|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Jika Bandung dikenal sebagai Paris van Java, maka Monte Carlo of the Orient adalah Makau. ‘’Kota judi’’ ini menjadi alternatif baru buat TKI
Monte Carlo of the Orient “Monte Carlo of the Orient” adalah sebutan bagi Makau. Kota pulau ini menjadi pusat industri perjudian yang telah ada sejak pertengahan abad 19. Memasuki abad 20, bisnis “judi/permainan” menjadi urat nadi pertumbuhan perekonomian Makau. Judi mendorong perkembangan sektor pariwisata di wilayah ini. Namun selain judi yang menjadi daya tarik utama pelancong adalah wisata budaya. Kota ini menyuguhkan sebuah kota tua dengan perpaduan semangat arsitektur Eropa dalam keindahan budaya timur jauh. Keindahan Makau berasal dari suasana kota kecil yang santai namun tetap tumbuh dinamis. Jalan-jalan sempit yang berusia tua menjadi urat nadi kota sejak bertahun-tahun, gereja berarsitektur Eropa jaman Baroque, kediaman para petinggi kota warisan jaman kolonial serta ruang terbuka yang dimeriahkan oleh kafe-kafe bergaya mediterania. Semua ini tentu saja menjadi keunikan Makau di tengah keriuhan tradisi di daratan China dan kegemerlapan kosmopolitan Hong Kong. Sebagai wilayah yang pernah diduduki Portugis, penduduk Makau selain berbahasa Mandarin dan bahasa daerah dengan dialek selatan China, mereka juga berbahasa Portugis. Atas dasar kesamaan bahasa sebagai keunikan, maka pemerintah China menjadikan Makau sebagai mediator kerjasama antara China dengan negara-negara berbahasa Portugis lainnya. Sementara itu, sebagai bagian dari Republik Rakyat China, Makau juga menikmati sejumlah keuntungan dari reformasi ekonomi di China daratan dan masuknya RRC dalam WTO. Posisi strategis di delta sungai Mutiara, berdekatan dengan pusat industri jasa dan keuangan di Hong Kong dan dengan Guang Zhou sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di China, adalah beberapa kekuatan Makau. Seiring dengan perkembangan perekonomian dan pembangunan di wilayah-wilayah tersebut, maka Makau perlahan menjadi wilayah pengembangan bisnis dan industri diluar sector judi/permainan dan pariwisata, yaitu sebagai pusat industri berorientasi jasayang lebih komprehensif. Sampai kwartal ketiga 2006, jumlah pelancong ke Makau mencapai sekitar 54 juta orang dengan mayoritas pengunjung berasal dari China daratan, Hong Kong, Taiwan dan kawasan Asia Tenggara. Meski wilayahnya yang kecil, namun kebijakan ekonomi terbuka Makau didukung oleh sarana infrastruktur dan kebijakan kondusif. Pelabuhan Makau merupakan pelabuhan bebas yang berskala internasional di China sehingga arus modal, barang dan manusia sangat dinamis. Keterbatasan pasar domestik, sebaliknya memberikan peluang yang besar dalam memanfaatkan industri bidang pelayanan yang diperlukan di Makau sebagai tempat persinggahan barang, jasa dan orang. Peluang Memasuki Pasar Makau
Bagi masyarakat Indonesia, pamor dan reputasi Makau belum secerah Hong Kong. Hong Kong masih menjadi tujuan perantauan bagi para tenaga kerja tidak terampil kita untuk menjadi pengurus rumah tangga di apartemen apartemen sempit dengan jatah libur setiap hari minggu untuk dihabiskan bersama kawan-kawan seperantauan di Victoria Park. Adapun bagi biro perjalanan dan kalangan menengah ke atas Indonesia yang gemar melancong, Hong Kong adalah surga belanja dengan diskon menarik, cosmopolitan yang tampak indah dari puncak tertinggi The Peak atau perjalanan romantis dengan perjalanan feri dari pelabuhan Kowloon. Sesungguhnya, sudah saatnya bagi TKI terampil Indonesia untuk lebih bersaing dalam lapangan kerja global. Perusahaan minyak di Timur Tengah, perusahaan penerbangan Singapura atau Timur Tengah adalah salah satu pilihan lapangan kerja bagi TKI terampil. Kini, Makau dapat menjadi potensi bagi para lulusan sekolah perhotelan dan pariwisata, para chef dengan pengetahuan kuliner yang bersaing, biro perjalanan, perusahaan penerbangan serta pebisnis. Saat ini tengah dijajaki peningkatan kerjasama di bidang ketenagakerjaan melalui perwakilan Indonesia, dalam hal ini KJRI Hong Kong, sehingga pemerintah Indonesia dapat memberikan perlindungan bersama pemerintah setempat terhadap WNI yang bekerja di Makau. Diantaranya adalah bagaimana perwakilan Indonesia dapat mendata setiap kedatangan tenaga kerja Indonesia ke Makau. Selama ini TKI masuk ke Makau melalui Hong Kong, Taiwan atau langsung dari Indonesia. Pihak Imigrasi Makau mencatat jumah TKI mencapai sekitar 4.000 orang dari 15.000 tenaga kerja asing yang mengisi sektor tourism, perhotelan, gambling/permainan dan industri.Pertumbuhan kebutuhan akan tenaga kerja di sektor formal tersebut cukup besar dan telah diatur dalam Undangundang Perburuhan setempat. Dalam waktu dekat Pemerintah Makau akan merevisi Undang-undang Perburuhannya yang akan lebih komprehensif untuk mengatur sektor tenaga kerja informal/ domestic helper. Selain di bidang ketenagakerjaan, Makau juga dapat menjadi salah satu pintu gerbang menuju pasar eropa dan amerika selatan. Memanfaatkan ikatan historis, Makau masa kini telah menjadi titik penting bagi kerjasama perdagangan antara negara kawasan Asia Timur dan negara-negara berbahasa Por tugis seperti Angola, Brasil, Cape Verde, Guinea-Bissau, Mozambik, Portugal, Sao Tome and Principe, dan Timor Leste.
Seperti pepatah kuno
China “mendengar seratus kali tidak sebanding dengan melihat satu kali”,
adalah tantangan bagi kita untuk membuktikan kabar akan besarnya potensi di
wilayah yang dikenal sebagai “Aomen” dalam bahasa Mandarin ini.
|