|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Hanya saja, pertumbuhan ekonomi yang fantastis itu belum merata. Perkembangan pesat tersebut hanya dirasakan oleh sebagian besar penduduk di bagian timur China. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini otomatis membuat pendapatan penduduk meningkat drastis. Status sosial pun meningkat. Ini berarti ada perhatian lebih untuk urusan pakaian, hiburan, dan pergaulan. Selera berpakaian, misalnya, mengikuti tren mode saat itu. Khususnya pada mereka yang berusia 25-34 tahun, menetap di perkotaan, bekerja, dan berpendidikan tinggi. Kebutuhan kaum dewasa tentu berbeda dengan kaum remaja. Para remaja di sana menggunakan uang sakunya terutama untuk membeli makanan dan barang-barang elektronik. Biasanya barang-barang elektronik yang mereka beli adalah mainan. Selain makanan dan mainan, penampilan pun mulai menjadi perhatian mereka. Hal yang juga jamak terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Sekadar informasi, jumlah remaja di ‘’negeri panda’’ itu pada 2005 tercatat 273 juta orang. Ini berarti peluang pasar yang besar sekali untuk produk-produk Indonesia. Urusan penampilan biasanya lebih diperhatikan oleh remaja perempuan. Di sekolah, para remaja tersebut diwajibkan memakai seragam. Maka, jam tangan, sepatu, tas, dan aksesori lain menjadi barang yang wajib diperhatikan. Barang-barang itu seolah jadi semacam identitas diri yang bisa “menyulap” diri jadi populer. Selain barang-barang ter-sebut, mereka pun tak kalah dalam memakai kosmetik dan komputer. Satu lagi yang menarik. Walaupun modernisasi telah melanda negeri yang pernah disebut sebagai “negeri sepeda” itu, sepeda masih tetap populer di antara kaum remaja China. Di sana sebagian besar remaja masih memakai sepeda untuk ke sekolah. Sepeda mereka, tentu saja, bukan model kuno yang kita lihat di film-film China puluhan tahun lampau, melainkan sepeda modern yang lebih modis. Selain pengeluaran untuk belanja barang, masyarakat China masa kini sudah mulai membelanjakan uang untuk berwisata.
Pendapatan yang semakin meningkat pastilah mempengaruhi pola makan dan kesehatan. Di negeri yang terkenal dengan kung fu-nya ini, pasar untuk produk-produk makanan sehat, sayur-sayuran dan buah-buahan segar masih terbuka lebar. Bagi Indonesia ini sangat menguntungkan karena di negeri ini bahan bakunya amat banyak. Belum lagi jika kita lihat macam-macam sayuran, buah-buahan dan produk pertanian negeri kita. Jangan lupa kalau negeri ini akan menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2008. Selain itu, ekspor Indonesia ke China masih didominasi bahan mentah. Padahal, impor kita dari China makin bervariasi. Lihat saja barang-barang elektronik yang dijual di pasaran. Barang-barang elektronik bermerek China makin terserap di masyarakat karena harganya murah. Padahal, hingga 1980-an, produk China yang kita kenal masih berupa gembok, paku, dan barang remeh-temeh lain.
Hingga
kini, minyak dan gas masih jadi andalan ekspor Indonesia. Sebesar 18,40%
ekspor kita ke China berupa minyak dan gas. Diikuti mesin atau peralatan
listrik sebesar 13%, serta lemak dan minyak nabati (minyak kelapa sawit)
sebanyak 10,4%. Padahal, seperti kita tahu, ekspor barang jadi punya nilai
tambah tinggi. Ekspor sepatu Indonesia, misalnya, hanya 0,1% dari total
nilai ekspor Indonesia. Hubungan sosial budaya yang erat dengan China
seharusnya bisa dijadikan modal untuk memperluas pasar Indonesia ke China.
Suatu saat, masyarakat China memakai barang-barang bertuliskan buatan
Indonesia bukan sekadar impian. Bahkan, siapa tahu, suatu saat nanti,
beragam makanan khas Indonesia yang terkenal kelezatannya itu menjadi
pajangan dan dinikmati orang China.
|