Juli 2008. Warga kota Bangkok dan turis asing, sangat terkesan dengan Tari Kijang diiringi dengan gamelan yang dibawakan oleh guru Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) dan tim Sekolah Menengah Karawitan Indonesian (SMKI) Bantul, Yogyakarta.

Selain pertunjukan kesenian, KBRI Bangkok bekerjasama dengan Pemda DKI Jakarta dan beberapa pengusaha dari Datie Handicraft dan Fashion Addict mempromosikan produk-produk kerajinan tangan khas Indonesia seperti batik, kerajinan kulit sepatu dan tas; dan pariwisata Jakarta serta daerah-daerah lainnya di Indonesia melalui pembagian brosur-brosur mengenai Visit Indonesia Year 2008, kerajinan tangan, dan pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia yang diminati para pengunjung.

Selain DKI Jakarta, Sister Cities Week 2008 diikuti oleh kota-kota lainnya di dunia yang memiliki kerjasama sister city dengan kota Bangkok antara lain: Chaozhou (China), Guangzhou (China), Fukuoka, Seoul, Hanoi, Phnom Penh, Vientiane, Manila, Moskow, St. Petersburg (Rusia), New Delhi dan Washington (AS). Sister Cities Week 2008 adalah implementasi kerjasama sister city dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat Thailand di Bangkok terhadap budaya dan potensi pariwisata kota-kota dunia tersebut. Sister Cities Week 2008 merupakan pertama kalinya diselenggarakan oleh BMA yang bermaksud  akan menjadikan event ini sebagai agenda tahunan. (Sumber : KBRI Bangkok)

 

 

 

Minggu ke-2 Juni 2008

Pameran produk kerajinan Indonesia di Madrid

KBRI Madrid bekerjasama dengan Mutumanikam Nusantara dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan menggelar pameran perhiasan dan kerajinan lainnya serta promosi pariwisata yang menggambarkan kekayaan alam serta keunggulan produk budaya Indonesia. Pameran diselenggarakan pada Senin, 16 Juni 2008 bertempat di KBRI Madrid, Calle de Agastia No. 65.

Koleksi yang akan dipamerkan adalah karya para perajin kecil dari berbagai pelosok di Indonesia yang secara kualitas dan design disesuaikan dengan selera pasar Internasional. Produk tersebut antara lain terdiri dari aneka perhiasan emas, perak , mutiara dan batuan lainya yang memang merupakan hasil kekayaan alam Indonesia. Disamping itu juga dipamerkan batik, songket, berbagai produk interior yang terbuat dari anyaman, kulit, batu paras, kayu, logam.

Promosi pariwisata juga merupakan salah satu kegiatan utama dari Pameran ini mengingat tahun 2008 adalah tahun Visit Indonesia Year. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sangat aktif dalam promosi di luar negeri karena potensi dan animo wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia cukup besar setelah mengetahui sendiri melalui media promosi akan keindahan dan kenyamanan fasilitas di Indonesia. 

Dalam Pameran akan diselenggarakan pula Peragaan Busana karya perancang terkenal Indonesia dengan memakai perhiasan produk Mutumanikam  Nusantara dan peragaan ini bekerjasama dengan Kitsch Modelos Madrid dimana akan tampil baik pragawati dari Indonesia maupun dari Spanyol. Juga akan dipertunjukan cara membatik canting oleh perajin Indonesia dan tak kalah meriah adalah sajian tari tarian dari Indonesia.

Acara pameran ini terbuka untuk umum dari pukul 11.00 – 18.00 dan  dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Spanyol, Slamet Santoso Mustafa serta dihadiri oleh Koordinator Mutumanikam Nusantara, Herawatie Wirajuda.

Mutumanikam Nusantara adalah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk membantu program Pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan melalui upaya memajukan produk kerajinan emas dan perak dari seluruh Indonesia melalui kegiatan pelatihan, pemasaran produk, dan berbagai riset dalam rangka mengembangkan industri produk tersebut. Organisasi ini didirikan akhir 2006 atas prakarsa Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono dan didukung oleh Ny. Jusuf Kalla. Pameran serupa telah diadakan oleh Mutumanikam Nusantara di Indonesia, Tokyo, Dubai, London, Paris, Brussel, Itali, New York, Los Angeles, Toronto, dan setelah Madrid akan diteruskan ke Almaty    ( Kazaksthan).

Peluang pasar terhadap produk Mutumanikam Nusantara cukup besar dan bagus hal ini terbukti dari sudah mulai masuknya pesanan produk tersebut antara lain dari TV Shop Chanel di Jepang. Pesanan tersebut sangat besar artinya  bagi para perajin dan menggairahkan kehidupan ekonomi di pedesaan dimana mereka tinggal dan berkarya.

Adapun Promosi Produk kerajinan lainnya merupakan bagian kegiatan Indonesia Kreatif dalam rangka meningkatkan  pemasaran produk tersebut di pasar Internasional yang sekaligus  memacu kreatifitas anak bangsa dengan tetap berakar pada kelestarian budaya Indonesia.

Pameran ini akan dihadiri oleh para tour operator, pemilik galeri, para buyers, dan anggota Masyarakat Spanyol dan Negara sekitarnya serta masyarakat Indonesia yang tinggal di Luar Negeri. (deplu.go.id)

 

 

Pengusaha Indonesia ikut pameran Cyprus International Fair 2008

CIF ke-33 atau Cyprus Expo 2008 merupakan salah satu pameran internasional yang terbesar yang dikunjungi kurang lebih 300.000 orang yang pada umumnya merupakan pembeli retail lokal dan beberapa importir dari Siprus dan Negara Uni Eropa dengan produk yang dipamerkan berupa peralatan rumah tangga, elektronik, peralatan bangunan dan pertanian, kendaraan bermotor, garment, produk kulit, perhiasan, kosmetik, produk kerajinan, furniture dan lain sebagainya.

Secara resmi CIF 2008 dibuka di Nicosia oleh Presiden Republik Siprus, Demetris Chritofias, serta dihadiri oleh beberapa menteri kabinet Siprus, anggota parlemen dan perwakilan asing untuk Siprus. Menurut Presiden Republik Siprus Pameran ini diupayakan untuk peningkatan stabilitas ekonomi, peluang dan kesempatan  pasar, networking/ hubungan kerjasama dengan negara Uni Eropa dan negara lainnya termasuk dari Asia. Turut hadir Duta Besar RI Roma beserta staf pada acara pembukaan.

Pengusaha Indonesia telah berperan aktif dalam CIF tahun 2007 dan kembali hadir tahun ini dengan menyewa 2 (dua) stand sebesar 32 meter persegi di Pavilion Bazar yang diikuti oleh 3 (tiga) perusahaan ekportir, yaitu Kharisma Harvest Indonesia (Khavindo), Jakarta (produk kerajinan, patung binatang dari kayu,  mainan anak, topeng dll), Sanbreo Handicraft, Klaten (furniture indoor) dan Theo Classic, Bali (perhiasan perak dan perhiasan lainnya). Selain tampilan  produk tersebut di atas, KBRI Roma juga menyediakan brosur-brosur, standing banner dan penayangan film tentang beberapa obyek  wisata dan promosi untuk Tradexpo 21-25 Oktober 2008. Disamping itu dipromosikan sample produk genteng & conblock karet dan glassware.

Pameran berlangsung selama 10 (sepuluh) hari dan telah terjadi transaksi dagang antara pengusaha Indonesia dengan pembeli yang bersifat retail dan kontak dagang dengan importir yang masih perlu ditindaklanjuti. Adapun total penjualan retail sebesar Euro 5.195, dengan rincian, Kharisma Harvest Indonesia, Jakarta (€2.400),  Sanbreo Handicraft, Klaten (€1.000) dan Theo Classic, Bali (1.795)

Pada kesempatan tersebut, terdapat pula produk furniture rotan (indoor) dan kayu (outdoor) asal Cirebon yang dipromosikan pengusaha Siprus yaitu Mr. Petos Philippides dari Prunabon Enterprises Ltd. Pengusaha Sanbreo Handicraft, Klaten  juga telah menawarkan kerjasama penjualan furniture outdoor kepada mereka. Diakui oleh pihak Prunabon bahwa harga yang ditawarkan tersebut cukup bersaing, kualitas produk yang  cukup bagus dan ternyata  harga jual produk sejenis diimpor dari Indonesia  yang dipasarkan di Siprus sangat tinggi.

Berdasarkan data BPS bahwa neraca perdagangan Indonesia dan Siprus dalam periode tahun 2003-2007 selalu menunjukan surplus bagi Indonesia dan di tahun 2007 sebesar USD 12,2 juta. Tingkat pertumbuhan ekspor sebesar 3% dari USD 10,6 juta di tahun 2003 menjadi USD 12,5 juta tahun 2007. Republik Siprus saat ini diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung antara Uni Eropa dengan Timur Tengah bagi Indonesia untuk pemasaran produk dan jasa, sehingga diharapkan pada waktu mendatang pengusaha Indonesia perlu mempertimbangkan untuk mengikuti pameran CIF dengan menampilkan produk industri yang lebih berkualitas

Selain Indonesia, CIF ke-33 juga diikuti kurang lebih dari 300 peserta yaitu dari Siprus sendiri dan 26 negara antara lain Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Yunani,  Hongaria, Republik Ceko, Syria, Mesir,  Taiwan, Singapura dan lain lain. (KBRI Roma)

 

Komisi Bersama Indonesia-Iran

Indonesia dan Iran, telah mengadakan pertemuan bilateral dalam kerangka Komisi Bersama (Joint Commission Meeting/JCM) Bidang Ekonomi dan Perdagangan Indonesia-Iran ke-10, yang dipimpin bersama Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu, dan Menteri Komunikasi dan Informasi Teknologi Iran, Mohammad Solaimani. Pertemuan Komisi Bersama kali ini mencatat sejumlah kemajuan signifikan dengan dihasilkannya kesepakatan kerjasama yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) bidang lingkungan , MoU pameran internasional, dan MoU pembentukan Iran-Indonesia Business Council.

Pembentukan Indonesia-Iran Business Council merupakan tindak lanjut nyata dari MoU yang disepakati oleh kedua negara ketika Presiden RI berkunjung ke Iran Bulan Maret 2008. Tujuan pembentukannya adalah untuk mengintensifkan kontak bisnis antar swasta kedua negara.

Dalam kerjasama di bidang pameran internasional, kedua pihak sepakat untuk memberikan kemudahan dan discount rate untuk penyelenggara pameran.

JCM yang digelar sejak tanggal 9-11 Juni 2008, merupakan forum pertemuan berkala yang secara resmi membahas upaya peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Selama dua hari sebelumnya, isu-isu teknis telah dibahas pada pertemuan tingkat pejabat senior dimana delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan, Herry Soetanto.

Di sektor perdagangan telah dibahas rencana pembentukan Preferential Trade Agreement/PTA sebagai tindak lanjut dari Framework Agreement on Comprehensive Trade and Economic Partnership yang telah ditandatangani oleh kedua negara pada tahun 2005. Dalam Framework tersebut kedua negara sepakat untuk melakukan kerjasama ekonomi secara lebih luas melalui pembentukan Free Trade Agreement/FTA yang didahului dengan pembentukan PTA. Pada isu PTA, bahasan difokuskan pada prosedur negosiasi dan kelembagaaan Trade Negotiating Committee (TNC) serta modalitas penurunan tarif, dimana Indonesia mengusulkan untuk tingkat tarif 15-25% dapat diturunkan sebesar 50%. TNC akan melanjutkan pertemuan pada bulan Agustus 2008 mendatang.

Kedua negara juga membahas rencana aksi berbagai MoU, sebagai tindak lanjut dari MoU kerjasama yang ditandatangani saat Presiden RI berkunjung ke Teheran pada Maret 2008, antara lain kerjasama Kamar Dagang Indonesia/Kadin, perminyakan dan gas, tenaga listrik merujuk MoU on Energy Cooperation yang ditandatangani 10 Mei 2006 pada saat kunjungan Presiden Iran ke Indonesia termasuk aspek standar dan pendidikan.

Bersamaan dengan JCM tersebut juga telah dilakukan pertemuan bisnis antara pengusaha Indonesia dan 14 pengusaha Iran yang bergerak dalam berbagai sektor seperti telekomunikasi, perbankan, perminyakan, produk kertas, makanan, kerajinan kayu, baterai dan lampu.

Iran merupakan mitra dagang strategis yang menempati posisi ke-32 sebagai negara tujuan ekspor Indonesia. Sementara Indonesia berada di urutan ke-41 sebagai negara pengimpor bagi Iran.

Total perdagangan 2007 mencapai US$ 553,1 juta (ekspor Indonesia: US$ 472,9 juta dan impor Indonesia: US$ 80,2 juta), sedangkan Januari-Februari 2008 tercatat total perdagangan Indonesia mencapai US$ 116,9 juta (ekspor Indonesia US$ 86,5 juta, meningkat 26,93% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2007 sebesar US$ 49,3 juta. Impor Januari-Februari 2008 sebesar US$ 30,4 juta naik 188,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007 sebesar US$ 10,5 juta.

Ekspor utama Indonesia ke Iran antara lain: uncoated paper and paperboard; palm and its fractions; yarn; natural rubber; bars and rods; artificial staple fibres; tube or pipe fittings; synthetic filament yarn; tyre cord fabric or high tebacity yarn; paper and paperboard; uncoated kraft paper.

Sedangkan impor Indonesia dari Iran yaitu: acyclis hydrocarbons; mixed alkybenzenes; cyclic hydrocarbons; dates figs; pineapples; articles of asphalt; carbon; oxygen; function amino-compounds; oil and other product; grapes fresh or dried (depdag.go.id)

 

 

Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) 2008

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyerahkan Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025 dan Pengembangan 14 Sektor Ekonomi Kreatif kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara penyerahan tersebut berlangsung pada saat Pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) 2008 yang dilaksanakan pemerintah mulai hari ini sampai dengan tanggal 8 Juni 2008 di Jakarta Convention Center (JCC).

“Cetak Biru tersebut merupakan tindak lanjut dari rekomendasi PPBI tahun 2007 lalu, dimana Presiden RI telah memberi arahan bahwa sudah saatnya Indonesia memiliki sebuah cetak biru dan program aksi untuk mewujudkan ekonomi kreatif bangsa yang lebih terarah dalam sasaran dan pengelolan yang berbasis budaya dan teknologi. Departemen Perdagangan berkoordinasi dgn instansi pemerintah pusat dan daerah yang terkait serta para pemangku kepentingan telah melakukan kajian dan pembahasan untuk menghasilkan cetak biru tersebut”, kata Mendag Mari Pangestu.

Menteri Perdagangan lebih lanjut menjelaskan, di tengah persaingan ekonomi dunia yang semakin ketat, Indonesia didorong untuk menggali sumber ekonomi alternatif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Ekonomi kreatif, yang berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual, menjadi salah satu harapan potensial bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di arena ekonomi global.

Cetak Biru tersebut menjabarkan rencana pengembangan industri kreatif di Indonesia hingga pencapaian tahun 2025. Dengan adanya cetak biru ekonomi kreatif ini diharapkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam bidang industri kreatif memiliki arahan yang jelas untuk mencapai visi ekonomi kreatif Indonesia, yaitu “Bangsa Indonesia yang berkualitas hidup dan bercitra kreatif di mata dunia sehingga mendukung terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur”.

Usai pembukaan PPBI, Mendag memaparkan Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia di hadapan lebih dari 500 orang peserta seminar yang bertajuk “Visi Indonesia dalam Pengembangan Ekonomi Gelombang Keempat: Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif”. Pada kesempatan tersebut, turut sebagai pembicara adalah Professor John Hartley dari Center of Excellence for Creative Industries and Innovation, Queensland University of Technology, Australia. Pada seminar dimaksud John Hartley berbagi kisah sukses ekonomi kreatif di Australia dan pembelajaran yang melibatkan lebih dari 4.000 mahasiswa dari 11 jurusan dengan dukungan pendanaan riset dari pemerintah.

Hartley dalam presentasinya mengemukakan, nilai kreatif dihasilkan dari kolaborasi penghubung (agents), jaringan (network) dan pelaku usaha (enterprise).

Sejumlah narasumber di bidang ekonomi kreatif yang berasal dari dalam dan luar negeri turut memperkaya wawasan para pelaku ekonomi kreatif dalam dua sesi seminar lainnya yang digelar pada hari pertama PPBI ini.

Kittiratana Pitipanich dari Thailand Creative and Design Center dan Prof. Martin Reiser dari Nanyang Technology University membagi pengalaman mengenai pengembangan ekonomi kreatif dari negara Thailand dan Singapura.

Mengenai model pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, para pembicara yang mewakili ‘Triple Helix’ atau tiga aktor membahas penguatan fondasi dan lima pilar yang menjadi elemen terpenting dalam industri kreatif di tanah air. Mendag menegaskan, landasan industri kreatif Indonesia adalah sumber daya manusia (people) Indonesia yang merupakan elemen terpenting dalam industri kreatif, sebagai peran sentral dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya. Aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital bagi tumbuhnya industri kreatif adalah cendikiawan (intellectuals), bisnis (business) dan pemerintah (government) yang disebut sebagai sistem ‘Triple Helix’.

“Hubungan yang erat, saling menunjang dan bersimbiosis mutualisme antara ketiga aktor tersebut akan menghasilkan industri kreatif yang berdiri kokoh dan berkesinambungan. Kolaborasi Intellectuals, Business dan Government (IBG) sebagai modal dasar perlu dirumuskan dan ditindaklanjuti guna mengimplementasikan pengembangan ekonomi kreatif yang mengintegrasikan rencana aksi ketiga aktor tersebut,” ujar Mari Pangestu.

Cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia akan dibahas dalam rangkaian acara konvensi meliputi seminar, lokakarya dan dialog yang berlangsung mulai tanggal 4 hingga 7 Juni 2008. Konvensi diharapkan dapat menjadi ajang sosialisasi sekaligus menyamakan persepsi, sehingga terbentuk komitmen antara pemerintah, intelektual dan pelaku bisnis untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia melalui rencana aksi yang terukur sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing departemen terkait.

Industri kreatif memberikan kontribusi PDB pada urutan ke 7 dari 10 sektor lapangan usaha yang telah dianalisis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu rata-rata sebesar Rp 104,6 triliun (6,28 persen) pada tahun 2002-2006.

Dengan keanekaragaman budaya, industri kreatif di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang pesat. Pada tahun 2002-2006 industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja rata-rata sebesar 5,4 juta pekerja di Indonesia dengan tingkat partisipasi sebesar 5,8 persen serta produktivitas tenaga kerja mencapai Rp 19,5 juta per pekerja setiap tahun, lebih tinggi dari produktivitas nasional yang hanya mencapai kurang dari Rp 18 juta per pekerja per tahun.

Cetak biru industri kreatif 2009-2025 terdiri dari dua tahapan masing-masing periode penguatan 2009-2014 dan tahap akselerasi 2015-2025. Berkaitan dengan hal tersebut, Mendag menjelaskan “Dalam periode akselerasi, PDB industri kreatif tahun 2025 ditargetkan memberi kontribusi sebesar 9-11 persen kepada PDB riil nasional, capaian ekspor 12–13 persen dari ekspor nasional dan menyerap tenaga kerja mencapai 9-11 persen terhadap tenaga kerja nasional serta pada tahun 2015 akan meningkatkan jumlah usaha yang bergerak di sektor industri kreatif 3 kali lipat dari tahun 2006 yaitu sekitar 6,8 juta perusahaan.(depdag.go.id)

 

 

Minggu ke-1 Juni 2008

 

Pameran dagang di Pakistan

KJRI Karachi menerima surat dari sebuah perusahaan event organizer yaitu Ecommerce Gateway Pakistan (Pvt) Ltd mengenai pameran di Karachi. Indonesia diharapkan berpartisipasi dalam pameran-pameran tersebut untuk berbagai memaerkan berbagai jenis produknya. Keterangan lengkap mengenai pameran dapat dilihat pada website www.ecgateway.net Sumber: KJRI KArachi

 

The 5th APEC Medium and Small Entreprises Technology and Fair

Pameran UKM APEC ini diselenggarakan di kota Qingdao propinsi Shangdong tanggal 30 Mei - 2 Juni 2008. Selain pengusaha domestik RRC, pameran ini diikuti oleh peserta dari negara-negara anggota APEC dengan 1000 booth. KBRI Beijing ikut berpartisipasi dalam mempromosikan investasi berbagai sektor di Indonesia dan memberikan berbagai informasi berbagai produk.

Sejumlah pengusaha setempat yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha UKM Indonesia - RRT menempati 24 booth yang memamerkan sejumlah produk andalan UKM Indonesia seperti kain batik, kerajinan tangan tradisional, kopi, teh dan produk lainnya. Dalam pameran ini, stand kopi Indonesia menjadi salah satu tempat favorit yang dibanjiri pengunjung.

Sementara itu, produk bir Indonesia bermerk "Bali Hai" diminati pembeli lokal sehingga menarik minat 4 pengusaha RRT untuk menjadi agen penjualan produk ini di RRT.

Kedepan, KBRI Beijing berpendapat bahwa pasar RRT cukup potensial untuk terus digarap terutama oleh produk UKM Indonesia. Kegiatan-kegiatan pameran semacam ini sebaiknya digunakan untuk mempromosikan produk UKM kita yang ternyata cukup diminati pasar RRT. Sumber : KBRI Beijing

 

Temu usaha KBRI Kairo dengan pengusaha Mesir

Untuk memperkenalkan produk alloy wheel (pelek mobil) dan ban Indonesia di pasar Mesir, KBRI Kairo bekerjasama dengan sebuah perusahaan lokal Ashfaco for Trading telah menyelenggaran temu usaha dengan sejumlah distributor dan sub dealer alloy wheel dan ban Mesir.

Ashrafco adalah agen tunggal dari tiga perusahaan Indonesia yang memasarkan produk alloy wheel  dan ban di pasar Mesir. Untuk memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi maka dalam kesempatan temu usaha ditawarkan kesempatan untuk menjadi sub dealer kepada perusahaan lainnya. Perusahaan Indonesia yang diageni oleh Ashrafco yaitu PT. Prima Alloy Wheel Industry dari Surabaya memberikan presentasi mengenai produksinya.

Saingan berat Indonesia dalam pasar produk ini adalah RRT yang memasarkan produk serupa dengan harga cenderung lebih rendah. Namun, produk pelek dan ban Indonesia mempunyai kualitas lebih baik apalagi dengan sertifikat ISO 9011.

Pihak PT Prima Alloy Industry menyampaikan undangan kepada pengusaha setempat untuk mengunjungi pabrik mereka di Surabaya. Sumber: KBRI Cairo

 

 

 

 Minggu ke-4 Mei 2008

SAUDI HEALTHCARE AND SAUDI HOSPITAL ”SHASH 2008”

Departemen Perdagangan RI melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) pada tanggal 5 - 8 Mei 2008 memberikan kesempatan pada pengusaha produk alat kesehatan dan obat untuk mengembangkan pasarnya ke wilayah Timur Tengah dengan mengikuti pameran Saudi Healthcare and Saudi Hospital "SHASH 2008" di Jeddah,  Saudi Arabia .

Kepala BPEN Bachrul Chairi mengatakan, Pameran
Saudi Healthcare  and Saudi Hospital "SHASH 2008" adalah yang ke 15 kalinya dan partisipasi BPEN pada pameran ini untuk kali pertama. Dalam penyelenggaraan Pameran SHASH 2007 diikuti oleh 250 perusahaan yang berasal dari 15 negara dengan menempati ruang pamer seluas 10.000 m2 dan dikunjungi kurang lebih 6.025 pengunjung/buyer potensial ( tercatat pengunjung dalam negeri sebanyak  4.380 buyer dan 1.645 buyer dari luar negeri).

Pertimbangan BPEN ikut dalam pameran ini berdasarkan masukan dari  Asosiasi Produsen Peralatan Kesehatan Indonesia (ASPAKI) dan sekaligus sebagai tindak lanjut dukungan Perjanjian Keagenan antara perusahaan Indonesia (PT. Medika Katalis Husada) dengan perusahaan Saudi Arabia (Albaghdadi Trading Corporation), yang ditangani pada akhir Januari 2008 di BPEN.

Selain bertujuan untuk meningkatkan ekspor non migas Indonesia ke Timur Tengah, meningkatkan kinerja dan pangsa ekspor produk  alat kesehatan Indonesia ke Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia, menjadikan Indonesia sebagai "resource country" handal, membuat kontak dan kontrak bisnis berkesinambungan, serta perluasan jaringan distribusi produk alat kesehatan dan obat.
Ke 14 perusahaan yang berpartisipasi dalam pameran ini adalah ; Indo Farma PT, Karya Budi Ekatama PT, Tesena Inovindo PT, Sarandi karya Nugraha PT, Lestari Dini Tunggul PT, Mondave Internasional PT, Global Bioscience PT, Chitose Indonesia PT, Alomampa Persada PT, Nuri Tehnik CV, Dragon Prima Farma dan Badan POM.  Adapun produk yang akan dipamerakan meliputi ; tempat tidur pasien manual dan elektronik, tempat tidur operasi, kursi roda, inkubator, pakaian pasien, perawat dan operasi, alat ukur tekanan darah,  kain perban, herbal, obat serta produk spa.

 

Prospek Pasar Peralatan Kesehatan di Saudi Arabia 
Pada tahun 2007, pembelanjaan sektor kesehatan oleh pemerintah dan swasta masing-masing SR 37,9 milyar dan SR 12 milyar. Diproyeksikan pembelanjaan sektor kesehtan oleh pemerintah dan swasta tahun 2009 akan meningkat menjadi SR 40,4 milyar dan SR 13,5 milyar. Hingga tahun 2015, pembelanjaan untuk sektor kesehatan oleh pemerintah dan swasta diproyeksikan meningkat hingga SR 51,5 milyar dan SR 22,1 milyar. 

Pembelanjaan untuk layanan kesehatan dalam anggaran 2008 akan meliputi pembangunan 8 rumah sakit baru (dengan kapasitas 1.900 tempat tidur), ekspansi dan pengembangan fasilitas kesehatan yang ada, dan melengkapi fasilitas-fasilitas di rumah sakit yang baru didirikan. Hal ini termasuk tambahan untuk 79 rumah sakit yang dalam perbaikan, yang akan menambah sejumlah total 9.850 tempat tidur. Lebih lanjut, anggaran 2008 telah membuat provisi  untuk mengembangkan 250 pusat-pusat pelayanan primer.

Diperkirakan pasar peralatan dan perlengkapan kesehatan akan naik 4,6% sampai 2015, mencapai SR 3,0 milyar. Sekitar 85% dari SR 8 milyar pasar farmasi Saudi
Arabia dipenuhi dengan impor, dan sisanya dipenuhi oleh perusahaan obat generik lokal.

Rumah sakit yang beroperasi di Saudi Arabia berjumlah 379 rumah sakit dimana 256 rumah sakit dikelola oleh sektor pemerintah  dan 123 rumah sakit dikelola oleh  swasta. Pemasangan tempat tidur untuk rumah sakit pemerintah maupun swasta berjumlah 53.192 buah. Jumlah ini menunjukkan perbandingan 1.000 jiwa : 2,25 tempat tidur. Dan jumlah rata-rata tempat tidur di setiap rumah sakit adalah 140 buah. Perkiraan permintaan tempat tidur rumah sakit akan naik 31% pada 2015 yang akan mencapai 70.000 tempat tidur.

Untuk kategori perlengkapan medis,
syringes, jarum dan kateter intravenous berada pada posisi 37% atau sebesar SR 215 juta dari total peralatan impor, yang mencapai SR 577 juta pada tahun 2006, diikuti oleh peralatan dasar operasi (basic surgical) dan peralatan dental pada SR 168 juta.

