|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 26 April, 2009
|
Negeri domba butuh produk Indonesia oleh : Masriati Lita Pratama
Negeri elok yang sebagian besar penghuninya adalah domba ini ternyata menyimpan peluang emas yang dapat diraih oleh dunia usaha Indonesia. Walau harus bersaing dengan beberapa negara pemasok lainnya, produk Indonesia cukup diminati oleh konsumen Selandia Baru.
“Kegiatan semacam ini sering kami lakukan, dan merupakan jurus ampuh dalam rangka mengenalkan berbagai produk Indonesia untuk meraih peluang pasar Selandia Baru”, ujar Amris Hassan, Duta Besar RI untuk Selandia Baru. “Kali ini kami bekerja sama dengan BKPM dalam memfasilitasi pertemuan perajin-perajin furnitur, batik, kopi, garmen, asesori dan peternakan Indonesia dari berbagai daerah dengan pengusaha Selandia Baru”, jelas Amris. Partisipan yang hadir dalam acara temu bisnis tersebut terlihat serius mengikuti seluruh kegiatan. Sebelumnya, pada Oktober 2008 Pak Duta Besar memboyong beberapa pengusaha Selandia Baru mengunjungi Indonesia Trade Expo 2008 di Jakarta. Waktu itu Dubes RI Wellington memberikan paparan mengenai peluang pasar Selandia Baru dalam sebuah seminar sehari di arena Expo. Bagi Indonesia, pasar Selandia Baru bukan sekedar peluang, melainkan peluang besar. Di tengah situasi ekonomi dunia yang sedang lesu, para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kita harus cerdik dalam membidik peluang pasar, baik domestik maupun internasional. Pasar Selandia Baru patut dipertimbangkan. Dengan jumlah penduduk sebanyak 4,2 juta jiwa, penduduk Selandia Baru dikerumuni oleh lautan domba karena jumlah binatang penghasil wol ini jauh lebih banyak dari pada manusia yaitu sekitar 38 juta ekor! Namun daya beli masyarakat yang hanya sebanyak sebuah kecamatan di Jakarta tidak dapat dianggap enteng. Pendapatan perkapita penduduk Selandia Baru sekitar US$ 30,000 pada tahun 2008 (sekitar Rp. 36 juta per orang pertahun). “Dalam memilih barang yang akan dibeli, pada umumnya penduduk Selandia Baru tidak mementingkan merek barang”, jelas Amris. “Tidak perlu merk terkenal, asalkan berkualitas, kuat, tahan lama dan harganya terjangkau, serta tidak terlalu mempermasalahkan dari negara mana asalnya”, tambah Amris optimis. Meskipun terdapat peningkatan nilai perdagangan yang cukup signifikan, namun dari waktu ke waktu profil perdagangan Indonesia dengan Selandia Baru belum banyak mengalami perubahan. Sebagai gambaran, total nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru pada akhir 2007 berkisar US$1,16 milyar, dengan ekspor Indonesia senilai US$562 juta, dan impor US$598 juta. Kesempatan bagi para pemodal UKM kita di berbagai bidang usaha masih terbuka luas. Menurut Amris, jika melihat daftar belanja masyarakat negeri kiwi ini dari New Zealand Import of Main Commodities jelas bahwa berbagai produk non-migas yang dapat disodorkan Indonesia adalah pakaian/garmen, alas kaki, mebel, dan asesoris. Onderdil, asesoris kendaraan bermotor, plastik dan barang-barang dari plastik, karet dan barang-barang dari karet, minyak nabati (termasuk minyak sawit), dan yang berasal dari hewan, buah-buahan (pisang, kelapa, alpukat dan kacang-kacangan), makanan, minuman (teh, kopi bubuk), tembakau, kakao, mainan, garam, gula, sabun, ikan, kaleng dan barang-barang dari kaleng, merupakan sederet produk yang diperlukan Selandia Baru, dan berpeluang dipenuhi Indonesia. “Namun, ada hal-hal yang perlu diperhatikan bila ingin sukses berbisnis di Selandia Baru”, Amris mengingatkan. “Ada kalangan di sini yang mementingkan aspek sustainability, yakni produk mebel harus berasal dari hutan produksi yang ditanami kembali, dan juga bukan kayu yang berasal dari hasil pembalakan liar. Juga pakaian atau alas kaki tidak berasal dari negara yang masih menghalalkan jasa buruh anak”, imbuh Amris. “Tapi hal ini merupakan tantangan yang dengan mudah dapat diubah menjadi peluang melalui branding dan packaging yang tepat”, tandas Amris. “Saat ini yang menjadi kendala para pelaku bisnis adalah belum tersedianya pengapalan dari pelabuhan-pelabuhan di Indonesia langsung menuju Selandia Baru. Pengiriman barang ekspor masih harus melalui Singapura yang mengakibatkan waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biaya lebih tinggi”, ujar Pak Dubes. Namun, apakah para pengusaha masih harus menunggu hingga tersedia pengapalan langsung dari pelabuhan-pelabuhan Indonesia ke Selandia Baru? Peluang Selandia Baru kiranya terlalu berharga untuk dilewatkan.
|