|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Saat itu , Mandela yang ketika itu menjabat Presiden Afrika Selatan sudah “menyalahi” kelaziman protokoler dalam hal berbusana. Ia muncul di Istana Negara dengan kemeja batik lengan panjang bermotif burung merak, yang dikancingkan sampai ke leher. Adapun tuan rumah mantan Presdien Soeharto mengenakan pakaian sipil lengkap: jas biru tua, berdasi dan berpeci hitam. Penampilan Mandela sontak mengembuskan suasana hangat. Tak hanya bertemu dengan pejabat Indonesia Mandela berbatik ria. Ia sering mengenakannya saat menghadfiri forum –forum Internasional. Nelson, kini 90 tahun mengaku dekat dengan Indonesia. Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1993 itu mengatakan tak melupakan bantuan Indonesia atas perjuangannya. Indonesia dulu memang mendukung upaya-upaya menghapus sistem apartheid di Afrika Selatan. Di balik wajahnya yang serius dan pidatonya yang berat-berat, ternyata Nelson Mandela dalam satu dua kesempatan tak segan melemparkan joke. “Semua pengalaman ini terjadi di Eropa,” kata Mandela dengan mimik wajah serius. Dalam sebuah acara, katanya, beberapa orang wanita datang merubungi dan menyalami dengan antusias, dan berkata, “Wah senang rasanya bisa bertemu dengan Anda.” Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Mandela. “Akan tetapi setelah beberapa meter, salah seorang dari wanita itu kembali kepada saya dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, sebenarnya siapakah Anda?” Seluruh wartawan tertawa gerr.
Kejadian lain, menurut Mandela, dialaminya pada saat ia
diwawancarai secara khusus oleh seorang wartawati Eropa. “Rupanya dia tidak
senang dengan saya,” kata Mandela dengan wajah dibuat sedih, “wanita itu
berkata, Tuan Nelson Mandela, saya pikir Anda adalah seorang lelaki tua yang
bodoh.” Lalu apa jawaban Mandela? Sambil tersenyum bijak ia berkata, “Nona,
bisakah Anda mengatakannya dengan lebih diplomatis?” Mendengar humor itu,
wartawati Eropa itu pun tersenyum kecut.
|