Anggaran belanja Saudi Arabia untuk produk farmasi mencapai SR 9,5 milyar pada akhir tahun 2007.  73% dari total pasar impor adalah dikuasai oleh 8 eksportir utama, dimana 5 dari 8 eksportir tersebut adalah berasal dari Eropa. Pabrikan Jerman menduduki peringkat I dengan pangsa pasar sebesar 16,2% (SR 1,1 milyar), diikuti oleh Swiss dan Prancis pada 11,4% (SR 776 juta) dan 9,8% (SR 666 juta). Adapun untuk ekspor dari USA menempati peringkat kelima dengan persentase sebesar 7,3% atau senilai SR 497 juta. Tahun 2015 diproyeksikan permintaan akan produk mencapai SR 15,5 milyar. 

Ekspor Indonesia untuk produk alat kesehatan ke dunia pada tahun 2002 sebesar US$ 82,9 juta dan meningkat di tahun 2003 sebesar US$ 86,2 juta dan mencapai US$ 109,7 juta di tahun 2004. Meski sempat mengalami penurunan pada tahun 2005  menjadi US$ 107,8 juta, pada tahun 2006 kembali naik menjadi US$ 127,2 juta. Untuk periode Januari - September 2006 tercatat sebesar US$ 93,7 juta, dan pada periode yang sama tahun 2007 tercatat sebesar US$ 111,3 juta (meningkat sebesar 18,7%).

Saudi Arabia dengan penduduk 27 juta jiwa dan GDP per kapita sebesar US$ 20.700 (pada tahun 2007), merupakan prospek pasar bagi Indonesia. Ekspor Indonesia ke Saudi Arabia pada tahun 2004 sebesar US$ 418,2 juta dan tahun 2005 naik menjadi US$ 524,2 juta dan pada tahun 2006 naik menjadi US$ 672,1 juta. 

Impor Saudi Arabia dari negara-negara di dunia untuk produk alat kesehatan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2002 sebesar US$ 276,8 juta, tahun 2003 sebesar US$ 388,0 juta, tahun 2004 sebesar US$ 409,5 juta, tahun 2005 sebesar US$ 485,5 juta dan tahun 2006 sebesar US$ 563,6 juta.

 

 

Pameran internasional di Casablanca

KBRI Rabat menerima surat dari sebuah perusahaan lokal yaitu Forum7 (Agence Consel en publicite et de Communication) di Casablanca yang menginformasikan rencana penyelenggaraan 3 rangkaian pameran yaitu:

  • The 10th edition of the Alitec Salon

  • Morocco Agro Food Expo

  • The 8th edition of Morocco Sea Expo

Pameran-pameran tersebut akan berlangsung di International Trade Fair di Casablanca dan bertujuan untuk membina kerjasama antara para pelaku usaha yang bergerak di bidang teknologi, pertanian, pangan, maritim dan perikanan serta meningkatkan nilai perdagangan antara Maroko dengan negara-negara peserta.

Pihak penyelenggaran meminta bantuan KBRI Rabat untuk meneruskan informasi ini kepada pengusaha Indonesia yang berminat. Bila Anda ingin mendapatkan informasi mengenai pameran ini, silahkan hubungi KBRI Rabat (alamatnya ada di kolom Perwakilan RI)

 

Indonesian Food Festival di Hongkong

Dalam rangka mensukseskan program promosi pariwisata "Visit Indonesia Year 2008" KJRI Hongkong bekerjasama dengan sektor perhotelan dan kantor promosi wisata setempat berencana untuk mengadakan Indonesian Food Festival Hongkong tanggal 19-29 Mei 2008. Dalam kegiatan yang akan diadakan di Hotel Park Lane Hongkong ini juga dilakukan pameran produk-produk kesenian Indonesia sehingga akan menjadi pameran budaya dan wisata Indonesia. Hotel tempat pameran itu akan mempunyai dekorasi yang bernuansa Indonesia selama pameran berlangsung.

Hotel Park Lane dipilih karena lokasinya yang strategis ditengah kota Hongkong dan restoran di hotel itu merupakan tempat favorit para turis asing dan lokal untuk melewatkan liburan akhir pekan. Acara ini akan dibuka tanggal 19 Mei 2008 oleh Konsul Jenderal RI Hongkong dan sejumlah pejabat dan pengusaha setempat.

 

Pameran Agrominitech di Uzbekistan

Pada tanggal 3-6 Mei 2008 telah diadakan pameran internasional alat-alat mesin pertanian di Tashkent, Uzbekistan. Indonesia yang juga diundang untuk mengikuti pameran ini diwakili KBRI Tashkent dengan membagikan VCD dan brosur alat dan mesin pertanian Indonesia. Brosur dan VCD yang dibagikan tersebut mengenai produk PT. Fadel Teknik, PT Rutan dan PT Elmaci Karya Mandiri.

 

Laporan pameran dagang internasional di Hanoi

Tanggal 9-13 April 2008 telah diadakan pameran Perdagangan Internasional Vietnam Expo 2008 di pusat pameran Giang Vo, Hanoi. Pameran ini diikuti oleh sekitar 200 perusahaan lokal dan 300 perusahaan asing dari 15 negara termasuk Indonesia yang menempati 700 booth di areal seluas 20.000 m2. Produk yang dipamerkan antara lain peralatan komunikasi, alat-alat listrik dan elektronik, TPT, produk alas kaki, bahan bangunan, produk farmasi, komestik, produk makanan dan minuman, kerajinan kayu, dan furniture.

Menurut catatan panitia, pameran ini telah menghasilkan transaksi dagang sebesar US$ 603 juta dan dikunjungi oleh dari 53 ribu orang. Menurut pengamatan KBRI Hanoi, pasar Vietnam mempunyai potensi yang baik untuk dimanfaatkan oleh Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya minat pengusaha Vietnam untuk mendapatkan produk Indonesia. Produk Indonesia yang diminati oleh pasar lokal antara lain adalah produk makanan, kertas, komponen sepeda motor, garmen (terutama batik), bahan bangunan, baja, pupuk, deterjen dan komestik yang selama ini telah dikenal oleh pasar Vietnam.

 

Minggu ke-3 dan 4 April 2008

Pameran "3rd Aden Consumptive Trading International Fair"

KBRI Sana'a menerima informasi dari Yemen Exhibition and Conference di kota Aden bahwa pada tanggal 16-31 Agustus 2008 akan diadakan pameran dagang internasional tersebut diatas. Pameran ini ditujukan bagi pelaku ekonomi/ perusahaan-perusahaan baik lokal maupun luar negeri. Pameran ini merupakan kesempatan bagi produk asing untuk memasuki pasar Yaman melalui Aden sebagai kota dagang terbesar di negara itu.

Profil peserta yang ikut dalam pameran ini adalah yang bergerak di bidang makanan, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kosmetika, karet, produk plastik, kertas, peralatan kamera, telekomunikasi, produk rumah tangga, peralatan olah raga, karpet, furniture, produk farmasi, peralatan kesehatan, konstruksi, peralatan pengepakan, peralatan sanitasi, mainan anak-anak.

Untuk keterangan lebih lanjut, calon peserta pameran dapat menghubungi:

 

Yemen International Exhibition and Conference

PO Box 5801 Aden, Republic of Yemen

Telp. (967-2) 222-500, Fax (967-2) 222-501

Email: ye.exhibi.co@yemen.net.ye

HP: (967)733782646

 

Menurut pengamatan KBRI Sana'a, produk-produk Indonesia yang mempunyai potensi besar di pasar Yaman adalah :

  • Ban sedan dan kendaraan niaga/penumpang, saat ini yang telah masuk pasar Yaman adalah merek GT atau Gajah Tunggal dan masih terbuka kesempatan untuk merek-merek ban Indonesia lainnya. Saingan terberat dalam sektor ini adalah China dan Korea Selatan.

  • Battery kendaraan bermotor (saat ini didominasi oleh China, Korea dan negara-negara Eropa)

  • Suku cadang kendaraan bermotor seperti air filter, oil filter, gasoline filter maupun radiator kendaraan bermotor. Suku cadang kendaraan bermotor buatan Indonesia yang sudah masuk pasar Yaman adalah merek Sakura.

  • Kertas foto copy A4 dan F4 dan ukuran lainnya (saat ini yang sudah masuk pasar Yaman adalah produk kertas Sinar Mas )

  • Alat tulis kantor (ATK)

  • Kain sarung, mengingat masyarakat Yaman selalu menggunakan sarung untuk pakaian sehari-hari

  • Produk mebel terutama yang knock down yang saat ini masih didominasi oleh produk China dan Malaysia

  • Peralatan eketronik seperti radio tape, CD/VCD/DVD player, televisi, mesin cuci dll

  • Produk plastik untuk perlengkapan rumah tangga seperti ember dan perlengkapan kamar mandi/toilet dan dapur  (saat ini produk Indonesia yang sudah masuk adalah Lionstar)

  • Bahan makanan dan penyedap rasa (saat ini Indofood telah masuk pasar Yaman)

  • Barang pecah belah untuk peralatan rumah tangga

  • Bahan konstruksi seperti tiang pancang beton, tiang listrik beton, kabel listrik dll

            ( Sumber: Laporan KBRI Sana'a)

 

Indonesian Expo 2008 di Sydney, Australia

Konsulat Jendral RI di Sidney dengan dukungan dari BPEN - Departemen Perdagangan merencanakan akan mengadakan Indonesian Expo 2008 yang akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2008,  bertempat di Overseas Passenger Terminal (OPT), Circular Quay, Sydney Austaralia.

KJRI Sydney akan menyediakan 60 stand ukuran standar (3X3m) dengan fasilitas kursi, meja dan spot ligh.  KJRI Sydney juga akan membantu memfasilitasi  pengeluaran barang di Custom Australia serta mengangkut barang tersebut ke lokasi pameran. Sedangkan biaya lainnya, seperti pengiriman barang pameran dari Indonesia ke Sydney, biaya tiket dan akomodasi menjadi tanggungan peserta pameran.

Pada pelaksanaan Indonesia Expo tersebut, juga akan dilaksanakan kegiatan “business matching” untuk mempertemukan  peserta pameran dengan pembeli potensial Australia yang khusus diundang untuk menghadiri Indonesian Expo serta melakukan kontak bisnis dengan peserta pameran. Produk-produk yang akan ditampilkan pada pameran meliputi; handicraft, furniture, housewares, gift items, jewellery, textile product, footwear, paper product serta food product.

Persiapan pelaksanaan Indonesia Expo meliputi kegiatan pengiriman undangan kepersertaan kepada Assosiasi produk,  Pemda / Disperindagkop  serta pengusaha, khususnya yang berminat memasuki pasar Australia. Dari pengiriman undangan tersebut diharapkan akan hadir 60 pengusaha/ calon peserta pameran. (BPEN)

 

Perkembangan sektor eksternal Pakistan

Seperti telah diperkirakan sebelumnya, Pakistan tidak dapat mempertahankan perkembangan positif current account deficit sebagaimana terlihat selama kuartal pertama tahun fiskal 2007-2008. Current account deficit pada periode Juli-Januari fiskal 2007-2008 meningkat sebesar 47,1 persen. Melebarnya current account deficit semakin diperburuk dengan menurunnya financial dan capital account pada periode yang sama. Diperkirakan current account deficit Pakistan akan tetap berada di bawah tekanan disebabkan dampak dari peningkatan harga kapas, menurunnya permintaan dari pasar-pasar utama ekspor Pakistan, kurangnya kesesuaian dengan standar internasional dan keterbatasan infrastruktur.

Foreign Direct Investment (FDI) menunjukkan pertumbuhan yang signifikan selama  empat tahun terakhir, meskipun pertumbuhan sebesar 9,6 persen selama periode Juli-Januari tahun fiskal 2007-2008 masih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 68, 5 persen pada periode yang sama tahun fiskal 2006-2007. Sekarang ini Foreign Direct Invetsment (FDI) di Pakistan tidak hanya terkonsentrasi di sektor minyak tetapi lebih meluas lagi di sektor telekomunikasi dan keuangan. Kedua sektor tersebut telah menarik sejumlah investor asing ke Pakistan di awal tahun fiskal 2007-2008.

Selama periode Juli-Februari tahun fiskal 2007-2008, ekspor Pakistan telah tercatat mencapai nilai US 11,7 milyar dolar. Meskipun mengalami pertumbuhan yang signifikan jika dibandingkan dengan nilai fiskal 2006-2007, pertumbuhan ekspor periode Juli-Februari tahun fiskal 2007-2008 yang mencapai 7,9 persen masih jauh dari target yang ditetapkan Pemerintah Pakistan yakni sebesar 11,6 persen. Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah Pakistan untuk memperbaiki performa ekspor adalah melalui finalisasi Preferential Trade Agreement (PTA) yang bertujuan meningkatkan arus perdagangan dengan sejumlah negara seperti Cina, negara-negara SAARC, Srilanka, Iran, Muritius dan Malaysia.

Nilai impor Pakistan periode Juli-Februari tahun fiskal 2007-2008  mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 21,9 %. Secara keseluruhan , sekitar 49,3 persen dari total peningkatan pembayaran impor selama periode Juli-Januari tahun 2007-2008 disebabkan oleh peningkatan harga komoditi di pasar internasional. Penurunan impor gula dan membaiknya produksi gula di dalam negeri Pakistan menyebabkan peningkatan impor kelompok makanan selama periode Juli-Januari tahun fiskal 2007-2008 . Sementara itu impor permesinan pada periode yang sama mengalami penurunan disebabkan turunnya impor tektil dan telepon selular.

Di lain pihak, impor mesin pembangkit listrik terus menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan terus berlanjutnya sejumlah proyek pembangkit listrik di Pakistan. Impor mesin pembangkit listrik diperkirakan akan terus mengalami peningkatan karena sekitar enam independent power projects telah ditandatangani perjanjiannya.

Dalam kelompok tekstil, peningkatan yang cukup signifikan terlihat pada impor raw cotton. Hal itu disebabkan karena turunnya produksi cotton dalam negeri selama tahun fiskal 2007-2007. Bank Sentral Pakistan memprediksi bahwa impor raw cotton memperlihatkan kecenderungan terus meningkat karena Pemerintah Pakistan telah menyetujui impor short staple cotton dari India melalui jalur darat yang berlaku mulai bulan Desember tahun fiskal 2007-2008.

Untuk impor pertanian dan bahan kimia menyumbang sekitar 24 persen terhadap total impor Pakistan selama periode Juli-Januari tahun fiskal 2007-2008. Peningkatan impor kelompok pertanian dan bahan kimia ini disebabkan peningkatan impor pupuk dan bahan kimia lainnya. Impor kelompok pertanian dan bahan kimia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas industri plastik dan sektor industri lainnya di Pakistan. (KBRI Islamabad)

 

 

Peluang dagang di Aljazair

Pengusaha Aljazair menaruh perhatian terhadap pelaksanaan perjanjian-perjanjian kerjasama ekonomi dan perdagangan yang telah ditandatangani oleh Indonesia dan Aljazair. Mereka juga mendorong KADIN Aljazair dan Indonesia untuk melaksanakan MoU Kerjasama antara KADIN Indonesia dan Aljazair tahun 1992 dan 2003, mengingat KADIN merupakan salah satu motor untuk upaya peningkatan kegiatan bisnis.

Hal ini terungkap dalam  business lunch  yang diselenggarakan KBRI Alger bekerjasama dengan KADIN Aljazair di Hotel Hilton Alger, Aljazair, dihadiri oleh 60 undangan, baik dari kalangan pejabat pemerintah maupun pengusaha Aljazair, termasuk importir produk Indonesia dari luar kota Alger. Dalam kesempatan tersebut, Presiden KADIN Aljazair, Brahim Bendjaber menjelaskan tentang prospek kerjasama ekonomi dan perdagangan RI – Aljazair dari perspektif Aljazair. Dijelaskan pula tentang rencana kerjasama KADIN Aljazair dan KBRI Alger kedepan, termasuk rencana penyelenggaraan business meeting pada waktu Pameran Dagang Internasional di Alger, 7-12 Juni 2008.

Kepala ITPC Budapest, Muchlis Syahminan menjelaskan tentang rencana penyelenggaraan Indonesia Expo di Warsawa, 7 - 10 Mei 2008, sementara Kepala Bidang Ekonomi KBRI Alger, Meddy H. Sewaka menginformasikan perkembangan hubungan perdagangan RI– Aljazair. Paparan telah menggugah peserta yang hadir untuk lebih mengenal potensi produk ekspor Indonesia dan meningkatkan keinginan kalangan pengusaha Aljazair untuk berbisnis dengan Indonesia. Beberapa undangan telah menyatakan akan meninjau Indonesia Expo Warsawa untuk dapat mengadakan one-on-one meeting dengan mitra dagang dari Indonesia

Para pengusaha Aljazair sangat antusias mengikuti pemaparan-pemaparan yang disampaikan para pembicara. Volume perdagangan RI – Aljazair yang pada tahun 2007 total mencapai US$ 348,363 juta masih jauh di bawah potensi kedua negara. Untuk itu diharapkan lebih banyak lagi kalangan pengusaha/eksportir Indonesia dapat berpartisipasi dalam pameran dagang di Aljazair. (KBRI Alger)

 

 

Minggu ke-2 April 2008

Pameran tekstil internasional di Dubai

Pameran ini merupakan salah satu dari 90 pameran yang diadakan setiap tahun di Dubai. MOTEXHA yang telah berlangsung tanggal 31 Maret - 2 April 2008 diikuti oleh 250 peserta dari 25 negara termasuk Indonesia. Pameran ini khusus untuk produk tekstil, produk kulit, karya seni dan aksesoris rumah tangga.

Indonesia untuk keempat kalinya ikut dalam pameran ini dengan menampilkan produk tekstil yaitu high fashion garment, pakaian anak-anak, garmen kulit, aksesoris, alas kaki, karya seni dan perhiasan. Peserta Indonesia yang dikoordinir oleh BPEN terdiri 17 perusahaan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Bali. Sebuah perusahaan perhiasan yaitu Mutumanikam Nusantara ikut memeriahkan stand Indonesia dalam MOTEXHA 2008. Perusahaan ini bahkan sebelumnya telah mengadakan pameran tunggal dan berpartisipasi dalam Islamic Fashion Festival.

Menurut KJRI Dubai, pasar tekstil, produk kulit dan pakaian jadi di Timur Tengah mempunyai potensi yang baik dengan nilai transaksi sekitar US$ 12 milyar per tahun. Sebagai salah satu komoditi andalan Indonesia ke pasar Dubai, walaupun harus bersaing ketat dengan China, India, Korea dan pesaing lainnya, produk tekstil masih memiliki potensi untuk dapat digali misalnya produk batik dan pakaian muslim. Sumber berita : laporan KJRI Dubai

 

Promosi investasi di Perth

KJRI Perth bekerjasama dengan Australia-Indonesia Business Council cabang Western Australia (AIBC-WA) telah mengadakan kegiatan promosi investasi Indonesia akhir Maret lalu. Acara yang berbentuk seminar itu dihadiri oleh sekitar 50 pengusaha setempat, sedangkan informasi mengenai peluang investasi dan peraturan-peraturan terkait disampaikan oleh Deputi Kepala BKPM Darmawan Djajusman. Seminar tersebut menjadi lebih meriah karena dipandu oleh tokoh akademisi setempat dari Curtin University yang juga merangkap Wakil Ketua AIBC-WA.

Sebuah perusahaan Australia yang hadir dalam acara tersebut yaitu Sean Lofts mengungkapkan kiat-kiat keberhasilannya dalam membuka usaha pakaian jadi di Bali. Perusahaan ini telah berhasil mengembangkan sembilan merek pakaian jadi dalam waktu empat tahun. Banyak pengusaha setempat terlihat antusia dengan materi ceramah dan melontarkan bebragai pertanyaan kepada pembicara dan juga Sean Lofts. Sumber berita: laporan KJRI Perth

 

Permintaan produk Indonesia oleh pengusaha Saudi

Berikut ini daftar perusahaan Saudi Arabia yang mengirimkan permintaan atas produk Indonesia kepada Kedutaan Besar RI di Riyadh :

  • Abdullah H. Abdul Hadi Office, PO Box. 30792 Riyadh-KSA, Tel. 96614385618, 4220610, Fax. 96614385675, menginginkan Shampoo, pewarna rambut, salon kecantikan, contact person : Mr. Abdul Hadi

  • Gozailya Trading & Contracting Est, PO Box. 4188  Dammam-KSA, HP. 966- 505473547, Fax. 966-38348778, Email: nmhao@gozaliya.com, menginginkan sepatu, garmen dan tas sekolah, contact person: Mr. Hamad Ibrahim Al Ibin Sulaiman

  • Saudi Company of Chemical Trading Ltd, PO Box 22431-KSA, Tel. 9662-6520000 ext. 631, Fax. 9661-2111112, menginginkan kertas foto copy, kraft paper, contact person: Meyiz Teriaky

  • Mamiran for Trading, Tel. 9661-4655051, Fax. 9661-4648269, menginginkan peroduk kayu dan elektronik

  • Nafco Riyadh Paper Products Co, PO Box. 827 Riyadh-KSA, Tel. 9661-2650155 ext 218, Fax. 9662353860, menginginkan charcoal

  • Wafoor Industrial Company, PO Box. 26973 Riyadh-KSA, Tel. 9661-2652197, 2655580, HP. 966-507480829, Faks. 9661-2655455, menginginkan batu bara dan bijih besi

  • Al-Shegrey Bookstrore, PO Box. 8833 Riyadh-KSA, Tel. 9661-4611717, HP. 966-554400720, 500379497, Faks. 9661-4648998, Email: moataz@bookstores1.com , menginginkan kertas foto copy dan ATK

  • Al Tadamon Al Islami Library, PO Box 21474 Jeddah-KSA, Tel. 9662-6424609, 6423689, 6452263, Faks. 9662-6440192, Email: tadamon68@yahoo.com, menginginkan semen

  • Delmon Co. Ltd, PO Box. 6800 Dammam-KSA, Tel. 9663-8577777 ext 282, Faks 9663-8571900, Email: info@delmon.com.sa, menginginkan plywood

Sumber berita: laporan KBRI Riyadh

 

Daftar importir Namibia

Menurut laporan KBRI Windhoek, Namibia, terdapat sejumlah produk yang diimpor secara rutin oleh pengusaha setempat yaitu antara lain:

  • Kendaraan bermotor dan suku cadangnya

  • Mesin dan alat listrik, alat perekam, reproduksi gambar

  • Barang dari besi dan baja

  • Produk farmasi

  • Minuman ringan, minuman keras dan cuka

  • Plastik dan produk plastik

  • Kertas copy dan karton

  • Perabotan rumah tangga

Pasar Namibia didominasi oleh produk dari Afrika Selatan karena memangnya jaraknya lebih dekat dan dapat dibeli secara eceran. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk menjajaki kemungkinan memasuki pasar negara Afrika ini. Berikut ini nama-nama importir Namibia yang mengimpor barang-barang dari luar Afrika:

  • Ardea Investment (PTY) Ltd, Namcom Corner PO Box. 40193 Ausspannplatz - Windhoek, Tel. 264-61-300031/32, Fakz. 264-61-300034, Email: agab@cheetahcement.na, bidang usaha: semen

  • Battery Max, HP. 264-81-1249080, Email: faganbp@iway.na, bidang usaha: baterai kendaraan bermotor

  • Denu Distributors (PTY) Ltd, alamat: 54, Marconi Street Ausspannplatz PO Box 5762 Windhoek, Tel. 264-61-21-7628/9,  Faks. 264-61-7635, Email: denu @iafrica.com.na, bidang usaha: kertas dan peralatan kantor

Sumber berita: laporan KBRI Windhoek

 

PROJECT REBUILD IRAQ 2008
Ajang Promosi Produk Indonesia di Timur Tengah

Sedikitnya 12 perusahaan dari Indonesia telah bersiap untuk berpromosi pada pameran Project Rebuild Iraq 2008 atau The 5th International Rebuild Iraq Exhibition. Pameran yang bertempat di Amman Exhibition Park, Amman - Yordania ini, akan diselenggarakan pada tanggal 5-8 Mei 2008.

Keikutsertaan Indonesia kembali pada Rebuild Iraq 2008 merupakan salah satu upaya dalam mendapatkan pangsa pasar dalam pembangunan kembali Irak paska perang. Dengan menampilkan aneka produk, pameran yang telah diikuti semenjak tahun 2005 ini menjadi ajang promosi bagi produk-produk non migas Indonesia di wilayah Timur Tengah khususnya Irak dan Yordania.

Menempati area seluas 108 m2, 12 perusahaan nasional yang bergerak dibidang industri, industri produk pertanian dan kerajinan tampil dibawah koordinasi Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Departemen Perdagangan. Perusahaan tersebut adalah : PT Agropangan Putra Mandiri (black tea & tea drink), ADR Group of Company (spare parts/radiator & filter), CV New Sentosa (fire fighting equipment), PT Kinocare Era Kosmetindo (eskulin cologne gel, shampoo & body wash), PT Sinar Sri Rejeki Utomo (rattan furniture), PT Pim Pharmaceutical /Helmig Group (supplement drink), PT Marizarasa Sarimurni (processed food), Pasaraya International Hedonisarana (wooden parquet), PT Jumbo Power International (lubricating oils), Tati & Co. (wooden furniture), PT Lokomotif Eka Sakti (colouring stationeries) dan PT Pura Barutama (paper products).

Pada penyelenggaraan tahun 2007, Rebuild Iraq diikuti oleh 754 peserta dari 39 negara dengan jumlah pengunjung 8.306 orang termasuk 2.234 pengunjung dari Irak. Partisipasi Indonesia yang ke-4 (empat) kali ini dipimpin oleh Bapak M. Taufiqurrachman dari Pusat Pengembangan Pasar Wilayah Afrika & Timur Tengah dan Bapak M.Yasin Olong sebagai wakilnya.(Sumber: BPEN)

 

Minggu ke-1 April 2008

Potensi Hubungan Bilateral RI-Singapura

Hubungan Indonesia-Singapura mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan nasional Indonesia maupun kepentingan kawasan. Dari segi kepentingan nasional, hubungan bilateral kedua Negara yang erat, produktif dan saling menguntungkan mutlak diperlukan dan harus terus diupayakan terutama guna menciptakan lingkungan eksternal yang menunjang bagi kepentingan pembangunan nasional Indonesia. Besarnya komplementaritas kepentingan ekonomi diantara kedua Negara harus secara strategis terus dikembangkan terutama dalam rangka menunjang upaya pembangunan ekonomi Indonesia.

Sementara itu dari kepentingan kawasan, Indonesia dituntut untuk memberikan prioritas dan perhatian pada pembinaan dan penguatan hubungan, kerjasama serta solidaritas ASEAN, dan dalam hal ini hubungan bilateral yang baik dan erat antara Indonesia dan Singapura merupakan salah satu prasyarat untuk mencapai tujuan tersebut. Demikian pula bagi Singapura, hubungan  baik dengan Indonesia bukan hanya untuk mengakomodasi “economic space” dan pasokan sumber daya produksi, tetapi juga untuk kepentingan strategis politis dan keamanan.

Singapura adalah Negara sahabat dan secara fisik geografis merupakan tetangga dekat Indonesia. Oleh karena itu hubungan dan kerjasama antara kedua Negara terwujud dalam berbagai bidang kehidupan, terutama yang menonjol adalah di bidang ekonomi dimana Singapura adalah mitra dagang utama, sumber investasi asing terbesar dan juga asal wisatawan asing terbesar bagi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara kedua Negara secara umum terus berkembang dan menunjukkan adanya peningkatan. Namun demikian, dalam kedekatan tersebut sering terjadi gesekan-gesekan akibat perbedaan kepentingan yang kemudian menjadi ganjalan dan apabila ganjalan tersebut tidak segera diatasi atau dicari solusinya akan berpotensi mengganggu hubungan kedua Negara.
 


Potensi kerjasama ekonomi
Hubungan ekonomi Indonesia – Singapura terus berkembang berkat adanya komplementaritas kepentingan ekonomi kedua Negara yang sangat besar. Perkembangan hubungan ekonomi ini antara lain ditandai dengan besarnya volume perdagangan, arus investasi dan periwisata kedua Negara.

