HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

SOROT EDISI III 2006

Harapan dari Monte Carlo-nya Asia

Oleh: Emilia H. Elisa

Jika Bandung dikenal sebagai Paris van Java, maka Monte Carlo of the Orient adalah Makau. ‘’Kota judi’’ ini menjadi alternatif baru buat TKI

MAKAU membujur dari pesisir sebelah tenggara China hingga delta Sungai Mutiara. Berbatasan dengan Provinsi Guangdong, Makau yang terdiri dari Semenanjung Makau dan dua pulau (Taipa dan Coloane) adalah salah satu wilayah paling maju di selatan China. Semenjak penyerahan Makau kembali ke China dari Portugis pada 1999, Makau memperoleh otonomi di bawah payung kebijakan China “satu negara dua sistem”. Kota yang berdekatan dengan  Hong Kong tersebut memiliki nama resmi Macao Special Administrative Region (MSAR). Dengan status SAR, Pemerintah Makau berwenang mengatur kebijakan wilayahnya sendiri terkecuali masalah politik, keamanan, dan otoritas militer yang tetap menjadi wewenang pemerintah pusat di Beijing.

Monte Carlo of the Orient

“Monte Carlo of the Orient” adalah sebutan bagi Makau. Kota pulau ini menjadi pusat industri perjudian yang telah ada sejak pertengahan abad 19. Memasuki abad 20, bisnis “judi/permainan” menjadi urat nadi pertumbuhan per­ekonomian Makau. Judi mendorong per­kembangan sektor pariwisata di wilayah ini. Namun selain judi yang menjadi daya tarik utama pelancong adalah wisata budaya. Kota ini menyuguhkan sebuah kota tua dengan perpaduan semangat arsitektur Eropa dalam keindahan budaya timur jauh.

Keindahan Makau berasal dari suasana kota kecil yang santai namun tetap tumbuh dinamis. Jalan-jalan sempit yang berusia tua menjadi urat nadi kota sejak bertahun-tahun, gereja  berarsitektur Eropa jaman Baroque, kediaman para petinggi kota warisan jaman kolonial serta ruang terbuka yang dimeriahkan oleh kafe-kafe bergaya mediterania. Semua ini tentu saja menjadi keunikan Makau di tengah keriuhan tradisi di daratan China dan kegemerlapan kosmopolitan Hong Kong.

Sebagai wilayah yang pernah diduduki Portugis, penduduk Makau selain berbahasa Mandarin dan bahasa daerah dengan dialek selatan China, mereka juga berbahasa Portugis. Atas dasar kesamaan bahasa sebagai keunikan, maka pemerintah China menjadikan Makau sebagai mediator kerjasama antara China dengan negara-negara berbahasa Portugis lainnya.

Sementara itu, sebagai bagian dari Republik Rakyat China, Makau juga menikmati sejumlah keuntungan dari  reformasi ekonomi di China daratan dan masuknya RRC dalam WTO. Posisi strategis di delta sungai Mutiara, berdekatan dengan pusat industri jasa dan keuangan di Hong Kong dan dengan Guang Zhou sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di China, adalah beberapa kekuatan Makau.

Seiring dengan perkembangan perekonomian dan pembangunan di wilayah-wilayah tersebut, maka Makau perlahan menjadi wilayah pengembangan bisnis dan industri diluar sector judi/permainan dan pariwisata, yaitu sebagai pusat industri berorientasi jasayang lebih komprehensif.

Sampai kwartal ketiga 2006, jumlah pelancong ke Makau mencapai sekitar 54 juta orang dengan mayoritas pengunjung berasal dari China daratan, Hong Kong, Taiwan dan kawasan Asia Tenggara.

Meski wilayahnya yang kecil, namun kebijakan ekonomi terbuka Makau didukung oleh sarana infrastruktur dan kebijakan kondusif. Pelabuhan Makau merupakan pelabuhan bebas yang berskala internasional di China sehingga arus modal, barang dan manusia sangat dinamis. Keterbatasan pasar domestik, sebaliknya memberikan peluang yang besar dalam memanfaatkan industri bidang pelayanan yang diperlukan di Makau sebagai tempat persinggahan barang, jasa dan orang.

