Jika Anda ingin berbisnis dengan Jepang, keberhasilannya sangat bergantung
pada pemahaman budaya setempat. Karena itu, kenali tiga hal ini: wa, kao,
dan omoiyari.
JEPANG
merupakan contoh menarik perpaduan harmonis antara modern dan tradisional.
‘’Negeri matahari terbit’’ ini tidak hanya memancarkan sinar kemajuan
industri dan teknologi, melainkan juga memiliki keunikan budaya yang tak
tenggelam di tengah arus modernisasi. Jangan kaget jika di negeri dengan
ekonomi terbesar kedua dunia ini Anda menjumpai segala sesuatunya berbeda
secara fundamental. Budaya Jepang —dalam banyak hal bersumber pada spirit
Konfusianisme dan Shintoisme— sangat mewarnai kehidupan sosial dan etos
bisnis. Jepang memiliki budaya konteks tinggi yang sangat berbeda, khususnya
dengan budaya Barat, yang lebih egaliter dan terbuka.
Pilar
utama nilai-nilai budaya Jepang dikenal dengan wa (harmoni), kao (reputasi),
dan omoiyari (loyalitas). Konsepsi wa mengandung makna mengedepankan
semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.
Perlu diingat, pengaruh nilai wa dalam pola budaya Jepang terutama udaya
bisnis— yaitu ekspresi tidak langsung dalam menyatakan penolakan.Orang
Jepang tidak bisa berkata tidak. Dalam menyampaikan pendapat, mereka lebih
mengutamakan konteks, tidak menyatakannya secara terbuka. Secara harfiah,
kao berarti wajah. Wajah merupakan cermin harga diri, reputasi, dan status
sosial. Masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik
terbuka secara langsung. Membuat orang lain ‘’kehilangan muka’’ merupakan
tindakan tabu dan dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan bisnis.
Sedangkan omoiyari berarti sikap empati dan loyalitas. Spirit omoiyari
menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat berdasarkan kepercayaan
dan kepentingan bersama dalam jangka panjang.
BUDAYA DAN IKLIM
BISNIS
Memasuki
abad ke-20, setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II, Jepang mulai
mengadopsi teknologi Barat dan menggenjot industri dalam negerinya. Sejak
itu, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat dan menjadi salah satu
negara pengekspor paling sukses. Kini Jepang merupakan negara industri
terkemuka, dengan iklim bisnis dan pasar terbuka yang ramah bagi investasi
dan perdagangan asing. Meskipun Jepang mengalami proses modernisasi yang
cepat, pola budaya dan tradisinya masih kental mewarnai praktek dan hubungan
bisnis. Berikut gambaran praktek bisnis di Jepang pada umumnya.
Struktur dan hierarki dalam bisnis dan perusahaan Jepang sangat kuat.
Hierarki yang kuat juga tercermin dalam negosiasi bisnis. Proses
negosiasi biasanya dimulai dari executive level, kemudian dilanjutkan
pada middle level. Meskipun demikian, keputusan dibuat secara kolektif.
Proses negosiasi bisnis dengan Jepang dikenal alot dan lamban. Namun
adanya persaingan bisnis yang ketat dewasa ini mendorong pengambilan
keputusan dibuat lebih cepat dan efisien.
Dalam budaya bisnis Jepang, senioritas sangat dihormati. Umur dan status
biasanya terkait erat. Dalam pertemuan bisnis, posisi tempat duduk
didasarkan pada tingkat senioritasnya.
Di
Jepang, kontrak bisnis tidak otomatis diartikan sebagai kesepakatan
akhir. Lebih penting dari itu adalah memelihara relasi dengan baik untuk
kepentingan jangka panjang.
ETIKA
BISNIS JEPANG: DO’S AND DON’TS
Kebiasaan
umum di Jepang dalam perkenalan, menyambut, atau memberi salam adalah
dengan ‘’membungkuk’’. Menyambut dan memberi salam hendaknya dilakukan
dengan sopan dan penghormatan yang wajar. Jika relasi Anda membungkuk,
pastikan bahwa Anda membalasnya, membungkuk serendah yang dilakukan oleh
relasi Anda. Dalam hal tertentu, cukup dengan berjabat tangan. Dalam
perkenalan, jangan menyapa relasi Jepang Anda dengan nama depannya.
Orang Jepang lebih suka menggunakan nama belakangnya. Gunakan sebutan Mr,
Mrs, atau menambah san pada nama keluarga. Misalnya, Mr. Hiroshima atau
Hiroshima-san.