Perdagangan
Singapura adalah mitra dagang utama Indonesia ketiga setelah AS dan Jepang. Menurut data statistic yang dikeluarkan oleh IE Singapura, pada tahun 2007, ekspor Indonesia ke Singapura mencapai S$ 22,06 Milyar (US$ 15,76 Milyar) . Sementara itu ekspor produk domestik Singapura juga mengalami peningkatan dari S$ 15,87 milyar tahun 2006 menjadi S$ 17,24 Milyar tahun 2007. Disamping itu juga terdapat produk-produk negara lain yang direekspor Singapura yang jumlahnya S$ 27,07 Milyar. Sementara data statistik Indonesia (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia pada tahun 2006 mencapai US$ 9 Milyar sedangkan impor Indonesia dari Singapura mencapai US$ 10 Milyar. Untuk periode Januari – September 2007, ekspor Indonesia sekitar US$ 7,8 Milyar dan impor sekitra US$ 7,1 Milyar.

Hubungan perdagangan kedua negara mempunyai peluang untuk terus dikembangkan, dan Indonesia dapat memanfaatkan posisi strategis Singapura sebagai trading hub terbesar di Asia. Singapura dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang bagi pengembangan ekspor Indonesia ke pasar global, oleh karena itu upaya untuk mempromosikan produk ekspor Indonesia, termasuk produk-produk UKM tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri Singapura, tetapi juga untuk pasar Negara lain dengan memanfaatkan jaringan pemasaran dan distribusi Singapura.

Investasi
Singapura menunjukkan minat yang sangat besar untuk meningkatkan investasinya di Indonesia, termasuk di sektor infrastruktur. Hal ini tercermin dengan melonjaknya nilai investasi pada beberapa tahun terakhir dan menjadikan Singapura menmpati urutan pertama sebagai investor terbesar di Indonesia. Pada tahun 2007, nilai realisasi investasi Singapura sekitar S$ 3,7 milyar untuk 124 proyek atau sekitar 36,2% dari total realisasi penanaman modal asing di Indonesia.

Peningkatan nilai investasi ini disamping menunjukkan kepercayaan para pengusaha Singapura terhadap  iklim bisnis di Indonesia yang kondusif juga mempunyai nilai strategis karena langkah yang diambil para investor Signapura akan menjadi referensi bagi para investor Negara lain. Hal ini menjadi sangat penting meningat persaingan untuk menarik investasi asing diantara negra-negara kawasan semakin ketat.

Oleh karena itu strategi promosi yang akan dilakukan disamping difokuskan kepada kalangan dunia usaha Singapura, juga akan menjangkau perwakilan perusahaan asing di Singapura yang jumlahnya sangat besar. Demikian pula investor Singapura perlu diarahkan ke daerah-daerah lain disamping Batam dan Bintan.

Pariwisata
Singapura selama beberapa tahun ini merupakan asal wisatawan asing terbesar bagi Indonesia dan pada tahun 2007 terdapat sekitar 1,46 juta wisatawan Singapura mengunjungi Indonesia, atau sekitar 32 persen dari penduduk Singapura, suatu jumlah yang cukup besar.

Sementara itu memperhatikan industry pariwisata di Singapura berkembang pesat dan bahkan tahun 2007 terdapat 10,3 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Singapura, maka strategi pemasaran Indonesia disamping untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Singapura, juga ditujukan untuk menarik wisatawan asing tersebut agar mengunjuni Indonesia. Untuk itu perlu dikembangkan kegiatan promosi bersama dengan Singapura, antara lain dengan mengkombinasikan tujuan wisata Singaprua yang lebih menonjol dengan pariwisata belanja dengan keindahan alam dan budaya Indonesia dalam suatu paket wisata.

Promosi Indonesia di Singapura
Memperhatikan besarnya potensi hubungan ekonomi kedua Negara, KBRI Singapura menempatkan kegiatan promosi perdagangan, investasi dan pariwisata sebagai salah satu kegiatan utama. Pada tahun 2007 telah dilakukan 24 kali kegiatan promosi baik berupa pameran produk-produk Indonesia, penyelenggaraan business matching, mengkoordinasikan misi dagang dan investasi dan kegiatan promosi lainnya. Bahkan untuk yang pertama kalinya telah diadakan promosi terpadu di Ngee Ann City (Orchad Road), pusat bisnis dan turis di Singpaura yang mendapatkan perhatian yang sangat besar baik dari masyarakat Singpura maupun  turis asing yang berkunjung ke Singapura. Kegiatan semacam ini akan terus dikembangkan dan menjadi prioritas utama KBRI Singapura.

 

 

Pameran makanan di Uzbekistan

Indonesia telah berpartisipasi dalam pameran industri makanan internasional   “the 8th Uzbekistan International Exhibition Food Industry 2008” yang berlangsung dari 25 – 27 Maret 2008 di UzExpoCenter, Tashkent-Uzbekistan.

Pameran ini diikuti oleh 80 perusahaan peserta pameran yang bergerak dalam industri makanan dan minuman. Mereka berasal dari 22 negara antara lain: Inggris, Polandia, Jerman, Israel, Uzbekistan, Korea-Selatan, Italia, Singapura dan Indonesia dengan jumlah stan sekitar 147 buah. Pameran ini diselenggarakan oleh International Trade Exhibition (ITE) Uzbekistan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Sumber Air Uzbekistan, Kementerian Hubungan Luar Negeri Ekonomi Luar Negeri Uzbekistan, KADIN Uzbekistan, Perusahaan “Uzvinprom”, Asosiasi Industri Daging dan Susu Uzbekistan “Uzmyasomolprom” serta Walikota Tashkent, acara ini berlangsung di UzExpo-Center, Tashkent-Uzbekistan.

KBRI Tashkent bekerjasama dengan sejumlah industri makanan di Indonesia diantaranya PT. Indofood, PT. Unilever, PT. Sekar Laut dan PD Tritis Internasional telah berpartisipasi dalam membuka stan yang menampilkan berbagai jenis produk makanan jadi. Stan Indonesia ditampilkan dengan nuansa budaya Indonesia serta penjaga stan mnenggunakan pakaian tradisional Indonesia untuk menampilkan nuansa budaya Indonesia pada pameran tersebut, disamping  sebagai upaya untuk menarik pegunjung. 

Pada hari pertama pameran berlangsung, tidak kurang dari delapan potential companies berminta untuk dapat menjalin kontak dengan perusahaan produk makanan Indonesia. Mereka tertarik dengan produk makanan antara lain: mie instant, saos sambal, dan bumbu jadi. Disamping itu terdapat satu perusahaan penyalur produk makanan dan minuman yang juga tertarik untuk dapat mendistribusikan produk makanan Indonesia untuk dipasarkan di Uzbekistan.

Pada pameran ini, KBRI Tashkent menampilkan beragam produk contoh beserta bahan promosi produk baik cetak maupun visual dari perusahaan PT. Indofood, PT. Unilever, PT. Sekar Laut dan PD Tritis Internasional. Dukungan dan kerjasama dengan perusahaan tersebut diharapkan dapat terus ditingkatkan dan diperluas dengan mengikutsertakan perusahaan lainnya dalam menyediakan contoh produk dan bahan promosi untuk keikutsertaan KBRI Tashkent pada pameran sejenis lainnya dimasa mendatang.

Dalam pameran ini, stan Indonesia telah mendapatkan apresiasi dari pihak penyelenggara ITE (International Trade Exhibition) Uzbekistan, dengan memberikan “Certificate for Support”.  Keikutsertaan Indonesia pada pameran ini adalah untuk yang kedua kalinya. Pada 2007, stan Indonesia mendapat penghargaan Special Premium dari penyelenggara pameran.  KBRI Tashkent merencanakan untuk ikut berpartisipasi pada pameran serupa   yang akan berlangsung di Bishkek, Kyrgyzstan dalam tahun 2008 ini.  (Sumber: KBRI Taskhent)

 

 

Karachi, pintu perdagangan RI - Pakistan
 

Pakistan dengan penduduk kurang  lebih dari 160 juta orang serta peningkatan pendapatan per kapita menurut National Bank of Pakistan dari $742 (2004/05) menjadi $847 (2005/06) dan dalam tahun  2006-2007 naik menjadi US$ 925,- merupakan pasar yang potensial bagi Indonesia untuk digarap dan mendapat perhatian. Persetujuan Perdagangan RI – Pakistan membuka peluang yang lebih besar untuk meningkatkan hubungan perdagangan.

 

Provinsi Sindh, dengan ibukotanya Karachi, yang menjadi wilayah kerja KJRI Karachi, merupakan provinsi yang penting di Pakistan karena kontribusinya terhadap ekonomi nasional sangat signifikan. Karachi adalah kota terbesar dan pusat aktifitas ekonomi Pakistan. Sebagian besar kegiatan ekonomi Pakistan, terutama perdagangan, industri dan keuangan, beroperasi di Karachi. Beberapa instansi Pemerintah Federal berpusat di Karachi seperti State Bank of Pakistan (Bank Sentral), Federation Chamber of Commerce and Industry (Kadin Federal) dan Pakistan State Oil Company (PSO). Sedangkan instansi pemerintah federal yang memiliki kantor di Karachi, antara lain, adalah Federal Bureau of Statistics (FBS), dan Board of Investment (BOI). Sementara itu, Kadin Karachi (Karachi Chamber of Trade and Industry / KCCI) merupakan organisasi kamar dagang terbesar dengan jumlah anggota langsung hampir 16.000 orang dan yang tidak langsung sekitar 25.000 orang (terwakili/dibawah naungan berbagai asosiasi industri dan perdagangan di Pakistan).

 

Karachi memiliki bandar udara terbesar di Pakistan dan dua buah pelabuhan laut sehingga menjadikannya sebagai pintu gerbang pergerakan barang (ekspor dan  impor) maupun orang dari dan ke Pakistan dan berpenduduk sekitar 16 juta orang.

 

Produk Indonesia yang sudah punya pasar Pakistan.

Produk utama yang diimpor Pakistan dari Indonesia antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya; batubara; produk kertas termasuk kertas lembaran dan kemasan; buah pinang, bahan bangunan dan barang kimia, teh,  peralatan dan mesin; berbagai produk karet; tv; sukucadang kendaraan; makanan olahan; tekstil termasuk pakaian jadi untuk anak-anak, yarn dan serat sintetis; serta produk besi dan baja.

 

Neraca  perdagangan bilateral Indonesia – Pakistan

Neraca perdagangan Pakistan–Indonesia menunjukkan surplus yang selalu meningkat bagi Indonesia dalam lima tahun terakhir sebagaimana tabel berikut:


Neraca Perdagangan Indonesia-Pakistan 2000/01 – 2006/07 (dalam juta US $)

 

TAHUN       Ekspor    Impor   Volume    Neraca
2002/03     257,40     73,38    330,78     184,02
2003/04     357,66     44,53    402,19     313,13
2004/05     574,85     70,47    645,32     504,38
2005/06     756,32     57,90    814,22     698,42
2006/07     846.62     72.84    919.46     773,78

Sumber: Federal Bureau of Statistics Pakistan.

 

Peluang pengusaha Indonesia untuk berbisnis dengan  Pakistan

Peluang bisnis dengan Pakistan masih sangat terbuka. Selain produk unggulan ekspor  tradisional yang sudah mempunyai  pasar di Pakistan, berdasarkan pengamatan&survey pasar serta permintaan informasi bisnis yang kami terima, bahan dan barang kimia seperti polypropilene dan stryfoam, bahan bangunan seperti keramik dan pipa PVC; bahan baku industri sepatu; kertas keperluan industri (paper cone), serta barang konsumsi seperti makanan dalam kemasan, generator listrik untuk perumahan, peralatan elektronik hemat listrik (mengantisipasi kebijakan Pemerintah Pakistan dalam menghadapi krisis energi yang mengkampanyekan peralatan hemat listrik), stationeries, garmen, produk plastik rumahtangga, rempah-rempah, minyak atsiri dan kosmetik, toiletries, dan detergen sebagai produk subsitusi pembersih yang berasal dari produk turunan kelapa sawit diminati oleh pasar Pakistan.

 

Dalam rangka mencari peluang pasar Pakistan, KJRI-Karachi setiap tahun mengagendakan untuk berpartisipasi dalam pameran multiproduk “My Karachi Oasis of Harmony” yang diselenggarakan oleh Kadin Karachi setiap minggu pertama  Juni.   Untuk tahun 2008, pameran  “My Karachi Oasis of Harmony” akan diselenggarakan pada tanggal   6 – 8 Juni 2008 dan KJRI Karachi berencana untuk menyediakan 3 buah stan ukuran 3x3m bagi peserta dari Indonesia. Kami menghimbau agar perusahaan-perusahaan di Indonesia memanfaatkan kesempatan pameran untuk meningkatkan  nilai ekspor Indonesia ke Pakistan.

 

Bagi pihak-pihak yang berminat untuk memperkenalkan produknya di Karachi, KJRI Karachi juga akan dengan senang hati bersedia membantu mempromosikan dan untuk itu, penyampaian bahan-bahan promosi berupa brosur, poster, cd, dan sample produk dapat dialamatkan kepada:


Consulate General of The Republic of Indonesia
E/1-5, Shahrah-e-Iran, Clifton,Karachi 75600, Pakistan. 
Email : info@indonesia-cg.pk.
Tel. : (092-21) 5874619
Fax. : (092-21) 5874483

 

Pesaing Indonesia di pasar Pakistan

Produk unggulan Indonesia di pasar Pakistan menghadapi tantangan serius dari produk sejenis yang diimpor antara lain dari negara-negara yang telah mengadakan perjanjian perdagangan bebas dengan Pakistan/Free Trade Agreement (Sri Lanka, China dan Malaysia). Peringatan pengusaha Pakistan khususnya mengenai kelapa sawit  tentang adanya perbedaan bea masuk  dengan Malaysia bisa mencapai 10% setelah ditandatanganinya  FTA  antara Pakistan dengan Malaysia (yang berlaku mulai 1 Januari 2008) dapat berpengaruh terhadap ekspor Indonesia ke Pakistan.  Komoditi ekspor tradisional Indonesia buah pinang, juga bersaing dengan Thailand, Malaysia dan Singapura.

 

Timbul pertanyaan, Singapura yang tidak menghasilkan buah  pinang dapat mengekspor buah pinang tentunya merupakan keanehan sendiri. Darimana asalnya  buah pinang tersebut? Jangan-jangan asalnya dari Indonesia. Sementara untuk komoditi teh, Indonesia juga bersaing dengan Vietnam, India, dan Bangladesh. Sebagian besar impor teh Pakistan dari Kenya (65%). Pakistan merupakan konsumen teh yang sangat tinggi, rata-rata perorang  lebih dari 1 kg/tahun. Pakaian jadi untuk anak-anak saingan utama dari China dan Thailand. Salah satu toko di Karachi mengaku dapat menjual 3 kontainer pakaian anak-anak perbulannya. Mereka membelinya di Glodok atau Tanah Abang.

 

Jenis produk makanan kemasan Indonesia yang beredar di Karachi relatif masih sangat sedikit dan terbatas jumlahnya. Sebenarnya masih dapat terus ditingkatkan mengingat dilihat dari segi penampilan dan kualitas, produk makanan dalam kemasan Indonesia tidak kalah dari produk negara-negara pesaing Indonesia seperti Malaysia dan Thailand. Produk makanan dalam kemasan Indonesia yang telah ada di toko/mall/pasar  di Karachi antara lain produk mi instan (Indomie/Indofood), Kecap (Heinz ABC), margarine, confectionary (Kopiko/Mayora), dan produk makanan olahan buah kelapa (Kara/PT. Pulau Sambu Guntung).

 

Turisme

Sejak peristiwa 11 September 2001, warga negara Pakistan mengalihkan tujuan wisatanya ke Asia Timur/Asia Tenggara.  Untuk Asia Tenggara, Thailand, Malaysia dan Singapura merupakan tujuan utamanya karena memberikan kepastian pemberian visa, bahkan Malaysia memberikan visa on arrival. Selain itu adanya penerbangan langsung oleh maskapai penerbangan TG (dalam seminggu empat kali dari Karachi, tiga kali dari Lahore dan dua kali dari Islamabad), MAS (dalam seminggu tiga kali dari Karachi) dan SIA (seminggu tiga kali dari Karachi) memudahkan mereka bepergian ke ketiga negara tersebut. Kebanyakan mereka yang menghabiskan liburan musim panasnya ke luar negeri adalah tingkat menengah keatas, para pebisnis dsb.
 
Untuk menarik wisatawan Pakistan berkunjung ke Indonesia khususnya  dalam rangka kampanye Visit Indonesia Year 2008 dan  menghadapi liburan musim panas yang akan datang Travel Agent Association of Pakistan (TAAP)  ingin mengadakan kerjasama dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia  (ASITA)  di Indonesia untuk menarik dan mengatur wisatawan Pakistan berkunjung ke Indonesia. Halo ASITA ada tanggapan? (Sumber: artikel Konjen RI Karacahi di website Deplu)

 

Pameran produk teh dan kopi di luar negeri

Teh dan Kopi merupakan sumber kafein, keberadaannya di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada saat ini, teh dan kopi menjadi komoditas yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Departemen Pertanian mencanangkan untuk meningkatkan cita rasa teh dan kopi dipasar internasional dengan mentargetkan peningkatan ekspor teh sebesar 30% dan kopi 20% pada tahun ini.

 

Pameran produk pertanian yang menjadi program Departemen Pertanian, mendukung penyelenggaraannya pada ajang promosi berskala internasional seperti :

  • Agro and Food Expo di Semanggi Expo tanggal 22-25 Mei 2008

  • Indonesia Agribusiness Expo 2008 di Tunjungan Plaza, Surabaya pada tanggal 31 Juli - 3 Agustus 2008

  • Soropadan Agro Expo pada bulan Juni 2008 di Soropadan, Temanggung, Jawa Tengah

  • Batam Agrobusiness Expo pada tanggal 6-9 Nopember 2008 di Batam

Untuk promosi luar negeri, Deptan merencanakan berpartisipasi pada :

  • The 5th Thailand Asian Coffee & Tea 2008 di Mahisorn Hall, SCB Park Plaza, Ratchayothin-Bangkok, Thailand pada tanggal 12-16 Maret 2008

  • The 60th Campionaria Internazionale di Trieste, Italia pada tanggal 7-15 Juni 2008

  • TRIESTESPRESSO Expo (Coffee) Exhibition 2008 di Monteblo Building, Trieste, Italia pada tanggal 12-15 Nopember 2008

Beberapa promosi internasional yang telah disusun Deptan dan dikoordinir oleh BPEN yaitu :

  • Motexha Spring Fair, Dubai, UAE tanggal 31 Maret - 2 April 2008

  • Project Rebuild Iraq 2008, Aman, Jordania, tanggal 5-8 Mei 2008

  • 1st IE-CEE (The 1st Indonesia Expo in Central and East Europe), Warsawa, Polandia

  • Salon International de L'Alimentation (SIAL), Shanghai, RRC, tanggal 14-16 Mei 2008

  • Seoul Food & Hotel 2008, Seoul, Korea Selatan, tanggal 14-17 Mei 2008

  • Tong-tong Festival, Den Haag, Belanda, tanggal 21 Mei - 1 Juni 2008

  • The 5th China Asian Expo (CAEXPO), Nanning International Convention & Exhibition Center,

  • RRC tanggal 28-31 Oktober 2008

Deptan juga memprakarsai budaya minum teh dan kopi tradisional Indonesia yang direncanakan akan dicanangkan oleh Presiden RI, namun waktunya masih belum ditetapkan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi teh di dalam negeri yang baru mencapai 0,35 kg/kapita per tahun dan konsumsi kopi 0,6 kg/kapita per tahun. Dengan pencanangan ini diharapkan konsumsi teh mencapai 0,75 kg/kapita per tahun dan kopi mencapai 1 kg/kapita per tahun pada tahun 2010.(Sumber BPEN)

 

 

 

Minggu ke-2 Maret 2008

Pasar produk Alas Kaki di Australia

Australia yang berpenduduk sekitar 20.9 juta, merupakan pasar kompetitif untuk produk alas kaki, sehingga eksportir produk alas kaki Indonesia harus bersaing ketat, terutama dalam hal biaya operasional. Importir sepatu di Australia umumnya suka mencari supplier baru yang menawarkan harga kompetitif, namun tidak suka tawar menawar.

Pasar Australia memberlakukan “money back guarantee” sehingga mementingkan kualitas. Pasar Australia terbagi menjadi dua, yaitu pasar dengan harga-harga eceran yang relatif rendah misalnya produk sepatu olahraga, sandal pantai dan sepatu kulit pria. Yang kedua adalah pasar dengan harga eceran yang relatif tinggi, misalnya sepatu kulit wanita.

Tahun 2007 nilai ekspor sepatu beserta bagian-bagiannya (HS 64) dari Indonesia adalah US$35.24 juta. Ekspor sepatu Indonesia selama 3 tahun terakhir (2005-2007) menunjukkan peningkatan dengan nilai tren sebesar 24.57%. Indonesia berada di posisi ke 4 sebagai pengekspor alas kaki dengan pangsa pasar 2.13%. Posisi pertama adalah Cina dengan pangsa pasar 74.88% kemudian Italia (5.24%), dan ketiga Vietnam dengan pangsa pasar 3.56%.

Bea masuk produk alas kaki di Australia umumnya cukup tinggi yaitu sebesar 10%, namun tahun 2010 tarif ini akan turun menjadi sekitar 5%. Dan sejak 1 Juli 2007 Pemerintah Australia mengenakan pajak penjualan atau Government Service Tax (GST) sebesar 10% terhadap segala jenis produk termasuk produk alas kaki.Jalur pendistribusian produk alas kaki di Australia bervariasi, bergantung pada jenis produknya.

Saat ini dalam memasok barang impor, pedagang besar dan importir Australia cenderung lebih banyak berperan. Untuk produk bagian dari alas kaki umumnya yang membeli adalah industri manufaktur atau perusahaan importir Australia. Pemilihan agen atau pedagang besar mempengaruhi kesuksesan pemasaran produk impor di Australia.

Disamping itu pemilihan perwakilan juga perlu diperhatikan, sebagai perantara yang baik dalam menjaga reputasi dan kelangsungan usaha di Australia. Importir Australia umumnya meminta penawaran dengan harga FOB dalam dolar Australia. Sedangkan metoda pembayaran yang umum digunakan adalah sight draft dengan tempo maksimum 90 hari.

Namun untuk pengiriman pertama kali, produsen Indonesia dapat meminta pembayaran dengan irrevocable L/C. Dokumen yang diperlukan untuk ekspor ke Australia adalah: commercial invoice, certificate of insurance (if use CIF), Bill of lading (not negotiable), QCT (if applicable) dan packing list.Jauhnya jarak pengiriman setelah barang impor datang ke Australia menyebabkan, kualitas pengemasan dan pelabelan sangat diutamakan. Umumnya importir akan meminta sepatu yang diekspor dikirim dalam karton yang masing-masing dibungkus dengan polyethylene. Sebagai informasi, standar ukuran alas kaki di Australia mengikuti standar Inggris. Sumber: KBRI Canberra

 

Pasar Produk Handicraft Di Australia

Produk handicraft alami seperti kerajinan kayu dan rotan untuk rumah tangga dalam bentuk perabot atau hiasan, akhir-akhir ini banyak diminati di Pasar Australia. Namun keterbatasan sumber daya dan mahalnya tenaga kerja ahli, membuat biaya produksi handicraft menjadi terlampau besar di Australia. Dari kondisi tersebut, dapat dicermati bahwa terdapat peluang besar bagi eksportir Indonesia untuk mengekspor produk handicraft ke pasar Australia.

Total impor handicraft Australia mengalami peningkatan sebesar 13,73% dari US$ 405,85 juta pada tahun 2006 menjadi US$ 472,98 pada tahun 2007. Tren impor selama enam tahun terakhir (2002 – 2007) mengalami pertumbuhan sekitar 9,65%. Pemasok terbesar handicraft ke Australia selama ini adalah China dengan nilai US$ 234,16 juta pada tahun 2006 dan US$ 275,04 juta pada tahun 2007. Dengan nilai ekspor US$ 10,43 juta pada tahun 2006 dan US$ 13,61 juta pada tahun 2007, Indonesia menempati posisi ke empat sebagai pemasok handicraft di pasar Australia setelah China, USA dan Hongkong.

Untuk masuk ke Australia, handicraft jenis perabot rumah tangga rata-rata dikenakan tarif sebesar 5%. Disamping itu juga terdapat persyaratan ketat untuk impor produk berbahan dasar kayu, rotan, dan bahan dasar alam lainnya. Prosedur yang harus dilakukan antara lain adalah: Proses Fumigasi, harus dilakukan oleh penyedia jasa yang telah mendapatkan pengakuan dari AQIS, untuk info lebih lanjut dapat dilihat di situs www.aqis.gov.au/treatmentproviders; Proses pemanasan (heat treatment), untuk produk yang terbuat dari jenis kayu tertentu rentan terkena penyakit seperti kayu pinus; Proses Gamma irrradiation, untuk produk berukuran kecil yang dibawa dalam kargo pesawat.

Berdasarkan survei di lapangan, saat ini terjadi perubahan selera konsumen di Australia untuk produk basketworks dan stationery. Konsumen Australia lebih menyukai produk yang bahan bakunya tidak hanya satu macam seperti rotan saja, tetapi dibuat bervariasi dengan bahan lain seperti kulit, plastik, kayu atau bahan lainnya. Jenis produk yang mempunyai pertumbuhan cukup tinggi antara lain adalah nomor HS 9507 (alat pancing, mata kail, jaring ikan, jaring kupu-kupu dll.), 6704 (wig,jenggot,alis,bulu mata palsu dll.), 8308 (jepit, bingkai dengan jepit, gesper, kait dll.). Dan dengan rata-rata pertumbuhan 9,6 persen / tahun, handicraft terbesar yang diimport Australia adalah HS 9603 (sapu, aneka sikat, alat pel, kemucing dll.).

Konsumen Australia juga mulai tertarik dengan bahan eceng gondok (water hyacinth) untuk produk basket work/wickerwork. Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan peluang ini, namun perlu lebih memperhatikan ketelitian dan kerapian produk. Karena klaim yang sering disampaikan importir untuk produk Indonesia adalah kurang rapinya penyambungan sehingga terlihat kasar serta kadang anyamannya sering terbuka. Produk dari Vietnam untuk kategori basket work/wickerwork dianggap lebih baik , karena memiliki anyaman lebih halus dan inovasi desain yang lebih menarik.

Momen pembelian kebutuhan handicraft untuk parsel Natal dan Tahun baru adalah pada bulan Agustus, sehingga para eskportir diharapkan sudah dapat memberikan contoh maupun direktori produk handicraft yang ditawarkan pada bulan tersebut kepada importir Australia. (BPEN)

 

Perkembangan Impor dan Suplai Teh di Pakistan

Bagi masyarakat Pakistan, teh merupakan minuman utama. Konsumsi teh yang mencapai 170 juta kilogram pertahunnya, menempatkan Pakistan sebagai salah satu negara pengimpor teh terbesar di dunia. BPS Pakistan mencatat bahwa nilai impor tahun 2004-2005 sampai dengan 2006-2007 adalah 222.55 juta dolar; 222.78 juta dolar; 213.8 juta dolar.

Di Pakistan jenis black tea lebih disukai konsumen daripada green tea. Impor black tea tahun fiskal 2004-2005 sebesar 130.07 juta kilogram dan 2005-2006 sebesar 114.08 juta kilogram. Pemasok utama teh di Pakistan adalah India, Kenya, Bangladesh, Indonesia, Rwanda dan Tanzania.

Krisis yang saat ini tengah terjadi di Kenya dan faktor kekeringan membawa dampak negatif terhadap pasokan teh ke Pakistan sehingga memicu kenaikan harga teh di pasar dalam negeri Pakistan. Tea Board of Kenya memperkirakan tahun 2008 produksi Teh Kenya akan mengalami penurunan dari 369 juta kilogram di tahun 2007 akan menjadi 335 juta kilogram ditahun 2008.

