HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI II 2006

Gaya hidup dan peluang dagang

Oleh: Widyarso

 

PERNAHKAH Anda membayang-kan para remaja di negeri komunis berjalan-jalan sambil mengunyah kentang goreng ala KFC atau McDonald’s? Anda jangan membayangkan hal itu terjadi di Korea Utara ataupun Kuba. Anda layangkan perhatian sejenak ke negara komunis lain di sebelah utara kita: China! Negara terbesar di Asia itu, sampai saat ini, memang masih menganut paham komunisme. Tapi tak berarti perekonomian China tertutup. Hadirnya gerai-gerai makanan siap saji di kota-kota besar membuktikan hal itu. Negeri berpenduduk satu milyar lebih itu merupakan pasar yang sangat potensial. Tidak mengherankan jika saat ini banyak negara berlomba-lomba memasuki “negeri tirai bambu’’ itu. Sejak menganut ekonomi terbuka, pertumbuhan ekonomi China melesat mencapai angka rata-rata 9% per tahun.

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi yang fantastis itu belum merata. Perkembangan pesat tersebut hanya dirasakan oleh sebagian besar penduduk di bagian timur China. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini otomatis membuat pendapatan penduduk meningkat drastis. Status sosial pun meningkat. Ini berarti ada perhatian lebih untuk urusan pakaian, hiburan, dan pergaulan. Selera berpakaian, misalnya, mengikuti tren mode saat itu. Khususnya pada mereka yang berusia 25-34 tahun, menetap di perkotaan, bekerja, dan berpendidikan tinggi. Kebutuhan kaum dewasa tentu berbeda dengan kaum remaja. Para remaja di sana menggunakan uang sakunya terutama untuk membeli makanan dan barang-barang elektronik. Biasanya barang-barang elektronik yang mereka beli adalah mainan. Selain makanan dan mainan, penampilan pun mulai menjadi perhatian mereka. Hal yang juga jamak terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Sekadar informasi, jumlah remaja di ‘’negeri panda’’ itu pada 2005 tercatat 273 juta orang. Ini berarti peluang pasar yang besar sekali untuk produk-produk Indonesia. Urusan penampilan biasanya lebih diperhatikan oleh remaja perempuan. Di sekolah, para remaja tersebut diwajibkan memakai seragam. Maka, jam tangan, sepatu, tas, dan aksesori lain menjadi barang yang wajib diperhatikan. Barang-barang itu seolah jadi semacam identitas diri yang bisa “menyulap” diri jadi populer. Selain barang-barang ter-sebut, mereka pun tak kalah dalam memakai kosmetik dan komputer. Satu lagi yang menarik. Walaupun modernisasi telah melanda negeri yang pernah disebut sebagai “negeri sepeda” itu, sepeda masih tetap populer di antara kaum remaja China. Di sana sebagian besar remaja masih memakai sepeda untuk ke sekolah. Sepeda mereka, tentu saja, bukan model kuno yang kita lihat di film-film China puluhan tahun lampau, melainkan sepeda modern yang lebih modis. Selain pengeluaran untuk belanja barang, masyarakat China masa kini sudah mulai membelanjakan uang untuk berwisata.

Aktivitas kerja yang tinggi dan pendapatan yang meningkat membuat mereka mulai melirik ke negara lain untuk melancong. Indonesia, yang berpotensi besar dalam urusan pelancongan dapat menjual pesona wisatanya pada China. Indonesia-China yang dekat, dan murahnya biaya hidup, dapat menjadi magnet tersendiri. Apalagi hubungan Indonesia-China sudah tinggi intensitasnya sejak ratusan tahun lampau. Di mana-mana di Indonesia, kita bisa melihat jejak-jejak budaya dari hasil hubungan tersebut. Sayangnya, jumlah turis China yang datang ke Indonesia baru mencapai sekitar 100.000 orang per tahun. Pada-hal, turis China yang mengunjungi ASEAN secara kumulatif mencapai 25 juta orang per tahun.

Pendapatan yang semakin meningkat pastilah mempengaruhi pola makan dan kesehatan. Di negeri yang terkenal dengan kung fu-nya ini, pasar untuk produk-produk makanan sehat, sayur-sayuran dan buah-buahan segar masih terbuka lebar. Bagi Indonesia ini sangat menguntungkan karena di negeri ini bahan bakunya amat banyak. Belum lagi jika kita lihat macam-macam sayuran, buah-buahan dan produk pertanian negeri kita. Jangan lupa kalau negeri ini akan menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2008. Selain itu, ekspor Indonesia ke China masih didominasi bahan mentah. Padahal, impor kita dari China makin bervariasi. Lihat saja barang-barang elektronik yang dijual di pasaran. Barang-barang elektronik bermerek China makin terserap di masyarakat karena harganya murah. Padahal, hingga 1980-an, produk China yang kita kenal masih berupa gembok, paku, dan barang remeh-temeh lain.

Hingga kini, minyak dan gas masih jadi andalan ekspor Indonesia. Sebesar 18,40% ekspor kita ke China berupa minyak dan gas. Diikuti mesin atau peralatan listrik sebesar 13%, serta lemak dan minyak nabati (minyak kelapa sawit) sebanyak 10,4%. Padahal, seperti kita tahu, ekspor barang jadi punya nilai tambah tinggi. Ekspor sepatu Indonesia, misalnya, hanya 0,1% dari total nilai ekspor Indonesia. Hubungan sosial budaya yang erat dengan China seharusnya bisa dijadikan modal untuk memperluas pasar Indonesia ke China. Suatu saat, masyarakat China memakai barang-barang bertuliskan buatan Indonesia bukan sekadar impian. Bahkan, siapa tahu, suatu saat nanti, beragam makanan khas Indonesia yang terkenal kelezatannya itu menjadi pajangan dan dinikmati orang China.