Pertukaran
kartu nama (business card). Saling tukar kartu nama atau ‘’meishi’’
merupakan kebiasaan yang penting di Jepang. Pembicaraan bisnis selalu
diawali dengan pertukaran kartu nama. Pemeo mengatakan, bisnis belum
dapat dimulai sampai ada pertukaran kartu nama. Gunakan dua tangan pada
waktu menyerahkan kartu, demikian pula sebaliknya ketika menerima.
Pertukaran kartu nama dilakukan setelah ritual salam membungkuk usai
dilaksanakan. Pada waktu menerima kartu nama dari calon relasi bisnis,
tunjukkkan bahwa Anda telah mengamatinya dengan cermat dan saksama
sebelum menaruhnya di atas meja atau memasukkannya dalam card case.
Jangan memasukkan kartu ke dalam dompet, kantong celana, atau menulis
pada kartu yang Anda terima. Tindakan ini dipandang sebagai tindakan
tidak respek dan sopan. Kartu hendaknya dicetak dalam dua bahasa, di
satu sisi bahasa nasional Anda dan pada sisi sebaliknya dengan bahasa
Jepang. Hal ini untuk menunjukkan kemauan kuat Anda untuk berkomunikasi
dengan relasi Jepang Anda.
Pertukaran
cenderamata atau oleh-oleh. Membawa dan memberikan oleh-oleh merupakan
bagian warisan budaya bisnis Jepang tempo dulu yang sangat penting. Pada
era bisnis Jepang kontemporer, meskipun membawa oleholeh tidak lagi
menjadi keharusan, hal itu tetap dihargai sebagai bagian dalam etika
bisnis Jepang. Namun, harus diingat, jangan membawa cenderamata terlalu
besar, sebab dapat dianggap sebagai “sogokan’’. Cenderamata itu sendiri
sebenarnya tidaklah terlalu penting. Yang lebih penting dari itu adalah
prosesi dan nuansa yang terjadi di balik tukar-menukar cenderamata itu.
Cenderamata harus selalu dibungkus secara cermat. Jangan menggunakan
kertas bungkus dengan warna putih polos karena menyimbolkan kematian.
Penyerahan cenderamata hendaknya dilakukan pada akhir pertemuan atau
kunjungan. Penyerahan dilakukan dengan dua tangan, demikian sebaliknya
pada waktu menerima.
Ketepatan waktu. Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat dengan
budaya tepat waktu yang tinggi. Terlambat dalam suatu pertemuan bisnis
dianggap tidak menghargai. Datang lima menit lebih awal merupakan
praktek yang umum.
Penampilan
dan busana. Orang Jepang dikenal sangat konservatif soal pakaian. Mereka
sangat menghargai seseorang yang berpakaian pantas sesuai dengan status
dan posisinya atau bahasa kerennya, dress to impress. Dalam acara bisnis,
jangan mengenakan pakaian casual. Laki-laki sebaiknya memakai business
suits warna gelap konservatif. Wanita dianjurkan tidak memakai celana
panjang karena dinilai kurang sopan dan memberi kesan ofensif.
Jamuan bisnis. Orang Jepang hampir tidak pernah mengundang jamuan di
rumah. Jamuan bisnis umumnya diadakan di restoran. Biasanya tuan rumah
akan memilih menu dan membayarnya. Perlu dicatat, memberikan tip bukan
hal yang lumrah di Jepang.
Privasi dan body language. Masyarakat Jepang sangat menghargai privasi
dan merasa nyaman dengan sikap tenang. Dalam berbicara atau negosiasi,
hindari sikap dan gerakan-gerakan tangan yang berlebihan. Orang Jepang
tidak bicara dengan tangan. Menunjuk dianggap tindakan yang tidak sopan.
Jangan pula menggunakan isyarat ‘’OK’’ dengan tangan, karena di Jepang
berarti uang. Hindari simbol-simbol angka 4 (empat). Masyarakat Jepang
mempercayai angka 4 sebagai angka dan nasib buruk (bad luck) karena
bunyi bacaan shi punya kesamaan arti dengan kematian.
Di
“negeri sakura’’, ungkapan gomenasai (maaf) dan arigato (terima kasih)
banyak kita dengar di berbagai tempat dan kesempatan. Menyatakan terima
kasih secara intens dan berulang kali dianggap perbuatan yang santun.
Nah, setelah mengetahui etika bisnis Jepang, sebaiknya Anda mulai
mempraktekannya supaya sukses mendulang emas di ‘’negeri samurai’’ itu.
Hai, domo, arigato...!