Penyelundupan teh dari Afganistan juga turut merusak harga teh impor legal di pasaran Pakistan. Total biaya impor black tea ke Afganistan dengan menggunakan perjanjian Afgan Transit Trade Agreement (ATTA) hanya sekitar 10 persen, sementara melalui jalur impor legal biayanya sekitar 33 persen. Sehingga mengakibatkan sebagian besar black tea yang diimpor dengan fasilitas ATTA diselundupkan kembali ke Pakistan.

Menanggapi masalah tersebut, Asosiasi Teh Pakistan mendesak pemerintah Pakistan untuk melakukan rasionalisasi terhadap pajak dan bea masuk black tea impor. Hambatan bagi eksportir teh Indonesia untuk masuk Pakistan terkait dengan bea masuk sebesar 30% untuk produk teh Indonesia. Sementara untuk teh India, Srilanka dan Kenya hanya dikenai bea masuk 5%. Ini menyebabkan komoditi teh Indonesia kurang kompetitif dibanding negara pengekspor teh lainnya.

Kementrian perdagangan Pakistan mengungkapkan bahwa nilai ekspor komoditi teh & mate Indonesia periode tahun 2003-2004 sampai periode 2006-2006 mengalami peningkatan, yaitu 10.37 juta dolar menjadi 12.03 juta dolar dan menjadi 14.16 juta dolar. Namun mengalami penurunan pada periode 2006-2007 yaitu menjadi senilai 12.48 juta dolar.

Namun demikian, permasalahan pasokan teh dari Kenya ke Pakistan, dipandang KBRI sebagai peluang bagi pengusaha teh Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke Pakistan. Guna mengantisipasi penurunan nilai ekspor teh dan hambatan perdagangan dalam peningkatan ekspor teh ke Pakistan diperlukan peran serta dari pihak yang berhubungan dengan kebijakan industri teh di Indonesia. Program pengembangan pasar teh melalui pengiriman misi dagang, eksebisi, dan promosi dapat lebih gencar lagi dilakukan untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke Pakistan. Sumber: KBRI Islamabad

 

Pameran kerajinan tradisional di Aljazair

Sebanyak 338 perusahaan dari 26 negara dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara telah berpertisipasi dalam pameran internasional produk kerajinan tradisional di Alger. Dalam pameran yang diselenggarakan tanggal 3-9 Maret 2008 itu, Indonesia diwakili oleh beberapa perusahaan UKM yang mempromosikan beberapa produk kerajinan antara lain perhiasan (Nahdi Jewelry), perak Bali, batik Pekalongan, kerudung Jogja, tas kulit dari Banyumas dan gelang karet dari Bali.

Menurut laporan KBRI Alger, stand Indonesia cukup diminati pengunjung dan selalu penuh oleh calon buyer terutama yang berminat untuk mengimpor produk yang dipamerkan. Minat masyarakat Alger akan produk perhiasan perak Indonesia sangat tinggi, kemungkinan karena beberapa suku di Aljazair secara tradisional sehari-hari menggunakan perhiasan perak. “Mereka tertarik pada design perhiasan Nahdi Jewelry yang memadukan disain tradisional Indonesia, modern dan tradisional Afrika” ujar seorang staf KBRI Alger.

Masyarakat Alger juga menyukai pada produk kulit seperti tas dari kulit reptile.

 

Peresmian supermarket Indonesia di Hongkong

Sebuah supermarket yang menjual berbagai produk kebutuhan sehari-hari buatan Indonesia yaitu Indo Market telah diresmikan pembukaannya oleh Konjen RI Hongkong tanggal 2 Maret 2008. Supermarket sebenarnya merupakan pengembangan dari supermarket yang telah ada sejak 10 tahun lalut.

Supermarket ini dikelola oleh sebuah perusahaan Hongkong Fok Hing Trading Limited, suatu perusahaan importir makanan Indonesia yang juga berperan sebagai agen tunggal PT Indofood Sukses Makmur Tbk di Hongkong.

Dengan semakin banyaknya jumlah warga Indonesia di Hongkong, potensi ekspor produk makanan dan berbagai produk lainnya ke Hongkon semakin berkembang. Peningkatan jumlah impor komoditi Indonesia ke Hongkong menyebabkan bertambahnya nilai ekspor Indonesia ke Hongkong. Pada tahun 2007 eskpor Indonesia ke Hongkong mencapai US$ 2,075 milyar meningkat dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar US$ 1,917 milyar.

 

 

Minggu ke-1 Maret 2008

Pameran tekstil internasional MOTEXHA 2008

Motexha 2008 adalah pameran tahunan terbesar garmen, tekstil, kulit, fashion, dan asesoris di Timur Tengah, terbukti mampu mendorong pertumbuhan industri dan perdagangan TPT di kawasan Timteng. Diperkirakan nilai perdagangan TPT di kawasan itu mencapai US$ 12 miliar. Didirikan sejak 28 tahun silam, Motexha 2008 akan kembali menjadi platform paling interaktif bagi para profesional yang bergerak di bidang industri. Menurut rencana, Motexha 2008 akan digelar pada tanggal 31 Maret – 2 April 2007 di Dubai Int’l Exhibition Center.

“Tekstil merupakan komoditas re-ekspor terbesar kedua di Dubai dengan nilai perdagangan pada tahun 2007 sebesar US$ 2 miliar. Motexha 2008 akan terus mendorong pertumbuhan industri TPT. Melalui partisipasinya pada pameran tersebut, perusahaan TPT negara peserta dapat meraih peluang pasar yang sangat besar di Dubai khususnya dan UAE pada umumnya,” ungkap Geoffrey Booy, Direktur Pameran Motexha untuk wilayah Timteng.

Pameran ini cukup diminati para eksportir Indonesia. Hal ini di buktikan dengan meningkatnya jumlah peserta Indonesia selama tiga kali BPEN mengikuti pameran ini. Pada tahun 2005 jumlah peserta dari Indonesia melalui BPEN 9 perusahaan, kemudian tahun 2006 jumlah peserta meningkat menjadi 20 perusahaan.

Pada pameran ini, peserta tidak diperkenankan melakukan penjualan secara eceran. Produk yang akan dipamerkan dalam kegiatan ini antara lain ladies & men”s ready to wear, children & baby”s wear, sportwear, lingeria & swimwear, franchaises & International brands, uniform "& speciality clothing, leather goods, footwear, fashion accessories, rextiles & trimmings.

Bagi perusahaan yang menginginkan informasi secara lengkap tentang pameran MOTEXHA TRADE FAIR 2008 ini dapat menghubungi:
Pusat Wilayah Afrika dan Timur Tengah
Badan Pengembangan Ekspor Nasional  Departemen Perdagangan
Jl Kramat Raya 172
Jakarta
Tel. 62-21-31904911
Fax. 62-21-31901679

 

 

 

Sidang Komisi Bersama RI – Afrika Selatan

Dalam menindaklanjuti “Memorandum of Understanding for the Establishment of the Joint Commission for Bilateral Cooperation” antara RI – Afrika Selatan yang telah ditandatangani di Durban pada tanggal 23 Maret 2004, dan setelah melalui penundaan beberapa kali, maka telah disepakati bahwa Sidang Komisi Bersama I RI – Afrika Selatan akan diadakan di Batam pada tanggal 25-26 Februari 2008 pada tingkat Pejabat Senior (Senior Official Meeting).

Dalam sidang tersebut, Delegasi Indonesia akan dipimpin oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Departemen Luar Negeri, Primo Alui Joelianto, sedangkan delegasi Afrika Selatan akan dipimpin oleh J. Matjila, Deputi Direktur Jendral Asia dan Timur Tengah, Departemen Luar Negeri Afrika Selatan.

Sidang Komisi Bersama ini merupakan sidang pertama sejak pembentukannya. Sidang akan membicarakan tindak lanjut kerjasama yang telah disepakati, sekaligus mengidentifikasi peluang-peluang kerjasama baru yang dapat meningkatkan hubungan kedua Negara. Agenda Sidang berisikan mengenai pertukaran pandangan (exchange of views) tentang hubungan politik, bilateral serta isu-isu regional dan internasional, pembahasan mengenai isu-isu politik, keamanan, kerjasama teknis, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan perempuan, serta kerjasama di bidang ekonomi, keuangan, perbankan, UKM, pertanian, perikanan, perhubuangan, suber energi dan mineral, budaya dan pariwisata, iptek dan kerjasama antara KADIN kedua negara.

Total perdagangan Indonesia dengan Afrika Selatan tahun 2007 (Januari-September) sebesar US$ 584.898 juta, (ekspor US$ 400.104 juta naik 40,37% dan impor US$ 184.794 juta meningkat 9.50%) dibandingkan periode yang sama tahun 2006. Trend total perdagangan kedua negara selama 5 tahun terakhir (2002-2006) meningkat 20,25%.

Meskipun nilai total perdagangan yang dicapai kedua negara belum menunjukkan potensi perdagangan, serta sumber daya produksi dan perdagangan yang dimiliki oleh Indonesia dan Afrika Selatan, namun berpotensi untuk dikembangkan kerjasama yang sinergis dan komplemen untuk meningkatkan perdagangan kedua Negara.

Dalam pertemuan akan diupayakan untuk disepakati upaya-upaya peningkatan saling kunjung pejabat tinggi swasta dan akademisi serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat kedua negara untuk meningkatkan saling pengertian dan saling pemahaman diantara kedua negara, dalam rangka meningkatkan intensitas kerjasama dan hubungan bilateral, regional maupun saling dukung di forum Internasional. (Sumber: deplu.go.id)

 

  


Komisi Konsultasi Bilateral IV Indonesia – Uzbekistan

Indonesia dan Uzbekistan telah sepakat untuk menyelenggarakan pertemuan Komisi Konsultasi Bilateral IV kedua negara pada 17 – 19 Maret 2008 yang akan berlangsung di Medan, Indonesia. Pertemuan tersebut direncanakan akan dihadiri oleh para pejabat tinggi kementerian luar negeri kedua negara dan instansi teknis terkait lainnya dengan agenda pembahasanan antara lain menyangkut implementasi kerjasama yang telah ditandatangani sebelumnya serta kemungkinan pembentukan kerjasama lainnya di bidang ekonomi perdagangan dan sosial budaya.

Selain itu, pertemuan KKB IV di medan ini juga diharapkan dapat membahas rencana kunjungan Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, ke Indonesia pada pertengahan 2008. Sedangkan pada bidang ekonomi dan perdagangan, kedua pihak diharapkan dapat membahas dan mencapai kesepakatan untuk mengembangkan kerjasama di bidang perdagangan, investasi dan energi yang sangat potensial untuk dikembangkan berdasarkan asas saling menguntungkan kedua negara.

Disamping pertemuan KKB IV tersebut, telah direncanakan pula penyelenggaraan back-to-back pertemuan forum bisnis yang akan dihadiri oleh sejumlah pebisnis/pengusaha Uzbekistan dan Indonesia guna membicarakan kemungkinan pengembangan kerjasama di segala sektor ekonomi, perdagangan, dan investasi bagi kepentingan peningkatan hubungan bilateral ekonomi Indonesia dan Uzbekistan. Dubes RI Sjahril Sabaruddin dalam pembicaraannya dengan Ketua KADIN Uzbekistan,  Alisher Saehof mengatakan bahwa kesempatan pertemuan bisnis forum di Medan ini harus dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha Uzbekistan untuk dapat bertemu dengan mitra mereka di Indonesia, untuk itu, Dubes RI mengajak para pengusaha Uzbekistan berpartisipasi pada bisnis forum tersebut guna dapat langsung menjalin kontak dengan mitra pengusaha Indonesia di berbagai bidang usaha. 

Saat ini volume perdagangan antara Indonesia dan Uzbekistan masih relatif kecil (data perdagangan RI – Uzbekistan periode Januari – Oktober 2007 berjumlah US$ 23,8 juta) dan diharapkan forum bisnis tersebut dapat dijadikan media untuk lebih meningkatkan hubungan dagang kedua negara. (Sumber: KBRI Tashkent)


 

  

 

Pameran Outdoor Festival di Osaka

Pada tanggal 8-9 Maret 2008 akan diadakan pameran internasional produk-produk outdoor seperti kursi taman dan asesoris taman, sepeda perlengkapan menyelam dan lain lain. Kantor  Indonesian Trade Promotion Center di Osaka akan berpartisipasi pada pameran Out Door Festival yang akan diselenggarakan di Intex Osaka Paviliun tanggal 8-9 Maret 2008. Pada event tersebut Indonesia akan menampilkan produk-produk Out Door buatan Indonesia dan juga promosi pariwisata pulau Bali.

 

 

 

 

 

Minggu ke-4 Februari 2008

The 32nd Dar es Salaam International Trade Fair 2008

KBRI Dar es Salaam telah menerima undangan dari Board of External Trade Tanzania untuk para pengusaha Indonesia guna ikut dalam pameran internasional di Dar es Salaam tanggal 28 Juni - 8 Juli 2008.

Acara ini dapat digunakan sebaga ajang promosi produk Indonesia di kawasan Afrika Timur khususnya Tanzania, yang kemudian hari dapat digunakan salah satu pintu gerbang produk Indonesia untuk melakukan penetrasi ke wilayah Afrika Timur, Tengah dan Selatan yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi cukup pesat. Negara-negara Afrika seperti Tanzania, Kenya, Uganda, Burundi dan Rwanda saat ini tengah melakukan pembangunan di segala sektor dan membutuhkan pasokan berbagai produk.

Bila Anda berminat untuk mengikuti pameran ini, silahkan hubungi Kedutaan Besar RI di Dar es Salaam, Tanzania :

Kedutaan Besar RI Dar Es Salaam

299 Ali Hasan Mwinyi Road, P.O. Box 572, Dar Es Salaam,

United Republic of Tanzania

Telp. (255-22) 211 9119, 211 8113, Fax.  (255-22) 211 5849

E-mail: kbridsm@raha.com

(Sumber: laporan KBRI Dar es Salaam)

 

 

Pameran Internasional Sana'a ke-4

KBRI Sana'a menerima informasi dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Yaman mengenai rencana penyelenggaraan Pameran Internasional Sana'a ke-4 yang akan diadakan pada tanggal 13 - 18 Juni 2008.

Menurut pengamatan KBRI Sana'a, produk Indonesia yang diminati di Yaman adalah sebagai berikut:

  • Ban mobil (sedan dan kendaraan niaga), prdduk ban Indonesia yang sudah masuk ke pasar Yaman adalah GT, namun masih terbuka peluang untuk merek lain

  • Baterai kendaraan bermotor (saat ini pasar sektor ini didominasi oleh produk China, Korea Selatan dan Uni Eropa)

  • Suku cadang kendaraan bermotor seperti filter udara, saringan bensin, saringan oli dan radiator untuk kendaraan niaga dan penumpang

  • Kertas seperti ukuran A4, F4 maupun lebih besar

  • Alat tulis kantor seperti pensil kayu, karet penghapus dll

  • Produk tekstil seperti kain sarung

  • Mebel

  • Alat-alat elektronik rumah tangga

  • Bahan makanan

  • Produk plastik

  • Barang pecah belah

  • Perlengkapan kamar mandi

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pameran ini silahkan hubungi alamat ini:

Apollo for International Exhibition Co

Sana'a, Republic of Yemen

Tel (967-1) 441000

Fax (967-1) 448086

Handphone (967)712800008

Email: apollo.exb2@y.net.ye

(sumber:kbri sana'a)

 

 

Pameran di Shenzhen, China

Indonesia melalui BPEN, Departemen Perdagangan bekerja sama dengan Asmindo akan ikut berpartisipasi untuk kedua kalinya pada pameran The 22nd Shenzhen International Furniture Exhibition (SIFE) 2008 yang akan berlangsung di Shenzen Convention and Exhibition Center, China pada tanggal 19 – 22 Maret 2008. SIFE merupakan pameran besar furniture yang diselenggarakan dua kali setahun, yaitu pada bulan Maret dan Agustus di Shenzen. Disamping SIFE pada bulan Maret, di wilayah selatan China juga akan berlangsung dua pameran lainnya yaitu: China International Furniture Exhibition (18 - 21 Maret 2008) di Guangzhou, serta Dragon Excellent Furniture Fair (19 - 22 Maret 2008) di Shunde China.

Pelaksanaan kegiatan yang bersamaan tersebut menciptakan sinergi dan kerja sama antar penyelenggara, terutama dalam saling mempertukarkan buyer yang berkunjung ke pameran tersebut, sehingga pameran SIFE merupakan salah satu pameran furniture di China yang paling banyak dikunjungi buyer domestic, maupun buyer mancanegara. Hal ini menjadi alasan Indonesia ikut berpartisipasi pada SIFE, disamping itu juga adanya masukan dari dunia usaha serta Asmindo sendiri yang telah mengikuti pameran ini pada tahun lalu.

Pada penyelenggaraannya tahun lalu, SIFE diikuti sebanyak 640 peserta dari China dan Indonesia, serta dikunjungi sebanyak 55.513 buyer/visitor dari berbagai Negara, antara lain China, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Eropa, Timur tengah dan Asia Tenggara. Keikutsertaan Indonesia untuk pertama kalinya dalam pameran SIFE, adalah pada bulan Maret 2007 dengan jumlah 40 peserta/perusahaan dan menempati area seluas 700 Sqm di Hall 6. Produk mebel Indonesia yang berkualitas tinggi sangat berpeluang memasuki pasar China dan banyak diminati, hal ini ditandai dengan banyaknya buyer China yang melakukan kontak bisnis selama pameran SIFE tahun lalu. Disamping itu tahun lalu, Indonesia mendapat kategori The Most Distinctive Exhibit Award 2007 dari pihak penyelenggara sebagai satu-satunya negara asing yang ikut berpartisipasi.

Dari pameran SIFE 2007 dilaporkan bahwa peserta Indonesia menghasilkan kontak dagang sebesar US$ 5.296.100, bahkan pihak penyelenggara menyebutkan order yang diperoleh peserta dari Indonesia selama berlangsungnya pameran sebesar US$ 20 juta. Selanjutnya untuk megembangkan ekspor mebel Indonesia ke China, peranan Asosiasi Mebel Shenzen diharapkan dapat membantu dalam pengembangan disain dan mutu, kesesuaian produk serta upaya promosi ke pasar China. Melalui penandatanganan MOU kerja sama antara Asmindo dengan Shenzen Furniture Association pada SIFE tahun 2007 lalu, nantinya diharapkan peluang produk mebel Indonesia akan semakin terbuka di pasar China, seiring dengan kebijakan pemerintah China untuk menghapus bea masuk produk impor perabotan China serta semakin berkurangnya tax refund yang diterima para importer China.

Dalam persiapan keikutsertaan Indonesia di SIFE tahun ini, BPEN melakukan koordinasi dengan Asmindo, terutama dalam perekrutan peserta dan pembangunan pavilion Indonesia. Tahun ini pavilion Indonesia akan didesain dengan nuansa Bali dengan memesan luas stand sebesar 1300 m2 atau hampir dua kali lebih besar dari tahun lalu. Sebagai penghormatan dari pihak penyelenggara kepada Indonesia selaku peserta negara asing yang ikut berpartisipasi di SIFE, maka upacara pembukaan pameran direncanakan akan berlangsung di pavilion Indonesia pada tanggal 19 Maret 2008, pukul 10.00 waktu setempat. Sebelum acara pembukaan yaitu pada tanggal 18 maret 2008 malam, pavilion Indonesia akan menyelenggarakan “Elites Night” dengan mengundang para pemilik toko furniture besar, perusahaan furniture, perusahaaan disainer furniture dan disainer interior, serta perusahaan real etate yang berpengaruh di China. Pihak Asmindo mengharapkan agar KBRI Beijing atau KJRI Guangzhou dapat mempromosikan keikutsertaan Indonesia pada pameran SIFE kepada buyer furniture di China. Melalui persiapan ini diharapkan nantinya dapat mensukseskan partisipasi Indonesia di SIFE Maret 2008.(BPEN)

 

 

 

Expo Indonesia Terbesar Di Eropa Akan Dilaksanakan Di Warsawa 7-10 Mei 2008

“Penyelenggaraan 1st Indonesia Expo in Central and East Europe (1st IE-CEE) di Warsawa, 7-10 Mei 2008, merupakan a showcase bagi Indonesia ke Eropa bahwa Indonesia telah siap menjadi mitra ekonomi terpercaya. Oleh karena itu, keberhasilan 1st IE-CEE merupakan tanggungjawab bagi seluruh Perwakilan RI di Eropa, khususnya dalam mendatangkan best buyers, investors, dan tour operators sebanyak-banyaknya ke Warsawa”. Demikian sambutan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda JE Habibie kepada seluruh wakil-wakil KBRI se Eropa dalam pertemuan teknis untuk penyusunan action plan program sosialisasi 1st IE-CEE, di Warsawa, Jumat (15/2).

Dubes Habibie mengharapkan 1st IE-CEE akan mendorong peningkatan kinerja diplomasi ekonomi Perwakilan RI se Eropa, sebagaimana harapan Presiden RI dan Menlu di berbagai kesempatan.   Di sisi lain, Dubes Habibie menghimbau agar instansi-instansi terkait Pemerintah RI dapat memastikan bahwa pameran besar tersebut menampilkan produk-produk dan jasa terbaik RI.

“Semua pihak di tanah air perlu bekerja keras dalam waktu yang terbatas kurang dari 3 bulan untuk memastikan kehadiran peserta pameran dengan jumlah dan mutu yang representatif, agar event besar ini akhirnya tidak counter-productive dengan tujuan kita bersama´, ujarnya.

Sebelumnya, Dubes RI Warsawa selaku Ketua Penyelenggara 1st IE-CEE melaporkan perkembangan persiapan KBRI Warsawa dalam melaksanakan Expo terbesar di Eropa tersebut, yang semula dikhususkan untuk Eropa Tengah dan Timur telah berkembang menjadi program nasional utama dalam tahun 2008, di bawah koordinasi Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Promosi Investasi(PEPI) yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 3/2006.

1st IE-CEE diharapkan menjadi momentum bahwa Indonesia kembali tampil sebagai mitra-terpercaya Eropa, karena Indonesia selama 1 dekade sejak krisis ekonomi 1998 telah kehilangan pasar dan menghadapi pesaing-pesaing baru di Eropa. 1st IE-CEE merupakan eksposisi terbesar dan terlengkap di bidang barang-barang dan jasa dengan mengambil tempat pameran seluas 10.000 m2 (indoor) dan 5000 m2 (outdoor). Untuk melengkapi eksposisi, juga akan ditampilkan grup musik, tari-tarian dan ragam makanan eksotik dari berbagai propinsi dan perwakilan RI di luar negeri, termasuk dari Polandia.

Pertemuan di Warsawa, 15-16 Pebruari, dimaksudkan untuk menjelaskan teknis dan bahan-bahan promosi kepada fungsi-fungsi ekonomi, Atperdag, dan Kepala ITPC, dalam rangka mensosialisasikan 1st IE-CEE kepada seluruh calon buyers, investors, dan tour operator di seluruh negara Eropa, baik Timur, Tengah dan Barat.   Diharapkan, sekitar 5000 pengusaha pada tingkat distributor dan investor dari seluruh Eropa akan memanfaatkan event 4-hari di Warsawa untuk menjalin kontak bisnis dengan pengusaha-pengusaha RI. Telah dijadwalkan, Tim Pusat bersama Tim KBRI Warsawa akan mengadakan road-show di kota-kota besar di Eropa pada akhir Maret 2008 yad. (Sumber: KBRI Warsawa)

 

 

 

 

 

 

Minggu ke-3 Februari 2008

Produk Indonesia Tembus Benteng Morro, Kuba

Produk kerajinan Indonesia mendapat sambutan antusias dari masyarakat Kuba pada hari pertama pameran bertajuk Feria Internacional de Libro 2008 yang diselenggarakan di Benteng San Carlos de la Cabaña, Havana, 14-24 Februari 2008. Feria Internacional de Libro merupakan salah satu pameran berskala internasional yang paling banyak diminati publik Kuba maupun negara-negara di kawasan. Pameran yang telah diselenggarakan sebanyak 17 kali tersebut,  tahun ini diikuti oleh 145 peserta dari 31 negara. Selain di Benteng San Carlos, pameran juga diadakan di 42 lokasi di seluruh Kuba. Meski bertajuk pameran buku, event tersebut tidak hanya sebatas menampilkan buku, melainkan juga barang-barang kerajinan dari berbagai negara. Keikutsertaan Indonesia yang merupakan kali pertama dalam pameran ini, menampilkan barang-barang kerajinan yang utamanya berasal dari Jawa, Bali dan Lombok. 

Pada hari pertama pameran (14 Februari 2008), KBRI Havana menyelenggarakan resepsi di stan Indonesia yang dihadiri oleh pejabat-pejabat pemerintah, kamar dagang dan industri, BUMN, pusat studi Asia Oseania dan beberapa jurnalis dari radio dan televisi Kuba. Di antara para pejabat yang hadir adalah Direktur Asia Oseania Kementerian Luar Negeri, Wakil Direktur Foreign Trade Promotion Center, Koordinator Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri dan Wakil Direktur Pusat Studi Asia Oseania Kuba. Dalam sambutannya, Kuasa Usaha Sementara KBRI Havana antara lain mengemukakan bahwa produk-produk yang ditampilkan tersebut merupakan bagian kecil dari kekayaan seni dan budaya Indonesia. Diharapkan melalui pameran ini, pengenalan terhadap Indonesia dapat lebih diperdalam, dan pada gilirannya dapat meningkatkan hubungan persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan Kuba.

Dalam acara tersebut ditampilkan pula tari bali yang dibawakan oleh anggota keluarga staf KBRI. Para undangan juga memperoleh paket berupa suvenir, booklet mengenai produk-produk buatan Indonesia dan CD berisi daftar perusahaan Indonesia, Undang-undang Investasi Indonesia dan calendar of events Visit Indonesia 2008.

Meskipun tahun ini merupakan partisipasi pertama Indonesia dalam pameran, produk kerajinan Indonesia ternyata mendapat sambutan luar biasa baik dari masyarakat Kuba maupun pengunjung pameran dari berbagai negara lainnya. Para pengunjung yang mendatangi stand Indonesia memperoleh berbagai informasi tidak hanya mengenai produk-produk kerajinan Indonesia tetapi juga mengenai seluk-beluk penanaman modal di Indonesia dan potensi pariwisata Indonesia yang tahun ini mengusung tema “Visit Indonesia 2008: Celebrating 100 Years of National Awakening.”

 

Poin-Poin Penting Dalam Menerobos Pasar Jepang

Keistimewaan yang dimiliki pasar Jepang selain jumlah penduduknya yang berjumlah 120 juta jiwa dengan daya beli tinggi, terdapat kelompok yang fanatik terhadap produk tradisional maupun produk baru.  Mereka mengutamakan keaslian produk, kombinasi antara produk dan kemasan, perilaku konsumen yang menuntut kualitas bagus secara keseluruhan dari seluruh bagian produk, awet dan tahan lama  serta ketepatan waktu pengiriman.  Disisi lain, distribusi produk dan jaringan penjualan yang rumit, produk bahan baku seperti bahan makanan, produk berbahan kayu dsb., impornya tidak dilakukan secara kontinyu namun hanya dilakukan sesekali ketika saat diperlukan. 

Karenanya, untuk dapat melontarkan suatu produk ke pasar Jepang diperlukan perhatian ekstra dari para pemasok.   Terlebih lagi perlu memperhatikan pula trend perputaran suatu produk,  bagi produk tradisional memiliki trend perputaran yang cenderung lebih panjang dibandingkan dengan trend produk-produk baru. Untuk trend produk tradisional mampu bertahan hingga 2 tahun,  sedangkan bagi produk-produk baru relatif lebih singkat dan segera disusul peluncuran produk baru lainnya. 

