HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XI APRIL 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 29 April, 2009

 

 

 

 

Kebiasaan masyarakat Pakistan menggunakan rempah-rempah dalam setiap masakannya menyebabkan negara harus mengimpor produk ini dengan nilai milyaran dolar Amerika Serikat. Produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan emas hijau ini sangat sedikit.

Salah satu ciri khas kultur Anak Benua India, termasuk Pakistan adalah masakannya yang kaya dengan rempah-rempah. Hampir tidak ada satu masakanpun dari wilayah ini yang tidak mengandung unsur rempah-rempah ini, termasuk cabe, ketumbar, kunyit, lada, kayu manis dan bahkan cengkih dan rempah-rempah lainnya. Selain berbumbu kuat, masakan Pakistan juga hampir semuanya menggunakan minyak goreng. Di wilayah ini, masak nasi pun selalu menggunakan minyak goreng dan dicampur dengan bumbu-bumbu. Masyarakatnya nyaris tidak mengenal nasi yang dimasak tanpa minyak, mereka menyebutnya nasi berminyak itu nasi palau atau nasi baryani.

Bisa dibayangkan, kalau penduduk Pakistan berjumlah sekitar 180 juta dengan cara masak dan menu masakan yang hampir semuanya menggunakan rempah-rempah, berapa banyak kebutuhan rempah-rempah negeri ini per tahunnya. Yang menarik, meskipun kebutuhan rempah-rempah Pakistan begitu besar, namun negeri ini sangat sedikit memproduksi rempah-rempah. Produksi sektor pertanian lebih didominasi produk kapas, gandum, beras, tebu dan kacang-kacangan. Sehingga hampir semua kebutuhan rempah-rempah negeri ini dipenuhi melalui impor baik yang berbentuk segar maupun kering. Maka tidak mengherankan kalau nilai impor produk makanan yang termasuk di dalamnya rempah-rempah dan minyak nabati mencapai nilai US$ 3,5 milyar atau 10,9% dari total impor Pakistan sebesar US$ 32,2 milyar pada tahun 2007-08 (Juli-April).

Impor kebutuhan bahan makanan Pakistan dalam tahun 2007-08 mencapai nilai US$ 297,5 juta, cofee, tea, mate & spices US$ 287,3 juta dan minyak nabati mencapai US$ 1,8 milyar. Sumber utama impor produk rempah-rempah Pakistan adalah dari India, Cina, Srilanka, Malaysia, Indonesia, Thailand dan Brazilia. Importir rempah-rempah Pakistan umumnya mengimpor langsung dari negeri asal atau melalui pihak ketiga. Banyak juga produk rempah-rempah yang masuk ke Pakistan melalui jalur illegal, yaitu penyelundupan melalui India atau Afghanistan.

Para pengecer produk rempah-rempah di Pakistan umumnya menjualnya dalam bentuk kering (dry spices) dan dijual kiloan dengan timbangan manual. Namun sejalan dengan perkembangan perdagangan moderen, saat ini mulai banyak dijual rempah-rempah dengan pembungkus dan pengepakan moderen dengan trade mark perusahaan Pakistan. Bahkan beberapa bumbu-bumbu instant untuk berbagai jenis masakan Pakistan juga mulai menjadi fokus industri Pakistan.

 

Peluang rempah-rempah Indonesia

Produk rempah-rempah Indonesia termasuk salah satu yang diminati di kalangan masyarakat Pakistan.  Itu terlihat dari banyaknya permintaan dagang yang masuk ke KBRI Islamabad terkait dengan produk rempah-rempah ini, khususnya jahe dan lada. Nilai ekspor Indonesia untuk produk yang masuk kategori fruits & vegetables pada tahun 2008 mencapai US$ 58,8 juta. Peningkatan ekspor produk ini pada tahun tersebut dangat pesat mencapai 127%. Sedangkan produk spices (rempah-rempah) mencapai US$ 3,1 juta.

Melihat gambaran pasar rempah-rempah di Pakistan di atas, tentu itu merupakan peluang yang sangat besar bagi para eksportir rempah-rempah Indonesia. Produk rempah-rempah kering yang siap jual menjadi salah satu idola importir rempah-rempah Pakistan. Tentu saja peluang ini memerlukan peran yang lebih aktif dari semua pihak sehingga para pengusaha kita berminat menjalin bisnis lebih besar dengan Pakistan. Sejauh ini kendala keamanan dan pemberitaan media yang dibesar-besarkan tentang situasi keamanan dalam negeri Pakistan telah mempengaruhi minat para pengusaha asing untuk berbisnis di Pakistan. Padahal peluang dan potensi itu tetap besar dan memberikan peluang bisnis yang menjanjikan.

 

Peluang lain

Saat ini Indonesia merupakan salah satu mitra dagang utama Pakistan. Total nilai perdagangan Indonesia – Pakistan pada tahun 2008 mencapai US$ 1,23 milyar, dengan ekspor Indonsia sebesar US$ 1,17 milyar. Indonesia menduduki urutan ke-9 negara eksportir Pakistan.

Produk utama impor Pakistan dari Indonesia selama ini adalah: minyak nabati, batubara, kertas, tekstil sintetis, bahan kimia, permesinan, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, besi dan baja serta benang sintetis.

Selain produk-produk tersebut, produk konsumen seperti makanan, pakaian dan kebutuhan rumah tangga dari Indonesia juga banyak diminati. Berdasarkan survei yang dilakukan KBRI Islamabad pada beberapa kota di Pakistan pada tahun 2008, produk konsumen Indonesia mulai banyak masuk ke pasar Pakistan, sayangnya produk-produk tersebut kebanyakan diimpor melalui pihak ketiga, yaitu Singapura dan Dubai.

Letak geografis Pakistan yang manjadi salah satu pintu masuk perdagangan ke negara-negara Asia Tengah seperti Afghanistan dan negara-negara bekas persemakmuran Rusia, juga merupakan aspek potensi lain yang layak dijadikan pertimbangan bagi para pengusaha Indonesia.

Pemerintah Pakistan juga memberikan kemudahan visa on arrival kepada pengusaha Indonesia yang ingin melakukan perjalanan bisnis ke Pakistan. Peluang ini masih sangat sedikit dimanfaatkan oleh pengusaha kita untuk mempromosikan produk mereka. Justru pengusaha-pengusaha dari Thailand, Malaysia dan Singapura yang terlihat sangat aktif dalam melakukan promosi bisnis di negara muslim ini. Muhammad Niam, staf fungsi ekonomi KBRI Islamabad