|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Endah berangkat ke Arab Saudi berkat tawaran salah seorang tetangganya yang sudah lebih dulu menjadi TKI. Keinginan lepas dari bayang-bayang kemiskinan, mengubah nasib agar berpenghidupan lebih baik, Endah pun berangkat ke negara tersebut melalui jalur resmi. Alhamdulillah, dia mendapatkan majikan yang baik. Walaupun, ujarnya, pada saat mulai bekerja kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab nol besar, alias tak bisa berucap dan tidak mengerti pula bila diajak bicara. Salah pengertian saat menjalankan perintah majikan jadi makanan sehari-hari. Syukurlah Endah tabah, dan majikannya sabar. Kegigihannya berbuah manis. Setelah bekerja 2 tahun, dia bisa kembali ke tanah air dengan membawa cukup banyak “real”. Bisa berbicara bahasa Arab ala kadarnya, plus membawa aneka hadiah dari majikan. Sang majikan pun berpesan, kalau mau kembali bekerja, dia akan diterima dengan tangan terbuka. Endah lantas bertanya pada saya: “Kalau Mas, majikannya baik, gak?”. Saya hanya tersenyum simpul. Pandangan saya teralih pada raut muka sedih Rohimah, TKI asal Kalimantan Selatan. Ia hanya menunduk lesu tanpa semangat. Ketika ditanya kenapa terlihat susah, Rohimah segera menuturkan deritanya. Rohimah mengaku untuk menjadi TKI, dia harus mengeluarkan uang cukup besar, yang didapat dengan berutang pada tetangga. Namun sial, baru bekerja 2 minggu, dia dipulangkan oleh majikannya. Ia dianggap tidak becus bekerja. Sekarang, impiannya kandas. Boro-boro membawa uang, dia terlantar begitu saja di Dubai, tanpa bekal apapun, dan harus kembali ke tanah air. “Bagaimana harus membayar utangutang saya, Mas?’’ keluhnya kepada saya. Berbeda dengan cerita bahagia Endah yang jarang kita dapatkan, kisah sedih model Rohimah atau malah cerita yang lebih buruk lagi, banyak kita dengar di berbagai media massa di tanah air. Walaupun diangkat dengan perspektif berbeda-beda, umumnya kesimpulannya sama: Menjadi TKI itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Karena itu, tiap kali disebut kata TKI atau TKW, bayangan kita pasti tertambat pada Pembantu Rumah Tangga (jika wanita), atau sopir/tukang kebun (jika pria) yang sedang mencari peruntungan di negeri seberang. Negara-negara favorit tempat para TKI mencari peruntungannya tersebut umumnya di kawasan Asia dan Timur Tengah. Di Asia, mereka “ngeluruk” Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, Korea, dan Jepang. Di kawasan Timur Tengah, mereka berdatangan ke negeri-negeri petro dollar seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Memang ada TKI di Eropa, Amerika, atau di negara-negara lain, tapi, secara kuantitas jumlah mereka tidak signifikan. Karena itu mereka biasanya dianggap bukan “TKI asli” yang mengindap berbagai macam masalah dan kisah suka-duka. TKI memang fenomena yang harus disikapi dengan bijak. Dengan sebutan sebagai Pahlawan Devisa, Pemerintah pun, telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI. Instruksi itu dikeluarkan untuk membenahi segudang romantika permasalahan TKI. Dari banyaknya pihak yang terlibat (Pemerintah dan PPTKIS), nasib mereka yang terus dikuyo-kuyo dan dimarginalkan keberadaannya, “cerita sukses dan cerita gagal” yang mereka alami, serta ulah oknum-oknum di Bandara “memakan” para TKI yang baru pulang.
Apakah menjadi TKI itu sebuah peluang? Apakah harapan yang
diidamidamkan dapat menjadi kenyataan? Semoga serangkaian tulisan tentang
TKI di Timur Tengah ini bisa menjawab dan memuaskan rasa ingin tahu kita
semua.
|