Hingga kini produk-produk ramah lingkungan terus dikedepankan penggunaannya. Bahan kayu dan rotan, bahan dari tanaman lunak seperti pandan, eceng gondok, rumput dll., bahan-bahan asal hewan seperti kulit, kerang, taring, tulang dll.,  Produk dengan bahan-bahan imitasi seperti plastik, polyester serta bahan penghasil CO2 tidak diperbolehkan penggunaannya. 

Peraturan ketat diberlakukan terhadap produk yang berbahaya bagi pengguna, terutama pada produk makanan yang tidak diperbolehkan mengandung zat pewarna dan pengawet. Bahan makanan yang berasal dari tanaman menggunakan pupuk inorganik sangat dilarang.Seluruh peralatan listrik diharuskan mentaati peraturan standar alat listrik Jepang yang menekankan pada keamanan dan tidak riskan terhadap bahaya kebakaran dan ledakan. Demikian pada produk-produk kayu pengeringan dan sterilisasi sangat dituntut untuk menghindari timbulnya hama atau serangga bahkan telurnya.  

Variasi, keunikan dan personalisasi suatu produk terus dituntut konsumen disamping produk-produk dengan desain ringan, kecil, praktis dan murah sangat tinggi permintaannya.  Mebel kayu misalnya, sangat digemari mebel yang terbuat dari kayu ringan dengan ukuran kecil.  Barang yang besar dan berat akan menimbulkan biaya bagi penggunanya di Jepang mengingat harus membayar sejumlah uang sebagai biaya daur ulang apabila membuang barang yang besar. 

Persaingan di sektor ritel Jepang terjadi sedemikian ketat akibat dari era globalisasi dan pasar bebas (FTA).  China mampu menguasai pangsa pasar ritel hingga 70% untuk produk-produk industri dan juga produk-produk hasil kerajinan. Hanya 30% pangsa pasar ditempati bersama-sama oleh Thailand, Indonesia, Philipina, Eropa dan Amerika. 

Produk-produk hasil kerajinan dari bahan ramah lingkungan yang masih mampu bertahan dipasar Jepang antara lain seperti peralatan kantor, penggantung pakaian, perkakas dapur, beragam pajangan, kursi taman & keperluan taman, keranjang rotan, alas meja,  pernak-pernik.  

Dalam bertransaksi bisnis dengan Importir Jepang, beberapa hal perlu diperhatikan seperti; sampel, harga, waktu pengiriman, sistem pembayaran harus ditentukan dan disepakati bersama; memahami jalur distribusi barang yang berpengaruh langsung pada perbedaan komponen harga dan pelayanan.  Pada umumnya terdapat dua sistem distribusi di Jepang yaitu pertama Importir-Distributor-Toko Eceran, kedua adalah Department Store-Super Market-Toko Eceran. 

Para pebisnis Jepang sangat menginginkan patner bisnisnya memahami akan kebutuhan  pasar Jepang, pengembangan dan improvisasi produk, sistem manajemen dan distribusi barang, berlaku kooperatif, dapat mempresentasikan dengan memahami kelebihan dan kelemahan produk, memiliki pola pikir maju dengan meraih keuntungan bersama, memiliki ide-ide kreatif, responsif  dan cepat dalam pengambilan keputusan serta berani menerima tantangan.(wd-ppie)

 

 

 

Prospek produk gula aren dan makanan lainnya di Jepang

Peluang yang sangat besar saat ini bagi produk Gula Aren (Palm Sugar) di Jepang sudah tidak diragukan lagi. Kandungan kalorinya yang rendah dan dapat digunakan untuk membuat kue menjadikan Gula Aren sangat diminati.

Mr. Ryuji Nishi mengungkapkannya dalam sebuah seminar mengenai potensi produk makanan dari Indonesia di pasar Jepang. Dalam presentasinya, konsultan ini memberi masukan tentang produk Gula Aren yang diminati tidak mengandung bahan kimia dan ditanam di lahan yang alami tanpa pupuk organik. Diperlukan kesungguhan mencari mitra di Jepang dengan pengusaha yang memproduksi kue-kue khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi. 

Barang contoh beserta harga jual di toko swalayan juga diperlihatkan dalam seminar tersebut. Dalam contoh yang diperlihatkan, harga Palm Sugar JPY 735/200 gram; Maple Sugar JPY 1000-2000/1 kg; Brown Sugar JPY 240/0,5 kg; Crystal Sugar JPY 160/0,5 kg; Gula Pasta JPY 500/0,5 kg. Negara pesaing untuk produk ini adalah Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, Afrika Selatan 12%, namun belum pernah mengimpor dari Indonesia. 

Jagung Kriuk, salah satu produk makanan Indonesia yang juga dibahas dalam seminar ini. Rasanya yang enak namun perlu diperbaharui model kemasannya agar terlihat lebih menarik. Isinya yang bervariasi dicampur dengan jenis kacang-kacangan lain, lebih disarankan, karena konsumen Jepang sangat menggemari makanan kecil seperti ini dengan berbagai rasa. Pada saat yang bersamaan, diperlihatkan contoh produk dari Amerika dan China yang isinya bervariasi dan dibungkus rapi dan menarik dengan harga JPY 105/40 gram, JPY 400/400 gram dan JPY 50/30 gram. 

Tanggapan Mr. Nishi terhadap produk Ikan Asin Indonesia sudah bagus dan penampilannya terlihat bersih. Rasanya enak dan agar lebih bernilai diharapkan sebelum pengepakan, ikan asin diletakkan dalam sebuah wadah plastik supaya tersusun rapi dan selanjutnya dibungkus. Lebih disarankan jika dikemas dalam tempat yang kedap udara dan sangat dianjurkan mencantumkan informasi cara pemakaian dan memasaknya. Diperlihatkan produk ikan asin dari Vietnam sebagai contoh dengan harga JPY 400/150 gram.   

Kemasan Teh Murbel disarankan agar diperbaharui. Penyimpanan kedalam aluminium foil pada setiap bungkus teh lebih terkesan rapi. Untuk menarik minat konsumen sebaiknya dicantumkan penjelasan tentang kandungan di dalam teh tersebut, khasiatnya dan cara pemakaiannya. 

Saat ini Jepang tidak lagi menjual Teh Agaric dan Jamur Agaricus kering secara terbuka. Menurut penelitian, jamur tersebut dapat memicu kanker dan hipertensi. Jika konsumen membutuhkannya hanya dapat dicari dan dibeli melalui internet saja.  

Jamur yang dapat mengganggu mulai dijauhi konsumen Jepang. Diperlukan upaya tangguh yang penuh tantangan dan memerlukan tenaga ahli khusus tentang jamur untuk dapat menerangkan kepada konsumen tentang manfaat dan kegunaan jamur serta tidak berbahaya jika dikonsumsi.(dn
)

 

 

 

Minggu ke-2 Februari 2008

Pameran real estate di Doha

KBRI Doha menerima undangan dari Trance Continent yaitu penyelenggara pameran "The Third International Qatar International Real Esatate and Investment Exhibition 2008" agar Indonesia berpartisipasi dalam pameran  tersebut yang akan diadakan pada tanggal 3-6 Maret 2008. Pihak penyelenggaran mengharapkan kehadiran para pengusaha real estate, lembaga-lembaga keuangan dan investasi Indonesia dan para pengusaha Indonesia dalam pameran tersebut.

Pameran ini merupakan salah satu pameran real estate terbesar di kawasan dimana sekitar 100 perusahaan umumnya perusahaan real estate papan atas dari berbagai negara akan berpartipasi sebagai peserta. Diantara peserta terdapat sejumlah perusahaan real estate setempat yang memamerkan sejumlah proyek baru bernilai milyaran riyal.

Pameran serupa tahun lalu dihadiri lebih dari 35.000 pengusaha dari negara-negara di kawasan Timur Tengah dan kawasan lainnya. Ajang pameran ini nampaknya cukup bermanfaat untuk dihadiri oleh para pengusaha Indonesia di sektor untuk tukat menukar informasi mengenai peluang proyek real estate di kawasan. Seperti kita ketahui bahwa selama lima tahun terakhir ini Qatar sedang gencar sekali melaksanakan pembangunan di berbagai bidang termasuk sektor real estate. Kesempatan pameran ini mungkin dapat menyediakan informasi peluang bagi pengusaha Indonesia untuk terlibat dalam proyek-proyek real estate di Qatar. (Sumber: KBRI Doha)

 

 

Indonesia – Belarus Sepakati Roadmap untuk Peningkatan Kerjasama Ekonomi


Sidang I Komisi Bersama RI – Belarus berhasil menyepakati roadmap untuk peningkatan kerjasama ekonomi yang berisikan intensifikasi kerjasama perdagangan, investasi dan pertanian termasuk pembelian langsung pupuk potassium.  Pada bidang lainnya, Komisi Bersama menyepakati untuk memperkuat kerjasama pendidikan, ristek dan sosial budaya, penegakan hukum, teknik-militer, serta penyelesaian perundingan sejumlah persetujuan baru di antara kedua Negara.  Demikian, penjelasan Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Eddi Hariyadhi, Ketua Delegasi RI, bersama mitranya Deputi Menlu Belarus Viktar Gaisenak seusai penandatanganan Protokol Sidang I Komisi Bersama di Minsk, 8 Pebruari 2008.

Delegasi RI yang dipimpin Dirjen Amerop didampingi Dubes RI untuk Polandia Hazairin Pohan dan pejabat-pejabat dari berbagai departemen teknis unsur-unsur, serta wakil-wakil dari PT Comexindo  aktif berpartisipasi dalam pembahasan teknis pada 3 Working Group yang dibentuk berdasarkan MoU Between the Department of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Belarus on the Establishment of the Intergovernmental Indonesian – Belarusian Joint Commission on Trade, Economic and Technical Cooperation yang ditandatangani 24 April 2007 di Minsk. 

Dirjen Amerika dan Eropa pada kesempatan itu juga mengadakan kunjungan kehormatan kepada Deputi Perdana Menteri Belarus (Bidang Ekonomi) Andrei Kobyakov dan Menlu Belarus Sergei Martynov.   Kedua pejabat Belarus menyambut baik hasil-hasil Sidang I Komisi Bersama guna mengisi substansi kerjasama ekonomi yang akan dibahas dalam rencana kunjungan Presiden Lukashenko ke Indonesia yang diusulkan Belarus akan berlangsung pada bulan Juni – Juli 2008.  Dalam kunjungan tersebut, kedua delegasi telah menyelesaikan 8 dari 12 persetujuan bilateral baru sebagai landasan kokoh bagi peningkatan hubungan dan kerjasama bilateral antara kedua negara.

Sebelumnya, tanggal 7 Pebruari 2008 Duta Besar RI untuk Polandia didampingi Direktur Eksekutif 1st Indonesia Expo in Central and East Europe (1st IE-CEE) Henry Kaitjily mengadakan sosialisasi/presentasi di hadapan kalangan usahawan dan KADIN Belarus.  Dalam kesempatan itu, KADIN Belarus telah mengkonfirmasikan lebih dari 100 pengusaha pada tingkat distributor akan hadir dalam Expo RI terbesar di Eropa yang akan diselenggarakan 7-10 Mei 2008.

Dubes RI Warsawa menyatakan puas terhadap hasil-hasil yang dicapai dalam Sidang I Komisi Bersama khususnya karena Belarus setuju untuk membuka akses langsung bagi RI bagi pembelian dan distribusi potassium yang merupakan komoditas utama Belarus, serta pembukaan akses pasar bagi produk-produk RI al. sea-food products, rubber, spices, wood, dan food products

Berdasarkan data 2007, angka perdagangan kedua negara kurang lebih seimbang mencapai USD. 61,2 juta.  Indonesia membeli dari Belarus potassium dan ban truk besar (dump truck) senilai USD. 25 juta, dan menjual karet alam, minyak sawit, tembakau, synthetic fibres, dan elektronik termasuk komputer. (Sumber: KBRI Warsawa) 

 

 

Dubes RI dan Ketua Parlemen Kroasia Sepakat Intensifkan Kerjasama Bilateral RI-Kroasia


Pada tanggal 7 Februari 2008 di Gedung Parlemen Kroasia di Zagreb, Duta Besar RI untuk Kroasia, Mangasi Sihombing telah bertemu dengan Luka Bebic, Ketua Parlemen Kroasia yang baru saja terpilih pada pemilu November 2007 lalu. Pertemuan antara lain membicarakan perkembangan hubungan bilateral di bidang poleksosbud antara Indonesia dan Kroasia yang telah berjalan sangat baik selama kurang lebih 15 tahun serta upaya-upaya memanfaatkan peluang bagi peningkatan kerjasama yang saling menguntungkan kedua negara.

Mengawali pembicaraan Dubes Sihombing, atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia, menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Luka Bebic sebagai Ketua Parlemen Kroasia dan kesuksesan pelaksanaan Pemilu di Kroasia. Pada pertemuan tersebut,  Dubes Sihombing menggarisbawahi peningkatan hubungan baik kedua negara yang antara lain diindikasikan dengan semakin meningkatnya saling kunjung pejabat pemerintah, saling dukung atas pencalonan masing-masing negara pada badan-badan internasional, kerjasama perdagangan, investasi dan pariwisata yang meningkat namun masih belum menunjukkan potensi sebenarnya.

Ketua Parlemen Kroasia Luka Bebic memiliki kesamaan pandangan bahwa perkembangan hubungan bilateral RI-Kroasia selama ini telah terjalin dengan baik, namun masih diperlukan upaya-upaya untuk lebih mengintensifkan kerjasama saling menguntungkan kedua negara.

Terkait hal ini, Luka Bebic menggarisbawahi antara lain mengenai perlunya peningkatan saling kunjung pejabat pemerintah dan legislatif untuk mengintensifkan hubungan bilateral RI-Kroasia. Untuk itu pihaknya menyambut baik rencana kunjungan Presiden Kroasia Stjepan Mesic ke Indonesia dan delegasi GKSB DPR-RI ke Kroasia pada tahun ini. Bebic juga menyampaikan penghargaan atas kerjasama saling dukung antara Indonesia-Kroasia pada setiap pencalonan wakil masing-masing pada fora internasional dan berbagai bentuk kerjasama lainnya yang menguntungkan. Guna lebih mengoptimalkan hubungan kerjasama bilateral kedua negara, pemerintah Kroasia mengharapkan kiranya Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan pembukaan Perwakilan RI di Zagreb dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Perjanjian bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas antara RI-Kroasia yang ditandatangani tahun 2004 telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan hubungan baik antar pemerintah terutama dalam peningkatan saling kunjung pejabat pemerintah kedua negara. Memperhatikan potensi dan peningkatan hubungan ekonomi bilateral RI-Kroasia dan potensi kedua negara, terutama pada sektor perdagangan dan pariwisata, Kroasia mengharapkan kiranya Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan pemberian fasilitas Visa Saat Kedatangan (Visa on Arrival/VOA) bagi warganegara Kroasia. Hal ini untuk mempermudah pengusaha dan wisatawan Kroasia berkunjung ke Indonesia. Untuk tahun 2007 Kroasia menerima lebih dari 10 juta wisatawan mancanegara dan masyarakatnya gemar berwisata ke negara lain.

Dalam rangka mempercepat proses integrasi UE, Kroasia terus berupaya meningkatkan perekonomiannya antara lain dengan mengoptimalkan pembangunan infrastruktur/fasilitas pelabuhan Rijeka, Ploce dan Split, termasuk akses distribusi ke kawasan Eropa Barat dan negara-negara Balkan melalui jalur kereta dan sungai sebagai jalur alternatif. Saat ini tengah dilakukan pembangunan kanal di Sungai Drava yang akan dihubungkan dengan Sungai Danube,  sehingga distribusi barang dapat menjangkau negara-negara yang dilaluinya seperti Perancis, Jerman, Austria, Hungaria, Serbia, Bulgaria dan Rumania. Dengan adanya fasilitas pelabuhan yang memadai dan kemudahan akses distribusi, diharapkan potensi Kroasia sebagai pusat distribusi di kawasan dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha Indonesia. (Sumber: KBRI Budapest)

 

 

 

Mendorong Peningkatan Wisatawan Kazakhstan Ke Indonesia
KBRI Tashkent bekerjasama dengan Chamber of Commerce and Industry Kazakhstan pada tanggal 3 Februari 2008 telah menyelenggarakan forum tatap muka dengan 26 agen perjalanan outbound terkemuka di Almaty, Kazakhstan. 

Pertemuan merupakan upaya KBRI untuk mendukung program "Visit Indonesia Year 2008" dengan target wisatawan dari Negara kaya minyak Kazakhstan. Penduduk negara yang memiliki GDP per kapita ±US$ 8.000 ini dalam tahun 2007 tercatat sebanyak ± 650.000 warga negaranya melakukan perjalanan wisata ke berbagai Negara, dengan rata-rata tinggal di luar negeri selama 10 hari dan selalu memilih akomodasi hotel berbintang lima. Dalam tahun 2007, sasaran kunjungan terutama ke Eropa Barat, Amerika Serikat dan Asia. Ke-Asia terutama ke Jepang, Thailand, Malaysia, serta China. Wisatawan Kazakhstan yang berkunjung ke Indonesia pada periode yang sama baru 3300 orang (tahun 2006 hanya 1006 wisatawan), sementara ke Malaysia dan Thailand kunjungan telah mencapai ±15.000 dan 20.000 wisatawan. 

Dubes RI Tashkent dalam pertemuan (yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi) a.l. telah menyampaikan terima kasih kepada para Perusahaan Perjalanan Wisata outbound yang telah membantu meningkatkan arus wisatawan Kazakhstan ke Indonesia di tahun 2007, dan KBRI Tashkent akan selalu siap membantu memfasilitasi kelancaran kunjungan wisatawan Kazakhstan ke Indonesia, serta mengharapkan agar para perusahaan tersebut dalam memasarkan tujuan wisata Indonesia tidak hanya terbatas pada Bali namun juga ke daerah tujuan wisata lainnya seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua. Diharapkan dalam tahun 2008 arus wisatawan dari Kazakhstan akan dapat lebih ditingkatkan lagi mengikuti peningkatan arus wisatawan Kazakhstan ke manca negara.        

Untuk lebih merealisasikan upaya meningkatkan wisatawan Kazakhstan ke Indonesia, diusulkan agar diadakannya farm-trip bagi perusahaan-perusahaan perjalanan wisata Kazakhstan ke Indonesia dengan biaya tiket dari mereka sendiri, sementara itu akomodasi dan acara lainnya diminta dibantu oleh pihak Indonesia. Melalui acara seperti ini, pihak travel Kzakhstan yakin bahwa upaya peningkatan wisatawan Kazakhstan ke Indonesia di tahun-tahun mendatang akan lebih banyak lagi terutama ke Bali yang telah banyak ketahui oleh masyarakat setempat sebagai tempat berlibur yang indah dan aman. (Sumber: KBRI Tashkent)

 

  


Kontrak Baru Ekspor Timah ke Hungaria

Upaya KBRI/ITPC Budapest untuk meningkatkan ekspor Indonesia kembali membuahkan hasil dengan disepakatinya kontrak baru antara Metalloglobus Kft, produsen bahan industri timah di Hungaria, dan PT Timah Indonesia (melalui perwakilannya di London, Inggris) untuk pembelian timah sebesar 400 MT dengan nilai sekitar 6,7 juta dollar AS pada 2008. Kontrak ini ditandatangani  pada  26 Januari 2008 dan merupakan kelanjutan dari kontrak tahun sebelumnya (2007) sebesar 300 MT dengan nilai sekitar 4 juta dollar AS,

KBRI/ITPC Budapest sejak akhir tahun 2006 mempertemukan kedua belah pihak dan mengajak langsung perusahaan tersebut ke sentra produk timah di Pulau Bangka.

Metalloglobus Kft. yang selama ini mengimpor dari pihak ketiga di Belanda, Jerman dan Austria, menilai pembelian langsung dari Indonesia lebih menjamin ketersediaan dan tingkat kompetisi harga timah di kawasan. Hal tersebut semakin dirasakan khususnya setelah Metalloglobus Kft. saat ini telah berkembang menjadi pemasok timah di Negara-negara Eropa Tengah dan Timur. 

Kontrak baru ini menunjukkan besarnya potensi pasar di negara-negara Eropa Tengah dan Timur, disamping peran penting negara-negara tersebut sebagai pijakan dalam upaya meningkatkan ekspor ke pasaran Eropa Barat.

Oleh karena itu, KBRI/ITPC Budapest memandang partisipasi pengusaha Indonesia dalam ”Expo Indonesia” untuk kawasan Eropa Tengah dan Timur yang akan diselenggarakan di Warsawa pada  7-10 Mei 2008, akan dapat lebih meningkatkan lagi ekspor ke negara-negara itu.

Arus investasi ke Eropa Tengah dan Timur di bidang otomotif, elektronik, industri perkapalan dan alat pertahanan serta direlokasikannya berbagai industri otomotif dan elektronik ke wilayah tersebut, membuktikan semakin pentingnya peran negara-negara  Eropa Tengah dan Timur yang perlu disikapi secara proaktif oleh berbagai pelaku usaha Indonesia (Sumber: KBRI/ITPC Budapest).

 


Prospek Produk Organik dan Natural di Pasar Dunia

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Bachrul Chairi mengatakan, munculnya kecenderungan masyarakat dunia atas produk organik dan natural menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. “Negara maju dan kaya serta kalangan menengah atas di negara berkembang sangat memperhatikan kesehatan dengan menjaga pola makan dan pola hidup yang mengarah pada pola hidup sehat dan alami, sesuai dengan konsep” back to natura.”

Indonesia sebagai salah satu negara pemasok yang memiliki keanekaragaman sumber daya alam dan manusia dalam mengembangkan produk ini, memiliki peluang besar dalam mengisi kebutuhan permintaan pasar tersebut. Produk Indonesia memiliki keunggulan tersediri yang tidak dimiliki negara-negara pesaingnya, yaitu keanekaragaman produk.

Hal itu dibuktikan dengan pameran yang diikuti BPEN dalam “The 5th Middle East Natural & Organic Product Expo 2007” pertengahan Desember lalu di Dubai, Persatuan Emirat Arab (PEA).

Bachrul menjelaskan, dalam pameran itu Indonesia berhasil membukukan transaksi on the spot sebesar US$ 449.250 atau equivalent dengan nilai Rp. 4.200.487.500. Transaksi terbesar adalah produk franchising perawatan Spa senilai US$ 150.000 dari Taman Sari Royal Heritage Spa, dimana jumlah tersebut merupakan 46,79% dari total nilai transaksi Pavilium Indonesia dalam MENOP 2007.

Disusul produk air dalam kemasan (Purence Dew Drinking Water) yang diproduksi PT Etenair Water Indonesia sebesar US$ 63.000 atau 19,65%, selanjutnya produk kesehatan organik oleh PT Tri Rahardja sebesar US$ 50.000 atau (15,60%), produk spices (kacang mete, kopi serta aksesoris yang dibuat secara organik) sebesar US$ 48.000 (14,47%), produk perawatan spa (masker) yang diproduksi PT BaliTangi sebesar US$ 6.000 (1,87%) dan produk perawatan spa (minyak dan aroma terapi sebesar US$ 3.600 yang dihasilkan PT Solo Sonya Nature.

Selain itu, buyer atau importir terbesar yang membeli produk Indonesia berasal dari PEA sendiri dengan nilai transaksi sebesar US$ 230.100 atau 71,77% dari total nilai transaksi dengan jenis produk franchising perawatan spa dan aneka produk organik diikuti Perancis sebesar US$ 50.000 (15,60%) dengan jenis aneka organik, disusul oleh Amerika Serikat, Australia, Korea sebesar US$ 12.000 (3,74%) produk yang sama yaitu minuman organik (air embun), Inggris, Mesir dan Libanon sebesar US$ 1.500 (0,47%) untuk jenis produkperawatan spa (masker atau aroma terapi).

Bagi BPEN, pameran yang merupakan :Icon produk Natural dan Organik itu telah menjadi even dan moment yang tepat dalam mengembangkan potensi produk natural dan organik Indonesia. “Pameran ini sangat diminat dan sudah termasuk dalam salah satu kalender pameran produk natural dan organik international,” tukas Kepala BPEN seraya menyebutkan pameran tahun 2007 ini merupakan pameran yang kelima kalinya dan diikuti oleh 475 peserta dari 35 negara dan dikunjungi oleh 1.275 buyer dan importir dari berbagai negara di dunia serta dihadiri 3.700 pengunjung.

Hasil ini tentunya akan memberikan dampak pisitif bagi pengembangan pasar ekspor produk dimaksud. Dan Kepala BPEN juga mengingatkan kepada eksportir agar para buyer maupun calon buyer tersebut dapat di jadikan mitra dagang dalam memperluas ‘busness networking’ serta menjadikan mereka sebagai sumber informasi terdepat dalam mengali informasi detil tentang desain produk yang sedang tren. “Termasuk soal spesifikasi, harga, jaringan distribusi di negara target pasar sebagai bahan referensi dalam melakukan adaptasi produk mereka.”

Apalagi, sejak dulu, Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alamnya yang mengasilkan anekaragam produk dasar untuk diolah menjadi produk organic dan natural. Produk tersebut sebagai bahan dasar dalam mengasilkan berbagai produk organik dan natural serta perawatan spa dan herb dengan kualitas, disain, packaging dan lebeling yang higienis sesuai dengan standar kesehatan international. (Sumber: BPEN)

 

 

Minggu ke-1 Februari 2008

Pembukaan Kantor Pariwisata Indonesia di Korsel
Pada 30 Januari 2008, bertempat di Hotel Grand Hyatt, Seoul, diluncurkan Indonesia
Tourism Office di Korea (ITOK). Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI telah menunjuk Dr. Kim Ye Kyeom, Chairman Hijio Enterprise dan Director of General Affairs, Korea Institute of South East Studies sebagai Direktur ITOK.

Dr. Kim Ye Kyeom dalam sambutannya menyampaikan bahwa ITOK mendapatkan mandat dari Depbudpar untuk melakukan tiga tugas utama, yaitu: melakukan promosi pariwisata Indonesia di Korsel untuk meningkatkan jumlah wisatawan asal negara itu berkunjung ke Indonesia; membuat laporan analisa bulanan untuk disampaikan kepada Depbudpar; dan memberikan pelayanan informasi tentang Indonesia kepada masyarakat di Korsel.

Dr. Kim berharap agar masyarakat, khususnya media massa dan para tour operator, memberikan perhatian lebih dan dukungan atas pembukaan ITOK. Selanjutnya diinformasikan bahwa upaya promosi pariwisata Indonesia, selain menggunakan brosur dan  media massa, juga menggunakan situs resmi http://www.tourismindonesia.co.kr. Dalam situs tersebut tercantum informasi umum tentang Indonesia, termasuk tempat tujuan wisata, makanan khas, tata cara dan pengambilan visa turis.

Sementara itu, Dubes RI Jakob Tobing dalam sambutannya menyampaikan selamat atas penunjukan Dr. Kim Ye Kyeom sebagai Direktur ITOK. Pembukaan ITOK dikatakan memiliki momentum penting, disaat Pemerintah Indonesia meluncurkan program Visit Indonesia Year 2008, yang tujuan utamanya menarik sebanyak mungkin wisatawan mancanegara, termasuk Korsel, berkunjung ke Indonesia. Diharapkan pembukaan ITOK dapat mendukung peningkatan arus wisatawan Korsel ke Indonesia, khususnya membantu pencapaian target  pemerintah Indonesia yang dicanangkan  melalui program Visit Indonesia Year 2008.

Seusai peluncuran, Dubes dan staf KBRI Seoul mengadakan kunjungan ke kantor operasional ITOK yang terletak di Bangbaedon-dong, Seocho-ku, Seoul. Kantor tersebut berada di kawasan yang cukup strategis dan representatif.  Di dalam kantor, tersedia literatur tentang Indonesia, barang-barang kerajinan khas Indonesia, serta ruangan khusus untuk menerima tamu dan memutar film Indonesia (sumber: KBRI Seoul).



