|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 03 November, 2007
|
Eksistensi Bollywood dengan penggemar tersebar di banyak negara, termasuk Indonesia, menunjukkan budaya populer India yang tetap dijaga kelestarian dan keeksotisannya. Eksotis India juga telah menarik bangsa lain di dunia untuk menjalin hubungan, dari dulu hingga kini. Sejarah Nusantara membuktikan, sejak zaman kerajaan Sriwijaya, atau bahkan jauh sebelum itu, telah ada kontak dagang. Penyebaran beberapa agama di Indonesia pun dipelopori oleh kaum pedagang India. Bahkan benua Amerika mungkin tidak akan “ditemukan” oleh Columbus jika tidak ada keinginannya untuk mencari barang-barang da ri India seperti sutra dan emas. Sekarang ini, kelihatannya tidak ada negara di dunia yang menolak berhubungan dengan India. Apalagi semenjak berakhirnya era perang dingin, sedikit demi sedikit India berhasil mengubah dirinya menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam segala segi. Kemampuan India untuk tetap menjalin hubungan dekat dengan Rusia dan negara-negara Uni Eropa ditambah keberhasilan merangkul Amerika Serikat serta mengukuhkan persahabatan dengan China dan negara-negara Asia membuatnya menjadi negara yang kian penting dalam percaturan geopolitik dunia. Setelah berhasil memiliki teknologi nuklir dan mengembangkan kemampuan angkatan bersenjatanya, tidak ada lagi yang bisa meremehkan India saat ini, dan di masa datang.
Sejak awal 1990-an Pemerintah India mulai melakukan reformasi ekonomi dengan meliberalisasi pasar dalam negerinya serta memberi peluang lebih besar pada investor asing untuk masuk. Reformasi ekonomi ini mulai terlihat hasilnya dengan kemampuan India mempertahankan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% sejak 1994. Karena itu, India adalah negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia setelah China. Bahkan World Bank dalam laporannya tahun 2005 menyebutkan kalo India telah masuk di urutan 12 Negara Paling Kaya di Dunia dengan GDP mencapai US$ 786 Miliar dan melampaui Rusia, Australia dan Mexico. Keberhasilan ekonomi lainnya terlihat dari kemampuan India menahan laju inflasi di bawah 5% di tengah tingginya harga minyak dunia dua tahun terakhir.Pemerintah India juga mampu menarik minat konsumsi dan investasi dengan cara menurunkan dan mempertahankan tingkat suku bunga 6% per tahun. Cadangan mata uang asing India pada tahun 2005 mencapai US$ 143 milyar telah jauh melampaui hutang luar negerinya sebesar US$ 122 milyar. Besarnya cadangan devisa ini membuat Pemerintah India tidak segansegan mulai membayar hutang luar negerinya lebih awal terutama pada World Bank dan ADB. India juga membayar lebih awal dan menghentikan pinjaman asing lainnya kecuali pada beberapa negara maju. Prestasi yang menonjol ialah pada tahun 2003, India telah berubah dari peminjam menjadi pemberi pinjaman pada IMF. India juga telah mampu menghapuskan hutang negara-negara miskin kepadanya sebesar US$ 30 juta.