Peluang Memasuki Pasar Makau

Dengan luas wilayah  sekitar 27,3 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 482.000 orang,  GDP Makau pada tahun 2005 mencapai jumlah US$ 11,57 milyar dengan pendapatan per kapita US$ 24.274. Makau banyak memiliki tempat hiburan dan rekreasi yang banyak memerlukan tenaga kerja baik pekerja biasa maupun yang terampil. Tahun 2005 terdapat 18,71 juta wisatawan ke Makau. Pendapatan Makau dari industri perjudian/ permainan sendiri pada tahun 2005 mencapai nilai US$ 4,27 milyar atau sekitar 67% dari perolehan Las Vegas (US$ 6,31 Milyar).

Bagi masyarakat Indonesia, pamor dan reputasi Makau belum secerah Hong Kong. Hong Kong masih menjadi tujuan perantauan bagi para tenaga kerja tidak terampil kita untuk menjadi pengurus rumah tangga di apartemen apartemen sempit dengan jatah libur setiap hari minggu untuk dihabiskan bersama kawan-kawan seperantauan di Victoria Park. Adapun bagi biro perjalanan dan kalangan menengah ke atas Indonesia yang gemar melancong, Hong Kong adalah surga belanja dengan diskon menarik, cosmopolitan yang tampak indah dari puncak tertinggi The Peak atau perjalanan romantis dengan perjalanan feri dari pelabuhan Kowloon.

Sesungguhnya, sudah saatnya bagi TKI terampil Indonesia untuk lebih bersaing dalam lapangan kerja global. Perusahaan minyak di Timur Tengah, perusahaan penerbangan Singapura atau Timur Tengah adalah salah satu pilihan lapangan kerja bagi TKI terampil. Kini, Makau dapat menjadi potensi bagi para lulusan sekolah perhotelan dan pariwisata, para chef dengan pengetahuan kuliner yang bersaing, biro perjalanan, perusahaan penerbangan serta pebisnis.

Saat ini tengah dijajaki peningkatan kerjasama di bidang ketenagakerjaan melalui perwakilan Indonesia, dalam hal ini KJRI Hong Kong, sehingga pemerintah Indonesia dapat memberikan perlindungan bersama pemerintah setempat terhadap WNI yang bekerja di Makau. Diantaranya adalah bagaimana perwakilan Indonesia dapat mendata setiap kedatangan tenaga kerja Indonesia ke Makau. Selama ini TKI masuk ke Makau melalui Hong Kong, Taiwan atau langsung dari Indonesia.

Pihak Imigrasi Makau mencatat jumah TKI mencapai sekitar 4.000 orang dari 15.000 tenaga kerja asing yang mengisi sektor tourism, perhotelan, gambling/permainan dan industri.Pertumbuhan kebutuhan akan tenaga kerja di sektor formal tersebut cukup besar dan telah diatur dalam Undangundang Perburuhan setempat. Dalam waktu dekat Pemerintah Makau akan merevisi Undang-undang Perburuhannya yang akan lebih komprehensif untuk mengatur sektor tenaga kerja informal/ domestic helper.

Selain di  bidang ketenagakerjaan, Makau juga dapat menjadi salah satu pintu gerbang menuju pasar eropa dan amerika selatan. Memanfaatkan ikatan  historis, Makau masa kini telah menjadi titik penting bagi kerjasama perdagangan antara negara kawasan Asia Timur dan negara-negara berbahasa Por tugis seperti Angola, Brasil, Cape Verde, Guinea-Bissau, Mozambik, Portugal, Sao Tome and Principe, dan Timor Leste.

Seperti pepatah kuno China “mendengar seratus kali tidak sebanding dengan melihat satu kali”, adalah tantangan bagi kita untuk membuktikan kabar akan besarnya potensi di wilayah yang dikenal sebagai “Aomen” dalam bahasa Mandarin ini.