Forum Konsultasi Bilateral RI – Bulgaria
Pertemuan Kedua Forum Konsultasi Bilateral Departemen Luar Negeri RI dan Kementerian Luar Negeri Bulgaria telah berlangsung di Sofia pada 4 Februari 2008. Forum membahas berbagai isu yang menyangkut hubungan bilateral, regional dan internasional.

Bulgaria dapat berperan sebagai penghubung produk Indonesia ke pasar regional Balkan dan masyarakat Eropa. Sehubungan dengan itu, untuk lebih meningkatkan hubungan kedua negara, pemerintah Bulgaria kembali menyampaikan harapannya agar Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dapat berkunjung ke negara tersebut. Demikian pula halnya dengan Menlu RI, diharapkan dapat mengunjungi  Bulgaria di sela-sela kunjungan kerjanya ke wilayah Eropa tahun ini.

Pertemuan menyepakati mengenai perlunya mendorong dan meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, terutama perdagangan, investasi dan pariwisata serta di bidang-bidang lainnya seperti energi, kebudayaan, pendidikan dan pertahanan. Kedua pihak memandang perlu untuk menyelesaikan revisi berbagai perjanjian bilateral yang sudah ada, terkait keanggotaan Bulgaria dalam UE, dan beberapa naskah perjanjian baru, khususnya perjanjian kerjasama ekonomi. Kedua pihak memberikan arti penting penyelenggaraan Komisi Bersama RI - Bulgaria ke-4 tahun ini guna mendorong program kerjasama konkrit di berbagai bidang (Sumber: KBRI Sofia).

 

Pameran produk UKM internasional di Aljazair

Kedutaan Besar RI di Alger mendapat pemberitahuan dari pemerintah setempat bahwa akan diadakan pameran UKM dan industri internasional di Alger, Aljazair pada tanggal 3 - 9 Maret 2008. Pameran ini merupakan pameran tahunan dan kali ini adalah yang ke-14, akan diikuti oleh pengusaha UKM dari 25 negara. Pameran ini biasanya dikunjungi oleh lebih dari 4000 pengunjung setiap tahunnya.

Intensitas hubungan perdagangan Indonesia - Aljazair menunjukkan peningkatan setiap tahun. Untuk periode Januari - September 2007 nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 250.932 juta dimana ekspor Indonesia ke Aljazair sebesar US$ 138,209 juta dan impor sebesar US$ 112.723 juta.

Potensi pasar Aljazair cukup menjanjikan dengan jumlah penduduk sebesar 3,8 juta yang memiliki daya beli sekitar US$ 1000 sampai 2000 per bulan. Produk UKM Indonesia yang disukai di Aljazair adalah tekstil dan produk tekstil, mebel, produk kerajinan tangan kayu, busana muslim, kaos kaki, aksesoris wanita makanan buah kaleng dan kerajinan tradisional.

KBRI Alger akan mendukung sepenuhnya partisipasi pengusaha UKM Indonesia dalam pameran tersebut. KBRI Alger akan membiayai sewa stand peserta Indonesia seluas 12m persegi dan akomodasi terbatas di Wisma Duta dan gedung KBRI Alger.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi KBRI Alger: Bidang Ekonomi nomor telepon +213-21-694915, faksimil +213-21-694910. (Sumber: Faksimil KBRI Alger)

 

 


Memenangkan bisnis melalui HORTI FAIR 2008

Horti Fair 2008 diselenggarakan untuk para professional dibidang hortikultura, akan berlangsung tanggal 14-17 Oktober 2008 diperkirakan sekitar 1000 peserta dari 50 negara akan bergabung dan hampir 50.000 pengunjung dari seluruh dunia akan datang ke pameran yang diselenggarakan di Amsterdam RAI. Pemeran dagang produk hortikultura terlengkap di dunia mendapatkan rating tinggi dari pengunjungnya dalam hal kelengkapan produk dan layanan dengan poin 7.7 hingga 10 ditahun 2007.

Ambil bagian pada event akbar ini berarti akan menjadi pemenang dengan memperoleh kontak dan koneksi baru dalam jaringan yang dinamis bisnis hortikultura dimasa depan. serta lebih membuka kesempatan dalam hal: kemungkinan dipromosikan melalui situs hortifair.nl; berkompetisi dengan inovasi pada Penghargaan Inovasi Horti Fair (Horti Fair Innovation Award) dan penghargaan peserta terbaik (the Horti Fair Best Participant Award); membonceng publisitas melalui program-program pers dan jurnalistik perdagangan.

Horti Fair diselenggarakan untuk kalangan pebisnis dunia disektor hortikultura dengan menggalang kerjasama dengan peserta sejak 1963 dalam membangun konsep pameran yang kokoh. Pada penyelenggaraan tahun ini dibagi kedalam empat segmen utama yaitu segmen produksi, teknologi, supply dan dukungan layanan dagang, keseluruhan segmen tersebut menempati areal seluas 90.000 meter persegi di komplek pameran Amsterdam RAI. Horti Fair diselenggarakan dekat dengan pusat konsentrasi terbesar “greenhouse” hortikultura dan pusat perdagangan Belanda dan mudah dijangkau dari Bandara Internasional Schiphol. (Sumber : BPEN)

 

 

 

 

Minggu ke-4 Januari 2008

 

Upaya peningkatan kerjasama ekonomi Indonesia – Lebanon

Guna meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Lebanon, Duta Besar RI di Beirut telah mengadakan pertemuan dengan KADIN Lebanon. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa hubungan dagang kedua Negara telah berlangsung selama 60 tahun dan mempunyai banyak peluang untuk ditingkatkan intensitasnya.

Untuk menggali lebih dalam lagi potensi hubungan ekonomi kedua Negara Duta Besar RI Beirut dan Kepala KADIN Lebanon sepakat untuk membentuk suatu business council dimana pengusaha kedua negara dapat bertemu secara berkala.

Pihak KADIN Lebanon juga akan menyediakan beberapa fasilitas untuk kegiatan promosi produk Indonesia di Lebanon. Potensi perdagangan Lebanon tidak hanya pada pasar domestic, namun merupakan pintu gerbang ke beberapa Negara Timur Tengah lainnya, Eropa dan Afrika. (Sumber: Laporan KBRI Beirut)

 

 

Pameran 19th International Jewelry Tokyo, 23-26 Januari 2008

Pameran ini merupakan salah satu pameran perhiasan terbesar di dunia yang diikuti oleh 1.670 peserta dari 35 negara termasuk Indonesia. Ajang promosi ini merupakan kesempatan yang potensial untuk memperkenalkan produk perhiasan Indonesia kepada konsumen Jepang, Dalam pameran Indonesia diwakili oleh Mutu Manikam Nusantara yang memamerkan produk perhiasan yang diproduksi oleh sejumlah pengrajin yaitu RUNA, Reny-Feby, Delia-van-Rute dan lain lain.

Dalam pameran tersebut, Mutu Manikam Nusantara telah menerima sejumlah permintaan dari pedagang dan industri perhiasan Jepang yaitu untuk produk perhiasan filigri dan setengah jadi. KBRI Tokyo yang memfasilitasi keikutsertaan Mutu Manikam Nusantara dalam pameran ini dalam laporannya menyatakan bahwa terjadi kenaikkan nilai transaksi perdagangan dibandingkan tahun sebelumnya.

Beberapa pedagang perhiasan Indonesia telah mempunyai ruang pamer tetap dan pelanggan di Jepang, diantaranya adalah RUNA Jewelry. (Diolah dari laporan KBRI Tokyo)

 

Penyelenggaran International Fair of Khartoum

Pameran yang berlangsung dari tanggal 23 Januari - 2 Februari 2008 ini diikuti oleh lebih dari 500 perusahaan dari 20 negara.Dalam pameran ini, Kedutaan Besar RI di Khartoum menempati sebuah stand untuk memamerkan sejumlah produk Indonesia yang memang banyak diminati oleh konsumen lokal yaitu produk kabel dari PT GT Kabel Indonesia, produk lampu produksi PT Sinar Angkasa Rungkut, produk-produk keramik milik PT Mulia Keramik Indah Raya, produk makanan mie instant produksi PT Indofood Sukses Makmur perwakilan Jeddah, produk makanan suplemen produksi PT Sido Muntjul serta brosur produk-produk Indonesia lainnya.

Pameran ini merupakan ajang promosi dagang terbesar di Sudan dan kesempatan baik untuk bertemu langsung dengan para pengusaha Sudan. (Laporan KBRI Khartoum)

 


PAMERAN MAISON & OBJET 2008

Terkait dengan rencana Indonesia mengikuti pameran MAISON & OBJET (M & O) pada bulan Januari 2008, untuk sementara ditunda agar lebih memungkinkan bagi peserta Indonesia memenuhi kualifikasi persyaratan teknis dalam mengikuti pameran selanjutnya. Keikutsertaan pada pameran ini, direncanakan pada periode September 2008, yang nantinya sebagai batu loncatan untuk mengikuti Pameran Meuble Paris tahun 2009.

Mengawali rangkaian kegiatan pameran, diperlukan adanya kunjungan bagi pembina dan para desainer Indonesia. Delegasi peninjau yang terdiri dari tim IDP, BPEN, desainer serta beberapa calon peserta terpilih dapat melihat secara langsung pelaksanaan pameran dan mendapatkan wawasan, memperoleh gambaran bagi peserta dalam menginspirasikan keikutsertaan Indonesia pada pameran M & O nantinya.

Rencana serangkaian kunjungan delegasi Indonesia, diatur oleh pihak pengelola M & O. Kunjungannya ke beberapa pameran, seperti Pameran Meuble di Cologne, Meuble Paris 2008 dan Maison & Objet (M & O). BPEN berperan mendorong para desainer Indonesia bekerjasama dengan desainer dari Eropa untuk mempromosikan karya-karya produk sekaligus desainer Indonesia dengan sasaran lain dikenalnya produk dan desainer Indonesia di pasar umum (Mass Market) dan desainer di puncak kelas dunia (Top of Pyramid).

Pameran akan dihadiri sekitar 40.000 pembeli dari seluruh dunia dengan segmen kelas dunia untuk pasar global. Sebagai pemula, Indonesia dapat memulai pameran ini dengan ukuran tempat yang tidak terlalu luas dan produk yang sudah terseleksi. Tampilan produk terbaik dengan sentuhan khas Indonesia yang dapat melayani pasar global.

Lokasi paviliun Indonesia direncanakan di Hall A dengan luas area yang akan ditempati sekitar 100 m2. Produk yang digelar, fokus akan tema tertentu yang berkaitan dengan potensi sumber daya alam Indonesia, seperti produk hasil laut atau produk lain yang memiliki keterkaitan dengan tema dan jenis yang akan ditampilkan.(BPEN)

 

 


Perkembangan Pasar Palm Oil dan Petroleum Group di Pakistan

Sampai tanggal 25 Desember 2007, Pakistan teleh mengimpor sejumlah 100.000 ton palm oil. Jumlah impor palm oil tersebut telah menempatkan Pakisatan pada urutan ke 3 (tiga) negara pengimpor palm oil terbesar setelah negara-negara Uni Eropa diurutkan ke 2 (dua) dengan jumlah impor sebesar 260.000 ton dan China diurutan pertama dengan jumlah impor palm oil sebesar 303.000 ton.

Meningkatnya permintaan dan konsumsi dalam negeri pada dua bulan kedepan diperkirakan akan meningkatkan impor palm oil ke Pakistan sebesar 20 persen. Menurut data Biro Pusat Statistik Pakistan, pada bulan November 2007 impor palm oil mencapai 164.720 metrik ton atau meningkat sebesar 12,99 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 145.783 metrik ton.

Seiring meningkatnya harga palm oil di pasar international menjadi sekitar US 876 sampai US 890 dolar, para importir palm oil Pakistan harus membayar sekitar Rs 21 per kg. Pada periode Juli-November 2007 Pakistan mengimpor palm oil sampai mencapai nilai US 572,12 juta dolar atau meningkat sebesar US 184,62 juta dolar jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai US 387,50 juta dolar.

Pemberlakuan FTA Pakisatan-Malaysia pada tanggal 1 Januari 2008, diperkirakan akan mendorong meningkatan ekspor palm oil Malaysia ke Pakistan. Menanggapai berlakunya FTA Pakistan-Malaysia tersebut, sejumlah importir dan pedagang Pakistan menegaskan bahwa pengurangan bea masuk impor palm oil Malaysia sebesar 10 persen tidak akan berpengaruh secara segnifikan terhadap harga pasaran minyak nabati di dalam negeri. Hal senada juga dikemukakan oleh anggota Pakistan Vegetable Manufacturers Association (PVMA) yang menyatakan bahwa harga minyak nabati dipasar domestic diperkirakan hanya akan turun sebesar Rs 1 per liter.

Sementara itu, pembayaran impor petroleum group (petroleum products dan petroleum crude) selama lima bulan pertama tahun fiskal berjalan mencapai US 3,76 milayar dolar atau naik sekitar 14,75 persen dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai US 3,28 milyar dolar. Dalam hal ini, pembayaran impor tersebut merupakan yang terbesar selama tahun fiscal berjalan. Pembayaran impor petroleum group Pakistan sampai bulan Juni 2008 diperkirakan akan berada pada kisaran US 10 milyar dolar. Jumlah tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi secara signifikan manajemen balance of payments oleh pemerintah Pakistan mendatang.

Data dari Biro Pusat Statistik Pakistan menunjukan bahwa dalam periode lima bulan pertama tahun fiskal berjalan (Juli-November 2007), impor petroleum group menyumbang sekitar 26 persen terhadap total keseluruhan impor Pakistan. Diperkirakan bahwa dengan meningkatnya harga minyak di pasar international sampai mencapai kisaran US 100 dolar per barrel, maka impor petroleum group Pakisatan pada bulan-bulan mendatang akan menyubang sekitar 30 persen terhadap total impor negara tersebut. Untuk bulan November 2007 saja, pembayaran impor petroleum group Pakistan telah meningkat sebesar 39 persen jika dibandingkan dengan pembayaran impor minyak pada tahun sebelumnya.

Ekspor palm oil dari Malaysia menyumbang sekitar 55 persen dari perdagangan palm oil dunia dan dari segi produksi Malaysia bersama-sama dengan Indonesia merupakan negara yang menyumbang sekitar 85 persen dari produksi palm oil dunia. Pada tahun 2006, Malaysia tercatat sebagai salah satu negara yang mempunyai performa ekspor palm oil yang baik dimana nilai ekspor palm oil Malaysia berhasil melebihi US 9 milyar dolar. Produksi palm oil Malaysia pada tahun 2006 mencapai 15,8 juta ton atau meningkatkan dari tahun sebelumnya yang mencapai 14,96 juta ton. Malaysia mentargetkan bahwa produksi palm oil dapat mencapai selitar 20 juta ton pada tahun 2020.

Terkait dengan pemberlakuan FTA Pakistan-Malaysia, Pemerintah Pakistan pada tanggal 31 Desember 2007 telah mengeluarkan peraturan SRO-1261(1)/2007 yang isinya antara lain mengesahkan pemberlakuan 20 persen Margin of Preference (MoP) terhadap 129 jenis produk. Sedangkan untuk bea masuk palm oil diturunkan sebesar 10 persen MOP yang nantinya akan diturunkan lagi sebesar 5 persen pada tanggal 1 Januari 2010. (BPEN, KBRI Islamabad)

 

 


PAMERAN OKI 2007 DI DAKAR

Perlunya negara anggota OKI (Organisasi Konperensi Islam) meningkatkan partisipasinya dalam perdagangan global dengan memfokuskan kerjasama dibidang pembangunan ekonomi dan membuka hubungan perdagangan sesama negara anggota. Salah satu keberhasilan perekonomian negara anggota OKI bisa dicapai melalui kerjasama perdagangan dengan mengupayakan peningkatan perdagangan yang dilaksanakan secara optimal. Disamping itu, dibutuhkan promosi terhadap integrasi ekonomi dikalangan komunitas bisnis dan pemerintahan negara untuk menjalin kerjasama merubah produsen bahan baku menjadi pabrikan dan mengolahnya menjadi barang yang bermutu tinggi.

Sebagai salah satu negara anggota OKI, Indonesia telah berperan secara aktif. Keterlibatan Indonesia merupakan kesempatan yang baik dalam rangka pengembangan ekonomi perdagangan diantara sesama negara OKI terutama dalam kaitannya dengan kepentingan pembangunan yang sedang berlangsung di Indonesia, khususnya dalam peningkatan ekspor non migas.

Perdagangan Indonesia dengan negara-negara OKI hingga saat ini masih relatif kecil, walau disadari OKI merupakan salah satu pasar potensial untuk produk-produk Indonesia. Berbagai upaya perlu dilakukan guna meningkatkan kerjasama dibidang ekonomi dan perdagangan dengan mempromosikan potensi produk Indonesia yang dimiliki, diantaranya dengan mengadakan pameran.

Melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Departemen Perdagangan, Indonesia telah mengikuti Pameran Dagang XI Organisasi Konperensi Islam (OKI) yang diselenggarakan pada tanggal 21-25 Nopember 2007. Kegiatan pameran yang seluas lebih dari 25.000 m2 ini, sebagai langkah awal untuk menyongsong penyelenggaraan pertemuan para Kepala Negara anggota OKI “OIC Summit” yang diprogramkan pada bulan Mei 2008 di negara yang sama.

Berlokasi di area pameran CICES (Centre Internationale de Commerce Exteriour du Senegal), Dakar Yoff, Senegal, pameran ini diikuti peserta sebanyak 26 negara anggota OKI. Peserta pameran tersebut adalah Senegal - sebagai tuan rumah, Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Bangladesh, Benin, Burkina Faso, Komoro, Pantai Gading, Mesir, Gabon, Guinea Bissau, Kuwait, Libya, Maroko, Niger, Nigeria, Pakistan, Sudan, Tunisia, Turki, Suriah serta Uzbekistan. Negara lainnya seperti Kamerun, Gambia, Guinea, Mali dan Mauritania juga turut berpartisipasi walau tidak secara resmi.

Pada tahun 2005, Indonesia juga turut berpartisipasi pada Pameran Dagang X OKI yang berlangsung di Manama, Bahrain. Pada pameran OKI XI 2007, Indonesia kembali ikut bergabung, dengan luas area pameran 150 m2 yang berlokasi di Paviliun Senegal bersama dengan Paviliun Tunisia, Turki, Mesir, Bangladesh, Libya, Kuwait, Malaysia dan Suriah.

Sejumlah 6 (enam) eksportir nasional yang berperan aktif selama pameran berlangsung adalah : PT Dragon Prima Farma sebagai produsen obat-obatan dari Semarang; Ida Odang Jewelry dengan produk perhiasan dan kerajinan dari Jakarta; PT Indofood Sukses Makmur sebagai produsen mie instan dan bumbu masak dari Jakarta; PT Inti Jaringmas Nishing Net Industry dengan produk jaring ikan dan perlengkapan penangkap ikan (Tangerang); Layla Garden sebagai produsen pakaian jadi muslim serta PT Total Chemindo Loka, produsen sabun deterjen, sabun kesehatan dan obat nyamuk dari Jakarta.

Sebagai peserta pasif, 3 (tiga) perusahaan yang memamerkan produk dan brosur profil perusahaan adalah : PT Inkor Bola dari Pasuruan dengan produk bola kaki, bola tenis dan bola voli. Perusahaan lainnya yaitu : PT Rutan Machinery dari Surabaya (mesin dan alat pertanian) serta PT Sinar Antjol dari Jakarta (sabun deterjen).

Minat pembeli yang berkunjung ke Paviliun Indonesia cukup banyak. Sekitar 2000 orang pengunjung yang datang setiap hari ke arena pameran, pembeli yang datang ke Paviliun Indonesia rata-rata 150 orang setiap hari. Pengunjung yang terbanyak terutama dari Senegal, Mauritius, Mauritania, Pakistan, Arab Saudi, Turki dan Tunisia. Hasil kontak dagang yang diperoleh selama pameran lebih dari US$ 581.000.

“Indonesian Day”, tidak lupa turut menyemarakkan Paviliun Indonesia pada Pameran OKI XI 2007 ini. Diselenggarakan oleh BPEN dan KBRI Dakar, menampilkan peragaan mode dari produksi Layla Garden, pagelaran budaya Indonesia serta demo masak praktis ala mie instan dari produksi Indofood Sukses Makmur yang diperagakan langsung oleh wakil dari PT Indofood dan perusahaan yang akan menjadi penyalur nantinya di Dakar. Sambutan yang hangat dirasakan oleh peserta Indonesia dari pengunjung selama pagelaran berlangsung.(BPEN)

 

 

 

 

Batik & Craft Expo di Brunei Darussalam

 

Kedutaan Besar RI di Bandar Seri Begawan telah menerima undangan dari perusahaan konsorsium CRS Brunei Darussalam agar perusahaan Indonesia berpartisipasi dalam pameran Batik & Craft Expo 2008 yang akan diselenggarakan di Q-LAP Mall Brunei Darussalam tanggal 27 Februari - 2 Maret 2008.

Klasifikasi produk yang dapat ditampilkan dalam pameran tersebut yaitu pedagang dan designer batik, batik fashion houses, ethnic handicrafts, art galleries dan antique dealers, souvenir gifts shops and suppliers, master craftsmen and silversmiths dan barang seni lainnya.

Harga sewa booth untuk comer booth 3 x 3 m B$ 1.590,00 ( kurs 1 B$ = Rp. 6600) dan standard booth 3x3 m B$ 1.490,00. Pameran ini akan diikuti oleh UKM dari beberapa negara di kawasan.

Bagi Anda yang berminat untuk mengikuti pameran ini, untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi alamat dibawah ini:

Stand design and Construction: Syarikat Sendiseni Tel.+673-265-0333, HP: +673-885-3004. Travel agent: Kotta Holidays: Tel. +673-234-2568, Fax. +673-234-2569

email: info@kotta-holidays.com

(Sumber: Laporan KBRI Banda Seri Begawan)

 

 

 

Pameran produk negara-negara Islam di Yaman

 

Kedutaan Besar RI Sana'a menerima undangan dari Yemen International Exhibition and Conference di Aden agar Indonesia ikut dalam pameran produk negara-negara Islam yang akan diadakan di Aden tanggal 31 Maret - 8 April 2008. Pameran ini bertujuan untuk menggalang potensi kerjasama ekonomi dan perdagangan antar negara-negara Arab dan Islam, tukar menukar barang dan produksi, pemupukan modal usaha untuk mengembangkan jaringan ekonomi yang lebih kuat guna bersaing di pasar internasional.

Disela-sela kegiatan pameran akan diadakan seminar mengenai potensi investasi di Yaman khususnya di Aden Free Zone dan akan dilakukan business meeting antara pengusaha Yaman dengan peserta pameran. Adapun profil peserta yang diharapkan adalah yang bergerak di bidang industri, ekspor dan impor peralatan pertanian, produsen pupuk, teknik energi dan kelistrikan, telekomunikasi dan teknologi informasi, percetakan dan publikasi, alat-alat bangunan serta migas.

Untuk bentuk barang-barang dan jasa yang dipamerkan berbentuk bahan makanan, peralatan rumah tangga, tekstil dan produk tekstil, produk alumunium, kayu, peralatan kecantikan, obat-obatan, suku cadang mobil, komputer, alat tulis kantor, peralatan olah raga, bahan bangunan dll.

Bagi peserta dari Indonesia dikenakan harga sewa booth khusus yaitu US$ 65 per meter persegi untuk stand tertutup (bandingkan dengna harga normal sebesar US$ 150 per meter persegi) dan stand terbuka US$ 30 per meter persegi (harga normal US$ 70 per meter persegi).

Untuk keterangan lebih lengkap mengenai pameran ini, harap hubungi alamat dibawah ini :

Yaman International Exhibition and Conference

PO Box. 5801 Aden, Republic of Yemen

Tel.+967-2-222-500, Fax. +967-1-466-722

Email: ye.exhibi.co@yaman.net.ya

Menurut pengamatan KBRI Sana'a, produk-produk Indonesia yang mempunyai potensi besar di pasar Yaman adalah :

  • Ban sedan dan kendaraan niaga/penumpang, saat ini yang telah masuk pasar Yaman adalah merek GT atau Gajah Tunggal dan masih terbuka kesempatan untuk merek-merek ban Indonesia lainnya. Saingan terberat dalam sektor ini adalah China dan Korea Selatan.

  • Battery kendaraan bermotor (saat ini didominasi oleh China, Korea dan negara-negara Eropa)

  • Suku cadang kendaraan bermotor seperti air filter, oil filter, gasoline filter maupun radiator kendaraan bermotor. Suku cadang kendaraan bermotor buatan Indonesia yang sudah masuk pasar Yaman adalah merek Sakura.

  • Kertas foto copy A4 dan F4 dan ukuran lainnya (saat ini yang sudah masuk pasar Yaman adalah produk kertas Sinar Mas )

  • Alat tulis kantor (ATK)

  • Kain sarung, mengingat masyarakat Yaman selalu menggunakan sarung untuk pakaian sehari-hari

  • Produk mebel terutama yang knock down yang saat ini masih didominasi oleh produk China dan Malaysia

  • Peralatan eketronik seperti radio tape, CD/VCD/DVD player, televisi, mesin cuci dll

  • Produk plastik untuk perlengkapan rumah tangga seperti ember dan perlengkapan kamar mandi/toilet dan dapur  (saat ini produk Indonesia yang sudah masuk adalah Lionstar)

  • Bahan makanan dan penyedap rasa (saat ini Indofood telah masuk pasar Yaman)

  • Barang pecah belah untuk peralatan rumah tangga

  • Bahan konstruksi seperti tiang pancang beton, tiang listrik beton, kabel listrik dll

( Sumber: Laporan KBRI Sana'a)

 

 

 

 

 

Promosi Kreasi Budaya Indonesia Pada Festival Kota Muscat
 

Dua belas orang pengrajin asal Indonesia tampil memamerkan produk kerajinan tangan dengan indikasi arsitektur dan warisan budaya Indonesia pada acara Muscat Festival di kota Muscat, Kesultanan Oman pada 22 Januari – 15 Februari 2008. Muscat Festival merupakan festival tahunan utama yang digelar oleh pemerintah kota Muscat dan diikuti oleh 30 negara yang diantaranya adalah Philippina, Malaysia, China, Suriah, Maroko, Mesir, Yaman, Turki dan Iran. Festival ini dihadiri oleh ribuan pengunjung warga Oman maupun masyarakat negara-negara Teluk Arab.

Partisipasi para pengrajin dari berbagai daerah di Indonesia tersebut dikoordinir oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) – Departemen Perdagangan RI, Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia – Riyadh, Arab Saudi. Para Pengrajin itu menempati 9 booth yang disediakan oleh panitia festival. Mereka menampilkan dan memeragakan berbagai produk kerajinan dan budaya Indonesia meliputi tenun sonket, tenun tapis, perhiasan, wooden batik craft, batik, kaligrafi, handicraft, tenun, kerajinan kulit, tenun dayak dan lainnya.

Partisipasi Indonesia mendapat sambutan meriah dan antusias dari pejabat Oman, warga Indonesia yang bekerja di berbagai sektor di Oman maupun pengunjung lainnya karena partisipasi Indonesia pada festival ini merupakan yang pertama kali sejak Muscat Festival diadakan tahun 1998. Kehadiran  Indonesia memang telah dinanti oleh sekitar 18.000 warga Indonesia yang tinggal di Oman.

