|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 26 April, 2009
|
Tingginya konsumsi coklat di Australia merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan ekspor coklat Indonesia ke negeri kanguru ini. TOKO itu terlihat apik dan mewah dengan dominasi warna coklat di hampir seluruh bagian interiornya. Coretan besar dengan gambar kepala orang gundul terpampang jelas di dekat pintu depan. Gambar itu ternyata karikatur pemilik toko yang megah itu, toko coklat yang paling terkenal di Australia, Max Brenner. Toko atau lebih tepat restoran coklat yang mempunyai belasan cabang di Melbourne dan Sydney ini tak pernah sepi pengunjung. Tidak heran bila pimpinan kelompok usaha ini berani sesumbar bahwa krisis ekonomi tidak akan mempunyai dampak berarti terhadap bisnisnya. “Mungkin ada sedikit penurunan namun produk coklat kami terlalu enak untuk ditinggalkan” ujar Yael Kaminski, general manager Max Brenner.
Kondisi alam yang kering menyulitkan petani Australia untuk berkebun kakao secara komersial. Sebagian besar biji kakao didatangkan dari Vanuatu dan negara produsen kakao lainnya. Indonesia ternyata salah satu pengekspor produk kakao ke Australia. “Produk kakao adalah salah satu koomoditi ekspor unggulan kita ke negara bagian Victoria dan Tasmania” ujar Budiarman, Konsul Jenderal RI di Melbourne kepada AKSES beberapa waktu lalu.Menurut data KJRI Melbourne, nilai ekspor produk kakao Indonesia ke Victoria mencapai 36 juta dolar Australia pada tahun 2007. Disamping itu daya serap pasar pun lumayan tinggi. Badan statistik Australia menyatakan bahwa sebuah keluarga di Australia membelanjakan uang rata-rata sebesar A$ 200 (sekitar Rp. 1,6 juta) setiap minggu untuk membeli produk konfektioneri, alkohol dan tembakau. “Permintaan akan produk-produk ini diramalkan meningkat karena dianggap lebih terjangkau dan dapat menghibur orang dari tekanan krisis” tambah Budiarman. Selain itu, lembaga peneliti IBISWorld menginformasikan adanya korelasi antara krisis ekonomi dengan peningkatan penjualan produk kosmetik. Depresi ternyata dapat mendorong kaum wanita untuk lebih giat bersolek. Sehingga permintaan akan produk kosmetik pun diperkirakan melonjak. “Produk kosmetik adalah salah satu komoditi ekspor kita ke Victoria dan Tasmania” ungkap Budiarman. Sejumlah produk kosmetik Indonesia yang telah masuk Australia antara lain minyak saripati, deodoran, sabun, parfum, bedak dan produk perawatan rambut. Masih terbuka peluang bagi produk kosmetik Indonesia lainnya. Itulah sejumput peluang yang tercogok dari gelombang krisis di Australia. “Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha kita mengingat potensi Indonesia yang cukup besar khususnya untuk produk-produk tadi” ujar Budiarman. Bagi yang berminat, mulailah cari dan jalin hubungan dengan pengusaha di Australia, pahami aturan-aturan setempat khususnya bea cukai dan karantina, bila pesanan telah diterima pastikan Anda sanggup memenuhi spesifikasi yang diminta oleh pembeli. Semoga berhasil! DIOLAH DARI LAPORAN KJRI MELBOURNE
|