Walaupun sekitar 26% penduduk India masih tergolong miskin, namun sekitar 300 juta penduduk India merupakan kelas menengah. Bahkan hasil studi Merryl Lynch pada tahun 2004-2005 menyatakan telah muncul 2 juta orang kaya baru di India dengan pendapatan lebih dari US$ 22 ribu per tahun. Selain itu, perlu dicatat bahwa tingkat melek huruf di India telah mencapai 65% dengan kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata orang Asia umumnya. Anak-anak muda India yang berpendidikan tinggi juga telah sangat mengenal dunia teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini berhasil dikelola dan dikembangkan lebih lanjut menjadi industri dan jasa andalan India yang membuat negara tersebut sebagai pemain penting di bidang teknologi informasi dunia. Akibat ketidakkonsistenan kebijakan sejak kemerdekaannya, tingkat kemiskinan India merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Namun seiring bergulirnya reformasi ekonomi, Pemerintah India telah menerapkan berbagai program pengurangan kemiskinan sepertiFood for Work dan National Rural Employment Program pada 1980-an. Program-program tersebut berhasil mengurangi kemiskinan namun 26% penduduk India masih hidup di bawah garis kemiskinan. Selanjutnya pada bulan Agustus 2005, Pemerintahan PM Manmohan Singh berhasil mendapatkan persetujuan Parlemen untuk Rural Employment Guarantee Bill yang menjamin upah setara dengan 100 hari kerja bagi para petani dan buruh tani di 600 wilayah desa terpencil. Berbagai program reformasi yang dicanangkan Pemerintah India di bawah kepemimpinan PM Manhomah Singh membuat banyak kemajuan berarti bagi perekonomian India. Total perdagangan India dengan dunia pada tahun 2005 mencapai kurang lebih US$ 189 milyar. Ekspor tahun 2005 mencapai US$ 76 milyar sedangkan impor mencapai US$ 113 milyar. Barang-barang dari India yang masuk pasar dunia berupa produk pertanian, bahan tekstil, batu permata dan perhiasan, produk-produk kimia dan barang-barang dari kulit. Sedangkan India masih terus mencari berbagai produk seperti minyak mentah, mesinmesin, barang-barang elektronik, emas dan perak, batu permata, barang kayu dan produk kayu, kertas dan olahannya, pupuk dan bahan kimia. Bagi Indonesia, neraca perdagangan kedua negara dalam 5 tahun terakhir selalu menunjukkan posisi surplus bagi Indonesia. Total perdagangan Indonesia-India terbesar terjadi pada tahun 2005 mencapai US$ 3,9 milyar. Menurut data dari BPS dan Departemen Perdagangan, tahun 2005 ekspor Indonesia ke India sebesar US$ 2,8 milyar sedangkan impor dari India sebesar US$ 1 milyar. Namun secara keseluruhan Menteri Perdagangan RI mengatakan bahwa pangsa pasar produk Indonesia masih terlalu kecil karena baru mencapai 1% dari total impor India. Menurut Mari, “kecilnya pangsa pasar Indonesia di India karena pemerintah belum memaksimalkan potensi yang ada. Rencananya Pemerintah RI akan mengembangkan kerjasama perdagangan dengan India yang lebih luas dan terintegrasi.”
Komoditi impor utama Indonesia dari India adalah: minyak nabati, barang barang teknik, bahan-bahan celupan dan coal tar, bahan baku katun, bijih besi, produk-produk mineral yang sudah diproses, produk-produk kimia organik dan non organik dan lain-lain. Sedangkan komoditi ekspor utama Indonesia ke India adalah: minyak nabati dan lemak nabati, bijih logam dan sisa logam, barang kayu dan produk kayu, batu bara kokas dan briket, bagian dari kendaraan bermotor, benang tenun, kain tekstil dan hasilnya, kimia organik, logam tidak mengandung besi, kertas karton dan olahannya, pulp dan kertas, kopi, teh, coklat dan rempah-rempah. Komoditi Indonesia yang mempunyai nilai ekspor lebih dari US$ 10 juta adalah barang kayu dan produk kayu; benang tenun, kain tekstil dan olahannya; minyak dan lemak nabati; buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya kacang mete; kertas karton dan olahannya dan bahan kimia organik. Barang-barang untuk konsumsi di pasar retail juga banyak dicari oleh penduduk India. Seiring tumbuhnya kelas menengah India, kebutuhan akan barang konsumsi rumah tangga seperti televisi, pesawat telepon, peralatan komputer dan barang elektronik lainnya meningkat sangat cepat. Studi yang dilakukan AT Kearney menempatkan India sebagai pasar retail kelima paling menarik di dunia. Pasar retail India, saat ini mencapai US$ 202 milyar, diperkirakan akan tumbuh 30% dalam lima tahun ke depan. Hal ini terutama dipicu oleh perubahan gaya hidup, perubahan struktur keluarga serta peningkatan pendapatan sebagian besar masyarakat India, terutama yang tinggal di perkotaan.
Memang
tidak dapat dipungkiri bahwa India akan menjadi salah satu kekuatan besar di
Asia. Berbagai prestasi reformasi ekonominya ditambah dengan kemampuannya di
bidang teknologi informasi serta keberhasilan pengembangan teknologi nuklir
dan penguatan angkatan bersenjatanya mengubah India menjadi pemain kunci di
masa depan. India telah diramalkan akan menjadi negara dengan perekonomian
terbesar ketiga di tahun 2050, bahkan mungkin lebih cepat dari itu. Rugi
sekali jika kita tidak memanfaatkan kesempatan tumbuh bersama India.
|