Kehadiran Indonesia merupakan wujud nyata keinginan Pemerintah dan warga Oman untuk meningkatkan hubungan baik dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Oman. Partisipasi Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan promosi Indonesia tentang budaya dan pariwisata Indonesia kepada warga Oman dan Warga Negara Arab Teluk lainnya. Kegiatan ini pun sangat mendukung program Visit Indonesia Year 2008. Dengan demikian, mereka akan lebih tertarik berkunjung ke Indonesia. (deplu.go.id)

 

 

Indonesia – Qatar Tandatangani Perjanjian Ketenagakerjaan

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno berkunjung ke Qatar dan mengadakan pertemuan dengan mitranya Menteri Perburuhan dan Sosial Qatar Sultan bin Hassan Al Dhabett Al Dossary minggu lalu 20 Januari 2008. Kedua menteri membahas upaya-upaya peningkatan hubungan bilateral negara, khususnya di bidang ketenagakerjaan. Pada kesempatan itu, juga telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Ketenagakerjaan antara Indonesia dan Qatar oleh kedua Menteri tersebut.

Dalam Perjanjian Ketenegakerjaan yang ditandatangani diantaranya digarisbawahi pentingnya penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di Qatar, yang jumlahnya meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini, karena pesatnya  pembangunan di berbagai sektor di Qatar.

Berdasarkan Perjanjian dimaksud kedua pemerintah akan membentuk Komite Bersama Bidang Kerjasama Ketenagakerjaan yang berfungsi mempersiapkan penempatan TKI, memantau implementasinya dan menyelesaikan permasalahan yang mungkin timbul. Perjanjian itu tidak hanya berlaku bagi TKI di sektor formal namun juga informal.

Selain itu, Komite Bersama ini akan membahas isu-isu terkait persiapan penempatan tenaga kerja Indonesia agar tenaga kerja yang dikirimkan sesuai kualifikasi persyaratan yang diminta. Apabila terjadi permasalahan antara pekerja dan majikan, Komite Bersama akan mencari jalan keluarnya. Yang lebih terpenting lagi, kedua pemerintah sepakat untuk melanjutkan kerjasama melalui penanaman modal dalam pembangunan pusat pelatihan di Indonesia untuk memenuhi permintaan Qatar.

TKI yang bekerja di Qatar sampai awal Januari 2008 tercatat sebesar 24.600 orang yang bekerja di sektor migas, industri, perhotelan dan Penata Laksana Rumah Tangga (pembantu rumah tangga).

 (Sumber: KBRI Qatar).

 

 


INDONESIAN WEEK (IW) DI PERANCIS
Peluncuran Produk UKM di kota Paris, Marseille dan Lyon

Memperkenalkan merek produk asal Indonesia tentunya akan menimbulkan pesan yang kuat dalam membangun citra Indonesia di mata dunia. Kekuatan ini akan memberikan dampak positif dalam pengembangan pasar ekspor.

Indonesian Week (IW) adalah salah satu upaya yang tepat dalam berpromosi memperkenalkan produk UKM Indonesia di Perancis. BPEN-Departemen Perdagangan bekerjasama dengan kantor pusat Carrefour di Perancis, dalam waktu dekat akan segera merealisasi upaya promosi tersebut.

Peluncuran produk Indonesia ini, direncanakan pada tanggal 14-24 Mei 2008 dan dipusatkan di daerah Montesson, salah satu gerai Carrefour terbesar di Perancis. Penyelenggaraannya bertetapan dengan Perayaan Hari Ibu, dengan dasar pemikiran, pada masa Hari Ibu saatnya para keluarga di Perancis melakukan pertukaran produk peralatan rumah tangga dan aksesorisnya. Diharapkan, pada waktu itu akan dapat memperoleh hasil penjualan yang paling optimal. Peluncuran lainnya juga akan dilakukan di beberapa cabang Carrefour yang sudah terseleksi di Perancis seperti di Marseille dan Lyon.

Untuk mewujudkan citra produk Indonesia dipasar Internasional sekaligus sebagai ajang promosi dan uji coba produk Indonesia, perlu dilakukan kegiatan pendukung lain yang dapat mencerminkan budaya Indonesia yang beraneka ragam. “Culture Performance” dan demo masak adalah contoh kegiatan yang dapat mendukung promosi ini.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan diupayakan sebagai pengisi acara yang dapat sejalan dengan program kampanye “Visit Indonesia Year 2008”. Program ini akan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Indonesia. Tidak kurang juga dukungan akan “Performance Art” berupa tarian tradisional Indonesia yang akan ditampilkan oleh Kedutaan Besar RI Paris.

Bertepatan dengan kegiatan ini, demo masak yang juga akan dilaksanakan, diperagakan oleh juru masak Indonesia. Mempertunjukkan cara mengolah aneka produk makanan serta makanan pendukungnya dengan menggunakan sumber bahan baku dan peralatan memasak dari Indonesia yang tengah dijual dalam peluncuran tersebut.

Indonesian Week (IW) merupakan kegiatan terobosan yang sangat strategis untuk didukung. Dalam kesempatan pertemuan koordinasi guna pemantapan persiapan IW, Carrefour telah menetapkan akan melakukan pembelian produk UKM Indonesia senilai US$ 600.000. Transaksi ini nilainya melebihi nilai transaksi yang diperoleh Carrefour dari pembelian terhadap negara pesaing Indonesia, seperti Thailand dan Vietnam yang berkisar dibawah US$ 20.000.

Produk yang diminati Carrefour terdiri dari 45 jenis produk, diantaranya produk kerajinan, peralatan rumah tangga, mebel, makanan dan minuman olahan, tekstil dan pakaian jadi. Keseluruhan produk akan dipasarkan melalui 200 jaringan penjualan Carrefour di Perancis dan jaringan Carrefour yang ada di 19 negara yang berpotensi, antara lain : Indonesia, Malaysia, Singapura, China dan negara-negara di Eropa serta Amerika Latin. Direncanakan, jumlah dan jenis produk akan terus bertambah.

Carrefour sampai saat ini masih terus melakukan pengujian standar terhadap beberapa produk yang dihasilkan oleh perusahaan asal Indonesia. Sejumlah perusahaan yang telah lulus dengan produknya bahan makanan kering serta buah-buahan yang dikeringkan.(bpen)

 


THE 25TH MADRID INTERNATIONAL FURNITURE EXHIBITION
Peluang Emas Bagi Pengusaha Mebel Indonesia

Madrid sebagai kota yang memiliki ekonomi sangat dinamis dengan kemajuan sosial budayanya, saat ini telah menjadi kota bisnis permebelan di kawasan Eropa. Dalam upaya menarik peluang bisnis ini, pameran berskala besar, The Madrid International Furniture Exhibition akan kembali digelar untuk yang ke-25 kali pada tanggal 22-27 April 2008 mendatang di Madrid, Spanyol.

Kecenderungan akan model mutakhir dalam pameran mebel dan dekorasi rumah ini, menjadikan perusahaan-perusahaan besar di sektor industri permebelan di dunia, para profesional dan desain interior turut berperan serta menyemarakkan momen ini. Pada tahun 2007, dengan luas area 60.000 m2, pameran ini diikuti 600 peserta dari dalam dan luar Eropa dengan pengunjung lebih dari 50 negara.

The Madrid International Furniture Exhibition, salah satu pameran dagang yang termodern. Diselenggarakan setiap tahun dan diorganisir oleh IFEMA-Feria de Madrid.

Bagi perusahaan Indonesia yang berminat berpromosi dalam pameran ini, informasinya dapat dilihat pada situs www.mueble-madrid.ifema.es atau menghubungi IFEMA Call Centre (Feria de Madrid), tel 34 91 722 5722 dan faksimili 34 91 722 5804.
Alamat yang dapat dihubungi melalui email adalah mueble-madrid@ifema.es.(dn)

 

 

 

Peluang produk Indonesia di Australia

Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia menetapkan untuk menggalakkan promosi 10 komoditi utama yaitu tekstil dan produk tekstil (pakaian jadi, serat dan benang kain), elektronik, karet dan produk karet, sawit, produk hasil hutan (furniture, kayu dan produk kayu, pulp dan kertas), alas kaki, komponen kendaraan bermotor, udang, kakao, kopi. Secara umum China menguasai pasar Australia khususnya tekstil.

Tahun 2007, komoditi Indonesia yang mempunyai pangsa pasar terbesar adalah kakao sebesar 29,54% senilai US$ 26,61 juta (kedua setelah Singapura). Pangsa pasar produk Indonesia lainnya masih terbilang rendah namun berpotensi untuk berkembang yaitu antara lain sawit 2,51% atau senilai US$ 2,26 juta (kedua setelah Malaysia dengan pangsa sebesar 96%), udang sebesar 3,05% senilai US$ 4,474 juta (urutan ke-lima), dan rempah-rempah sebesar 5,6% senilai US$ 1,23 juta.

Untuk komoditi sawit, eksportir Indonesia tampaknya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan ekspor utamanya, disamping itu permintaan dalam negeri juga besar dan terus meningkat.

Sedangkan proses ekspor komoditi udang sangat terkait dengan proses penyimpanan dan pengiriman yang memakan biaya agak besar, karena Australia menerapkan persyaratan karantina dan ketepatan waktu tibanya di Australia. (Sumber: laporan Atperdag KBRI Canberra)

 

Minggu ke-3 Januari 2008

Pameran produk Indonesia pada pameran Consumer Food Fair di Bandar Seri Begawan

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam bekerjasama dengan Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Indramayu memprakarsai  keikutsertaan pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Indramayu, dalam pameran Consumer Food Fair yang diselenggarakan Sunlit Advertising pada tanggal 4 s/d 9 Januari 2008 di International Convention Center (ICC). 

Dalam kesempatan ini, Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Indramayu mempromosikan kerupuk udang dan dried mangoes dari Kabupaten Indramayu. Disamping itu pula, terdapat 5 (lima) perusahaan UKM ikut berpatisipasi dalam pameran tersebut yaitu Rumah Batik Danara (usaha dibidang Batik);  Re Do Creation (usaha dibidang Batik); Ridaf Cream Sengkuang (usaha dibidang kosmetik); dan Optimus Cakrawala Ekplorer dan Deka Adiguna (bergerak dibidang produk agro industri).

Pada booth pengusaha UKM, para pengunjung dapat secara langsung melihat lebih dekat produk-produk agro industri, pakaian batik, dan peralatan kosmetik.  Selain itu, untuk lebih memikat para pengunjung pada booth Indonesia para pengunjung dapat menikmati beberapa sajian makanan khas Indonesia seperti dried mangoes, cheese stick crackers dan lainnya. Banyak pengunjung yang datang  memadati booth Indonesia untuk melakukan transaksi, sehingga booth Indonesia adalah booth yang paling sibuk diantara booth yang lain.

Dari pengamatan KBRI Bandar Seri Begawan, selama pameran berlangsung pada umumnya para pengunjung menyukai batik yang bermotif bunga dan tertarik dengan kemasan produk kerupuk, buah mangga dari Indramayu selain sederhana dan higienis. Pada pameran itu, terdapat kontak bisnis antara perusahaan Halaqah Enterprise dengan perusahaan Optimus Cakrawala Ekplorer dan Deka Adiguna dibidang agrobisnis. Perusahaan Halaqah tertarik untuk melihat pabrik beras organik di Bandung Jawa Barat.

Kehadiran para pengusaha UKM Kabupaten Indramayu telah memperluas jaringan pengusaha dan masyarakat Bandar Seri Begawan terhadap potensi  produk-produk Indonesia.

Menurut penyelenggara Sunlit Advertising Mr. Jacson Ting, tercatat 229 stall/booth dari berbagai usaha makanan, minuman, pakaian, elektronik, perlengkapan mobil serta jasa perbankan dan asuransi pada acara Consumer Foods Fair. Jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 4979 orang pada acara tersebut.

(Sumber: KBRI Bandar Sri Begawan)

 

 

 

Perkembangan Perdagangan Indonesia-RRC

Nilai perdagangan antara Indonesia-RRC bulan Januari-Agustus 2007 mencapai US$ 16,37 milyar atau naik sebesar 36,77% dibandingkan bulan Januari-Agustus 2006 yang mencapai US$ 11,97 milyar. Total ekspor ke RI tahun 2007 pada periode yang sama mencapai US$ 8,12 milyar, naik sebesar 39,40%. Ekspor migas ke RI naik 20,70% atau sebesar US$ 749,21 juta sementara ekspor non migas ke RI naik 41,63%, atau mencapai US$ 7,73 milyar.

Indonesia merupakan negara tujuan ekspor urutan ke 20 dengan nilai US$ 8,12 milyar atau 1,06% dari total ekspor RRC yang mencapai nilai US$ 766,02 milyar dan negara asal impor urutan ke 17 dengan nilai US$ 8,25 milyar atau 1.37% dari total impor RRC yang mencapai nilai US$ 603,95 milyar.

Nilai total impor RRC pada bulan Januari-Agustus 2007 mencapai US$ 603,95 milyar, naik sekitar 19,56% dibandingkan periode yang sama tahun 2006 yang mencapai US$ 505,13 milyar. Impor migas RRC dari Indonesia naik 49,59% atau sebesar US$ 1,61 milyar, sementara impor non migas naik 31% atau mencapai US$ 6,64 milyar.


Pelabuhan utama di RRC yang menjadi tujuan ekspor dari Indonesia yaitu
:

  • Shanghai (untuk produk automatic data process machines, magn reader etc; polycarboxilic acids & anhyd, halog, sulf etc; chemical woodpulp, soda or sulfate, not dissoly gr, wood sawn of chipped length, sliced etc; ov6mm th; natural rubber, balata, chicie etc; prim form etc dll)

  • Nanjing (untuk produk palm oil & its fractions, not chemically modified; chemical woodpulp, soda or sulfate, not veg fats & oil, hydrogen etc, not fur prep; coconut, palm kernel or babassu oil etc, not ch mod. dll)

  • Qingdao (untuk produk natural rubber, balata, chicle etc, prim form etc, aluminum ores and concentrates; chemically modified; soda or sulfate, not dissoly gr, palm oil & its fractions, not chemically modified; fuel wood in logs etc, wood in chips, etc. dll)

  • Shenzhen (untuk produk automatic data process machines, magn reader etc; copper wire; electronic intergratd circuits & microassembl, pts. dll)

  • Huangpu (untuk produk palm oil & itsfractions, not chemically modified; coal, briquettes, ovoids, etc. mfr from coal; chemical woodpulp, soda or sulfate, not dissoly gr, copper wire; electronic intergratd circuits & microassembl, pts. dll)

  • Tianjin (untuk produk palm oil & its fractions, not chemically modified; natural rubber, balata, chicle etc, prim form etc; tubes, pipes etc, seamless, iron nesoi & steel; chemical woodpulp, dissolving grades; coconut, palm kernel or babassu oil etc, not ch mod. dll)

  • Ningbo (untuk produk polycarboxylic acids & anhyd etc, halog, sulf etc; cyclic hydrocarbons; acyclic alcohols & hologenat, sulfonatd etc; derives; chemical wood pulp, soda or sulfate, not dissoly gr; plywood, veneered panels & similar laminated wood; palm oil & its fractions, not chemically modified; dll)

  • Xiamen (untuk produk coal, briquettes, ovoids, etc. mfr from coal; palm oil & its fractions, not chemically modified; cyclic hydrocarbons; automatic data process machines, magn reader etc; natural rubber, balata, chicle etc, prim form etc; dll)

  • Hangzhou (untuk produk polycarboxilic acids & anhyd, halog, sulf etc; palm oil & its fractions, not chemically modified; copper wire; natural rubber, balata, chicle etc, prim form etc; coconut, palm kernel or babassu oil etc, not ch mod. dll)

  • Gongbei (untuk produk automatic data process machines, magn reader etc; coal, briquettes, ovoids, etc. mfr from coal; chemical woodpulp, soda or sulfate, not dissoly gr, electronic intergratd circuits & microassembl, pts.; cyclic hydrocarbons; dll)

 ( Laporan Bulanan Atase Perdagangan KBRI Beijing)

 

 

Peluang dan potensi produk Indonesia di Myanmar

Untuk menjajagi peluang yang mungkin mempunyai potensi bagi produk Indonesia di pasar Myanmar, Kedutaan Besar RI (KBRI) Yangon telah mengadakan pertemuan dengan anggota KADIN Federal Myanmar dan International Business Promotion Centre bulan lalu. Dalam pertemuan tersebut KBRI Yangon mengemukakan kemungkinan masuknya beberapa produk Indonesia yang kiranya mempunyai potensi di Myanmar yaitu komponen atau suku cadang kendaraan bermotor; produk kertas; sepatu; minyak sawit; kerajinan tangan; produk kimia organik dan inorganik; tekstil dan produk tekstil; peralatan medis dan alat-alat rumah tangga.

Dalam pertemuan tersebut KBRI Yangon juga mengorganisir kunjungan para pengusaha Myanmar ke Trade Expo Indonesia di Jakarta, tanggal 21-25 Oktober 2008 mendatang. Rencana lain adalah untuk mengundang para pengusaha Myanmar ke berbagai pameran lain yang diselenggarakan di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kadin Federal Myanmar, Mr. U Sein Wein Hlaing, dalam pertemuan itu menyampaikan rencana Kadin Federal untuk berpartisipasi pada Agrinex Expo 2008 di Jakarta, pada tanggal 20-23 Maret 2008 dan Balikpapan Oil/Gas/Mining Expo 2008, 19-21 Juni 2008 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kadin Federal juga berencana untuk turut membuka paviliun, mempromosikan produk-produk Myanmar. Sesuai dengan rencana, koordinasi dengan pihak penyelenggara serta Kedubes Myanmar di Jakarta tengah dilakukan saat ini.

Kadin Federal sangat berkeinginan mengimpor produk kertas Indonesia, karena kualitasnya yang bagus. Lebih lanjut Kadin Federal juga menyatakan keinginan untuk turut dalam delegasi pengusaha Myanmar pada Trade Expo Indonesia 2008, Oktober mendatang.

International Business Promotion Centre (IBPC), beranggotakan 50 perusahaan besar dalam menangani proyek-proyek penting di Myanmar, seperti : konstruksi, properti, perdagangan, industri pabrik, perkebunan, pertanian, perangkat lunak, sektor jasa informasi dan teknologi (IT) serta produk makanan. Dalam pertemuan dengan Ketua IBPC, anggotanya berkeinginan untuk mengimpor produk-produk dari Indonesia seperti sepatu; rotan; petrokimia; minyak mentah; tekstil dan produk tekstil; rempah-rempah; obat-obatan dan pakaian jadi. Permintaan tersebut nantinya akan diteruskan oleh KBRI Yangon kepada pengusaha terkait di Indonesia. (bpen)

 

 


Promosi Produk Indonesia di Gambia

Gambia merupakan salah satu pintu masuk yang strategis bagi produk Indonesia menuju kawasan Afrika Barat. Beberapa produk Indonesia yang telah berhasil mendapat tempat tersendiri di pasar Gambia saat ini adalah tekstil, pakaian jadi, makanan kaleng, makanan instan dan sejenisnya.

Dalam upaya menggiatkan promosi produk Indonesia, KBRI Dakar turut berpartisipasi pada Gambia Trade Fair (GTF) yang diselenggarakan di Independence Stadium, Banjul, Gambia bulan Desember yang lalu. Pameran dagang internasional dwi-tahunan ini adalah ajang pameran paling representatif yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Gambia.

KBRI Dakar memamerkan berbagai pamflet dan beberapa contoh produk buatan Indonesia yang diperoleh dari BPEN-Departemen Perdagangan seperti dari PT Inti Jaring Mas Fishing Net, PT Dragon Prima Farma, PT Pura Barutama, PT Sinar Antjol, PT Rutan Machinery, PT Sari Incofood Corporation, Layla Garden Boutique, PT Indofood Sukses Makmur, PT Total Chemindo Lokal, PT Plasindo Bhama Prasasta, PT Gudang Garam dan PT Inkor Bola Pacific. Para pengunjung yang datang melihat contoh produk dari Indonesia berkesempatan menghisap rokok kretek dan mengenyam minuman kopi Indonesia.

Gambian Trade Fair (GTF) 2007 adalah sarana promosi bagi pengusaha untuk turut serta dalam ajang pameran ini. Sebagai peserta, Indonesia (KBRI Dakar) merupakan salah satu peserta yang mendapat perhatian khusus, baik oleh pemerintah Senegal, kalangan pers maupun pelaku bisnis dari masyarakat Gambia. Pada kesempatan ini, produk Indonesia yang berkesan adalah minyak dan balsem kesehatan seperti minyak kayu putih, minyak telon, minyak sereh, minyak urut, balsem dan menthol gosok serta contoh uang kertas.

Antusias pengunjung cukup tinggi menggali informasi lebih jauh tentang produk Indonesia yang ditampilkan. Dari jumlah pengunjung yang datang sekitar 500-750 orang setiap hari, terdapat 2 (dua) pengusaha yang cukup serius melalukan kontak bisnis dengan pengusaha Indonesia.

Keikutsertaan Indonesia pada GTF 2007, dapat disimpulkan bahwa GTF 2007 akan menjadi sarana yang cukup efektif untuk dimanfaatkan sebagai media promosi terpadu TTI (Trade, Tourism and Investment) Indonesia. Untuk itu disarankan, perlunya Indonesia untuk selalu aktif mengikuti pameran berskala internasional yang diadakan di Banjul, Gambia atau di negara akreditasi KBRI Dakar lainnya.

Potensi pasar Gambia masih terbuka lebar untuk pemasaran produk Indonesia lainnya seperti deterjen, beras, minyak sayur, alat-alat pertanian, alat-alat perikanan dan lain-lain. Pameran dwi-tahunan skala internasional yang juga secara rutin diselenggarakan adalah Foire Internationale de Dakar (FIDAK) di Senegal.(bpen)

 

Minggu ke-2 Januari 2008

Peluang Produk Indonesia di Arab Saudi

Pembangunan mega proyek yang sedang dilaksanakan di Arab Saudi merupakan bagian rencana strategis dari pembangunan secara terpadu. Dalam rencana menggalakkan pembangunan yang merata diseluruh wilayah, Pemerintah Arab Saudi membuka kesempatan kepada penanam modal untuk melakukan investasi di Arab Saudi dengan memberikan kemudahan dan insentif.

Saudi Investment Forum 2007 atau Strategic Conference and International Exhibition menjadi langkah awal bagi pengembangan proyek ini. Dengan dihadiri oleh Atase Perdagangan beserta staf dari KBRI Riyadh, forum ini bertujuan untuk menarik penanam modal domestik dan asing berpartisipasi dalam kegiatan mega proyek yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Arab Saudi dalam waktu 15 tahun ke depan.

Forum yang diselenggarakan pada tanggal 24-26 Nopember 2007 ini, bertempat di Asharqia Chamber, Dammam-Khobar Expressway, Arab Saudi, membuka berbagai peluang dalam pengembangan proyek-proyek besar pada berbagai sektor di wilayah Arab Saudi. Proyek tersebut meliputi sektor infrastruktur, migas, petrokimia, energi, telekomunikasi, pariwisata dan pertanian serta sektor lainnya.

Dikatakan oleh Atase Perdagangan-KBRI Riyadh, dengan diselenggarakannya forum tersebut menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia. Untuk memanfaatkan peluang emas ini, Atdag mengajak pengusaha Indonesia agar lebih giat bersemangat mengikuti tender-tender di Arab Saudi. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi secara langsung Atase Perdagangan KBRI Arab Saudi : Drs. Sintoyo, MA, beralamat : Indonesian Embassy, Riyadh Diplomatic Quarter, PO. Box. 94343 Riyadh 11693 - Saudi Arabia, telp. (966-1) 4882800, 4882131 (120), fax (966-1) 4882966, Email : atdag-sau@depdag.go.id, Web : www.kbri-riyadh.org.sa.

Produk yang sangat berpeluang dalam menunjang kegiatan proyek tersebut adalah : peralatan kesehatan; mebel untuk perkantoran dan sekolah; bahan konstruksi dan bangunan lainnya; peralatan rumah tangga serta pertamanan. Pemanfaatan tenaga trampil, juga termasuk didalam proyek ini.

Kebutuhan peralatan rumah tangga dan mebel di pasar Arab Saudi selama ini didominasi oleh produk dari China dan Malaysia. Bahkan rumput untuk kebutuhan pertamananpun diimpor dari Amerika, demikian informasi dari KBRI Riyadh.(bpen)

 

 


NATPRO EXPO 2007
The 5th Middle East Natural and Organic Products Expo 2007

Upaya pengembangan pasar produk non migas Indonesia yang berkesinambungan terus dilakukan melalui kegiatan promosi. Salah satunya adalah melalui media pameran di luar negeri, yaitu pada The 5th Middle East Natural and Organic Products Expo 2007 (NATPRO) yang dilaksanakan tanggal 16-18 Desember 2007 di Dubai International Centre, Dubai-Persatuan Emirat Arab (PEA).

Memasuki beberapa pasar negara potensial khususnya kawasan pasar Timur Tengah, Dubai merupakan salah satu titik tempat masuknya ke kawasan tersebut. Pemerintah melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Departemen Perdagangan dengan pelaksana Pusat Pengembangan Pasar Wilayah Afrika dan Timur Tengah (P3WATT) mengikuti kegiatan promosi tersebut.

NATPRO merupakan pameran tahunan yang kelima di wilayah Afrika & Timur Tengah dengan luas area 7.500 m2, khusus menampilkan produk Spa, Natural Remedies, Spices Organic, Herbal dan Natural. Pameran ini dimulai semenjak tahun 2003, namun bagi Indonesia baru pertama kali berpartisipasi.

Paviliun Indonesia seluas 180 m2 dengan sentuhan desain minimalis, informatif dan atraktif mencerminkan identitas Indonesia. Sejumlah 19 perusahaan peserta memamerkan produk-produk Spa, Natural Remedies, Spices Organic, Herbal dan Natural. Peserta tersebut terdiri dari pengusaha eksportir sebanyak 14 perusahaan; perusahaan binaan dari Dinas Koperasi dan UKM Kotamadya Surakarta sebanyak 3 perusahaan; Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan serta Direktorat Pemasaran Internasional dan Direktorat Jenderal PPHP-Departemen Pertanian.

Perusahaan peserta pameran dari Indonesia berupaya menampilkan produk terbaik Indonesia melalui hasil seleksi dengan lebih menekankan produk yang mempunyai daya saing serta prospek dan peluang di pasar Timur Tengah. Peserta pameran tersebut adalah PT Beverly International, PT Capung Indah Abadi, Taman Sari Royal Heritage, PT Etenair Water Indonesia, Global Bioscience, PT Indocare Citra Pacific, PT Industri Jamu Borobudur, PT Kinocare Era Kosmetindo, Bali Tangi, Pacific Beauty Group, PT Soho Industry Pharmacy, PT Supra Sari Lestari, PT Tri Rahardja, Vitaher dan PT Kino Sentra serta Windy’s Programme. Turut serta dalam promosi ini Dinas Koperasi dan Pembinaan UKM Kodya Solo dengan membawa tiga (3) perusahaan binaan yaitu Jamu Putri Kraton, Bilgis dan Akar Sari.

Pembeli yang datang selain dari kawasan tersebut, juga dari kawasan lainnya seperti Asia, Eropa dan Amerika. Kedatangan para pembeli ini banyak memperoleh manfaat bagi para pembeli dalam mencari berbagai sumber inspirasi produk baru yang memiliki prospek dan peluang pasar untuk dikembangkan diwilayah pemasaran mereka masing-masing.(bpen)

 

 

 

Minggu ke-1 Januari 2008

Peluang pasar kerja perhotelan di Dubai

Berdasarkan catatan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Dubai, Persatuan Emirat Arab, saat ini terdapat sekitar 2000 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di bidang perhotelan. Yana Rudiyana, Pelaksana Fungsi Ekonomi KJRI Dubai menyatakan bawa jumlah ini belum termasuk tenaga kerja perhotelan Indonesia yang bekerja di chain hotel kelas atas yang masuk ke Dubai tanpa harus melalui proses legalisasi di KJRI Dubai. Menurut data Departmen Pariwisata dan Komersial Dubai, sekarang ini Dubai memiliki sekitar 200 hotel dalam berbagai kategori. Bila proyek - proyek pulau buatan seperti Palm Jumeirah, Palm Jebel Ali, Palm Deira dan lain lain selesai, maka akan terdapat 500 hotel baru di emirat Dubai.

