|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 March, 2008
|
Berbekal tekad yang kuat, sebuah UKM Indonesia berhasil menerobos pasar makanan Uzbekistan. Sajian kampung halaman yang dihadirkan di negara penghasil emas hitam ini secara tidak langsung telah menjadi salah satu upaya pengenalan budaya serta promosi pariwisata Indonesia
MENDUNG menggayut di langit kota Tashkent, ibukota Uzbekistan. Dahan-dahan pohon yang membeku di pinggir jalan bergoyang perlahan dihembus angin musim dingin. Di halaman sebuah hotel di kota itu, gumpalan salju teronggok disana sini. Sayup-sayup terdengar tiupan suling dan dentingan alat musik tradisional dari hotel itu. Alunan musik yang ternyata musik tradisional Indonesia itu berasal dari sebuah restoran di lantai dasar hotel. Aroma berbagai masakan Indonesia pun merebak dari restoran itu. Kok bisa? Ya itu memang restoran yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia. Restoran masakan Indonesia yang bernama Nusantara ini menempati sebagian lantai dasar hotel Markaziy, di jantung kota Tashkent. Sesuai namanya, begitu menginjakkan kaki ke dalam restoran itu, indra kita langsung dibawa ke dalam suasana Indonesia. Disamping bau masakan yang membuat perut semakin keroncongan, pernak-pernik khas Indonesia yang ditata secara apik memenuhi penjuru ruangan. Kalau saja tak melihat segelintir tamu berwajah bule sedang asyik makan di situ, sejenak kita bisa lupa kalau sedang berada di negara Asia Tengah nan cantik, Uzbekistan. Rindu kampung halaman yang “diderita” masyarakat Indonesia di Tashkent akan terbobati ketika mencicipi hidangan khas tanah air di rumah makan ini. Restoran ini pun seringkali disambangi staf KBRI Tashkent untuk melepas kangen pada masakan Indonesia. ”Masakannya enak, tempatnya cukup representative sekelas hotel berbintang lima” ujar Sunarti Ichwanto, mantan staf KBRI Tashkent yang kini bertugas di Deplu Jakarta. Dengan konsep “fine dining”, Restoran Nusantara hadir di tengah masyarakat Uzbekistan, menawarkan nuansa dan desain dekorasi Indonesia yang eksklusif dan terkesan mewah. Restoran ini dimiliki oleh Ujang Marhum, pengusaha Indonesia berusia 52 tahun. Ia memulai usaha restoran ini dengan mengambil alih pengelolaan sebuah restoran Italia yang tidak lagi beroperasi, menyusul perubahan manajemen hotel dari Sheraton ke Markaziy. Manajer Restoran Nusantara, Chandra Mukthi Trimunandar, menuturkan bahwa citarasa yang dimiliki Restoran Nusantara adalah yang terbaik di Uzbekistan. Konsepnya adalah menyajikan masakan tradisional otentik asal Indonesia dengan jenis pelayanan yang berupa pemesanan dari daftar menu (à la carte) dan sistem booking dengan menu-menu pilihan, berupa set menu maupun buffet. Juru masak yang berada di balik makanan lezat itu adalah Teguh Prayogo, sang maestro yang telah lebih dari 20 tahun meramu masakan di hotel-hotel berbintang di berbagai kota Indonesia. Selain itu, chèf Teguh juga telah menghabiskan sedikitnya 4 tahun berkecimpung dalam usaha penyajian makanan Indonesia di Hotel Le Grande Plaza, yang juga berlokasi di Tashkent, Uzbekistan. “Pada saat pertama kali Restoran Nusantara dibuka, masyarakat Tashkent memuji dan mengakui hasil masakan serta penampilan makanan yang dibuat oleh Teguh,” ujar Chandra. “Karena itu, Teguh juga diminta pihak hotel untuk membantu operasional Hotel Markaziy, khususnya memberikan pelatihan untuk karyawan perihal meramu dan menyajikan masakan” tambahnya. Melalui kepiawaiannya meracik hidangan, Teguh menghadirkan makanan khas Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan citarasa yang khas. Menu yang di sajikan pun lengkap. Mulai dari makanan pembuka, soup, hidangan utama, hingga makanan penutup.
Pilihan Menu Makanan pembuka diantaranya gado-gado,tahu telur dan risoles, yang dapat diperoleh seharga US$ 5 – US$ 6. Untuk hidangan soup, diantaranya ada soto ayam, sop buntut, rawon dan soto padang dengan harga berkisar antara US$ 7 – US$ 12. Kategori soup dapat juga dijadikan makanan utama karena disajikan dengan sepiring nasi putih yang pulen. Sedangkan makanan utama cukup beragam mulai mie goreng, nasi goreng, sate ayam, sate kambing, gulai ayam, ikan colo-colo, ayam rica-rica, rendang padang dan lain-lain dengan harga US$ 7 – US$ 12. Dan untuk pencuci mulut, ada pisang goreng madu, pisang goreng keju, jajanan pasar, puding agar-agar dan lain-lain yang bisa diperoleh dengan merogoh kocek sebesar US$ 4- US$ 6. Bumbu sebagian besar didatangkan langsung dari Indonesia. Tapi urusan resep adalah rahasia chèf Teguh. Makanan di Restoran Nusantara dihidangkan dari jam 11 pagi hingga jam 11 malam. Penikmatnya, tak lain adalah para tamu Hotel Markaziy, pebisnis dan turis manca negara, serta orang asing yang berada di Tashkent, seperti staf Kedutaan Besar asing, LSM internasional, dan para eksekutif lokal maupun perusahaan asing. Diakui oleh Chandra, “Untuk urusan omzet, selalu ada peningkatan”. Soft Opening Restoran Nusantara dilakukan pada Desember 2007. Saat itu Ketua DPR RI Agung Laksono beserta rombongan sempat mencicipi hidangan di restoran ini. Restoran ini juga telah mendukung upaya promosi budaya Indonesia. Tempat ini dijadikan sebagai lokasi promosi wisata Indonesia, Visit Indonesia Year 2008 “Celebrating 100 years of National Awakening”, serta pengenalan masakan Indonesia yang merupakan hasil kerjasama Kedutaan Besar RI Tashkent dengan PT APEX Indonesia Prima. Dengan idealisme serta rasa nasionalisme yang tinggi, dan bukan sekedar untuk mencari keuntungan, Ujang Marhum bertekad memperkenalkan masakan dan kebudayaan Indonesia bagi masyarakat Uzbekistan, sehingga Bendera Merah Putih pun berkibar megah di lingkungan hotel Markaziy. Jadi jangan heran jika di tengah-tengah romantisme Tashkent, mendadak Anda mendengar, “Sate Madura”, “Rawon Surabaya, “Rendang Padang” maupun “Soto Betawi”. Anda tidak sedang bermimpi. Anda memang tengah berada di negeri Asia Tengah nan elok, Uzbekistan. Dan akhirnya, .... mak nyuss.
|