Tenaga kerja perhotelan Indonesia di Dubai bekerja dalam berbagai tingkatan sesuai dengan pengalaman dan masa kerja. Gaji yang diterima bervariasi, mulai 900 Dirham sampai 5000 Dirham (1US$ = 3,67 Dirham). Beberapa tenaga perhotelan kita bekerja sebagai juru masak utama pada beberapa hotel besar termasuk Burj Al Arab, hotel berbintang tujuh yang terkenal itu. Hotel berbintang di Dubai umumnya menyediakan sarana akomodasi dan transportasi bagi seluruh karyawannya. Kelompok perhotelan milik keluarga emir Dubai yaitu Jumeirah Group memiliki fasilitas akomodasi karyawan terbaik di kawasan Timur Tengah.

"Tenaga perhotelan Indonesia yang bekerja di Dubai umumnya menyatakan puas dengan pekerjaan, fasilitas dan penghasilan yang diterima" ujar Yana Rudiyana mengenai kondisi kerja TKI di sektor perhotelan di Dubai. Yana menambahkan bahwa sebagian besar tenaga perhotelan Indonesia yang bekerja di Dubai adalah karyawan hotel di Indonesia yang mempunyai chain di Dubai.

Namun demikian jumlah mereka yang melamar langsung untuk bekerja di Dubai juga banyak. Umumnya pelamar mencari peluang kerja di Dubai melalui internet. Bila pelamar yang memenuhi syarat sudah terkumpul sejumlah yang diinginkan maka pihak manajemen hotel datang ke Indonesia biasanya di Jakarta atau Bali untuk melakukan wawancara. Pelamar umumnya mempunyai latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja di bidang perhotelan. Menurut Yana, tenaga perhotelan Indonesia dikenal sebagai pekerja yang rajin dan cukup disukai oleh sektor perhotelan Dubai. (Sumber: KJRI Dubai)

 

 

Peluang dagang di Afghanistan

Menindak lanjuti kunjungan sejumlah pengusaha Afghanistan ke Pameran Produk Ekspor 2007 di Jakarta, KBRI Kabul mengadakan temu usaha dengan beberapa pengusaha Afghanistan minggu lalu. Pertemuan yang digagas oleh pelaksana fungsi ekonomi KBRI Kabul Heru Wicaksono berlangsung di Wisma Duta (kediaman Duta Besar RI Kabul) dan juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi pemerintah Afghanistan. Menurut catatan panita PPE, jumlah transaksi pengusaha Afghanistan dalam PPE 2007 terbilang besar yaitu US$ 10,5 juta yang menduduki urutan ke-5 setelah Spanyol, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Pasar Afghanistan saat ini dipenuhi oleh berbagai produk buatan China yang dapat diserap karena harga yang sangat kompetitif. Dalam temu usaha tersebut, pengusaha Afghnistan menyatakan bahwa mereka lebih menyukai produk Indonesia karena kualitasnya lebih baik dan harga cukup terjangkau. Dalam PPE 2007, komoditi yang dipesan oleh Afganistan antara lain barang pecah belah, jus buah, teh Golpara, minuman sehat, sabun, kertas, pampers, keramik Mulia, obat-obatan yang semuanya sebanyak sekitar 60 kontainer.

Dalam pertemuan di kediaman Dubes RI Kabul itu, pengusaha dan pejabat pemerintah Afganistan (Wakil Menteri Keuangan) mengundang pengusaha Indonesia untuk datang ke Kabul guna melihat peluang yang ditawarkan oleh sektor usaha di Afganistan. Sehubungan dengan kondisi negaranya yang kurang stabil, Pemerintah Afganistan menyatakan akan menjamin keamanan  kunjungan pengusaha Indonesia ataupun investasi di Afganistan. (Sumber: KBRI Kabul)

 

Pendirian “House of Indonesia” di Uzbekistan

Sebagai bagian dari upaya KBRI untuk lebih memperkenalkan produk-produk Indonesia di Uzbekistan dan Asia Tengah, KBRI telah memfasilitasi sebuah perusahaan Uzbekistan untuk membuka House of Indonesia di Tashkent. House Indonesia adalah ajang pameran permanen bagi produk Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari ide tersebut, pada 19 Desember 2007 bertempat di Kantor Permodalan Nasional Mandiri (PNM), Jakarta, telah berlangsung penandatanganan MoU Kerjasama antara PNM dan Perusahaan Uzbekistan ”OOO Azia” untuk memasok barang-barang Indonesia ke House of Indonesia.  Penandantanganan MoU dilakukan oleh Presiden Direktur PNM Widya Nusapati dan Direktur ”OOO Azia” Murad Yafunyaev.

Duta Besar RI Tashkent Sjahril Sabaruddin berharap pendirian House of Indonesia dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan ekspor Indonesia ke Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah. Melalui House of Indonesia juga diharapkan dapat dipetik manfaat ganda, yaitu pengadaan produk-produk Indonesia dengan kualitas terjamin dan harga bersaing melalui One Stop Shopping.

Operasionalisasi House of Indonesia direncanakan akan dimulai pada Maret 2008. Pihak ”OOO Azia” telah menyiapkan sebuah gedung untuk display produk-produk Indonesia. Dua orang staf PNM pada Januari 2008 mewndatang akan berkunjung ke Tashkent untuk  mempelajari kondisi pasar.

Menurut Presiden Direktur PNM Widya Nusapati kerjasama antara kedua perusahaan itu akan berbentuk "franchising". PNM akan menghimpun para pengusaha UKM di Indonesia, untuk berpartisipasi dalam mempromosikan produk mereka di Rumah Indonesia tersebut. (Sumber: KBRI Tashkent)

 

 

Peluang Pakaian Jadi di Pasar Jepang

Peluang yang sangat besar saat ini bagi industri tekstil Indonesia di pasar Jepang adalah Pakaian Jadi. Dengan populasi penduduk 128 juta jiwa, kondisi pasar Pakaian Jadi di Jepang mencapai US$ 83 miliar. Diperkirakan, konsumsi tersebut dapat bernilai US$ 20.000 per-orang setiap tahunnya, demikian presentasi Mr. Toshiya Yuba, pejabat JETRO,  pada suatu teleconference. JETRO (Japan External Trade Organization) adalah lembaga pemerintah Jepang untuk menarik investasi asing dan membantu peningkatan daya ekspor UKM Jepang.

Impor Pakaian Jadi di Jepang pada tahun 2006 sebesar US$ 28.890 juta. Negara pemasoknya antara lain : China dengan pasokan terbesar, 77% dari impor Pakaian Jadi. Negara-negara pemasok lainnya adalah Italia (5%), Vietnam (3%), Korea, Amerika Serikat, Indonesia (1,7%) dan Thailand. Konsumsi terbesar adalah pakaian wanita 57%, pakaian laki-laki 31% dan pakaian anak-anak 12%.

Trend bagi produk ini adalah yang memiliki nilai tambah tinggi, harga rendah dengan kualitas yang bagus.  Terdapat 3 (tiga) elemen penting yang harus dimiliki memasuki pasar Jepang yakni kualitas, harga dan waktu pengiriman.

Mr. Yuba menuturkan, pasar perlengkapan bayi di Jepang cukup menjanjikan. Beliau menilai produk peralatan bayi buatan Indonesia merek Le Monde sudah cukup bagus modelnya namun desain gambarnya sudah tidak baru lagi. Diharapkan, desain yang sederhana dan tidak terlalu ramai dengan pembungkus bukan dari plastik serta tidak berbau lem.

Harga produk Le Monde dianggap masih terlalu mahal bila dilihat dari kualitas bahannya. Disampaikan juga bahwa perlengkapan bayi perlu memperhatikan segi keamanan bagi si bayi. (Sumber: BPEN)

 

 

 

 

 

 

 

Minggu ke-4 Desember 2007

Kerjasama ketenagakerjaan dengan beberapa negara Timteng

Untuk memaksimalkan pemanfaatan peluang tenaga kerja di luar negeri dan perlindungan TKI, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) pada awal tahun 2008 akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang ketenagakerjaan dengan empat negara Timur Tengah.

"Menurut rencana hingga bulan April 2008, akan ada empat negara yang menandatangani MoU, yaitu Kuwait, Jordania, Suriah, dan Qatar," kata Direktur Jendral Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Depnakertrans, Tjetje Al Anshori di Jakarta, minggu lalu.

Tjetje memaparkan, MoU tersebut memiliki banyak manfaat antara lain untuk menjamin secara lebih besar mengenai perihal penempatan dan perlindungan terhadap TKI di negara - negara yang bersangkutan. Selain itu, penandatanganan MoU tersebut juga diharapkan dapat dilakukan dengan negara-negara lainnya yang menampung TKI.

Tjetje juga mengemukakan, umumnya setelah dilakukan penandatangan MoU akan dilakukan pembahasan lanjutan hingga bentuk teknisnya yang lebih terperinci perihal pelaksanaan MoU tersebut.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia pada Selasa (18/12) menandatangani MoU dengan Pemerintah Republik Persatuan Emirat Arab di bidang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) sektor formal. Dalam acara penandatangan tersebut, Indonesia diwakili Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Erman Suparno, sedangkan Republik Persatuan Emirat Arab diwakili Menteri Perburuhan, Ali Abdullah Al-Kaabhi.

Erman Suparno mengatakan, sesuai dengan kesepakatan tersebut, kedua negara akan segera membentuk kelompok kerja yang akan memantau pelaksanaan MoU, serta sepakat bertemu secara berkala untuk meningkatkan jumlah penempatan dan perlindungan TKI di Emirat Arab.

Disamping itu, kata dia, kedua negara sepakat akan membangun on-line system dalam mekanisme pasar kerja di kedua negara serta menyusun "cost structure" bagi TKI formal. "Oleh karena itu, Indonesia juga akan berupaya meningkatkan kualitas TKI sektor formal kita dengan memberdayakan semaksimal mungkin BLK (Balai Latihan Kerja)," kata Menakertrans. (Berita Antara)

 ^^^^

 

1.000 Perawat Indonesia Dikirim ke Jepang

Sebuah harian di Jepang, Nikkei Business Daily, menyatakan Pemerintah Jepang akan menerima 1.000 orang perawat dan tenaga medis lain dari Indonesia. Hal itu akan dilakukan sesegera mungkin tahun depan.

Langkah ini merupakan yang pertama bagi Jepang menerima perawat dan tenaga medis untuk bekerja full time. "Untuk dua tahun setelah April, Jepang setiap tahun akan menerima 200 perawat yang mempunyai izin dan 300 tenaga medis bersertifikat," tulis Nikkei Business Daily lagi.

Untuk perawat akan dibatasi masa kerjanya di Jepang selama tiga tahun, sedangkan untuk para medis bersertifikat empat tahun. Meski demikian, izin kerja itu bisa diperpanjang dengan cara mengikuti ujian atau mendapatkan sertifikat serupa dari Jepang.

Di Jepang, para perawat Indonesia itu akan bekerja sebagai asisten di rumah sakit atau fasilitas perawatan setelah mendapat pelatihan bahasa Jepang.(berita Antara)

 ^_^

 

 

TKI diminta masuk ke Organisasi Pekerja

Pemerintah mendorong Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri untuk menjadi anggota serikat pekerja di negara yang bersangkutan. Langkah tersebut dinilai cukup efektif untuk meminimalisir terjadinya kasus penganiayaan terhadap para buruh migran tersebut.

Ketua Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menyatakan bahwa  TKI akan didorong untuk masuk dalam serikat pengacara atau serikat pekerja di sana. Di samping kita juga memperbaiki kualitas penempatan TKI yang ada.

Seiring dengan itu, lanjutnya, pemerintah juga tengah menggagas pembentukan lembaga khusus untuk memonitor keberadaan TKI migran di luar negeri. Pembentukan lembaga itu dilakukan untuk menerobos akses informasi terkait kehidupan TKI.

"Akumulasi selama ini penempatan TKI kan tidak betul, makanya kita bertahap membenahi. Kita bekerja keras untuk itu. Kita dorong adanya lembaga monitoring dengan bekerja sama dengan berbagai negara, sehingga kita punya akses ke sana," papar Jumhur.

Jumhur menanggapi itu ketika dikonfirmasi mengenai pernyataan Serikat Buruh Migran Indonesia Provinsi Jatim, setiap hari ada satu sampai tiga pekerja migran asal Jatim yang tewas. "Soal angka, kami masih akan menkompilasi data tahun ini. Kelihatannya ada tren penurunan kasus," jawab Jumhur.

Dia menilai, kasus kematian buruh migran terbilang kecil jumlahnya. Angka itu pun mesti dipisahkan antara TKI yang legal dan tidak.

"Ketika berada di luar negeri, mereka langsung disebut TKI. padahal pintu masuknya tidak sama. Nah, kasus penganiayaan, tewas, dan sebagainya itu angkanya kecil kalau buat TKI yang legal," tandasnya. (Media Indonesia)

 ^^^^

 

Depdag akan Buka Pusat Promosi Perdagangan di Shanghai

Departemen Perdagangan (Depdag) RI tahun 2008 akan membuka Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) di Shanghai, China, untuk memanfaatkan peluang perdagangan Indonesia dengan China yang selama ini kian meningkat.

"Rencananya Depdag akan membuka ITPC di Shanghai tahun depan,s ekaligus untuk mengantisipasi keikutsertaan Indonesia dalam 'World Expo' di kota itu," kata Duta Besar RI untuk China, Sudrajat, di Beijing, Jumat (21/12).

Ia mengatakan, hubungan ekonomi, khususnya perdagangan antara Indonesia dengan China yang terus meningkat beberapa tahun ini hendaknya memang harus dikritisi dan diantisipasi, sehingga ke depan bisa berjalan dengan baik dengan tetap terus dijaga peluang dan potensinya.

Target volume perdagangan kedua negara sebesar 30 miliar dolar AS tahun 2010, sesuai dengan target yang disepakati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao melalui Kerjasama Strategis 2005, memerlukan kerja keras oleh kedua belah pihak.

Masalah perdagangan, katanya, memang merupakan salah satu kepedulian KBRI Beijing untuk diperhatikan mengingat makin banyak pengusaha kedua negara yang saling mengunjungi.

Indonesia menurut rencana akan ikut dalam "The World Expo 2010 Shanghai" yang akan berlangsung tanggal 1 Mei-31 Oktober 2010 di Shanghai, China, dalam upaya untuk memperkenalkan sejumlah kemajuan teknologi yang selama ini telah dicapai.

Keikutsertaan Indonesia dalam pameran ekspor tiga tahun mendatang itu akan mempunyai arti penting dan strategis dalam upaya memperkenalkan kemajuan teknologi kepada dunia luar mengingat penyelenggaraan ekspor tersebut merupakan yang terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Komisioner Jenderal "The World Expo 2010 Shanghai" Hua Junduo, ditempat terpisah pernah mengatakan pihak penyelenggara mentargetkan sekitar 70 juta pengunjung dari berbagai negara di dunia akan menghadiri kegiatan tersebut dan 200 negara serta organisasi internasional akan berpartisipasi.

"Saat ini setidaknya sudah ada lebih 149 negara dan 18 organisasi internasional yang sudah memastikan diri akan ikut dalam ekspo di Shanghai dan diharapkan jumlahnya akan bertambah sesuai target," kata Hua. (Harian Republika)

 

 

 

Minggu ke-3 Desember 2007

Pasar Produk Indonesia di Karachi

Untuk  menjajaki peluang pasar produk Indonesia di Pakistan, Konsulat Jenderal RI di Karachi mengadakan penelitian pada sejumlah pasar di kota tersebut. Penelitian dilakukan pada dua pusat kegiatan bisnis di Karachi, yaitu Empress Market, pasar tradisional terbesar yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari dan Mateen Center, salah satu pusat perbelanjaan garmen di Tariq Road.   

Produk buatan Indonesia yang ditemui di Empress Market adalah mi instan (Indomie/Indofood), Kecap (Heinz ABC), confectionary (Kopiko/Mayora), dan produk makanan olahan buah kelapa (Kara/PT. Pulau Sambu Guntung). Di Empress Market, komoditi ekspor tradisional Indonesia, buah pinang, bersaing dengan Thailand.     Kisaran harga buah pinang antara Rs120  dan Rs180 untuk yang berkualitas baik (Keterangan: Rs1 = ±Rp150). Harga buah pinang Thailand lebih tinggi dari Indonesia. Berdasarkan pengamatan fisik, buah pinang asal Thailand terlihat lebih berisi dan warnanya lebih menarik. Berbeda dengan buah pinang asal Indonesia yang terlihat mengalami penyusutan dalam proses pengeringan.

Dalam peninjauan ke Mateen Center diketahui bahwa produk garmen Indonesia bersaing ketat dengan produk garmen asal China. Produk garmen Indonesia yang dijual di pusat perbelanjaan garmen tersebut umumnya perlengkapan bayi, pakaian anak-anak, dan pakaian wanita. Kisaran harga produk pakaian wanita asal Indonesia Rs900 sampai dengan Rs1800. Salah satu pedagang mengemukakan bahwa pihaknya dalam satu bulan mengimpor sekitar 3 kontainer garmen dari Indonesia. Permintaan garmen biasanya meningkat pada saat menjelang perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Jika dilihat dari musim, pemasaran terbaik untuk produk perlengkapan bayi dan pakaian anak-anak asal Indonesia adalah ketika musim panas. 

Potensi produk Indonesia untuk dipasarkan di Pakistan masih sangat menjanjikan. Melalui keikutsertaan dalam beberapa pameran dagang, KJRI Karachi berupaya memperkenalkan  produk Indonesia pada pembeli setempat. Ketersediaan brosur ataupun contoh produk sangat membantu dalam menarik minat pengusaha Karachi untuk mengimpor produk asal Indonesia.

(Sumber: diolah dari laporan KJRI Karachi)

 
Peluang Ekspor Produk UKM ke China

Meski berbagai produk China telah merambah pasar  internasional, Pemerintah China siap membuka peluang impor produk usaha  kecil dan menengah asing. Kebijakan ini untuk mengimbangi laju ekspor komoditas China ke berbagai negara di dunia. Dengan demikian, berbagai hambatan perdagangan yang dialami oleh China
bisa dieliminasi.

Hal itu pernah dikatakan oleh Deputi Sekjen Asosiasi Interaksi Luar Negeri Guangzhou Zhao Shengcai dalam pertemuan orientasi Pameran Internasional Industri Menengah dan Kecil di Beijing bulan September lalu. Pameran yang diadakan setiap tahun ini terbuka untuk diikuti UKM seluruh dunia.  Zhao mengatakan, Indonesia yang kaya dengan berbagai macam produk UKM seharusnya memanfaatkan peluang ini.      

Dalam pameran tahun 2004 dan 2005, China tidak membuka peluang bagi UKM asing. Baru pada tahun 2006 status pameran mulai ditingkatkan menjadi pameran internasional. Total nilai kesepakatan bisnis tahun 2004 mencapai 3,9 miliar dollar AS. Tahun 2005 naik menjadi 5,2 miliar dollar AS. "Tahun 2006 naik sebesar 10 persen," ujarnya.      

Zhao menampik jika pameran ini semata-mata adalah langkah China untuk memperluas pasar global. Pangsa pasar China sudah begitu besar. Data statistik, kata Zhao, menunjukkan pada tahun 2006 nilai perdagangan China mengalami surplus 260 miliar dollar AS.

Akibat persaingan yang makin kuat, produk China dibatasi, bahkan tidak diizinkan masuk ke sejumlah negara. Untuk menarik minat, peserta diberikan fasilitas secara gratis. Mulai dari fasilitas pengiriman produk pameran, pembebasan bea masuk, penginapan selama pameran berlangsung, hingga penerjemah bahasa Inggris sebanyak 300 orang. (OSA)

Sumber: diolah dari berita KOMPAS      

 

Ekspor Produk UKM ke Afsel Belum Optimal  

Peluang pasar ekspor nasional produk-produk usaha kecil menengah (UKM) ke Afrika Selatan yang begitu besar, ternyata masih belum tergarap secara optimal. Hal itu tampak dari total ekspor Indonesia ke Afsel yang mencapai 423 juta dolar AS, nilai ekspor produk UKM hanya sekitar 9 juta dolar AS atau 2,35%.

"Kami ingin ekspor produk UKM ke Afrika Selatan bisa mencapai 10%. Oleh karena itu, kami di tim KBRI sepakat untuk memfokuskan perdagangan ekspor ke Afrika Selatan agar dilakukan oleh UKM," ujar Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan, Sugeng Rahardjo saat berdialog dengan para pelaku KUKM Jabar di Kantor Dinas KUKM Jabar, Bandung, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan itu, Sugeng mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung pengembangan KUKM di Indonesia, termasuk KUKM di Jabar. "Satu-satunya cara, yaitu melakukan perdagangan terutama hasil-hasil produk KUKM yang terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja," tuturnya.

Dia mengakui, dari beberapa KUKM di Indonesia, KUKM di Jabar dikenal paling menonjol. Terbukti pada saat digelar pameran SAITEX 2007 (South African International Trade Exhibition) di Johannesburg Afrika Selatan baru-baru ini, produk-produk KUKM Jabar banyak diminati para pelaku bisnis dan warga Afsel.

Peluang besar

Dengan adanya peluang pasar itu, ungkap Sugeng, pihaknya mengupayakan agar produk-produk ekspor KUKM Jabar bisa menjadi unggulan di Afrika Selatan, sehingga ekspor produk Jabar ini bisa lebih fokus dan mampu menjawab kebutuhan peluang pasar di Afrika Selatan. "Memerlukan kerja keras. Mengingat ekspor ke negara ini masih menghadapi beberapa tantangan," katanya.

Beberapa tantangan itu, dikatakan Sugeng, antara lain masih tingginya tingkat persaingan produk-produk ekspor furnitur Indonesia dengan beberapa negara lain seperti Cina, India, dan Malaysia. Begitu pula produk ekspor batik yang saat ini semakin mendapat saingan dari Malaysia, Nigeria, dan Pantai Gading.

Khusus produk batik ini, Sugeng mengakui masih belum digarap secara optimal oleh pelaku usaha Indonesia. Padahal tokoh besar Afrika Selatan Nelson Mandela selama ini dikenal turut memopulerkan baju batik Indonesia tersebut. "Kita harus lebih gencar lagi mempromosikan batik. Ini peluang pasar yang besar," ungkapnya.

Kendala lain, yaitu masih ada tantangan internal terutama ongkos angkut pelabuhan yang mahal. Kemudian, kendala berupa keterbatasan kemampuan bahasa Inggris dari para pelaku usaha Indonesia. "Tak jarang, contohnya, minat para pelaku usaha Afrika Selatan terhadap produk kita, yang disampaikan lewat e-mail, tidak direspons karena kemampuan bahasa Inggris kita terbatas," katanya.

Dijelaskan, ada empat potensi pasar yang besar di Afsel, yakni warga negara Afsel kulit putih, kulit hitam, turunan India, dan turunan warga negara Indonesia. Misalnya pasar warga negara kulit putih sebanyak 4,3 juta jiwa, yang tergolong berpenghasilan tinggi. "Mereka membeli produk tanpa peduli tingkat harga, terutama pada produk-produk furnitur dari Indonesia," katanya.

"Produk-produk Indonesia pun sebenarnya dikenal lebih baik dibandingkan dengan produk-produk lain, terutama Cina dan India. Akan tetapi, harganya relatif lebih mahal. Oleh karena itu, ke depan bagaimana harga produk kita bisa lebih kompetitif. Di antaranya, untuk mengisi peluang pasar produk-produk menghadapi Piala Dunia 2010, di mana Afrika Selatan menjadi tuan rumah," ujarnya.

Sumber : Harian Pikiran Rakyat

 

Peluang Ekspor Sidat Menggiurkan

Beberapa Negara seperti Jepang, Hongkong, Amerika Serikat dan Taiwan membutuhkan pasokan ikan sidat dalam jumlah besar. Bahkan di Jepang ada hari khusus untuk mengonsumsi Sidat. Harga ikan Sidat sebagai bahan baku makanan di Jepang seharga per kilogram antara 4.000 - 6.000 yen, setara Rp 350.000 - Rp 450.000 per kg.

Dalam setahun Jepang membutuhkan ikan Sidat sebanyak 100.000 ton. Sementara kemampuan di dalam negeri Jepang sendiri untuk memenuhi kebutuhan Sidat hanya se-kitar 20.000 ton. Itu artinya tiap tahun, Negeri Sakura ini harus mengimpor 80.000 ton ikan Sidat. Dari jumlah tersebut, 60.000 ton iantaranya diimpor dari China.

Pembesaran budidaya ikan Sidat di Karawang, sudah dipersiapkan sejak lama. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Made L. Nurjana, pembesaran ikan ini membutuhkan waktu dua tahun. Terutama untuk menemukan formula tepat bagi pembesaran ikan Sidat. Ikan jenis ini dapat tumbuh dengan baik pada suhu 29 - 31 0 C, dan tingkat salinitas lima per mil", kata Made. Hal itu bisa dilakukan karena teknologi pembesaran ikan Sidat telah dikuasai. Karena itu, dengan teknologi tersebut DKP akan mengembangkan ikan Sidat di beberapa daerah yakni di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan Likupang, Sulawesi Selatan. Beberapa investor dari Jepang telah siap untuk membudidayakan ikan Sidat pada daerah tersebut.

Teknologi budidaya ikan Sidat ini wajar membutuhkan waktu lama. Karena ikan Sidat mengalami beberapa siklus kehidupan yang cukup unik. Sidat mempunyai sifat katadromus yaitu masa menjelang dewasa ikan Sidat hidup di air tawar kemudian bermigrasi untuk bertelur atau berkembang biak di air laut. Sebelum berwarna keperakan di saat dewasa, Sidat melalui fase transparan (ketika memasuki per-airan tawar) dan berubah menjadi kuning.Ikan Sidat, vertebrata dengan genus Anguilla ini, makan dan tumbuh di perairan tawar, namun untuk memijah dan bertelur, mereka kembali ke laut. Bahkan proses pemijahan berlangsung di'laut berkedalaman 400 - 500 meter.Di Indonesia, penyebaran ikan Sidat terdapat di perairan barat Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, pantai ti-mur Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Taman Budidaya

Tambak Pandu Karawang, yang dikelola DKP telah melakukan ekspor perdana ikan Sidat ke Taiwan. Ekspor dari Tambak Pandu Karawang ini nantinya akan didorong tidak hanya Sidat namun juga komoditas perikanan lainnya.Tambak Pandu Karawang didirikan pada 1984 dan dikelola Sekretariat Negara. Namun pada 2002 diserahkan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan. Saat ini Tambak Pandu Karawang memiliki aset lahan seluas 326 hektar (ha) terbagi dalam lahan inti seluas 175 ha yang terdiri 125 ha tambak dan 50 ha sawah.

Sedangkan sisanya lahan plasma 151 ha.Komoditi yang dikembangkan Tambak Pandu Karawang tidak hanya Ikan Sidat, tapi juga Udang Vaname, Udang Windu, Rumput Laut Gracillaria dan Cottonii, Nila dan Patin. Potensi yang akan dikembangkan di kawasan tersebut yakni budidaya air payau, air tawar dan laut serta minapadi.Tambak Pandu Karawang merupakan bagian dari "Aqua Techno Park" atau Taman Budidaya. Taman Budidaya meng-gunakan teknologi pemeliharaan udang yang ramah lingku¬ngan dan bisa diserap masyarakat. Selain itu, juga diterapkan konsep "traceability" yang mengacu pada sertifikasi dan stan-darisasi terhadap produk perikanan hasil budidaya rakyat.Di kawasan ini dikembangkan empat jenis tambak udang yakni vaname secara intensif, vaname semi intesif, vaname tradisional plus serta budidaya organik. Selain itu juga dikembangkan beberapa jenis komoditas perikanan lainnya sebagai pendukung seperti ikan Nila, ikan Sidat, ikan Mas dan ikan Bandeng pengumpan.

Sumber : Majalah Demersal